<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; Waktu</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/waktu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Revolusi Keadilan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/revolusi-keadilan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/revolusi-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 13:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Keadilan dan Tubuh
Seperti sebuah masterpiece, sebuah hasil karya yang berupa keadilan biasanya mengalami serangkaian proses perjuangan yang sangat panjang. Umumnya juga, masterpiece keadilan merupakan salah satu dari sekian banyak cita-cita paling luhur yang lahir dan muncul dalam setiap lapisan masyarakat. Mahakarya keadilan selalu menjadi teladan dan acuan guna menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang setara dihadapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Keadilan dan Tubuh</strong><br />
Seperti sebuah masterpiece, sebuah hasil karya yang berupa keadilan biasanya mengalami serangkaian proses perjuangan yang sangat panjang. Umumnya juga, masterpiece keadilan merupakan salah satu dari sekian banyak cita-cita paling luhur yang lahir dan muncul dalam setiap lapisan masyarakat. Mahakarya keadilan selalu menjadi teladan dan acuan guna menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang setara dihadapan kemanusiaan. Tanpa membeda-bedakan harta kekayaan, status pendidikan, latar belakang sosial atau bahkan kondisi fisik seseorang, masterpiece keadilan yang berfungsi secara benar dan memiliki estetika yang tinggi merupakan pengakuan jujur nan mutlak bagi siapa saja yang sedang mengapresiasinya. Akan menjadi hal yang sangat mengharukan juga melegakan, jika melihat si miskin dan si kaya, si bodoh dan si pintar, si marjinal dan si populer, si buruk rupa dan si bagus rupa ketika mendapatkan perlakuan yang sama dalam segala permasalahan hukuman atas kesalahan maupun kejahatan yang telah dilakukan. Masterpiece keadilan adalah sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat yang tanpa cela.<br />
Bukan hanya itu, masterpiece keadilan acapkali didengung-dengungkan pada saat-saat tertentu, oleh orang-orang tertentu, dan untuk memperoleh suatu keuntungan tertentu. Karena bagaimanapun, masterpiece keadilan nyatanya selalu berada pada batas yang abu-abu<span id="more-326"></span>  antara yang real dan yang imajinasi. Dengan begitu, menjadi sangat menggugah hati dan gairah siapapun yang  tengah mendambakan sesuatu semacam keadilan. Sayangnya, masterpiece keadilan seringkali berakhir pada wacana yang hanya bersifat utopia. Ketika akhirnya hanya wacana tersebut yang mengemuka dan berlangsung, maka tidak ada seorangpun yang berani mengaku bertanggungjawab atas sebuah khayalan. Utopia memang masih saja dinisbatkan pada sesuatu perasaan lugu plus naif anak manusia yang tak akan pernah menemukan nilai empiriknya sampai kapanpun.<br />
Dimanapun diatas permukaan bumi yang ditinggali oleh anak-anak cucu Adam ini, sebuah keadilan sosial adalah tuntutan paling waras atas rasionalisme yang pernah dipunyai oleh seorang anak manusia. Betapa sebuah keadilan sosial menjadi amanah perjuangan paling fundamental atas tegaknya tiang-tiang kehidupan bermasyarakat agar terwujud sebuah kemakmuran seperti yang telah dan selalu dicita-citakan sebelumnya. Keadilan sosial merupakan sendi-sendi konstitusi bahkan simbol dan semboyan yang tercetak secara paten pada beberapa kelompok masyarakat di dunia. Namun, karya berupa keadilan sebenarnya tidak melulu memiliki hubungan kausal dengan kehidupan sosial masyarakat banyak –meski pada akhirnya nanti hubungan tersebut ada dan ditemukan. Keadilan ternyata juga menuntut untuk hadir didalam setiap diri individu itu sendiri, keadilan menuntut untuk dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab pada masing-masing individu. Kemudian dikenal dengan istilah yang paling dimafhumi yakni, adil kepada diri sendiri. Memberikan sesuatu kepada diri sendiri apa-apa yang telah menjadi haknya, dan secara bersamaan menjauhkan diri sendiri dari segala sesuatu yang bukan menjadi haknya. Tidak mudah memang berbuat adil kepada diri sendiri, sebab kecenderungan seorang anak manusia yang terjadi adalah hanya mengenai ada-tidaknya keuntungan yang dapat diraih oleh dirinya sendiri. Jika tampak menguntungkan untuk dirinya sendiri, maka manusia akan merasa telah berbuat adil, tetapi jika terlihat tidak menguntungkan, maka manusia akan meninggalkan perbuatan adil tersebut. Padahal kecenderungan ini sangat disayangkan karena sebenarnya keuntungan yang akan diraih dengan berbuat adil pada diri sendiri justru lebih besar daripada kecenderungan itu sendiri yang hanya bersifat sementara.<br />
Perbuatan membuat nyaman diri sendiri bisa jadi merupakan sebuah tindakan yang tidak adil, sebaliknya perbuatan membuat sengsara diri sendiri juga bisa jadi merupakan sebuah ketidakadilan. Yang perlu disadari disini adalah misalnya; pengetahuan tentang apa-apa yang telah menjadi hak-hak tubuh. Bagaimana tubuh seorang manusia yang merupakan “sebuah mesin sempurna” dapat terpenuhi segala kebutuhannya tanpa berkekurangan ataupun berkelebihan. Membuat tubuh mendapatkan asupan energi yang cukup dari makanan dan minuman, membuat tubuh mendapatkan relaksasi yang baik dengan cukup tidur dan istirahat, membuat tubuh berada pada temperatur yang normal dan mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan, atau bahkan membuat tubuh menolak benda-benda asing yang patogenik dan perbuatan-perbuatan lainnya demi kepentingan tubuh itu sendiri merupakan salah satu bentuk pemenuhan hak-hak atas tubuh.<br />
Mesin sempurna yang dimaksud adalah sebuah masterpiece yang tidak mempunyai akhir yang utopis, tubuh manusia adalah sesuatu yang real dan mempunyai batas-batas yang jelas dengan sisi-sisi imajinasi manusia sebagai diri. Tubuh manusia bisa mengalami sakit, terinfeksi, masa terinkubasi bakteri atau virus, disaat yang lain mengalami keadaan yang sehat, prima, berkonsentrasi penuh, kondisi optimum dan lain sebagainya sebagaimana yang selalu terjadi pada tubuh seorang anak manusia. Keadaan-keadaan tersebut bergantung pada perawatan dan pemeliharaan pemilik tubuh itu sendiri. Namun pada asalnya, tubuh itu sendiri tercipta, sebenarnya merupakan sebuah masterpiece. Hal ini tentu berbeda dengan masterpiece keadilan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Keadaan yang berbeda dengan keadilan, untuk menjadi sebuah masterpiece, keadilan harus diciptakan ditempat dimana sebuah keadilan memang benar-benar diinginkan. Keadilan harus diusahakan dan diperjuangkan, salah satunya dengan mencari dan mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan untuk dicoba-terapkan pada keadilan. Keadilan akan dapat terlaksana dengan baik ketika ilmu dan pengetahuan selalu berjalan disampingnya dan mengiringinya.<br />
Agar masterpiece keadilan dapat benar-benar tercipta, seseorang harus memulai dari dirinya sendiri barulah kemudian bisa beranjak pada tingkatan sosial yang lebih luas. Materpiece keadilan tidak boleh lagi melulu disandarkan pada perasaan subyektif yang dimiliki oleh segelintir manusia saja.</p>
<p><strong>Revolusi Masterpiece</strong><br />
Sebuah perubahan besar yang dramatis dalam ide dan praktik sering dimaksudkan untuk kata revolusi. Dalam pengertian lain, revolusi juga bisa berarti satu putaran penuh sebuah benda untuk mengelilingi benda lain, misal orbit yang dibuat oleh sebuah planet atau satelit mengelilingi benda yang lain. Sedangkan masterpiece dapat diartikan sebagai karya artistik besar/agung: suatu potongan karya yang luar biasa atas kerja kreatif, atau dapat juga didefinisikan sebagai karya terbaik milik seniman: bagian terbaik dari karya oleh seniman tertentu.<br />
Secara sederhana, revolusi masterpiece dapat dinisbatkan untuk sebuah perubahan besar dalam hal karya besar. Bisa jadi perubahan besar itu sendiri yang menjadi sebuah masterpiece secara otomatis atau malah sebaliknya, membuat dan mengerjakan sebuah masterpiece dengan cara melakukan perubahan besar. Sebuah masterpiece kadang-kadang tidak disadari bahwa ketika pengerjaannya karya tersebut akan menjadi sebuah masterpiece, kadang-kadang pula sebuah masterpiece memang telah diniatkan sedari awal pengerjaannya agar menjadi sebuah masterpiece setelah karya tersebut selesai. Namun, tidak penting untuk memperdebatkan pengertian revolusi masterpiece. Menjadi sangat berarti apabila sebuah perubahan besar benar-benar terjadi dan kemudian dapat dianggap sebagai sebuah masterpiece. Tindakan-tindakan untuk sebuah perubahan besar itulah yang sebenarnya menjadi sangat penting dan diperlukan oleh siapapun, dan tidak terbatas pada profesi tertentu saja.<br />
Dari pengertian yang selanjutnya bahwa revolusi berarti satu putaran penuh, maka revolusi membutuhkan jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan satu putaran penuhnya. Fakta lain menyebutkan bahwa sebuah masterpiece hanya bisa diperoleh pada waktu-waktu tertentu saja. Sekali masterpiece didapatkan, maka seseorang harus menunggu beberapa waktu lagi jika ingin memperoleh masterpiece yang lain. Hal ini menandaskan bahwa revolusi masterpiece pada asalnya memang selalu terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Alangkah baiknya jika revolusi masterpiece disadari segala tahapannya, dipahami seluruh hubungan kausalnya, kemudian dilaksanakan secara simultan pada (lagi-lagi) kehidupan sehari-hari masing-masing individu. Dari revolusi masterpiece, masyarakat secara keseluruhan perlahan-lahan akan menyadari pentingnya sebuah masterpiece keadilan karena nilai fundamental keadilan itu sendiri. Perihal ini akan mengarahkan pada suatu usaha pencapaian masterpiece keadilan melalui revolusi keadilan didalam kehidupan sosial bermasyarakat. Masyarakat yang menyadari, masyarakat yang mengetahui, dan pada akhirnya masyarakat juga yang melaksanakan dan akan mendapatkan hasilnya.<br />
Revolusi keadilan adalah suatu kebutuhan mendesak bagi individu siapapun dan bagi kelompok masyarakat yang bagaimanapun. Jika disadari ihwal kenyataan maraknya keadilan tebang-pilih saat ini, maka revolusi keadilan merupakan sesuatu yang perlu untuk segera dilaksanakan. Revolusi keadilan bisa menjadi sebuah masterpiece yang dikerjakan oleh masyarakat banyak dan akan mempunyai imbas paling positif pada kehidupan sosial. Tidak mudah memang, namun revolusi keadilan (masih berharap yang sama) dapat dimulai dari diri sendiri pada masing-masing individu. Setelah itu, apabila kesepakatan telah terjadi antara masing-masing individu untuk melaksanakan revolusi keadilan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab, maka siapapun boleh berharap bahwa sebuah masyarakat yang berkeadilan akan tercipta. Sebuah keadilan sosial yang selalu dicita-citakan dan yang selalu didengung-dengungkan bukanlah lagi sebuah utopia imajinatif jika revolusi keadilan diterapkan dan dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati atas ilmu dan pengetahuan yang benar. Seseorang tidak boleh lupa bahwa adil itu lebih dekat kepada taqwa.</p>
<p>Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.<br />
Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/revolusi-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekinian, “proses” yang melelahkan dan me”lena”kan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 15:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kekinian]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/24/p26/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : m. muhadzis g.
Membicarakan waktu, berarti membicarakan sesuatu. Sesuatu yang empirik maupun sesuatu yang khayal, keduanya masih selalu saja dipertimbangkan. Dan keduanya, tidak akan berhenti untuk selalu dijadikan acuan, sampai waktu itu sendiri yang benar-benar menghentikannya. Sebagian individu membutuhkan kalkulasi -secermat mungkin- sebagai teman setia untuk mendampingi usia. Sebagian yang lain -lebih- membutuhkan mimpi-mimpi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : m. muhadzis g.</p>
<p>Membicarakan waktu, berarti membicarakan sesuatu. Sesuatu yang empirik maupun sesuatu yang khayal, keduanya masih selalu saja dipertimbangkan. Dan keduanya, tidak akan berhenti untuk selalu dijadikan acuan, sampai waktu itu sendiri yang benar-benar menghentikannya. Sebagian individu membutuhkan kalkulasi -secermat mungkin- sebagai teman setia untuk mendampingi usia. Sebagian yang lain -lebih- membutuhkan mimpi-mimpi daripada realita dalam menghabiskan umurnya. Sebagian yang lain lagi justru tak tahu-menahu apa-apa saja yang dibutuhkan guna menghadapi waktu.</p>
<p>Telah banyak yang menggali peristiwa-peristiwa di waktu lampau. Ada yang mencatatkannya -dalam bentuk apapun- sehingga peristiwa-peristiwa itu akan selalu diingat oleh orang-orang yang melihat catatan-catatan tersebut -termasuk pencatatnya sendiri-, ada pula yang hanya cukup menyimpannya didalam kepala kemudian membicarakannya kepada orang lain agar peristiwa-peristiwa itu terus tersimpan didalam kepalanya dan kepala orang lain, ada lagi yang menyimpannya didalam kepala, meresapkannya kedalam hati, membicarakannya lalu mengimplementasikannya dalam tingkah laku sehingga peristiwa-peristiwa itu terus-menerus terjadi, sehingga peristiwa-peristiwa itu terus menerus berulang dan tidak lagi mengenal waktu.<br />
Peristiwa-peristiwa di waktu lampau, entah itu yang baik atau yang buruk, senantiasa menjadi sandaran bagi seseorang untuk berpijak sebelum bergerak. Baik atau buruk lebih mudah didapat daripada benar atau salah. Seringkali seseorang mendapati sesuatu yang ada saat ini, telah pernah ada juga di waktu lampau. Kemudian ia mendapati bahwa hal itu baik, menurut saat ini dan juga menurut waktu lampau. Tetapi kemudian, apakah hal itu benar? Mengingat kebenaran selalu saja merupakan sebuah pendekatan. Sedangkan kebaikan selalu saja lebih mampu untuk diamini, oleh saat ini dan oleh waktu lampau, yang kemudian diyakini dan tidak lagi menjadi sebuah pendekatan. Dan dimanakah posisi kebaikan jika dibandingkan dengan kebenaran? Lalu, jika sudah memandang peristiwa-peristiwa di waktu lampau, apa yang semestinya terlebih dahulu diyakini, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu memiliki nilai, yang mana yang lebih tinggi nilainya, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu layak untuk dipertahankan, yang mana yang seharusnya lebih dulu untuk dipertahankan, kebaikannya ataukah kebenarannya?</p>
<p>Adapun kaitan suatu peristiwa dengan individu, karena ada saja sebagian individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, maka yang akan terjadi adalah sebuah perkenalan, yang sebetulnya telah ada latar belakang yang kuat lebih dulu sebelumnya. Bisa jadi karena sejarah atau malah karena ingin membuat sejarah. Perkenalan inilah yang kemudian menjadi sebuah tanda pengenal bagi individu dan suatu peristiwa. Baik itu menjadi tanda pengenal bagi individu dengan suatu peristiwa maupun tanda pengenal bagi suatu peristiwa dengan individu. Sebaliknya, tentang individu yang selalu saja tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, itu berarti individu tersebut yang telah menjadi tanda pengenal untuk dirinya sendiri. Tanpa membutuhkan suatu peristiwa apapun.</p>
<p>Akan selalu ada kelelahan bagi individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Namun akan ada kelelahan yang lebih besar lagi bagi individu yang selalu tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Pencapaian masing-masing individu akan selalu tergantung dari motivasi masing-masing individu -dengan mengesampingkan pengakuan yang biasanya akan tampak sebelumnya-. Dan pencapaian inilah yang semestinya tidak disamaratakan pada semua individu. Dan itu berarti sangat jelas, bahwa pencapaian masing-masing individu akan sangat berbeda. Dan terkait kelelahan masing-masing individu, itu berarti lagi, tidak bisa disamaratakan, bahwa kelelahan masing-masing individu akan sangat berbeda.</p>
<p><em>Sesuatu Yang Fundamental</em><br />
Sesuatu yang fundamental kerap menjadi batu sandungan bagi kekinian. Saling menjatuhkan adalah adegan yang sepertinya harus selalu dimainkan oleh keduanya. Sesuatu yang fundamental sepertinya harus selalu memainkan drama tragis sedangkan kekinian lebih memilih komedi -terlepas dari satiris atau absurditas-. Giliran waktu yang mencatatkannya. Ketika “ada drama” yang diketahui, kejujuran akan terungkap, akan ada pilihan bagi individu untuk berada disisi yang mana. Klimaks mesti terjadi. Penonton adalah juga yang ditonton. Namun, ketika peperangan telah disadari menghasilkan sesuatu, -air mata, darah atau kemenangan yang membahagiakan- benih-benih fundamental tumbuh lagi dan kekinian masih akan selalu menyelimutinya. “Proses” terjadi lagi. Waktu dibicarakan lagi.</p>
<p>Sesuatu yang fundamental harus mampu diyakini secara empirik. Harus ada kalkulasi yang tidak bisa dipatahkan oleh kalkulasi lain yang datang setelahnya. Ketika kalkulasi yang telah diyakini mampu dipatahkan oleh kalkulasi lain, maka seketika itu juga kalkulasi yang baru ini membutuhkan waktu agar mampu diyakini.</p>
<p>Sesuatu yang fundamental yang mencatat waktu. Setiap keadaan mampu diramalkan awal dan akhirnya. Sesuatu yang fundamental melihat semesta raya dan dirinya sendiri. Sesuatu yang fundamental cenderung ingin selalu menyingkap segala rahasia. Sedangkan kekinian, lebih mampu untuk menciptakan alat-alat yang mengagumkan mata. Rekayasa senantiasa terjadi. Keinginan terus berkembang seiring teknologi. Kekinian selalu berdalih tentang sesuatu yang ingin dicapai adalah harus lebih baik lagi dan lagi. Kekinian melupakan waktu. Dan ketika disadari bahwa sesuatu yang fundamental dan kekinian bergerak sendiri-sendiri, ternyata waktu juga punya pergerakannya sendiri. Pergerakannya mengabaikan keduanya. Pergerakan waktu menghancurkan sesuatu yang fundamental dan kekinian. Dan yang tertinggal hanyalah catatan-catatan. Sesuatu yang fundamental meninggalkan catatan-catatan berupa kalkulasi-kalkulasi dengan segala kronologi perubahannya. Sedangkan, kekinian meninggalkan catatan-catatan berupa alat-alat dan hasil teknologi. Namun, siapa yang akan menemukan catatan-catatan tersebut kalau ternyata waktu benar-benar berhenti.</p>
<p>Wallahu’alam wallahulmusta’an.<br />
Cibeusi, jatinangor</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Berarti Saya Tak Punya Jawaban-nya.</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 05:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/05/31/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.
Adalah menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi apabila tindakan seseorang &#8220;mampu&#8221; mencengangkan mata dan pandangan orang lain, diluar segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Dan tidaklah mustahil apabila hal tersebut mengundang reaksi dan kritik. Adalah juga hal yang wajar apabila seseorang tersebut sekarang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana dirinya teralienasi. Lalu, apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : moch. Muhadzis g.</em>
<p class="Standard"><em></em>Adalah menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi apabila tindakan seseorang &ldquo;mampu&rdquo; mencengangkan mata dan pandangan orang lain, diluar segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Dan tidaklah mustahil apabila hal tersebut mengundang reaksi dan kritik. Adalah juga hal yang wajar apabila seseorang tersebut sekarang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana dirinya teralienasi. Lalu, apakah alienasi tersebut muncul dari dirinya sendiri, dari orang lain atau dari sesuatu yang memang &ldquo;harus&rdquo; terjadi? Kalau sebuah ide dilontarkan kemudian dirasakan tidak menyenangkan, maka seseorang haruslah kemudian memikirkan-ulang tentang ide tersebut dan hubungannya dengan dirinya sendiri. Masih mampukah -atau sudah mampukah- ia berhadap-hadapan dengan ide tersebut dan segala turunannya? </p>
<p class="Standard">Saya mungkin mampu &ldquo;mengingat&rdquo; pada rasa perih para Nabi dan orang-orang shalih. Bagaimana cedera fisik menjadi ujian yang menjadi-jadi. Kalau persoalannya hanya dimusuhi, mereka masih akan mampu berdiri. Tapi ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu, <em>perselisihan dengan dirinya sendiri</em>, adalah sesuatu yang akan dikatakan <strong>tampak</strong> pada diri para Nabi dan orang-orang shalih. Dan bukankah itu, yang membuat mereka bersedih -dalam tataran sebagai manusia biasa-. Manusia akan menjauh darinya, manusia terbawa tuduhan-tuduhan, manusia semakin menjaga jarak, manusia mulai mencari-cari <strong>pembenaran</strong> dan berbagai macam hal yang serupa dengan itu, padahal&nbsp; para Nabi dan orang-orang shalih <em>menyayangi kemanusiaan lebih dari manusia pada biasanya</em>.&nbsp; Tapi apakah mereka benar-benar bersedih? Saya kira itu adalah penglihatan awam! Meski kadang-kadang juga merupakan penglihatan yang lebih kontekstual -sangat disayangkan-. Mereka yang yakin disebut sebagai orang yang ragu-ragu. Padahal para Nabi dan orang-orang shalih hanya ingin agar tidak hanya dirinya sendiri yang mampu&nbsp; &ldquo;menikmati&rdquo; kesedihan tersebut. Dan kesedihan yang dimaksud tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebahagiaan yang merupakan kebalikannya. Sebab kebahagiaan yang dimaksud pun sudah barang tentu merupakan kenikmatan yang berbeda antara para Nabi dan orang-orang shalih dengan manusia pada biasanya.</p>
<p class="Standard">Kalau sudah demikian, saya bertanya pada diri saya sendiri, dimanakah posisimu wahai diri? Sebelum menjawabnya, saya teringat pada pernyataan seorang kawan, &ldquo;jadi, apa yang harus dimengerti?&rdquo;. <em>Mengerti dirimu sendiri, mengerti <strong>zaman</strong> dimana kau hidup dan mengerti apa yang tengah kau persiapkan untuk pengertian yang telah kau mengerti</em>. Seandainya saya yang ditanya oleh kawan tersebut, saya akan lebih memilih diam, sebab sudah terlalu banyak pernyataan yang saya ucapkan, kemudian dimalam harinya saya menyesali pernyataan yang saya lontarkan, meskipun pernyataan tersebut akan dianggap sebagai kebenaran. Dari sini, mungkin sudah terlihat dimanakah posisi diri saya sendiri. Saya sama sekali tidak berhak menilai diri saya suci. Tidak sama sekali. Sebab setiap manusia memiliki mata, setiap manusia memiliki telinga dan setiap manusia memiliki hati. Dari situ segalanya menjadi sulit.</p>
<p class="Standard">Maaf, saya berbicara seolah-olah saya merupakan &ldquo;bagian lain&rdquo; dari manusia dan diri, tapi itulah, mungkin sedari sekarang kita sudah harus memikirkan apa yang tersembunyi dan apa yang tidak. Lalu bergegas mengambil langkah dengan keyakinan tentunya. Selamat bergegas!</p>
<p class="Standard">Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</p>
<p class="Standard">&nbsp;</p>
<p class="Standard">Jatinangor, 31 mei 2008&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejatinya kita memang harus menunggu</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 18:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Konsep]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/05/23/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/</guid>
		<description><![CDATA[Sangat bisa dimengerti, jika menunggu adalah seperti sebuah padanan korelatif dengan kebosanan, maka itu sedikitnya bisa dimengerti. walaupun sebenarnya tidak selalu bisa dibenarkan, karena ternyata -sesuai judul, Sejatinya kita memang harus menunggu.
Bisa dimengerti kan, ternyata lalu lalang kita di bumi milik Dia ini, hanya untuk sebuah perkara ‘kecil’ yaitu menunggu. Kepastian pasti muncul, hanya saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-sting.jpg" border="1" alt="" hspace="10" width="139" height="180" align="left" />Sangat bisa dimengerti, jika menunggu adalah seperti sebuah padanan korelatif dengan kebosanan, maka itu sedikitnya bisa dimengerti. walaupun sebenarnya tidak selalu bisa dibenarkan, karena ternyata -sesuai judul, Sejatinya kita memang harus menunggu.</div>
<div>Bisa dimengerti kan, ternyata lalu lalang kita di bumi milik Dia ini, hanya untuk sebuah perkara ‘kecil’ yaitu menunggu. Kepastian pasti muncul, hanya saja entah kapan. Itu, yang kita sebut menunggu. Bukan untuk sebuah kesia-sian tapi kepastian dari Sang Pasti.<br />
Jadi, benar adanya bahwa &#8220;life is waiting&#8221;, hidup adalah sebuah waktu peluruhan tubuh, sampai pada titik lebur dengan syarat batas bebas. Nah, menunggu inilah yang jadi uji kelayakan kita sebagai penunggu.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
