<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; Perjuangan</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/perjuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Intelektualitas Semu</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualitas]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Merengkuh Nasehat Ibu
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Merengkuh Nasehat Ibu</strong><br />
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa. Terlalu banyak hal dan keadaan yang seolah-olah memaksa seseorang agar  menggunakan sedikit kecerdasannya untuk membohongi orang lain. Ada berbagai keuntungan yang akan diraih dengan menggunakan sedikit kecerdasan tersebut. Sebut saja kepercayaan, harta dan kekuasaan. Dan sayangnya,<span id="more-307"></span> semua itu hanya merupakan sebagian keuntungan saja. Masih banyak sebenarnya keuntungan lainnya yang akan dengan mudah didapatkan. Setiap orang tentu dapat melihat bagaimana orang-orang cerdas dengan mudah mendapatkan segala sesuatu yang ada dihadapannya. Kemudahan yang tidak semua orang mampu untuk mendapatkannya.<br />
Namun, apakah semua kemudahan yang didapatkan dari memanfaatkan sedikit kecerdasan tersebut akan bertahan lama dan abadi? Pastilah tidak. Karena dengan adanya kecerdasan yang disalah-gunakan akan mengundang perlawanan dan perjuangan dari sisi hadirnya keyakinan. Boleh saja misalnya; seseorang yang yakin terhadap sesuatu, ia tidak mendapatkan kemudahan sedikitpun dari  kecerdasan yang memang sedikit yang ada pada dirinya. Tetapi keyakinan tersebut merupakan modal awal yang sangat besar dan kuat untuk melawan ketidak-adilan yang dilaksanakan dengan sangat baik oleh orang-orang yang menyalah-gunakan kecerdasan. Berawal dari keadaan yang seperti ini, mereka yang berperan sebagai para pengusung keyakinan akan berjuang habis-habisan untuk menghentikan ketidak-adilan meskipun mereka menyadari bahwa dirinya tidak “secerdas” orang-orang yang tengah dihadapinya, yakni orang-orang yang sedang menyalah-gunakan kecerdasan. Para pengusung keyakinan selalu memiliki keyakinan melebihi orang-orang cerdas. Sesiapa yang memenangkan “pertarungan” itu, maka merekalah yang sesungguhnya sedang berada didalam kebenaran. Tetapi apakah “hasil” pertarungannya dapat terlihat? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Karena memang, pertarungan itu sendiri akan terus-menerus terjadi sepanjang waktu dunia ini berdiri.<br />
Satu yang jelas, perbuatan memilih untuk selalu berada didalam kebenaran, niscaya dibayar dengan harga yang amat mahal ketika seseorang dengan kerelaan, berani untuk menafikan sifat-sifat keduniawian yang ada pada dirinya. Karena sifat-sifat keduniawian ini berarti berada pada tindakan memanfaatkan kecerdasan yang ada pada dirinya untuk keuntungan dirinya sendiri selama berada di dunia, berbeda dengan para pengusung keyakinan yang selalu bertindak untuk melampaui segala tujuan duniawi. Namun, tanpa terlalu peduli; apakah seseorang termasuk cerdas atau tidak, suatu tindakan untuk selalu berada didalam kebenaran adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi kecuali jika seseorang memang hendak meninggalkan kebenaran tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengklasifikasikan Kecerdasan?</strong><br />
Segala hal telah diberikan untuk sebuah pengklasifikasian atas kesuksesan yang terjadi pada diri seorang manusia. Mulai dari kecerdasan otak yang pernah diyakini sebagai satu-satunya parameter keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup, kemudian ada kecerdasan emosional yang katanya juga turut memengaruhinya, sampai kecerdasan spiritual yang akhir-akhir ini sering dibicarakan, ikut juga menjadi parameter keberhasilan. Pengklasifikasian atas tiap-tiap sesuatu merupakan sebuah pencapaian pada puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan yang acapkali hanya  dilakukan oleh seorang ahli dan memang telah diakui keahliannya oleh khalayak ramai. Tidak cukup sampai disitu, pengakuan atas klasifikasi yang diajukan oleh seorang ahli tersebut tidak pernah mudah dalam proses diakuinya. Melalui beberapa tahapan yang cenderung menjemukan namun paten dalam hasil akhirnya, pengklasifikasian dapatlah dianggap sebagai “suatu bagian terindah” dari suatu bidang ilmu pengetahuan. Namun, pengklasifikasian atas kesuksesan seorang manusia masih saja selalu menyisakan tanda tanya besar diantara umat manusia itu sendiri. Beberapa orang tidak percaya, beberapa lainnya percaya habis-habisan, beberapa sisanya tidak ambil pusing atas pengklasifikasian tersebut.<br />
Dari sini terlihat jelas bahwasanya kecerdasan seseorang masih dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan, apapun jenis kecerdasannya. Tidak peduli apakah pengklasifikasian tersebut absah atau tidak, empiris maupun non-empiris, pengklasifikasian kecerdasan manusia nyata-nyata telah memengaruhi kecerdasan manusia itu sendiri secara individu. Jika mengetahui tentang pengklasifikasian kecerdasan manusia, maka bolehlah kemudian seseorang dikatakan cerdas namun jika tidak  mengetahui, maka mungkin ia akan dianggap sebagai orang awam yang biasa saja. Dan dengan mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang bisa saja menyatakan bahwa dirinya memiliki semacam kelebihan pada salah satu jenis kecerdasan tersebut, untuk kemudian ia manfaatkan pada sesuatu yang ia anggap akan menguntungkan dirinya. Sebaliknya, dengan tidak mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang mungkin akan merasa lebih terpuruk lagi dalam menjalani kehidupannya, sebab ia akan merasa begitu ketinggalan pengetahuan. Tetapi, apakah perihal tersebut penting?.<br />
Mengingat bahwa keberhasilan atau kesuksesan seseorang yang hidup di dunia ini tidak melulu atas usahanya sendiri (tidak melulu dari kecerdasannya sendiri). Terdapat banyak faktor lain diluar pengklasifikasian kecerdasan yang dapat mendukung keberhasilan seseorang. Ada yang disebut dengan; ukuran dan ketentuan alam semesta bekerja, yang seringkali tidak diketahui apa dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi, kemudian ada yang disebut dengan; hubungan yang tidak pernah dapat terjelaskan, yang acapkali tidak diketahui kapan dan mengapa hubungan itu dapat terjadi, lalu ada lagi yang disebut dengan; pertanyaan kebanyakan manusia yang mereka ini tidaklah mengetahuinya melainkan hanya sedikit sekali. Sikap untuk tunduk dan mempercayai Sang Pencipta secara utuh dan sepenuhnya adalah kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, tidak boleh ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan yang malahan dapat menjerumuskan seseorang pada hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak peduli apakah seseorang tersebut saat ini mengakui adanya Sang Khalik ataupun tidak, seseorang tersebut mestilah telah pernah memikirkannya sebelumnya.<br />
Adalah menjadi sesuatu yang sangat sederhana dan menentramkan, jika perbuatan memilah-milah sesuatu hanya diperuntukkan pada ranah-ranah tertentu saja, bukan pada ranah yang memang seharusnya dibiarkan “begitu saja”. Tanpa perlu adanya pertentangan lebih lanjut, tanpa perlu adanya perasaan berlebihan yang tidak pada tempatnya, niscaya segala pengklasifikasian memperoleh tempatnya yang tinggi di hati orang-orang yang meninggikannya. Dan dari jalan ilmu pengetahuan beberapa orang memang telah ditinggikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Seperti Nasehat Ibu</strong><br />
Beroleh keduniawian dan beroleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada itu, pastilah hanya bersandarkan pada nasehat Ibu yang mengandung segala makna kebenaran dari Sang Pencipta. Tidak pernah mudah memang, namun bukan berarti tak ada peluang. Dimulai dengan tidak menggunakan kecerdasan untuk membohongi orang lain, seseorang diperkenankan untuk berharap memperoleh keduniawian tanpa perlu takut terlena oleh segala pesonanya yang menghancurkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan salah-mu, jika kebenaran terlalu lama terungkap!</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 07:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/01/12/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/</guid>
		<description><![CDATA[ditulis oleh: m. muhadzis g.
Setidaknya, kalimat tersebut sedikit menenangkan jika segunung persoalan seolah sedang  berada diatas pundak kita. Sama saja, entah kalimat tersebut diucapkan oleh diri sendiri, oleh orang lain yang mengenal kita, atau bahkan oleh orang lain yang sama sekali tidak mengenal kita. Jika kalimat tersebut sungguh-sungguh ditujukan kepada kita, kecenderungan untuk bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ditulis oleh: m. muhadzis g.</p>
<p>Setidaknya, kalimat tersebut sedikit menenangkan jika segunung persoalan seolah sedang  berada diatas pundak kita. Sama saja, entah kalimat tersebut diucapkan oleh diri sendiri, oleh orang lain yang mengenal kita, atau bahkan oleh orang lain yang sama sekali tidak mengenal kita. Jika kalimat tersebut sungguh-sungguh ditujukan kepada kita, kecenderungan untuk bisa lebih santai setelah mendengar kalimat tersebut acapkali terjadi dan ketika itu terjadi, ternyata memang sangat menenangkan. </p>
<p>Adalah sebuah oase diantara keringnya medan perjalanan yang begitu panjang dan berliku, ketika seseorang secara tak sengaja mendengar kalimat yang mampu menenangkan dirinya. Betapa sebuah dahaga, sekejap saja bisa langsung sirna, jika sebentar saja sebuah ketenangan menyapa. Kerinduan akan suatu masa dimana seseorang pernah dengan sangat bahagia menggenggam sebuah ketenangan, tak syak lagi menjadi semacam kerinduan yang mendendam. Yang senantiasa ingin terbalaskan. Senantiasa ingin lagi dan lagi merasakan ketenangan seterus-terusnya, selama-lamanya mengiringi medan perjalanan yang kering dan tanpa henti.<br />
Namun sayang, tik-tak kesadaran yang membungkus tubuh seseorang, menjadikan sebuah ketenangan malah seringkali berada diluar tubuh itu sendiri. Berada jauh diluar jangkauan dirinya sendiri. Ketenangan ini tak disangka berada diluar segala pencapaian. Tik-tak kesadaran yang menempel pada tubuh seseorang adalah yang paling sering menjadi penyebab gagal-nya pencapaian seseorang untuk meraih ketenangan. Tik-tak kesadaran lebih berat kadar-nya pada perbuatan mengayomi kenyataan agar sesuai dengan keinginan daripada perbuatan mengagumi mimpi yang tidak sesuai dengan keinginan. Padahal bukan tidak mungkin, bahwa apa-apa yang tidak tampak sebagai kenyataan pada saat ini adalah sangat mungkin terjadi pada saat yang lain. </p>
<p>Telah dimafhumi bahwa apa-apa yang terjadi pada diri seseorang pada saat ini adalah buah dari perbuatan yang ia tanam pada saat yang lalu. Dan apa-apa yang ditanam pada saat ini akan berbuah pada saat yang akan datang. Tetapi “jalur” perjalanan seseorang yang seperti ini tidak serta merta terjadi dan diamini oleh sebagian orang lainnya. Alangkah banyak “buah” tidak terduga yang seseorang dapatkan padahal ia tidak merasa “pernah” menanam. Hal ini berarti, ada ruang ekspektasi yang lain yang tidak pernah sama sekali berada dalam daftar ekspektasi seseorang didalam menempuh perjalanannya. Lalu dari mana datangnya ekspektasi tersebut?</p>
<p>Menjawab sesuatu dengan keumuman untuk sesuatu yang khusus, tidak pernah terdengar memuaskan. Karena kekhususan selalu berkorespondensi dengan orang-orang tertentu (yang tidak umum). Mempercayai apa yang dilihat tanpa perlu untuk mencari tahu penyebab-nya kadang-kadang malah lebih menyenangkan. Begitu juga jika harus dihadapkan dengan pertanyaan semacam “darimana datangnya ekspektasi tersebut?”. Tidak mudah menjawab-nya. Namun, selalu ada jawaban sederhana untuk setiap pertanyaan yang terlihat kompleks.  Biarkan saja ekspektasi tersebut menjadi kenyataan tanpa harus berekspektasi bahwa kenyataan yang sama bakal terjadi lagi. Karena bergantung pada ekspektasi yang terlalu kecil adalah sesuatu yang berat dan menyakitkan, meski kadang-kala berhasil. Permasalahan utama-nya adalah bahwa ekspektasi itu harus selalu ada, tanpa terlalu besar ataupun terlalu kecil.</p>
<p>Setelah itu ada permasalahan lain, yakni ketakutan. Ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu mendorong seseorang untuk mempunyai pertahanan sebagai tameng ketika berdalih. Tameng inilah yang disebut sebagai sebuah ketakutan. Perihal ini (ketakutan) adalah perlu jika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang berada diluar kemampuannya, hal ini untuk menghindari perbuatan nekat tanpa perhitungan yang bisa berakibat fatal bagi dirinya sendiri atau bahkan bagi orang lain. Ketakutan telah seringkali menyelamatkan seseorang dari akibat-akibat yang tidak diinginkan. Ketakutan juga acapkali menjadi pertimbangan terakhir ketika mengambil keputusan. Ketakutan semacam inilah yang nilai-nya harus tersambung dengan nilai ekspektasi. Nilai ketakutan dan nilai ekspektasi harus sejajar dan seimbang. Agar ekspektasi dan ketakutan membawa seseorang pada “jalur” yang benar dalam perjalanan-nya. Namun, pasti ada ketakutan yang tidak perlu. Ketakutan apa yang tidak diperlukan yang bahkan harus dibuang jauh-jauh?</p>
<p>Ketakutan pada sesuatu yang lebih besar nilai-nya daripada nilai dimana ketakutan itu seharusnya berada, adalah ketakutan yang tidak perlu. Ketakutan itu mempunyai batas, terdapat interval dimana ketakutan bisa bergerak naik-turun atau maju-mundur didalamnya. Tidak sepatutnya seseorang mempunyai ketakutan melebihi atau kurang dari ambang batas yang seharusnya. Tentu saja, interval tersebut akan sebanding dengan besarnya ekspektasi yang dimiliki seseorang. Melayani ketakutan dengan terus-menerus bertanya apa yang bakal menimpa diri sendiri, masih menjadi permasalahan yang harus dihadapi hingga hari ini, oleh siapapun. Seseorang seringkali merasa takut jika ada sesuatu yang tidak diinginkan bakal menimpa diri-nya. Itu pasti dan terjadi pada semua orang. Tetapi jika ketakutan itu terus membesar tanpa pernah mencoba untuk mengatasinya, maka seseorang harus bersiap dengan apa yang akan terjadi karena ketakutan-nya sendiri. Sesuatu yang ditakutkan akan benar-benar terjadi dan menimpa diri-nya karena ia tidak pernah mencoba untuk mengatasinya atau setidak-tidak-nya mencari-tahu penyebab-nya.</p>
<p>Lalu ada lagi, ketakutan terhadap apa yang bakal menimpa pada diri orang lain. Tepatnya, orang lain ini sangat berarti bagi dirinya. Orang lain ini menempati ruang yang sangat khusus didalam hati dan pikirannya. Sehingga ia sangat tidak menginginkan, jika sesuatu yang buruk menimpa orang lain tersebut. Dari sinilah ketakutan itu bermula, rasa memiliki sesuatu yang berada diluar dirinya sendiri, yakni rasa memiliki orang lain. Adalah sah apabila seseorang merasa takut kalau-kalau sesuatu terjadi pada kekasih yang dicintai-nya, adalah juga sah apabila seseorang merasa takut jika sesuatu terjadi pada anak yang disayanginya dan sangat-lah beralasan ketika seseorang merasa takut akan sesuatu yang bakal terjadi menimpa saudara yang dihormati-nya. Namun ketakutan itu tetaplah tidak boleh berlebihan. Karena dengan logika yang sangat sederhana, rasa memiliki yang terlalu berlebihan, menjadikan ruang didalam hati dan pikiran menjadi benar-benar kosong ketika apa-apa yang dimiliki tersebut tiba-tiba hilang. Keadaan kosong seperti inilah yang semestinya dihindari oleh setiap orang. Keadaaan ini membuat pelaku-nya hanya mengingat-ingat rasa memiliki itu secara terus menerus, padahal apa-apa yang dimiliki-nya itu kini telah hilang. Disisi lain, ia harus terus hidup dan meneruskan perjalanan-nya tanpa terhenti hanya karena ada sebuah kekosongan didalam ruang hati dan pikiran-nya.</p>
<p>Kalau sudah begitu, hanya kalimat-kalimat yang menenangkan yang mampu membuat seseorang kembali mau meneruskan perjalanan-nya. Kalimat “bukan salah-mu, jika kebenaran terlalu lama terungkap!” untuk sebagian orang mungkin harus diganti menjadi, “bukan salahmu, jika ketakutan itu benar-benar menjadi kenyataan!”. Dengan konsekuensi tanpa mengkambing-hitamkan siapapun atas ketakutan-ketakutan yang kemudian menjadi kenyataan tersebut.<br />
Wallahu’alam wallahul must’an.</p>
<p>09 januari 2009<br />
Pasar Minggu, Jakarta Selatan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persoalan hidup dimulai ketika lahir dan berakhir ketika mati.</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 05:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/01/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.    

Bukanlah kebiasaan saya bermain dalam wilayah coba-coba. Seseorang menasehati saya, bahwa sebelum melakukan sesuatu, saya sudah harus tahu jalan keselamatannya terlebih dahulu. Konon, tersebutlah bermacam-macam pengaruh yang bakal menaungi seseorang selama hidupnya. Pengaruh itu kadang menjadi naungan yang teduh, disaat yang lain menjadi seperti perjalanan tanpa henti. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Oleh : moch. Muhadzis g.    </div>
<p align="justify" class="Standard"><img width="231" height="191" border="0" align="left" title="" alt="" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/baby.jpg" style="width: 231px; height: 191px;" /></p>
<p align="justify" class="Standard">Bukanlah kebiasaan saya bermain dalam <strong>wilayah</strong> coba-coba. Seseorang menasehati saya, bahwa sebelum melakukan sesuatu, saya sudah harus tahu jalan keselamatannya terlebih dahulu. Konon, tersebutlah bermacam-macam pengaruh yang bakal menaungi seseorang selama hidupnya. Pengaruh itu kadang menjadi naungan yang teduh, disaat yang lain menjadi seperti perjalanan tanpa henti. Sudah banyak saya kira yang menyebutkan hal serupa. Merombak kodrat bagi beberapa pejuang hidup, mungkin sebenarnya telah <strong>digariskan</strong> terlebih dahulu. Ketika mereka lahir, beberapa pejuang hidup yang lebih tua, telah mengetahuinya lebih dulu. Namun sesunguhnya ia (pejuang hidup yang lebih tua) pun tengah menunggu kematiannya sendiri. Sebab ia tahu pasti bahwa ia akan terganti. Setidaknya ia sudah melihat kelahiran yang akan menggantikan kematiannya -maaf, jerawat diujung hidung saya pecah ketika menuliskan ini-. </p>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Persoalan yang kemudian terjadi adalah akan adanya konflik -atau, seolah-olah konflik-, diantara pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua. Karena keduanya masih hidup, karena keduanya masih terus bergelut. Adalah mudah bagi pejuang yang lebih tua menyebutkan bahwa dirinya &ldquo;salah&rdquo; selama ini, dan itu, yang menjadi kesukaran untuk diterima oleh pejuang yang lebih muda. Karena mungkin pejuang yang lebih muda tidak mampu -atau belum mampu- melihatnya sebagai suatu kesalahan. Persoalan ini terus-menerus terjadi hingga hari ini. Saya kira sudah saatnya -maaf, saya harus ke belakang dulu, sebentar-, pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua untuk hanya <strong>mengidolakan</strong> seseorang yang telah terkubur dalam tanah -jenazah/orang mati-. Kecemburuan kepada mereka (orang mati) <strong>haruslah lebih besar</strong> daripada kecemburuan -seekor lebah berputar sebentar diatas kepala saya, sehingga saya harus mengusirnya keluar terlebih dahulu, maaf- kepada yang masih hidup. Karena hanya orang mati yang pantas menjadi pelajaran bagi orang hidup. Tidak ada seorang pun yang masih hidup saat ini yang menginginkan kematian yang buruk. Dan itu berarti memang ada cara untuk menghindari kematian yang buruk. Saya kira ini bisa dipahami oleh pejuang yang lebih muda dan pejuang yang lebih tua. </p>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menghadapi kematian yang sudah pasti. Dan saya yakin setiap orang mengetahuinya -terlepas dari anggapan bahwa lupa adalah manusiawi-. Bahwa <strong>kehati-hatian</strong> menjadi kamus umum setiap orang untuk menjalani hidupnya. Saya kira pemahaman yang <em>lebih</em> bijaksana dari pejuang yang lebih tua akan mampu bersanding dengan semangat yang <em>lebih</em> membara dari pejuang yang lebih muda. Saya kira lagi, sudah saatnya berhenti untuk saling <strong>membutakan diri</strong> dari persoalan ini. Karena seorang pejuang hidup tidak pernah hidup&nbsp; untuk dirinya sendiri. Ia menanggungkan beban yang tidak ringan di pundaknya dengan berani. Walaupun ada yang memandang sebaliknya, tapi itu nanti, ketika pejuang-pejuang hidup itu telah benar-benar mati terkubur dalam tanah. Maka berjuanglah! Berjuanglah!</p>
<div align="justify">  </div>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</p>
<div align="justify">    </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
