<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; Makna</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/makna/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Karena kita (memang) tak boleh tertidur (terlalu) nyenyak</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 05:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/16/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.
Begini saudaraku…
suatu ketika seseorang berkata kepada anak-nya yang masih kecil : “bukan naik pohon-nya yang tidak boleh, tetapi jatuh-nya itu yang jangan”. Anak kecil tersebut, saat itu juga tidak jadi naik pohon. Jeda. Waktu lewat.
Setelah beberapa hari, anak kecil tersebut, menaiki pohon dan karena memang seseorang yang menasehatinya tadi, saat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : moch. Muhadzis g.</p>
<p>Begini saudaraku…<br />
suatu ketika seseorang berkata kepada anak-nya yang masih kecil : “bukan naik pohon-nya yang tidak boleh, tetapi jatuh-nya itu yang jangan”. Anak kecil tersebut, saat itu juga tidak jadi naik pohon. Jeda. Waktu lewat.</p>
<p>Setelah beberapa hari, anak kecil tersebut, menaiki pohon dan karena memang seseorang yang menasehatinya tadi, saat itu sedang tidur siang. Ia pun memberanikan diri menaiki pohon. Sebenarnya ia bukan tipe anak kecil yang sering melupakan nasehat. Dengan sangat hati-hati, dahan demi dahan ia lewati. Lagi dan lagi. Terus menuju keatas sampai  ke dahan yang paling kecil. Ketika sudah sampai didahan yang paling atas ia pun merasa gembira. Angin kencang menerpa wajahnya. Disudut bibirnya terselip sebuah senyuman kecil, walaupun sebenarnya lebih mirip seperti sebuah tawa kemenangan. Sesekali tubuhnya ikut goyang bersama dahan yang ia pegang. Dan ia menikmatinya. Ia tujukan matanya kemanapun ia mau. Ia semakin gembira karena di puncak pohon ini ia mampu melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya ia lihat. Sudut pandang dari sebuah ketinggian. Ada rasa puas dalam hatinya.<br />
Setelah beberapa saat, akhirnya ia pun merasa bosan, dan ketika matanya vertikal melihat kebawah, seketika itu juga rasa takut menyergap, menyelimuti pikirannya. Sekarang, matanya ia pejamkan dengan paksa namun tangannya semakin erat memegangi dahan. Tubuhnya pun ia lebih rapatkan lagi ke dahan. Keringat dingin mulai menggenangi seluruh bagian tubuhnya. Bermacam bayangan melintas di kepalanya. Ia takut untuk turun. Ia takut terjatuh. Ia takut mati.</p>
<p>Cukup lama ia mematung di puncak pohon sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka matanya. Ia harus turun. Ia tidak betah berada di puncak. Ia longgarkan pegangan tangannya. Tubuhnya mulai punya jarak dengan dahan. Tidak lagi rapat. Perlahan, ia turunkan kakinya kemudian tubuhnya. Kakinya yang lebih dulu meraba-raba dahan. Yang besar dan kuat yang ia pijak. Namun ia tidak mau melihat kebawah. Matanya kali ini ia paksa untuk hanya melihat dahan yang pernah ia lewati. Dahan yang pasti yang akan ia lewati lagi. Jalan yang sama seperti tadi ketika ia naik. -maaf, saya tadi pergi ke tempat pangkas rambut dulu, memangkas rambut saya yang sudah kurang lebih enam tahun tak dipangkas…ya… sudah, dan segala puji hanya bagi-Nya-. Ia hanya percaya pada ingatannya. Ia hanya ingin melewati dahan-dahan yang tadi ia gunakan untuk naik. Meskipun sekarang ia mendapati ada banyak dahan yang tidak ia kenali untuk turun. Jalan dahan yang sepertinya “bisa lebih menyelamatkan” untuk turun. Namun ia bersikukuh melewati jalan dahan yang ada dalam ingatannya. Ia meyakini bahwa hanya ingatannyalah yang mampu menjadi penyelamat. Ia terus turun dan turun.<br />
Dan, ketika sudah setengah perjalanan, setengah dari puncak dan setengah dari tanah, entah mengapa ia seperti kehilangan konsentrasi. Kakinya tiba-tiba sama sekali tidak menjejak dahan, hanya udara, tangannya yang tadinya mencengkeram tiba-tiba terlepas dari dahan, dan badannya seperti dipaksa untuk hilang keseimbangan. Ia tak mampu mengingat apa-apa lagi. Ia tak mampu melihat apa-apa. Ia terjatuh. Selama beberapa saat ia tergolek di tanah. Ia pingsan.</p>
<p>Ketika terbangun, ia tak mendapati siapapun disana. Hanya ada dirinya dan pohon. Ia berdiri, melihat ke sekeliling, melihat ke puncak pohon, melihat ke tanah tempatnya berpijak. Selama beberapa saat ia hanya terdiam. Dan lalu, sedikit berlari ia masuk kedalam rumah. Menuju kamar lalu ia pun memaksakan diri untuk tidur siang. Dan akhirnya, anak kecil itu pun tertidur siang itu.</p>
<p>Saudaraku… entahlah… mungkin bagian akhir cerita diatas tidaklah terlalu nyata, mungkin ada yang ditambahkan, mungkin ada yang dilebih-lebihkan, entahlah… saya tak terlalu jelas mengingatnya. Namun satu hal, saya memerlukan cerita tersebut untuk mengetahui siapa diri saya. Dan menurut saya, kita memang perlu untuk mengetahui siapa diri kita.<br />
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri ini selalu saja mengajarkan kejahatan, bahwa diri ini selalu saja ingin terhindar dari siksaan, bahwa diri ini enggan merasakan kepedihan, bahwa diri ini ingin selalu meraih apa yang terlihat oleh mata, bahwa diri ini enggan menjamah wilayah rasa sakit sedikitpun.<br />
Saudaraku… ketahuilah… saya bukan menganjurkan untuk menyiksa diri. Saya tidak menganjurkan untuk menyakiti diri sendiri. Bukan dan tidak. Ketahuilah… rasa sakit untuk sebuah keyakinan adalah harapan untuk sebuah kebahagiaan.<br />
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri senantiasa mencari-cari sekutu untuk dapat mewujudkan hasrat dan keinginannya, bahwa kejahatan itu membutuhkan teman, bahwa kekejian itu seringkali berada dalam kelompok-kelompok, bahwa diri akan dengan mudah mengatakan “ya” untuk sesuatu yang memang terlihat mudah untuk dilakukan, bahwa diri akan sulit mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang memang terlihat menyenangkan.<br />
Saudaraku… ketahuilah… mungkin kita boleh memusuhi diri sendiri, tapi kita tetap tidak boleh mencelanya. Ketahuilah… bahwa diri harus kita didik tanpa henti. Tidak bisa tidak, bahwa diri harus ditaklukan dengan kurikulum kebenaran. Ketahuilah… bahwa diri tidak boleh dibiarkan terlalu liar menawar-nawar.<br />
Saudaraku… ketahuilah… mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan segera menyerahkannya pada sesuatu yang kau anggap agung. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan membenarkan segala yang benar dan menyalahkan segala yang salah. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan semakin sedikit berbicara. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan selalu mengingat  sesuatu yang paling penting yang berada diluar diri.<br />
Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
<p>Cibeusi, jatinangor, 2:00 AM, senin 16 juni 2008 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Berarti Saya Tak Punya Jawaban-nya.</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 05:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/05/31/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.
Adalah menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi apabila tindakan seseorang &#8220;mampu&#8221; mencengangkan mata dan pandangan orang lain, diluar segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Dan tidaklah mustahil apabila hal tersebut mengundang reaksi dan kritik. Adalah juga hal yang wajar apabila seseorang tersebut sekarang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana dirinya teralienasi. Lalu, apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : moch. Muhadzis g.</em>
<p class="Standard"><em></em>Adalah menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi apabila tindakan seseorang &ldquo;mampu&rdquo; mencengangkan mata dan pandangan orang lain, diluar segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Dan tidaklah mustahil apabila hal tersebut mengundang reaksi dan kritik. Adalah juga hal yang wajar apabila seseorang tersebut sekarang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana dirinya teralienasi. Lalu, apakah alienasi tersebut muncul dari dirinya sendiri, dari orang lain atau dari sesuatu yang memang &ldquo;harus&rdquo; terjadi? Kalau sebuah ide dilontarkan kemudian dirasakan tidak menyenangkan, maka seseorang haruslah kemudian memikirkan-ulang tentang ide tersebut dan hubungannya dengan dirinya sendiri. Masih mampukah -atau sudah mampukah- ia berhadap-hadapan dengan ide tersebut dan segala turunannya? </p>
<p class="Standard">Saya mungkin mampu &ldquo;mengingat&rdquo; pada rasa perih para Nabi dan orang-orang shalih. Bagaimana cedera fisik menjadi ujian yang menjadi-jadi. Kalau persoalannya hanya dimusuhi, mereka masih akan mampu berdiri. Tapi ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu, <em>perselisihan dengan dirinya sendiri</em>, adalah sesuatu yang akan dikatakan <strong>tampak</strong> pada diri para Nabi dan orang-orang shalih. Dan bukankah itu, yang membuat mereka bersedih -dalam tataran sebagai manusia biasa-. Manusia akan menjauh darinya, manusia terbawa tuduhan-tuduhan, manusia semakin menjaga jarak, manusia mulai mencari-cari <strong>pembenaran</strong> dan berbagai macam hal yang serupa dengan itu, padahal&nbsp; para Nabi dan orang-orang shalih <em>menyayangi kemanusiaan lebih dari manusia pada biasanya</em>.&nbsp; Tapi apakah mereka benar-benar bersedih? Saya kira itu adalah penglihatan awam! Meski kadang-kadang juga merupakan penglihatan yang lebih kontekstual -sangat disayangkan-. Mereka yang yakin disebut sebagai orang yang ragu-ragu. Padahal para Nabi dan orang-orang shalih hanya ingin agar tidak hanya dirinya sendiri yang mampu&nbsp; &ldquo;menikmati&rdquo; kesedihan tersebut. Dan kesedihan yang dimaksud tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebahagiaan yang merupakan kebalikannya. Sebab kebahagiaan yang dimaksud pun sudah barang tentu merupakan kenikmatan yang berbeda antara para Nabi dan orang-orang shalih dengan manusia pada biasanya.</p>
<p class="Standard">Kalau sudah demikian, saya bertanya pada diri saya sendiri, dimanakah posisimu wahai diri? Sebelum menjawabnya, saya teringat pada pernyataan seorang kawan, &ldquo;jadi, apa yang harus dimengerti?&rdquo;. <em>Mengerti dirimu sendiri, mengerti <strong>zaman</strong> dimana kau hidup dan mengerti apa yang tengah kau persiapkan untuk pengertian yang telah kau mengerti</em>. Seandainya saya yang ditanya oleh kawan tersebut, saya akan lebih memilih diam, sebab sudah terlalu banyak pernyataan yang saya ucapkan, kemudian dimalam harinya saya menyesali pernyataan yang saya lontarkan, meskipun pernyataan tersebut akan dianggap sebagai kebenaran. Dari sini, mungkin sudah terlihat dimanakah posisi diri saya sendiri. Saya sama sekali tidak berhak menilai diri saya suci. Tidak sama sekali. Sebab setiap manusia memiliki mata, setiap manusia memiliki telinga dan setiap manusia memiliki hati. Dari situ segalanya menjadi sulit.</p>
<p class="Standard">Maaf, saya berbicara seolah-olah saya merupakan &ldquo;bagian lain&rdquo; dari manusia dan diri, tapi itulah, mungkin sedari sekarang kita sudah harus memikirkan apa yang tersembunyi dan apa yang tidak. Lalu bergegas mengambil langkah dengan keyakinan tentunya. Selamat bergegas!</p>
<p class="Standard">Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</p>
<p class="Standard">&nbsp;</p>
<p class="Standard">Jatinangor, 31 mei 2008&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
