<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; keyakinan</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/keyakinan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Religiusitas Inovasi</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 07:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Seolah-olah
Setiap perubahan merupakan sebuah keniscayaan jika stagnasi terjadi dan telah mencapai suatu titik jenuh pada keadaan tertentu. Tidak dapat dinafikan bahwa sebuah perubahan memang diperlukan, namun disisi lain, sebuah perubahan juga dapat terjadi dengan sendirinya tanpa adanya keperluan yang benar-benar disadari. Sedikit dari lingkungan dapat berarti sangat besar terhadap sebuah sistem. Entah itu sistem organ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Seolah-olah</strong><br />
Setiap perubahan merupakan sebuah keniscayaan jika stagnasi terjadi dan telah mencapai suatu titik jenuh pada keadaan tertentu. Tidak dapat dinafikan bahwa sebuah perubahan memang diperlukan, namun disisi lain, sebuah perubahan juga dapat terjadi dengan sendirinya tanpa adanya keperluan yang benar-benar disadari. Sedikit dari lingkungan dapat berarti sangat besar terhadap sebuah sistem. Entah itu sistem organ didalam tubuh, sistem sosial didalam masyarakat, sistem hukum didalam pemerintahan atau bahkan sistem orbit didalam alam semesta. Sebuah peluang menjadi sesuatu yang amat penting untuk diketahui jika sebuah sistem hendak diselidiki setiap perubahannya. Memaksakan sebuah perubahan dengan menggangu sistem ataupun mendiamkan sebuah perubahan dengan membiarkan waktu berlalu, sama-sama tidak menguntungkan jika dilakukan dengan berlebihan dan keterlaluan. Diperlukan suatu dosis yang tepat <span id="more-312"></span>agar sebuah perubahan tidak menjadi sesuatu yang merugikan sistem itu sendiri. Dan dosis, yang keberadaan dan segala perhitungannya, mau tidak mau haruslah memperhatikan setiap peluang dan kemungkinan yang akan terjadi setelah pemberian dosis tersebut pada sebuah sistem.</p>
<p style="text-align: justify;">Keinginan untuk berubah bukanlah sebuah keadaan yang seolah-olah, bukan pula sebentuk kepura-puraan yang bersifat sementara. Konsekuensi dari keinginan terhadap sebuah perubahan akan berbekas hingga waktu yang lama. Itulah sebabnya setiap perubahan memerlukan sebuah proses yang amat panjang dan melelahkan. Dampak dari sebuah perubahan amatlah jelas, begitu pula dengan proses sebelum perubahan itu terjadi, gambaran waktu dan aktifitasnya sangat jelas dan nyata. Berbeda halnya jika sebuah perubahan merupakan sebuah keadaan yang seolah-olah. Gambaran proses sebelum terjadi perubahan tidaklah nyata bahkan terlihat kabur dan menggelapkan. Tentu saja kemudian, dampak yang ditimbulkan dari sebuah perubahan yang berawal dari proses yang tidak nyata, akan berujung pada konsekuensi yang berupa kesementaraan dan hanya berbekas untuk waktu yang sebentar. Permasalahan yang sebenarnya perlu untuk mendapatkan perhatian yang serius, adalah tentang bagaimana mengenali, mana proses yang nyata dan mana proses yang sementara. Sebuah perubahan pastilah menawarkan sebuah proses, pilihan berada ditangan siapapun yang menginginkan sebuah perubahan. Tetapi, jebakan-jebakan kesementaraan biasanya tersembunyi dibalik sebuah proses perubahan itu sendiri. Pada akhirnya, kesalahan dalam memilih sebuah proses akan berakibat pada kerugian yang nyata bagi para pemilih sebuah proses perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenali sebuah proses yang berdampak pada sebuah keabadian tidaklah mudah, kecuali bagi beberapa individu saja. Mempelajari sejarah, bertanya kepada para ahli ilmu pengetahuan, melakukan penelusuran ilmiah, serta bersabar dalam pencarian kebenaran, merupakan sebuah proses untuk mengenali proses perubahan itu sendiri. Sedikit mengherankan bahwa pengenalan sebuah proses keabadian harus pula melewati sebuah proses yang panjang. Tetapi memang begitulah yang semestinya terjadi. Agar sebuah perubahan memberikan manfaat yang nyata dan jelas serta tidak bersifat sementara memang memerlukan sebuah proses yang tidak sebentar.<br />
Ditambah lagi, proses yang tidak sebentar itu merupakan sebuah perbuatan yang harus dilakukan secara terus-menerus. Perbuatan yang seharusnya dilakukan secara kontinu selama tubuh masih bernyawa. Perbuatan selama proses tersebut diantaranya: meyakini, melakukan perbuatan baik, mengajak kepada kebenaran dan kesabaran. Secara mudahnya, kenali mana perubahan yang akan berdampak nyata, jelas dan abadi, kemudian perhatikan bagaimana perbuatan sebelum sebuah proses perubahan itu terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah perubahan yang memberikan manfaat yang nyata dan jelas, tidak pernah merupakan sebuah kepura-puraan didalam prosesnya. Tidak pernah pula, keadaan seolah-olah pada sebuah proses perubahan memberikan keuntungan yang bersifat abadi. Namun, jebakan kesementaraan pada sebuah proses perubahan senantiasa hadir untuk mengelabui siapapun yang tidak menyadari akan adanya keabadian. Sebaliknya, dengan menghindari jebakan-jebakan tersebut, berarti juga telah melakukan sebuah pemilihan terhadap sebuah proses perubahan yang mengarah kepada keabadian.</p>
<p><strong>Religiusitas dan Inovasi</strong><br />
Bagaimana dengan religiusitas perubahan itu sendiri? Apakah sebuah perubahan bersifat agamawiah? Ataukah agama yang justru memerlukan sebuah perubahan dengan mengacu bahwa sebuah perubahan merupakan sebuah sifat yang melekat -katakanlah bersifat inovasi-? Dibutuhkan sikap kehati-hatian yang seksama dalam menjawab permasalahan ini. Didalam sejarahnya, kedatangan sebuah agama sering terjadi karena sebuah perubahan yang memang sudah semestinya terjadi didalam sebuah masyarakat. Perbaikan tatanan kehidupan pribadi dan masyarakat acapkali menjadi perhatian serius sebuah agama. Pada keadaan ini agama merupakan sebuah pembaharuan (inovasi) bagi keadaan masyarakat. Agama selalu mempunyai misi tentang Sang Pencipta, perbuatan baik, tindakan kejahatan, hubungan antar pribadi, komunikasi didalam masyarakat, hukum alam sebab-akibat, sampai ramalan tentang kejadian masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan sebuah inovasi, seperti juga sebuah perubahan, merupakan sesuatu yang senantiasa terjadi. Inovasi telah membawa sebagian sistem pada keadaan seperti yang diharapkan. Inovasi yang tidak pernah berhenti, tampak secara kasat mata telah memberikan keuntungan yang luar biasa besar misalnya pada bidang teknologi. Sebuah inovasi juga kerap bermanfaat pada beberapa tempat dalam ranah ilmu pengetahuan. Terlebih lagi dalam kesenian, sebuah inovasi biasanya mendapatkan apresiasi yang positif. Namun, sebuah inovasi tidak serta merta diizinkan terjadi, ketika berkaitan dengan sesuatu yang sudah ajeg seperti agama. Inovasi didalam agama merupakan sebuah pengkhianatan bagi agama itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem yang telah terbangun dengan mantap oleh sebuah agama tidak memerlukan sebuah perubahan apapun dalam hal keadaan dasar sebuah agama yang mulia. Tetapi, tidak dapat dipungkiri ihwal adanya kenyataan bahwa inovasi itu telah terjadi, baik karena lemahnya sistem bangunan agama maupun karena kuatnya desakan perubahan dari lingkungan luar.<br />
Segalanya mungkin saja terjadi didalam sebuah sistem makro diatas permukaan bumi ini. Secara langsung maupun tidak langsung, sebuah inovasi pada agama telah memberikan kerugian yang sangat besar bagi kehidupan beragama para pemeluknya sendiri. Bahkan berbagai kehinaan acapkali menyelimuti agama yang tadinya mulia setelah sebuah inovasi hadir pada sebuah agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu hal yang penting adalah bahwa semangat inovatif yang datang dari semangat beragama, merupakan sesuatu yang bermanfaat dan positif jika dituangkan dalam sendi-sendi kehidupan. Sebaliknya, berinovasi didalam agama, melakukan pembaharuan pada agama, merupakan sebuah kecelakaan besar yang merugikan agama dan para pemeluknya sendiri. Sikap inovatif<br />
pada agama bukanlah datang dari agama meskipun tampak seperti sebuah perbuatan beragama (religius). Bukankah Sang Khalik telah memberikan rambu-rambu yang jelas mengenai agama? Bukankah juga, Yang Maha Mengetahui telah secara absolut memerikan mana yang benar dan mana yang salah untuk semua makhluk ciptaan-Nya melalui agama? Lalu untuk apa melakukan inovasi pada agama? Beberapa pertanyaan tersebut dapatlah dijawab dengan menyatakan bahwa melakukan inovasi pada agama berarti telah melakukan penentangan kepada Sang Khalik.</p>
<p><strong>Sang Khalik telah Mengetahui Segalanya</strong><br />
Sebuah agama dan segala inovasi yang terjadi didalamnya, sesungguhnya telah diketahui dengan sangat mutlak oleh Sang Khalik. Hal ini karena Ia mengetahui yang awal dan yang akhir. Tidak ada sebuah perubahan pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Permasalahan sebenarnya justru terjadi pada makhluk ciptaan-Nya, apakah menyetujui inovasi pada agama ataukah menentang inovasi pada agama. Seperti juga ketika memilih sebuah proses perubahan, terdapat proses yang panjang selama mengimplementasikannya. Menentang perbuatan inovasi pada agama merupakan sebuah proses yang tidak sebentar, halangan dan cercaan pastilah senantiasa mengiringi. Akan<br />
terdapat banyak persuasi, argumentasi bahkan mungkin intimidasi ketika perbuatan menentang inovasi pada agama dilaksanakan. Namun, bukankah Sang Khalik mencintai makhluk ciptaan-Nya yang senantiasa membela agama-Nya?</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir, yang paling penting untuk disadari adalah bahwa setiap keyakinan kelak menemui ujiannya sendiri-sendiri. Perbuatan meyakini tidak begitu saja berhenti setelah ikrar keyakinan diucapkan, namun terdapat juga tuntutan didalam implementasinya. Melalui perkataan, perbuatan, do’a-do’a didalam hati dan pikiran, implementasi tersebut haruslah menemukan kehadirannya pada setiap sendi-sendi kehidupan. Setelah itu, kesabaran merupakan hal terakhir yang mengiringi sebuah proses didalam kehidupan sebelum kehidupan itu sendiri benar-benar berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.<br />
Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intelektualitas Semu</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualitas]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Merengkuh Nasehat Ibu
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Merengkuh Nasehat Ibu</strong><br />
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa. Terlalu banyak hal dan keadaan yang seolah-olah memaksa seseorang agar  menggunakan sedikit kecerdasannya untuk membohongi orang lain. Ada berbagai keuntungan yang akan diraih dengan menggunakan sedikit kecerdasan tersebut. Sebut saja kepercayaan, harta dan kekuasaan. Dan sayangnya,<span id="more-307"></span> semua itu hanya merupakan sebagian keuntungan saja. Masih banyak sebenarnya keuntungan lainnya yang akan dengan mudah didapatkan. Setiap orang tentu dapat melihat bagaimana orang-orang cerdas dengan mudah mendapatkan segala sesuatu yang ada dihadapannya. Kemudahan yang tidak semua orang mampu untuk mendapatkannya.<br />
Namun, apakah semua kemudahan yang didapatkan dari memanfaatkan sedikit kecerdasan tersebut akan bertahan lama dan abadi? Pastilah tidak. Karena dengan adanya kecerdasan yang disalah-gunakan akan mengundang perlawanan dan perjuangan dari sisi hadirnya keyakinan. Boleh saja misalnya; seseorang yang yakin terhadap sesuatu, ia tidak mendapatkan kemudahan sedikitpun dari  kecerdasan yang memang sedikit yang ada pada dirinya. Tetapi keyakinan tersebut merupakan modal awal yang sangat besar dan kuat untuk melawan ketidak-adilan yang dilaksanakan dengan sangat baik oleh orang-orang yang menyalah-gunakan kecerdasan. Berawal dari keadaan yang seperti ini, mereka yang berperan sebagai para pengusung keyakinan akan berjuang habis-habisan untuk menghentikan ketidak-adilan meskipun mereka menyadari bahwa dirinya tidak “secerdas” orang-orang yang tengah dihadapinya, yakni orang-orang yang sedang menyalah-gunakan kecerdasan. Para pengusung keyakinan selalu memiliki keyakinan melebihi orang-orang cerdas. Sesiapa yang memenangkan “pertarungan” itu, maka merekalah yang sesungguhnya sedang berada didalam kebenaran. Tetapi apakah “hasil” pertarungannya dapat terlihat? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Karena memang, pertarungan itu sendiri akan terus-menerus terjadi sepanjang waktu dunia ini berdiri.<br />
Satu yang jelas, perbuatan memilih untuk selalu berada didalam kebenaran, niscaya dibayar dengan harga yang amat mahal ketika seseorang dengan kerelaan, berani untuk menafikan sifat-sifat keduniawian yang ada pada dirinya. Karena sifat-sifat keduniawian ini berarti berada pada tindakan memanfaatkan kecerdasan yang ada pada dirinya untuk keuntungan dirinya sendiri selama berada di dunia, berbeda dengan para pengusung keyakinan yang selalu bertindak untuk melampaui segala tujuan duniawi. Namun, tanpa terlalu peduli; apakah seseorang termasuk cerdas atau tidak, suatu tindakan untuk selalu berada didalam kebenaran adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi kecuali jika seseorang memang hendak meninggalkan kebenaran tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengklasifikasikan Kecerdasan?</strong><br />
Segala hal telah diberikan untuk sebuah pengklasifikasian atas kesuksesan yang terjadi pada diri seorang manusia. Mulai dari kecerdasan otak yang pernah diyakini sebagai satu-satunya parameter keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup, kemudian ada kecerdasan emosional yang katanya juga turut memengaruhinya, sampai kecerdasan spiritual yang akhir-akhir ini sering dibicarakan, ikut juga menjadi parameter keberhasilan. Pengklasifikasian atas tiap-tiap sesuatu merupakan sebuah pencapaian pada puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan yang acapkali hanya  dilakukan oleh seorang ahli dan memang telah diakui keahliannya oleh khalayak ramai. Tidak cukup sampai disitu, pengakuan atas klasifikasi yang diajukan oleh seorang ahli tersebut tidak pernah mudah dalam proses diakuinya. Melalui beberapa tahapan yang cenderung menjemukan namun paten dalam hasil akhirnya, pengklasifikasian dapatlah dianggap sebagai “suatu bagian terindah” dari suatu bidang ilmu pengetahuan. Namun, pengklasifikasian atas kesuksesan seorang manusia masih saja selalu menyisakan tanda tanya besar diantara umat manusia itu sendiri. Beberapa orang tidak percaya, beberapa lainnya percaya habis-habisan, beberapa sisanya tidak ambil pusing atas pengklasifikasian tersebut.<br />
Dari sini terlihat jelas bahwasanya kecerdasan seseorang masih dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan, apapun jenis kecerdasannya. Tidak peduli apakah pengklasifikasian tersebut absah atau tidak, empiris maupun non-empiris, pengklasifikasian kecerdasan manusia nyata-nyata telah memengaruhi kecerdasan manusia itu sendiri secara individu. Jika mengetahui tentang pengklasifikasian kecerdasan manusia, maka bolehlah kemudian seseorang dikatakan cerdas namun jika tidak  mengetahui, maka mungkin ia akan dianggap sebagai orang awam yang biasa saja. Dan dengan mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang bisa saja menyatakan bahwa dirinya memiliki semacam kelebihan pada salah satu jenis kecerdasan tersebut, untuk kemudian ia manfaatkan pada sesuatu yang ia anggap akan menguntungkan dirinya. Sebaliknya, dengan tidak mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang mungkin akan merasa lebih terpuruk lagi dalam menjalani kehidupannya, sebab ia akan merasa begitu ketinggalan pengetahuan. Tetapi, apakah perihal tersebut penting?.<br />
Mengingat bahwa keberhasilan atau kesuksesan seseorang yang hidup di dunia ini tidak melulu atas usahanya sendiri (tidak melulu dari kecerdasannya sendiri). Terdapat banyak faktor lain diluar pengklasifikasian kecerdasan yang dapat mendukung keberhasilan seseorang. Ada yang disebut dengan; ukuran dan ketentuan alam semesta bekerja, yang seringkali tidak diketahui apa dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi, kemudian ada yang disebut dengan; hubungan yang tidak pernah dapat terjelaskan, yang acapkali tidak diketahui kapan dan mengapa hubungan itu dapat terjadi, lalu ada lagi yang disebut dengan; pertanyaan kebanyakan manusia yang mereka ini tidaklah mengetahuinya melainkan hanya sedikit sekali. Sikap untuk tunduk dan mempercayai Sang Pencipta secara utuh dan sepenuhnya adalah kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, tidak boleh ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan yang malahan dapat menjerumuskan seseorang pada hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak peduli apakah seseorang tersebut saat ini mengakui adanya Sang Khalik ataupun tidak, seseorang tersebut mestilah telah pernah memikirkannya sebelumnya.<br />
Adalah menjadi sesuatu yang sangat sederhana dan menentramkan, jika perbuatan memilah-milah sesuatu hanya diperuntukkan pada ranah-ranah tertentu saja, bukan pada ranah yang memang seharusnya dibiarkan “begitu saja”. Tanpa perlu adanya pertentangan lebih lanjut, tanpa perlu adanya perasaan berlebihan yang tidak pada tempatnya, niscaya segala pengklasifikasian memperoleh tempatnya yang tinggi di hati orang-orang yang meninggikannya. Dan dari jalan ilmu pengetahuan beberapa orang memang telah ditinggikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Seperti Nasehat Ibu</strong><br />
Beroleh keduniawian dan beroleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada itu, pastilah hanya bersandarkan pada nasehat Ibu yang mengandung segala makna kebenaran dari Sang Pencipta. Tidak pernah mudah memang, namun bukan berarti tak ada peluang. Dimulai dengan tidak menggunakan kecerdasan untuk membohongi orang lain, seseorang diperkenankan untuk berharap memperoleh keduniawian tanpa perlu takut terlena oleh segala pesonanya yang menghancurkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhati-hati didalam Memilih Sebuah Pekerjaan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/berhati-hati-didalam-memilih-sebuah-pekerjaan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/berhati-hati-didalam-memilih-sebuah-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 17:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Mempunyai sebuah pekerjaan merupakan suatu keniscayaan bagi seseorang yang menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Keniscayaan yang senantiasa diperjuangkan pada proses pencapaiannya. Tidak pernah ada yang menyebutkan bahwa memperoleh sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang mudah. Terdapat berbagai halang-rintang sebelum menuju perolehannya. Selalu ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang secara sah diakui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mempunyai sebuah pekerjaan merupakan suatu keniscayaan bagi seseorang yang menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Keniscayaan yang senantiasa diperjuangkan pada proses pencapaiannya. Tidak pernah ada yang menyebutkan bahwa memperoleh sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang mudah. Terdapat berbagai halang-rintang sebelum menuju perolehannya. Selalu ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang secara sah diakui telah memperoleh sebuah pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanyakan saja pada orang-orang yang terlihat menyenangi pekerjaannya; apakah mereka memperolehnya dengan mudah dan cuma-cuma? Jawabannya tentu tidak. Segelintir keluh-kesah, semangat, bahkan canda-tawa senantiasa akan mengiringi seseorang ketika berusaha memperoleh pekerjaan yang dimaksud. <span id="more-219"></span>Permasalahannya tentu akan berbeda jikalau pertanyaan tersebut disampaikan pada orang-orang yang terlihat tidak menyenangi pekerjaan yang telah diperolehnya. Jawaban secara lugas dari mereka mungkin agak sulit didapatkan, namun seseorang justru dapat dengan mudah mengambil kesimpulan atas ketidak-lugasan dari jawaban tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pentingnya sebuah pekerjaan bagi seseorang untuk ditelusuri merupakan suatu hal yang tidak mudah. Karena nilai pentingnya tersebut akan melibatkan seseorang pada serentetan pertanyaan yang sebenarnya adalah pertanyaan paling dasar baginya terhadap pekerjaan.<br />
<strong><br />
Segala Pekerjaan Tergantung pada Niat</strong><br />
Yang pertama pastilah niat, untuk apa seseorang bekerja atau untuk apa seseorang mempunyai sebuah pekerjaan? Pertanyaan ini harus segera dijawab dengan tangkas dan tidak berbelit-belit, minimal didalam hati, seseorang dituntut  mampu untuk tidak berbohong kepada dirinya sendiri. Ia harus bersikeras bahwa niatannya didalam memperoleh pekerjaan adalah sebuah niatan yang sangat kuat dan tidak mudah goyah. Kita dapat saja memperoleh niatan yang berbeda-beda dari orang-orang yang menginginkan untuk mempunyai sebuah pekerjaan. Ada yang niatannya tersebut muncul dari dalam diri sendiri, muncul dari orang lain atau ada juga yang disebabkan terinspirasi oleh sesuatu. Turunan dari seluruh niatan tersebut bisa berupa keinginan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, keinginan untuk mampu meringankan beban orang lain, keinginan untuk meningkatkan harga diri, keinginan untuk lebih memperkaya diri sendiri, atau bahkan keinginan untuk membuat nyaman diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh niatan seperti yang telah disebutkan diatas dan segala turunannya akan menjadi tidak penting dan sama sekali tidak berguna kelak, jika seseorang harus dihadapkan pada persoalan pertanggungan-jawab pada Yang Maha Kuasa. Niatan akan menjadi sebuah persoalan yang paling signifikan ketika nanti seseorang bertemu dengan Sang Khalik. Sebuah niatan akan dapat menjadi penolong bagi seseorang atau malah berbalik menjadi musuh bagi seseorang. Sebuah niatan akan menjadi penolong apabila niatan itu hanya untuk Sang Khalik dan sebaliknya, sebuah niatan akan menjadi musuh yang merugikan jika niatan itu adalah untuk sesuatu selain Sang Khalik.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, hal ini memberikan sebuah pengertian bahwa didalam niatan, yang paling menguntungkan bagi seseorang ketika mempunyai sebuah pekerjaan adalah dengan mempunyai niat hanya karena Sang Khalik saja, tidak bisa tidak, sedangkan turunannya haruslah senantiasa bersandarkan pada niatan karena Sang Khalik tersebut. Memenuhi kebutuhan hidup adalah karena Sang Khalik memang telah memerintahkan bahwa seorang manusia harus mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, meringankan beban orang lain adalah karena Sang Pencipta memang memerintahkan manusia untuk menolong sesama, meningkatkan harga diri adalah karena memang Sang Pemelihara telah memerintahkan manusia untuk mempunyai harga diri, dan turunan-turunan lainnya yang memang sesuai dengan apa-apa yang telah diperintahkan oleh Yang Maha Benar.</p>
<p><strong>Prosedural atau Sesuai dengan Rambu-Rambu</strong><br />
Setelah niatan hanya karena Sang Penguasa Alam Semesta tadi, persoalan selanjutnya adalah mengenai cara bagaimana seseorang dapat memperoleh pekerjaan. Dengan niatan hanya karena Sang Pencipta, kemudian seseorang dituntut untuk melakukan cara-cara yang hanya sesuai dengan kaidah-kaidah persis seperti Yang Maha Memberi telah gariskan. Kaidah-kaidah tersebut harus dijadikan pedoman bagi seseorang untuk memperoleh pekerjaan. Melakukan segala cara yang sesuai dengan kaidah dan meninggalkan segala cara yang tidak sesuai dengan kaidah seperti yang Ia tetapkan untuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang tidak diperkenankan untuk mempedulikan apa jadinya nanti jika hanya cara-cara Sang Pemberi Rezeki yang ia lakukan, apakah akan menguntungkan atau malah merugikan dirinya sendiri didalam memperoleh pekerjaan. Karena sesungguhnya segala cara yang telah ditetapkan oleh Sang Pemurah pastilah nantinya menguntungkan, meskipun kadang-kadang seseorang tidak melihatnya demikian. Permasalahan keyakinan menjadi pangkal segala tindakan dalam artian bahwa niat adalah pangkalnya dan cara-cara adalah jalannya.</p>
<p><strong>Dua Hal yang Tidak Dapat Dipisahkan</strong><br />
Sikap berhati-hati didalam setiap tindakan adalah ciri seseorang yang bijak. Kemampuan melihat bagaimana sebenarnya sebuah persoalan dapat dipecahkan dengan baik dan benar acapkali tersirat dalam diri seseorang melalui sikap hati-hati tersebut. Dari apa-apa yang tersirat itulah biasanya tampak sebagai niat yang kemudian mendasari cara-cara yang akan ditempuh oleh seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Niat hanya karena Sang Khalik dan melakukan cara-cara seperti yang telah Ia tetapkan adalah dua hal yang harus dilakukan secara serentak atau simultan, atau paling tidak, niat yang benar terlebih dahulu setelah itu cara-cara yang benar kemudian haruslah ditempuh. Keduanya tidak dapat dipisahkan, kedua-duanya harus terjadi pada diri seseorang yang tengah mencari pekerjaan. Jika hanya niat saja yang benar, maka seseorang akan terjebak pada kesalahan yang akan merugikan dirinya sendiri. Dan jika hanya cara-cara saja yang benar, maka seseorang akan menghadapi persoalan serius ketika nanti bertemu Sang Pemelihara Alam Semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Niat dan cara-cara adalah bergantung satu sama lain. Seseorang tidak dapat mengabaikan salah satu saja, atau malah mengabaikan kedua-duanya. Apalagi didalam memperoleh sebuah pekerjaan yang merupakan sesuatu yang gampang-gampang susah, tentunya niat dan cara-cara adalah persoalan yang semestinya dipikirkan terlebih dahulu untuk kemudian dilakukan dengan penuh kepasrahan dan tanggung-jawab.</p>
<p>Wallahu’alam Wallahulmusta’an.<br />
Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/berhati-hati-didalam-memilih-sebuah-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
