<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; Kekinian</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/kekinian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kekinian, “proses” yang melelahkan dan me”lena”kan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 15:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kekinian]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/24/p26/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : m. muhadzis g.
Membicarakan waktu, berarti membicarakan sesuatu. Sesuatu yang empirik maupun sesuatu yang khayal, keduanya masih selalu saja dipertimbangkan. Dan keduanya, tidak akan berhenti untuk selalu dijadikan acuan, sampai waktu itu sendiri yang benar-benar menghentikannya. Sebagian individu membutuhkan kalkulasi -secermat mungkin- sebagai teman setia untuk mendampingi usia. Sebagian yang lain -lebih- membutuhkan mimpi-mimpi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : m. muhadzis g.</p>
<p>Membicarakan waktu, berarti membicarakan sesuatu. Sesuatu yang empirik maupun sesuatu yang khayal, keduanya masih selalu saja dipertimbangkan. Dan keduanya, tidak akan berhenti untuk selalu dijadikan acuan, sampai waktu itu sendiri yang benar-benar menghentikannya. Sebagian individu membutuhkan kalkulasi -secermat mungkin- sebagai teman setia untuk mendampingi usia. Sebagian yang lain -lebih- membutuhkan mimpi-mimpi daripada realita dalam menghabiskan umurnya. Sebagian yang lain lagi justru tak tahu-menahu apa-apa saja yang dibutuhkan guna menghadapi waktu.</p>
<p>Telah banyak yang menggali peristiwa-peristiwa di waktu lampau. Ada yang mencatatkannya -dalam bentuk apapun- sehingga peristiwa-peristiwa itu akan selalu diingat oleh orang-orang yang melihat catatan-catatan tersebut -termasuk pencatatnya sendiri-, ada pula yang hanya cukup menyimpannya didalam kepala kemudian membicarakannya kepada orang lain agar peristiwa-peristiwa itu terus tersimpan didalam kepalanya dan kepala orang lain, ada lagi yang menyimpannya didalam kepala, meresapkannya kedalam hati, membicarakannya lalu mengimplementasikannya dalam tingkah laku sehingga peristiwa-peristiwa itu terus-menerus terjadi, sehingga peristiwa-peristiwa itu terus menerus berulang dan tidak lagi mengenal waktu.<br />
Peristiwa-peristiwa di waktu lampau, entah itu yang baik atau yang buruk, senantiasa menjadi sandaran bagi seseorang untuk berpijak sebelum bergerak. Baik atau buruk lebih mudah didapat daripada benar atau salah. Seringkali seseorang mendapati sesuatu yang ada saat ini, telah pernah ada juga di waktu lampau. Kemudian ia mendapati bahwa hal itu baik, menurut saat ini dan juga menurut waktu lampau. Tetapi kemudian, apakah hal itu benar? Mengingat kebenaran selalu saja merupakan sebuah pendekatan. Sedangkan kebaikan selalu saja lebih mampu untuk diamini, oleh saat ini dan oleh waktu lampau, yang kemudian diyakini dan tidak lagi menjadi sebuah pendekatan. Dan dimanakah posisi kebaikan jika dibandingkan dengan kebenaran? Lalu, jika sudah memandang peristiwa-peristiwa di waktu lampau, apa yang semestinya terlebih dahulu diyakini, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu memiliki nilai, yang mana yang lebih tinggi nilainya, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu layak untuk dipertahankan, yang mana yang seharusnya lebih dulu untuk dipertahankan, kebaikannya ataukah kebenarannya?</p>
<p>Adapun kaitan suatu peristiwa dengan individu, karena ada saja sebagian individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, maka yang akan terjadi adalah sebuah perkenalan, yang sebetulnya telah ada latar belakang yang kuat lebih dulu sebelumnya. Bisa jadi karena sejarah atau malah karena ingin membuat sejarah. Perkenalan inilah yang kemudian menjadi sebuah tanda pengenal bagi individu dan suatu peristiwa. Baik itu menjadi tanda pengenal bagi individu dengan suatu peristiwa maupun tanda pengenal bagi suatu peristiwa dengan individu. Sebaliknya, tentang individu yang selalu saja tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, itu berarti individu tersebut yang telah menjadi tanda pengenal untuk dirinya sendiri. Tanpa membutuhkan suatu peristiwa apapun.</p>
<p>Akan selalu ada kelelahan bagi individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Namun akan ada kelelahan yang lebih besar lagi bagi individu yang selalu tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Pencapaian masing-masing individu akan selalu tergantung dari motivasi masing-masing individu -dengan mengesampingkan pengakuan yang biasanya akan tampak sebelumnya-. Dan pencapaian inilah yang semestinya tidak disamaratakan pada semua individu. Dan itu berarti sangat jelas, bahwa pencapaian masing-masing individu akan sangat berbeda. Dan terkait kelelahan masing-masing individu, itu berarti lagi, tidak bisa disamaratakan, bahwa kelelahan masing-masing individu akan sangat berbeda.</p>
<p><em>Sesuatu Yang Fundamental</em><br />
Sesuatu yang fundamental kerap menjadi batu sandungan bagi kekinian. Saling menjatuhkan adalah adegan yang sepertinya harus selalu dimainkan oleh keduanya. Sesuatu yang fundamental sepertinya harus selalu memainkan drama tragis sedangkan kekinian lebih memilih komedi -terlepas dari satiris atau absurditas-. Giliran waktu yang mencatatkannya. Ketika “ada drama” yang diketahui, kejujuran akan terungkap, akan ada pilihan bagi individu untuk berada disisi yang mana. Klimaks mesti terjadi. Penonton adalah juga yang ditonton. Namun, ketika peperangan telah disadari menghasilkan sesuatu, -air mata, darah atau kemenangan yang membahagiakan- benih-benih fundamental tumbuh lagi dan kekinian masih akan selalu menyelimutinya. “Proses” terjadi lagi. Waktu dibicarakan lagi.</p>
<p>Sesuatu yang fundamental harus mampu diyakini secara empirik. Harus ada kalkulasi yang tidak bisa dipatahkan oleh kalkulasi lain yang datang setelahnya. Ketika kalkulasi yang telah diyakini mampu dipatahkan oleh kalkulasi lain, maka seketika itu juga kalkulasi yang baru ini membutuhkan waktu agar mampu diyakini.</p>
<p>Sesuatu yang fundamental yang mencatat waktu. Setiap keadaan mampu diramalkan awal dan akhirnya. Sesuatu yang fundamental melihat semesta raya dan dirinya sendiri. Sesuatu yang fundamental cenderung ingin selalu menyingkap segala rahasia. Sedangkan kekinian, lebih mampu untuk menciptakan alat-alat yang mengagumkan mata. Rekayasa senantiasa terjadi. Keinginan terus berkembang seiring teknologi. Kekinian selalu berdalih tentang sesuatu yang ingin dicapai adalah harus lebih baik lagi dan lagi. Kekinian melupakan waktu. Dan ketika disadari bahwa sesuatu yang fundamental dan kekinian bergerak sendiri-sendiri, ternyata waktu juga punya pergerakannya sendiri. Pergerakannya mengabaikan keduanya. Pergerakan waktu menghancurkan sesuatu yang fundamental dan kekinian. Dan yang tertinggal hanyalah catatan-catatan. Sesuatu yang fundamental meninggalkan catatan-catatan berupa kalkulasi-kalkulasi dengan segala kronologi perubahannya. Sedangkan, kekinian meninggalkan catatan-catatan berupa alat-alat dan hasil teknologi. Namun, siapa yang akan menemukan catatan-catatan tersebut kalau ternyata waktu benar-benar berhenti.</p>
<p>Wallahu’alam wallahulmusta’an.<br />
Cibeusi, jatinangor</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
