<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; Kebenaran</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/kebenaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pengkhianatan Akademis</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/pengkhianatan-akademis/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/pengkhianatan-akademis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[akademis]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Dunia Akademis
Salah sebuah dunia dimana pengetahuan merupakan suatu pilar utama, namun juga sekaligus puncak pencapaian dari semangat keingintahuan seorang anak manusia adalah dunia akademis. Tidak ada satu pun kelompok masyarakat di dunia ini yang tidak terbangunkan dari ilmu pengetahuan, yang kemudian menjadi tidak ajeg atau tidak mandiri. Ilmu pengetahuan telah sangat terbukti mampu mendirikan sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dunia Akademis</strong></p>
<p>Salah sebuah dunia dimana pengetahuan merupakan suatu pilar utama, namun juga sekaligus puncak pencapaian dari semangat keingintahuan seorang anak manusia adalah dunia akademis. Tidak ada satu pun kelompok masyarakat di dunia ini yang tidak terbangunkan dari ilmu pengetahuan, yang kemudian menjadi tidak ajeg atau tidak mandiri. Ilmu pengetahuan telah sangat terbukti mampu mendirikan sehingga kemudian menjadikan sebuah kelompok masyarakat bertambah kokoh dan stabil. Dunia akademis senantiasa menawarkan perjuangan yang kontinu -meski pelakunya selalu berganti-ganti, sebuah perjuangan, yang selalu dimaksudkan pada terciptanya sebuah masyarakat yang ideal tanpa cacat maupun cela. Permasalahan bagaimana dunia akademis mampu menstimulasi sebuah perubahan pada lingkungannya, telah dengan sangat manis dirumuskan oleh para pelaku akademis itu sendiri atau bahkan oleh komunitas masyarakat praktis yang berada diluar lingkungan dunia akademis. Suatu perumusan yang acapkali membuat seseorang termanggut-manggut <span id="more-346"></span>tanda menyetujui bahwa dunia akademis memang berperan sangat esensial pada kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan sebuah kelompok masyarakat.</p>
<p>Tidak hanya berhenti sampai disitu, dunia akademis juga ditengarai -kalau boleh disebut demikian, merupakan gerbang bagi seseorang ataupun individu agar dapat mencapai mimpi-mimpi atau mungkin cita-cita atau bahkan ambisi pribadi. Tidak sedikit orang yang rela dan berbesar hati untuk menyerahkan sebagian waktu hidupnya berada didalam dunia akademis agar kemudian dapat menjadi seseorang yang benar-benar berbeda ketika ia sudah tidak lagi berada dalam dunia akademis tersebut. Ketika itulah, seseorang yang telah begitu sabar berada sekian lama dalam dunia akademis, dapat dengan leluasa meniti keberhasilan dalam mencapai segala mimpi, cita dan ambisinya. Dan sudahkah selesai sampai disini? Belum, sebab ternyata masih ada beberapa orang yang tidak hanya memberikan sebagian waktu hidupnya saja di dunia akademis, melainkan seluruh waktu hidupnya mereka habiskan dalam dunia akademis. Mereka ini, bolehlah disebut sebagai orang-orang yang berdedikasi pada ilmu pengetahuan. Atau kalau tidak, mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu pengetahuan, kemudian mendalaminya, setelah itu mengimplementasikannya, dan terakhir yang juga tak kalah pentingnya adalah menyebarkannya kepada siapa saja, terutama kepada siapa pun yang berada dalam dunia akademis itu sendiri.</p>
<p>Melalui sebuah dunia akademis, bahkan cita-cita kolektif dapat disisipkan kedalamnya. Dengan media yang berupa sebuah dunia akademis, suatu kelompok masyarakat boleh sangat berharap untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dunia akademis seringkali mendorong terciptanya pemerintahan yang jujur, bersih dan adil melalui studi-studi tentang segala kebijakan pemerintah, dunia akademis acapkali berperan dalam meningkatkan mutu pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui analisisnya yang efektif terhadap segala perubahan sistem perekonomian, dan yang paling sering tampak adalah bahwa dunia akademis senantiasa menjadi motor penggerak bagi perindustrian suatu negara pada arahan teknologi inovatif yang lahir dari ilmu pengetahuan agar dapat diterapkan pada hasil-hasil industri. Dan begitulah dunia akademis -meski belum semuanya disebutkan, telah berlaku dan memerankan tugasnya di dalam lingkungan tempatnya berada yakni sebuah kelompok masyarakat. Dunia akademis merupakan suatu bagian penting didalam sebuah kelompok masyarakat yang sungguh-sungguh mengidam-idamkan terciptanya kesejahteraan kolektif.</p>
<p><strong>Dunia-nya dan Realitas-nya</strong></p>
<p>Mimpi-mimpi manis dunia akademis bisa saja berakhir menjadi sangat tragis. Bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, jika harapan yang terlalu besar -yang dibebankan pada dunia akademis saat ini, lagi-lagi malah menjadi sebuah angan-angan kosong belaka ditengah sulitnya menitipkan kepercayaan kepada satu saja penghuni dunia. Godaan untuk sekedar mencicipi nikmatnya kekuasaan, atau popularitas yang telah benar-benar jelas akan didapatkan, atau bahkan hanya untuk memperkaya diri sendiri saja, adalah sesuatu yang tidak dapat ditampik bahwa motivasi-motivasi tersebut memang ada, berlangsung dan dipelihara oleh beberapa kalangan dari dunia akademis -walaupun tidak semua memang. Dan motivasi yang disebutkan pun belum seluruhnya -keberpihakan tanpa kepantasan pada kerabat misalnya, tetapi cukuplah motivasi-motivasi tersebut dapat mewakili. Tidak akan ditemui adanya pengakuan -atau setidaknya pengakuan secara akademis, tidak akan didapatkan secuil pun bukti otentik tentangnya, malahan tidak akan tercium bau konspirasinya sama sekali, karena secara terpaksa masyarakat sudah terlalu meluhur-agungkan dunia akademis, sehingga seolah-olah diyakini bahwa dunia akademis adalah sebuah dunia yang tanpa cela. Atau kalaupun mereka mengetahui adanya gejala penyimpangan pada dunia akademis, mereka akan lebih memilih untuk bungkam daripada mengungkapkannya. Entah karena khawatir akan merugikan dirinya sendiri atau malah takut tidak mendapatkan keuntungan sedikitpun jika mengungkapkan adanya gejala pengkhianatan akademis.</p>
<p>Pengkhianatan akademis tidak hanya dinisbatkan pada orang-orangnya saja, melainkan juga kepada lingkungan disekitar dunia akademis itu berada -yang secara sengaja turut berperan serta, karena berdiam diri atau bahkan menutup-nutupi adanya ketidak-jujuran pada pelaksanaan tugas-tugas mulia dunia akademis. Akan tetapi, terlalu naif jika hanya menyalahkan orang-orang awam yang memang penakut dan kadang-kadang juga tidak terlalu memahami permasalahan yang sebenarnya, semestinya terbukalah juga segala penglihatan yang ditujukan kepada para pembuat kebijakan bagi dunia akademis. Kebijakan, yang lalu melahirkan sebuah sistem dalam hal dunia akademis itu akan berjalan, menjadi mudah untuk dibelokkan dari semangat hak-hak azasi manusia terhadap dunia akademis. Salah sebuah contoh yang paling mudah adalah bahwa untuk berada dalam dunia akademis tidaklah gratis. Bagaimanapun, itulah kebijakan yang paling bijak yang mungkin telah dipikirkan secara matang oleh para pembuatnya. Karena memang -sekali lagi, dunia akademis tidak pernah gratis. Dan sayangnya, kebijakan yang semodel demikian adalah yang kerap kali memunculkan adanya pengkhianatan akademis. Lebih disayangkan lagi, pengkhianatan akademis ini termasuk kedalam bagian kelas ringan, karena bagaimanapun sistem yang terjadi sudah sedemikian mengakar; maka dari itu setiap kesalahan akan diabaikan dan tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan dan kemudian menjadi kebiasaan, yang pada ujung-ujungnya pengkhianatan akademis yang seperti ini terasa ringan dilakukan.</p>
<p>Pengkhianatan akademis kelas berat akan terjadi jika seseorang dari dalam dunia akademis, misalnya; melakukan kedustaan atas hasil penelitian yang telah diperoleh, atau melakukan manipulasi data sebelum riset dimulai, atau condong secara membabi-buta kepada hasil tertentu saja seperti yang diinginkan -dan kejadian serupa lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu disini, dalam kaitan dengan riset dan penelitian dunia akademis. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, motivasinya bisa karena kekuasaan, popularitas, atau bahkan kegelimangan finansial, atau malahan apapun yang tidak pernah diketahui sama sekali. Motivasi berbahaya dibelakang pengkhianatan tersebut bisa apa saja karena kebolehjadiannya memang sangat tinggi. Dan yang paling miris adalah bahwa pengkhianatan tersebut tidak pernah menjadi sederhana, karena sudah terlanjur terbungkus dengan sangat rapi oleh embel-embel dan label akademis. Akan sulit bagi siapapun untuk menyangkal kedustaan yang berasal dari dunia akademis dikarenakan adanya bukti-bukti empiris hasil penelitian. Padahal, semua orang mengetahui bahwasanya bukti empiris harus mampu disusun untuk kemudian dapat diterima secara pantas jika hal tersebut memang telah diakui secara mufakat oleh kalangan dunia akademis sendiri terlebih dahulu, barulah kemudian diakui oleh masyarakat luas. Jadi pada akhirnya, yang sebenarnya diinginkan adalah bahwa dunia akademis dan masyarakat bersepakat pada sesuatu hal yang datang dari dunia akademis tanpa adanya sesuatu yang ditutup-tutupi oleh dunia akademis. Pada tempat inilah kejujuran dan keterbukaan menjadi sesuatu yang sangat krusial. Dan dari sinilah, pengkhianatan kelas berat patut mendapatkan perhatian serius dari siapapun.</p>
<p>Tetapi permasalahan sebenarnya yang ingin diungkapkan disini adalah mengenai interpretasi pada hasil-hasil penelitian dari dalam dunia akademis. Bahwasanya hasil penelitian harus merupakan manifestasi dari sebuah kejujuran, merupakan afeksi dari semangat mencari, adalah pula harus diyakini sebagai sesuatu yang mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi dari dunia akademis. Akan menjadi permasalahan yang sangat serius jika hasil-hasil penelitian kemudian malah disikapi sebagai sebuah tameng untuk membenarkan sesuatu yang hanya menguntungkan kekuasaan, popularitas atau finansial semata oleh pelakunya yakni dunia akademis. Dunia akademis semestinya melulu menyatakan kebenaran meski harus menentang kekuasaan, dunia akademis seharusnya memisahkan diri dari gemerlap popularitas dan dunia akademis tidak boleh menghamba pada berlimpahnya finansial saja. Hasil-hasil penelitian akan menjadi fakta, dan fakta inilah yang kemudian menjadi sandaran bagi sebuah kelompok masyarakat untuk dapat melaksanakan aktifitasnya sehari-hari. Dengan begitu, kelompok masyarakat tersebut akan menjadi sebuah kelompok fakta, bukan kelompok manipulasi atau pembenaran semata-mata. Inilah yang sesungguhnya diinginkan dari hasil penelitian dunia akademis terhadap sebuah kelompok masyarakat. Inilah sebabnya mengapa interpretasi pada hasil-hasil penelitian dunia akademis harus mengarah hanya pada kejujuran sebuah kelompok masyarakat yang nantinya berujung pada kejujuran masyarakat itu sendiri.</p>
<p><strong>Solusi Mimpi-Mimpi</strong></p>
<p>Tidak ada solusi lain untuk mencegah terjadinya suatu pengkhianatan akademis selain bahwa sebuah kejujuran harus senantiasa ditanamkan pada jiwa-jiwa dalam dunia akademis. Dengan menjunjung tinggi kebenaran dan kepercayaan terhadap kejujuran itu sendiri, niscaya sebuah pengkhianatan tidak akan terjadi karena seseorang akan menyadari bahwa dirinya tidak akan menemukan keuntungan secuil pun dari sebuah keberpihakan kepada musuh dunia akademis, yakni kedustaan. Seseorang akan mempunyai perasaan bangga terhadap kejujuran dan kebenaran jika di dalam jiwanya telah tertanamkan arti pentingnya kejujuran dan bagaimana berbahayanya sebuah pengkhianatan. Mimpi-mimpi seseorang yang berada dalam dunia akademis untuk memberikan kontribusi penting bagi suatu kelompok masyarakat bukanlah sesuatu yang mustahil. Karena mimpi tersebut hanya akan dapat terwujud dari kesabaran dalam menetapi sebuah kejujuran. Dan kesabaran tersebut harus menjadi tulang punggung dunia akademis. Tidak peduli pada berapa besar tekanan sebuah kekuasaan agar menuruti kehendaknya, dunia akademis yang setia dan sabar pada kejujuran akan menemukan keindahan dari ilmu pengetahuan yang senantiasa diidam-idamkan oleh siapapun dalam dunia akademis.</p>
<p>Siapapun pastilah menghendaki mimpi-mimpi dunia akademis tentang kesejahteraan bersama agar segera terwujud. Siapapun juga tidak menginginkan bahwa kesejahteraan yang selama ini hanya dimiliki oleh segelintir kalangan, terus-menerus terjadi. Dunia akademis tidak boleh menutup mata terhadap masyarkat sekitarnya sekaligus juga tidak dibenarkan untuk mendustai masyarakatnya. Karena dunia akademis adalah untuk masyarakatnya dan masyarkat adalah dunia akademisnya.</p>
<p>Jalan Ketapang, Jatipadang,</p>
<p>Pasar Minggu, Jakarta Selatan.</p>
<p>Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/pengkhianatan-akademis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan berpikir, haruskah?</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-berpikir-haruskah/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-berpikir-haruskah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 16:36:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/30/kekuatan-berpikir-haruskah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : m. muhadzis g.
  Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Oleh : m. muhadzis g.</p>
<p>  Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian. Tak terbatas pada penyelesaian yang ada didepan mata saja tetapi juga penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang lebih jauh lagi berada didepannya. Kekuatan berpikir telah menjadi semacam sinyal yang tak samar bagi sebagian orang dalam menyetujui tindakan seseorang. Kekuatan berpikir seseorang juga telah didapati mampu mengambil hati dan pikiran sebagian orang lain. Betapa magnet kekuatan berpikir ini diketahui begitu besarnya dalam menarik massa. Sehingga sulit didapatkan siapa-siapa saja yang tidak ikut tertarik kedalamnya. Kalau pun ada, mungkin ia akan disebut sebagai orang yang tidak berpikir.<br /> Telah disepakati sebelumnya, bahwa kekuatan hanya dapat diperoleh melalui latihan-latihan. Beberapa metode latihan pun senantiasa dicoba-terapkan untuk dapat mencapai kekuatan. Karena sebelumnya telah pula disadari, bahwa tidak ada sesuatu pun yang datang secara tiba-tiba. Segalanya membutuhkan proses. Dalam bahasa yang lebih sederhana, &ldquo;segala sesuatu ada waktunya&rdquo;. Penempaan terhadap sesuatu ini, yang kemudian diyakini, mesti dilakukan sejak dini. Karena sesuatu yang kuat, dipercaya kelak menjadi warisan yang tak akan pernah terabaikan. Sesuatu yang kuat adalah harapan dan mimpi-mimpi setiap bayi yang baru lahir. Seperti juga kekuatan seorang Ibu ketika menyapih anak yang masih kecil supaya tumbuh besar.<br />   Dan ketika telah dimafhumi hal-ihwal warisan, cara berpikir-lah yang selalu menjadi perhatian serius. Cara berpikir harus selalu diwariskan, begitulah yang terjadi. Kecenderungan melenceng dari cara berpikir adalah kecenderungan yang senantiasa diwaspadai. Sedikit saja berbelok, maka rusaklah tatanan yang telah dibangun kokoh. Dan tidak ada seorang pembangun pun yang menginginkan bangunannya roboh. Namun yang patut disayangkan, kadang kala terjadi pemaksaan terhadap cara berpikir seseorang. Pemaksaan seperti itulah yang semestinya disepakati-ulang. <br />     Adalah sah apabila pemaksaan tersebut memang ditujukan untuk hal-hal yang benar dan mulia. Sebab setiap kerusakan harus ditangani sesegera mungkin, sebelum segalanya menjadi terlambat dan tidak bisa lagi diperbaiki. Sebelum hal-hal yang benar lagi mulia itu hablur dan terdeviasi, pemaksaan adalah satu-satunya kata-kunci untuk menutup kembali lubang-lubang kerusakan. Pemaksaan untuk sebuah kebenaran adalah juga kebenaran itu sendiri. Namun akan lain lagi ceritanya, apabila pemaksaan tersebut diterapkan pada orang-orang yang memiliki kekuatan berpikir. Semakin dipaksa, mereka akan semakin kuat. Semakin ditekan, mereka akan semakin mempertanyakan. Semakin dihadang, mereka akan semakin membangkang. Pemaksaan, di tempat yang seperti ini, menemukan rintangannya. Kalau sudah demikian keadaannya, perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi yang sejatinya dilakukan untuk sebuah kebenaran, hanya akan seperti makan hati lalu pulang dengan menelan ludah sendiri yang terasa semakin pahit. Perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi tak akan berguna lagi, kecuali bagi yang memang ingin men-terkenal-kan diri mungkin. &nbsp;<br />   Hanya butuh sedikit waktu<br />      Tidak banyak sebenarnya yang diminta oleh suatu kejelasan. Untuk apapun, dengan argumen apapun niscaya tampak hakikat kebenaran. Dan itulah suatu kejelasan yang terberikan. Itu pulalah yang merupakan kepuasan akal. Sayangnya, kekuatan berpikir kadang kala malah memburamkan makna yang telah jelas. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat malah menghancurkan hakikat itu sendiri. Tindakan-tindakan merombak kebenaran, guna mendapatkan kebenaran-kebenaran baru untuk diyakini, cenderung membingungkan dan pada akhirnya malah memusnahkan tatanan yang telah ajeg dan jelas. Padahal, ketika ke-musnah-an terjadi, tidak akan ada yang bersedia untuk dipersalahkan. <br />     Jika memang didapati ada beberapa individu yang memiliki motivasi bongkar-pasang kebenaran, maka sudah selayaknya, ada individu-individu lain sebagai penyeimbang. Individu-individu yang tetap berada diatas jalannya, yang diyakini perjalanannya adalah juga sebuah kebenaran, tidak mudah goyah oleh angin kerusakan dan tidak rentan tersengat zaman. Individu-individu penyeimbang ini bisa jadi ada dimana saja dan datang darimana saja. Persoalannya, dimana mencari individu-individu penyeimbang ini?. Sedangkan, individu yang bongkar-pasang kebenaran dan individu penyeimbang-nya, seringkali didapati bahwa kedua-duanya adalah pencari kebenaran. Seringkali juga, adanya semacam pengakuan, bahwa kedua-duanya adalah orang-orang yang sedang mencari kebenaran.<br />   Hanya butuh sedikit waktu, untuk penampakan hakikat kebenaran. Dan memang, waktu tersebut, tidaklah banyak. Namun, kekuatan berpikir acapkali tak menyadari waktu, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Jarang sekali disadari, bahwa ada yang disebut dengan waktu renggang atau waktu relaksasi, yang seharusnya dimiliki oleh kekuatan berpikir itu sendiri sebenarnya. Dimana waktu relaksasi ini berfungsi sebagai pen-stabil kekuatan berpikir. Yaitu, agar (kekuatan berpikir) ini tidak anjlok kembali pada nadir kelemahannya secara tiba-tiba. Patut diketahui, bahwa ketergesa-gesaan adalah sebenar-benarnya musuh yang harus dihindari, kecuali untuk hal-hal tertentu yang telah disepakati, ketergesa-gesaan merupakan suatu keharusan, namun hal-hal tertentu ini (ketergesa-gesaan yang merupakan keharusan) jumlahnya sedikit sekali. Jadi, pada asalnya, ketergesa-gesaan haruslah dihindari. Sebisa mungkin untuk terlihatnya hakikat kebenaran. Dan itu berarti hanya butuh sedikit waktu. <br />     Disinilah perdebatan yang tak akan pernah berhenti itu, yakni, ketika kekuatan berpikir dihadapkan pada &ldquo;kekuatannya&rdquo; yang optimal, ketika kekuatan berpikir mesti &ldquo;berpikir&rdquo; sekeras mungkin, ketika kekuatan berpikir &ldquo;hanya&rdquo; harus menghadapi dua pilihan, menunggu atau terus bergerak melaju. Ketika itulah, kekuatan berpikir harus menyerah tanpa daya pada apa-apa yang tak pernah terpikirkan. Tanpa pemaksaan dan tanpa kekuatan. Karena siapa tahu, bahwa menyerah adalah juga termasuk kedalam kekuatan berpikir. </p>
<p>   Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.<br />   Cibeusi, jatinangor 30.06.2008</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-berpikir-haruskah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
