<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; intelektualitas</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/intelektualitas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Intelektualitas Semu</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualitas]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Merengkuh Nasehat Ibu
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Merengkuh Nasehat Ibu</strong><br />
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa. Terlalu banyak hal dan keadaan yang seolah-olah memaksa seseorang agar  menggunakan sedikit kecerdasannya untuk membohongi orang lain. Ada berbagai keuntungan yang akan diraih dengan menggunakan sedikit kecerdasan tersebut. Sebut saja kepercayaan, harta dan kekuasaan. Dan sayangnya,<span id="more-307"></span> semua itu hanya merupakan sebagian keuntungan saja. Masih banyak sebenarnya keuntungan lainnya yang akan dengan mudah didapatkan. Setiap orang tentu dapat melihat bagaimana orang-orang cerdas dengan mudah mendapatkan segala sesuatu yang ada dihadapannya. Kemudahan yang tidak semua orang mampu untuk mendapatkannya.<br />
Namun, apakah semua kemudahan yang didapatkan dari memanfaatkan sedikit kecerdasan tersebut akan bertahan lama dan abadi? Pastilah tidak. Karena dengan adanya kecerdasan yang disalah-gunakan akan mengundang perlawanan dan perjuangan dari sisi hadirnya keyakinan. Boleh saja misalnya; seseorang yang yakin terhadap sesuatu, ia tidak mendapatkan kemudahan sedikitpun dari  kecerdasan yang memang sedikit yang ada pada dirinya. Tetapi keyakinan tersebut merupakan modal awal yang sangat besar dan kuat untuk melawan ketidak-adilan yang dilaksanakan dengan sangat baik oleh orang-orang yang menyalah-gunakan kecerdasan. Berawal dari keadaan yang seperti ini, mereka yang berperan sebagai para pengusung keyakinan akan berjuang habis-habisan untuk menghentikan ketidak-adilan meskipun mereka menyadari bahwa dirinya tidak “secerdas” orang-orang yang tengah dihadapinya, yakni orang-orang yang sedang menyalah-gunakan kecerdasan. Para pengusung keyakinan selalu memiliki keyakinan melebihi orang-orang cerdas. Sesiapa yang memenangkan “pertarungan” itu, maka merekalah yang sesungguhnya sedang berada didalam kebenaran. Tetapi apakah “hasil” pertarungannya dapat terlihat? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Karena memang, pertarungan itu sendiri akan terus-menerus terjadi sepanjang waktu dunia ini berdiri.<br />
Satu yang jelas, perbuatan memilih untuk selalu berada didalam kebenaran, niscaya dibayar dengan harga yang amat mahal ketika seseorang dengan kerelaan, berani untuk menafikan sifat-sifat keduniawian yang ada pada dirinya. Karena sifat-sifat keduniawian ini berarti berada pada tindakan memanfaatkan kecerdasan yang ada pada dirinya untuk keuntungan dirinya sendiri selama berada di dunia, berbeda dengan para pengusung keyakinan yang selalu bertindak untuk melampaui segala tujuan duniawi. Namun, tanpa terlalu peduli; apakah seseorang termasuk cerdas atau tidak, suatu tindakan untuk selalu berada didalam kebenaran adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi kecuali jika seseorang memang hendak meninggalkan kebenaran tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengklasifikasikan Kecerdasan?</strong><br />
Segala hal telah diberikan untuk sebuah pengklasifikasian atas kesuksesan yang terjadi pada diri seorang manusia. Mulai dari kecerdasan otak yang pernah diyakini sebagai satu-satunya parameter keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup, kemudian ada kecerdasan emosional yang katanya juga turut memengaruhinya, sampai kecerdasan spiritual yang akhir-akhir ini sering dibicarakan, ikut juga menjadi parameter keberhasilan. Pengklasifikasian atas tiap-tiap sesuatu merupakan sebuah pencapaian pada puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan yang acapkali hanya  dilakukan oleh seorang ahli dan memang telah diakui keahliannya oleh khalayak ramai. Tidak cukup sampai disitu, pengakuan atas klasifikasi yang diajukan oleh seorang ahli tersebut tidak pernah mudah dalam proses diakuinya. Melalui beberapa tahapan yang cenderung menjemukan namun paten dalam hasil akhirnya, pengklasifikasian dapatlah dianggap sebagai “suatu bagian terindah” dari suatu bidang ilmu pengetahuan. Namun, pengklasifikasian atas kesuksesan seorang manusia masih saja selalu menyisakan tanda tanya besar diantara umat manusia itu sendiri. Beberapa orang tidak percaya, beberapa lainnya percaya habis-habisan, beberapa sisanya tidak ambil pusing atas pengklasifikasian tersebut.<br />
Dari sini terlihat jelas bahwasanya kecerdasan seseorang masih dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan, apapun jenis kecerdasannya. Tidak peduli apakah pengklasifikasian tersebut absah atau tidak, empiris maupun non-empiris, pengklasifikasian kecerdasan manusia nyata-nyata telah memengaruhi kecerdasan manusia itu sendiri secara individu. Jika mengetahui tentang pengklasifikasian kecerdasan manusia, maka bolehlah kemudian seseorang dikatakan cerdas namun jika tidak  mengetahui, maka mungkin ia akan dianggap sebagai orang awam yang biasa saja. Dan dengan mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang bisa saja menyatakan bahwa dirinya memiliki semacam kelebihan pada salah satu jenis kecerdasan tersebut, untuk kemudian ia manfaatkan pada sesuatu yang ia anggap akan menguntungkan dirinya. Sebaliknya, dengan tidak mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang mungkin akan merasa lebih terpuruk lagi dalam menjalani kehidupannya, sebab ia akan merasa begitu ketinggalan pengetahuan. Tetapi, apakah perihal tersebut penting?.<br />
Mengingat bahwa keberhasilan atau kesuksesan seseorang yang hidup di dunia ini tidak melulu atas usahanya sendiri (tidak melulu dari kecerdasannya sendiri). Terdapat banyak faktor lain diluar pengklasifikasian kecerdasan yang dapat mendukung keberhasilan seseorang. Ada yang disebut dengan; ukuran dan ketentuan alam semesta bekerja, yang seringkali tidak diketahui apa dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi, kemudian ada yang disebut dengan; hubungan yang tidak pernah dapat terjelaskan, yang acapkali tidak diketahui kapan dan mengapa hubungan itu dapat terjadi, lalu ada lagi yang disebut dengan; pertanyaan kebanyakan manusia yang mereka ini tidaklah mengetahuinya melainkan hanya sedikit sekali. Sikap untuk tunduk dan mempercayai Sang Pencipta secara utuh dan sepenuhnya adalah kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, tidak boleh ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan yang malahan dapat menjerumuskan seseorang pada hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak peduli apakah seseorang tersebut saat ini mengakui adanya Sang Khalik ataupun tidak, seseorang tersebut mestilah telah pernah memikirkannya sebelumnya.<br />
Adalah menjadi sesuatu yang sangat sederhana dan menentramkan, jika perbuatan memilah-milah sesuatu hanya diperuntukkan pada ranah-ranah tertentu saja, bukan pada ranah yang memang seharusnya dibiarkan “begitu saja”. Tanpa perlu adanya pertentangan lebih lanjut, tanpa perlu adanya perasaan berlebihan yang tidak pada tempatnya, niscaya segala pengklasifikasian memperoleh tempatnya yang tinggi di hati orang-orang yang meninggikannya. Dan dari jalan ilmu pengetahuan beberapa orang memang telah ditinggikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Seperti Nasehat Ibu</strong><br />
Beroleh keduniawian dan beroleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada itu, pastilah hanya bersandarkan pada nasehat Ibu yang mengandung segala makna kebenaran dari Sang Pencipta. Tidak pernah mudah memang, namun bukan berarti tak ada peluang. Dimulai dengan tidak menggunakan kecerdasan untuk membohongi orang lain, seseorang diperkenankan untuk berharap memperoleh keduniawian tanpa perlu takut terlena oleh segala pesonanya yang menghancurkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
