<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; hipokrasi</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/hipokrasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hipokrasi Massal</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/hipokrasi-massal/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/hipokrasi-massal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 02:04:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[hipokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[massal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Prologue
Adalah mudah untuk menghinakan atau tidak memuliakan sesuatu yang tampak didepan mata jika sesuatu tersebut memang tidak sesuai dengan apa-apa yang telah dan selalu dipercayai dari sebuah pemikiran. Mudah pula bagi seseorang untuk mengeluarkan isi kepalanya dengan sesegera mungkin melalui kata-kata yang padat. Namun, permasalahan pun segera saja muncul apabila kata-kata padat hendak mewakili penghinaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Prologue</strong><br />
Adalah mudah untuk menghinakan atau tidak memuliakan sesuatu yang tampak didepan mata jika sesuatu tersebut memang tidak sesuai dengan apa-apa yang telah dan selalu dipercayai dari sebuah pemikiran. Mudah pula bagi seseorang untuk mengeluarkan isi kepalanya dengan sesegera mungkin melalui kata-kata yang padat. Namun, permasalahan pun segera saja muncul apabila kata-kata padat hendak mewakili penghinaan terhadap sesuatu karena ketidak-sesuaian dengan sebuah pemikiran. Kata-kata buruk untuk penghinaan memang padat dan mampu merepresentasikan apa-apa yang berada dalam kepala seseorang. Sifatnya yang langsung kepada tujuan, langsung dapat diinterpretasi dan yang paling utama adalah langsung mengena pada yang menerima kata-kata buruk tersebut. Demikian mungkin beberapa keuntungan dari penggunaan kata-kata buruk <span id="more-243"></span>untuk sebuah penghinaan kepada sesuatu ataupun untuk sebuah ketidak-sesuaian dengan pemikiran.</p>
<p><strong>Dithyramb</strong><br />
Belum cukup terang apabila hanya keuntungan saja yang seseorang bisa tawarkan kepada orang lain mengenai kata-kata buruk. Mestilah ada konsekuensi dari keuntungan yang sangat mudah didapatkan tersebut. Antusiasme berbicara secara liar sayangnya memang sering dibarengi dengan penulisan kata-kata buruk itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti juga sebuah surat dan sebuah perangko, yang pada zaman lalu begitu mengesankan, pidato adalah sebuah surat dan kata-kata yang tertulis menjadi perangko-nya. Surat tersebut akan terkirim secara baik dan cermat kepada yang menerimanya, sesuai dengan sistem yang berlaku pada suatu daerah tertentu yang sudah menjadi kesepakatan sebelumnya, jika surat dan perangko telah benar-benar saling melengkapi. Keseluruhan hal-hal tersebut; surat, perangko dan sistem lingkungan yang berlaku, haruslah merupakan sebuah kesatuan yang utuh. Barulah kemudian seseorang boleh berharap untuk menerima sebuah surat secara utuh. Namun, diluar analogi tersebut, acapkali terjadi bahwa pidato yang begitu membara akan diikuti dengan kata-kata dari tulisannya yang juga harus panas terasa. Setelah itu, sebenarnya, dapatlah seseorang menelisik kerugian-kerugian dari penggunaan kata-kata buruk didalamnya. Dari cara bagaimana sebuah pidato terasa dan dari cara bagaimana kata-kata dapat tertulis, sesungguhnya seseorang akan merasakan bagaimana dampak dari penggunaan kata-kata buruk tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Penggunaan kata-kata buruk pada sebuah tulisan akan berbalik menjadikan penulisnya kehilangan kehormatan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, selintas saja terbaca tulisan yang mengandung kata-kata buruk oleh seseorang, maka seorang pembaca -apapun latar-belakangnya- akan dengan serta merta memberikan nilai yang negatif kepada penulis. Penulisan dengan menggunakan kata-kata buruk seperti demikian hanya dilakukan oleh orang-orang yang terlalu mengedepankan sisi emotif manusiawi belaka tanpa sedikitpun mencoba untuk memadukannya dengan logika. (Catatan: perdebatan antara rasa dan logika pada sebuah tulisan bukan disini tempatnya.) Pada gilirannya, pembaca yang paling awam sekalipun akan dengan sangat mudah pula memberikan nilai buruk atau negatif kepada penulis karena adanya kata-kata buruk yang dikandung oleh sebuah tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan hal diatas, pada sebagian intelektual, dan ini sangat disayangkan, mungkin saja akan dirasakan pidato-pidato yang begitu mengagumkan dan sangat menyejukkan dan seseorang akan berpikir bahwa tulisannya pun tenang dan baik-baik saja. Namun, seringkali ditemui, ternyata tidaklah demikian adanya dengan tulisan dari kata-katanya. Jika dimaknai dengan seksama, akan didapati bahwa tulisan tersebut hanyalah merupakan suatu pelarian atau bahkan kamuflase yang bersifat mengelak dari permasalahan yang sebenarnya. Mereka berlindung pada kata-kata yang baik untuk menuju pada suatu maksud yang buruk. Gejala seperti ini hanya dapat terlihat jika seseorang mempunyai bekal referensi yang kuat sebelum berhadapan dengan sebuah tulisan. Dan tentu saja, seseorang semestinya memaknai dengan suatu keberanian terhadap tulisan-tulisan yang demikian dengan tetap merendahkan diri dihadapan kebenaran, bukan dengan mengiyakan secara gelap-gulita dan menunduk lesu hanya karena adanya perasaan menghormati yang terlalu berlebihan kepada sebagian intelektual tersebut. Entah sengaja atau tidak disengaja, hal ini merupakan sebuah kemunduran yang sangat jauh kebelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan tersebut melahirkan sebuah hipokrasi massal karena adanya kepercayaan yang terlalu besar kepada para intelektual. Dan sayangnya lagi, hal ini kemudian disikapi dengan ketidak-pedulian serta menutup mata dan telinga atas kebenaran yang sebenarnya selalu datang menghampiri pada setiap orang. Pada akhirnya, keadaan ini akan merugikan lingkungan itu sendiri. Jika hal yang demikian dibiarkan terus-menerus maka akan terkikis habislah segala cita-cita yang tengah dibangun bersama-sama. Karena, bagaimanapun, sebuah kejujuran akan lebih mendekatkan seseorang kepada tujuan yang mulia daripada sebuah kebohongan yang sengaja ditutup-tutupi untuk mencapai tujuan tersebut apalagi dalam hal ini berkaitan dengan sejumlah besar orang. Segelintir orang akan merasa senang dan sejumlah besar lainnya akan sangat menderita jika hipokrasi massal ini masih terus berlangsung.</p>
<p><strong>Masih Ada yang Lain</strong><br />
Untungnya, didalam sebuah lingkungan yang bagaimanapun, niscaya selalu ada sebagian orang yang sebenarnya merupakan seorang intelektual sejati namun tidak pernah dianggap sebagai seorang intelektual, kecuali beberapa waktu setelahnya barulah mungkin disadari. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang berada disekitar kita, tanpa pernah kita sadari bahwa sebenarnya juga mereka begitu berarti. Namun dalam pada itu, keadaan mereka amat terasing dan sangat tersembunyi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keterasingan tersebut tidaklah semata-mata mereka inginkan, sebab mereka hanya ingin menghindari apa-apa yang memang sudah semestinya mereka hindari. Keadaan lingkungan merupakan salah satu alasan yang menjadi penyebab keterasingan mereka. Bisa jadi, hipokrasi massal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, menjadi sebuah alasan yang kuat bagi mereka untuk melakukan pengasingan diri. Mereka hanya mengharapkan suatu kemuliaan dengan keterasingannya. Mereka tengah mencoba membersihkan diri dari segala pengaruh yang tidak baik atas keadaan lingkungan yang demikian. Tetapi, mereka tidak kemudian berniat untuk serang-balik menghancurkan lingkungan tersebut. Tidak sedikitpun mereka menggangu stabilitas dan keamanan lingkungan yang ditinggalkannya, meski mungkin saja mereka begitu menginginkannya. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Intelektual sejati ini tidak mempunyai dendam apapun terhadap kemanusiaan dalam bagaimanapun bentuknya, justru mereka sangat mencintai kemanusiaan seutuhnya. Hal ini terbukti dengan kembalinya mereka untuk menggeluti ranah kemanusiaan. Mereka hanya pergi sebentar untuk menempa dirinya sendiri agar menjadi jauh lebih baik. Hingga ketika mereka kembali ke tengah-tengah manusia, mereka mempunyai semacam semangat yang lebih besar untuk memberikan kontribusinya yang sangat berarti bagi lingkungan itu sendiri. Dari sini, seseorang kemudian boleh berharap tentang pidato-pidato dan tulisan-tulisan yang sejalan dan bermakna amat dalam. Perasaan yang muncul dari pidatonya tidak hanya menentramkan tetapi juga perasaan atas tulisannya mampu memberikan semangat untuk terus-menerus memperbaiki keadaan. Sebuah keadaan lingkungan yang sangat dicita-citakan oleh semuanya, tidak hanya oleh sebagian intelektual saja tetapi juga oleh sebagian besar lainnya diluar itu.</p>
<p><strong>Epilogue</strong><br />
Seseorang boleh saja memberikan segala macam bentuk pidato lewat pembicaraannya, namun ia pun dituntut mampu untuk memaknai tulisan-tulisan tersebut secara jujur dan bijaksana, agar tidak terjerumus pada kegelapan makna yang terkandung didalamnya. Begitu pun dengan pendengar dan pembacanya secara keseluruhan. Setelah itu, niscaya hipokrasi massal dapat dihindarkan dan dijauhi keberadaannya melalui kesadaraan bersama semacam ini. Benarlah kiranya pernyataan orang bijak tentang perkataan dan perbuatan yang harus sejalan. Disini kita memaknainya dengan pembicaraan dan penulisan tentunya.</p>
<p>Wallahu’alam Wallahulmusta’an.<br />
Pasar Minggu, Jakarta Selatan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/hipokrasi-massal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
