<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; Hidup</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Grass Root</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/grass-root/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/grass-root/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 02:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Akar Rumput]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/07/grass-root/</guid>
		<description><![CDATA[ oleh : moch. Muhadzis g. 
Maaf sebelumnya, saya tak akan membahas judul diatas secara istilah atau bahasa atau bahkan politik. Tidak kearah sana pembicaraan kita mungkin. Sebuah jalan, saya kira merupakan juga sebuah pilihan. Dari mana seseorang akan memulai dan dimana sekiranya tujuan dapat tercapai. Mulailah dari sesuatu yang sederhana, begitu yang saya ingat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"> oleh : moch. Muhadzis g.<br /> 
<p class="Standard"><span>Maaf sebelumnya, saya tak akan membahas judul diatas secara istilah atau bahasa atau bahkan politik. Tidak kearah sana <strong>pembicaraan</strong> kita mungkin. Sebuah jalan, saya kira merupakan juga sebuah pilihan. Dari mana seseorang akan memulai dan dimana sekiranya tujuan dapat tercapai. <em>Mulailah dari sesuatu yang sederhana</em>, begitu yang saya ingat dari seseorang yang saya tidak terlalu mengenalnya. Sudah terlalu banyak yang <strong>bergerak</strong> dengan lebih dulu berteriak, bukan menelaah segala sesuatu-nya terlebih dahulu. Terlalu sering kita mendapati pergerakan yang mengesampingkan <strong>kejernihan pemikiran</strong>. Sebagian dari kita masih terlalu silau dengan iming-iming. Kegemerlapan acapkali menjadi harapan. Maaf lagi, bukan berarti saya <em>anti kemapanan</em>, tidak.</span></p>
<p class="Standard"><em><span>Kalau kau merasa pintar, jangan pernah membohongi orang lain</span></em><span>, begitu kata Ibu. Bagi saya pengetahuan adalah mata air atau malah cahaya -ketika listrik padam misalnya-. Mata air untuk kering dan tandus-nya ladang pikiran. Pengetahuan menjadi sesuatu yang basah -maaf, jangan mengartikannya dengan uang atau jabatan- dan menyegarkan. Atau cahaya, ketika kedua bola mata terselimuti gelapnya <strong>dogma</strong>, pengetahuan menjadi seberkas, dua berkas atau bahkan ribuan berkas cahaya terang yang mampu menuntun jalan seseorang. Apapun itu, mata air atau cahaya, pengetahuan tetap akan menjadi sebuah jalan malahan. Tidak akan dapat dikesampingkan bahwa pengetahuan-lah yang selalu menjadi <strong>pioneer</strong> atas tiap-tiap bangunan. Pengetahuan adalah pondasi kokoh yang keberadaan-nya haruslah <strong>diamini</strong> dengan pernyataan dan perbuatan. </span></p>
<p class="Standard"><span>Dan tugas siapakah agar pengetahuan itu sampai? Atau, tugas siapakah untuk membuat jalan pengetahuan? Lalu siapakah yang berhak atau tidak berhak memperoleh pengetahuan? Apakah semua orang berhak? Bagaimana kalau ternyata didapati ada &ldquo;orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan&rdquo;? Mungkinkah bahwa pengetahuan itu bisa saja dipaksakan? Atau mungkin lebih baik dibiarkan saja &#8211; toh&#8230; pengetahuan selalu mempunyai tujuan-? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah ada akan terus ada. Terlepas dari segala persoalan tugas, hak atau kewajiban, pengetahuan seringkali menjelma asas yang dijadikan <strong>perisai</strong> atas pertanyaan dari asas kemanusiaan yang lain -tidak semua memang, tapi hal itu ada-. Perbenturan ini kerap terjadi manakala asas (pengetahuan) yang telah mapan bertemu dengan asas kemanusiaan yang telah lebih dulu diyakini. Dan siapakah pemenang-nya? Saya sendiri tidak punya jawabannya. Tapi pergulatan itu terus saja ada. Dan mungkin saja memang akan terus ada. Pergulatan di wilayah kontekstual tidak masalah saya kira, namun jika pergulatan itu <strong>berimbas</strong> pada &ldquo;orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan&rdquo; bagaimana jadinya? Siapa yang mau bertanggung-jawab atas kebodohan orang lain? Tidak ada? Kalau begitu, jangan pernah membohongi orang lain.</span></p>
<p class="Standard"><span>Bisa jadi, ada yang harus dilepaskan dari kepala saya ihwal pengertian pengetahuan itu sendiri. Sebab ada, saya kira yang mengesampingkan pengetahuan dengan lebih dahulu mengedepankan pengalaman. Mereka lebih cenderung untuk mengambil sesuatu dari apa yang telah dialaminya sendiri, daripada&nbsp; mengambil sesuatu tersebut dari buku-buku atau orang lain. Dan tentu saja setelahnya mereka akan menyebut hal itu sebagai pengetahuan. Apakah hal tersebut bisa disalahkan? Bisa ya, bisa juga tidak. Kapan keduanya ditempatkan, itulah saya kira yang paling penting, itulah hal yang paling sulit, <strong>penempatan</strong>. Kapan saatnya mengambil pengetahuan dan kapan saatnya mengambil pengalaman. Saya tidak mengesampingkan praktik, justru sebelum praktik itu dimulailah, penempatan pengetahuan atau pengalaman menjadi hal yang penting.</span></p>
<p class="Standard"><span>Akan dengan mudah dikatakan, &ldquo;jalankan saja keduanya secara bersamaan!&rdquo;. Sampai saat menuliskan ini, saya berani menjawab, &ldquo;tidak bisa!&rdquo;, salah satunya harus <strong>dikorbankan</strong>, sebab pada waktu yang bersamaan, tidak mungkin keduanya <strong>hadir</strong>. Kecuali jika saya adalah seorang <em>plagiat murni</em> yang tak punya pendirian. Dan tidak seorang pun saya kira yang ingin disebut sebagai plagiat apalagi dengan akhiran murni. Alangkah beruntung, seseorang yang mampu menempatkan pengetahuan dan pengalaman dengan benar. Waktunya tepat, hasilnya sesuai, kesalahan <strong>terminimalisasi</strong> dan segalanya menjadi lebih terstruktur. </span></p>
<p class="Standard"><span>Bagaimana halnya dengan hubungan antar individu? Bagaimana jika dalam sebuah kelompok individu terdapat perbedaan yang tajam antara pengetahuan dan pengalaman? Masing-masing mengusung sampai ujung apa yang diyakininya? Disinilah <strong>sikap</strong> yang<strong> </strong>bermain, <strong>toleransi</strong> merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Toleransi tidak bisa lagi dirombak pengertiannya jika telah ditemukan dua perbedaan yang tajam. Ketika toleransi telah dirombak, fisik atau tubuh individu-lah yang akan menjadi terlukai, tersakiti dan maaf, sangat mungkin, berdarah-darah. Kecuali hal tersebut yang diinginkan -berdarah-darah-, toleransi dapat saja dikubur dan dibuang jauh-jauh. Batas toleransi individu akan senantiasa berbeda jika sudah dihubungkan dengan sesuatu yang <strong>transenden</strong>. Itu urusan lain, saya kira. Hubungan antar individu sudah tak lagi diutamakan. Pengetahuan dan pengalaman mempunyai tujuan-nya sendiri, yang tidak lain berada diluar individu. Disini individu telah menjadi alat, dan dengan kerelaan, individu telah bersedia menjadi alat. Individu menjadi alat pengetahuan dan atau pengalaman yang paling setia. Kalau memang ini yang diinginkan, sebaiknya saya dan individu-individu yang lain sudah harus mulai berdo&#8217;a.</span></p>
<p class="Standard"><span>Siapa tahu saja semua pengertian saya diatas mampu <strong>menjungkir-balikkan</strong> pengertian pengetahuan ataupun pengalaman menjadi sesuatu yang lebih indah untuk dimaknai dan lebih mampu untuk diterima oleh individu-individu secara arif. Sedikit platonik, seandainya saja tidak ada satu pun yang terlupakan baik dari pengetahuan maupun pengalaman, mungkin tidak akan ada perbedaan tajam yang acapkali melahirkan kekerasan. </span></p>
<p class="Standard"><span>Sampai saat ini, saya masih setuju bahwa <em>pembentukan kecenderungan individu</em>, baik kearah pengetahuan maupun kearah pengalaman, harus dimulai dari lingkungan terkecil dimana individu berada, dimana individu terbentuk dalam kelompok-kelompok terkecilnya. <em>Dibiarkan mencari bentuknya yang paling sesuai disana</em>. Prosesnya lama memang, dan selalu berjalan lambat, tapi saya kira itu lebih baik daripada bergerak massif terlalu <strong>pro-aktif</strong> yang akan melahirkan penyesalan-penyesalan di kemudian hari.</span></p>
<p class="Standard"><span>Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</span></p>
<p class="Standard"><span>&nbsp;</span></p>
<p>   <span>Jatinangor, june 07 2008.</span>    </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/grass-root/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persoalan hidup dimulai ketika lahir dan berakhir ketika mati.</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 05:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/01/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.    

Bukanlah kebiasaan saya bermain dalam wilayah coba-coba. Seseorang menasehati saya, bahwa sebelum melakukan sesuatu, saya sudah harus tahu jalan keselamatannya terlebih dahulu. Konon, tersebutlah bermacam-macam pengaruh yang bakal menaungi seseorang selama hidupnya. Pengaruh itu kadang menjadi naungan yang teduh, disaat yang lain menjadi seperti perjalanan tanpa henti. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Oleh : moch. Muhadzis g.    </div>
<p align="justify" class="Standard"><img width="231" height="191" border="0" align="left" title="" alt="" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/baby.jpg" style="width: 231px; height: 191px;" /></p>
<p align="justify" class="Standard">Bukanlah kebiasaan saya bermain dalam <strong>wilayah</strong> coba-coba. Seseorang menasehati saya, bahwa sebelum melakukan sesuatu, saya sudah harus tahu jalan keselamatannya terlebih dahulu. Konon, tersebutlah bermacam-macam pengaruh yang bakal menaungi seseorang selama hidupnya. Pengaruh itu kadang menjadi naungan yang teduh, disaat yang lain menjadi seperti perjalanan tanpa henti. Sudah banyak saya kira yang menyebutkan hal serupa. Merombak kodrat bagi beberapa pejuang hidup, mungkin sebenarnya telah <strong>digariskan</strong> terlebih dahulu. Ketika mereka lahir, beberapa pejuang hidup yang lebih tua, telah mengetahuinya lebih dulu. Namun sesunguhnya ia (pejuang hidup yang lebih tua) pun tengah menunggu kematiannya sendiri. Sebab ia tahu pasti bahwa ia akan terganti. Setidaknya ia sudah melihat kelahiran yang akan menggantikan kematiannya -maaf, jerawat diujung hidung saya pecah ketika menuliskan ini-. </p>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Persoalan yang kemudian terjadi adalah akan adanya konflik -atau, seolah-olah konflik-, diantara pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua. Karena keduanya masih hidup, karena keduanya masih terus bergelut. Adalah mudah bagi pejuang yang lebih tua menyebutkan bahwa dirinya &ldquo;salah&rdquo; selama ini, dan itu, yang menjadi kesukaran untuk diterima oleh pejuang yang lebih muda. Karena mungkin pejuang yang lebih muda tidak mampu -atau belum mampu- melihatnya sebagai suatu kesalahan. Persoalan ini terus-menerus terjadi hingga hari ini. Saya kira sudah saatnya -maaf, saya harus ke belakang dulu, sebentar-, pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua untuk hanya <strong>mengidolakan</strong> seseorang yang telah terkubur dalam tanah -jenazah/orang mati-. Kecemburuan kepada mereka (orang mati) <strong>haruslah lebih besar</strong> daripada kecemburuan -seekor lebah berputar sebentar diatas kepala saya, sehingga saya harus mengusirnya keluar terlebih dahulu, maaf- kepada yang masih hidup. Karena hanya orang mati yang pantas menjadi pelajaran bagi orang hidup. Tidak ada seorang pun yang masih hidup saat ini yang menginginkan kematian yang buruk. Dan itu berarti memang ada cara untuk menghindari kematian yang buruk. Saya kira ini bisa dipahami oleh pejuang yang lebih muda dan pejuang yang lebih tua. </p>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menghadapi kematian yang sudah pasti. Dan saya yakin setiap orang mengetahuinya -terlepas dari anggapan bahwa lupa adalah manusiawi-. Bahwa <strong>kehati-hatian</strong> menjadi kamus umum setiap orang untuk menjalani hidupnya. Saya kira pemahaman yang <em>lebih</em> bijaksana dari pejuang yang lebih tua akan mampu bersanding dengan semangat yang <em>lebih</em> membara dari pejuang yang lebih muda. Saya kira lagi, sudah saatnya berhenti untuk saling <strong>membutakan diri</strong> dari persoalan ini. Karena seorang pejuang hidup tidak pernah hidup&nbsp; untuk dirinya sendiri. Ia menanggungkan beban yang tidak ringan di pundaknya dengan berani. Walaupun ada yang memandang sebaliknya, tapi itu nanti, ketika pejuang-pejuang hidup itu telah benar-benar mati terkubur dalam tanah. Maka berjuanglah! Berjuanglah!</p>
<div align="justify">  </div>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</p>
<div align="justify">    </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
