<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org &#187; agama</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/tag/agama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 08:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Religiusitas Inovasi</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 07:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Seolah-olah
Setiap perubahan merupakan sebuah keniscayaan jika stagnasi terjadi dan telah mencapai suatu titik jenuh pada keadaan tertentu. Tidak dapat dinafikan bahwa sebuah perubahan memang diperlukan, namun disisi lain, sebuah perubahan juga dapat terjadi dengan sendirinya tanpa adanya keperluan yang benar-benar disadari. Sedikit dari lingkungan dapat berarti sangat besar terhadap sebuah sistem. Entah itu sistem organ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Seolah-olah</strong><br />
Setiap perubahan merupakan sebuah keniscayaan jika stagnasi terjadi dan telah mencapai suatu titik jenuh pada keadaan tertentu. Tidak dapat dinafikan bahwa sebuah perubahan memang diperlukan, namun disisi lain, sebuah perubahan juga dapat terjadi dengan sendirinya tanpa adanya keperluan yang benar-benar disadari. Sedikit dari lingkungan dapat berarti sangat besar terhadap sebuah sistem. Entah itu sistem organ didalam tubuh, sistem sosial didalam masyarakat, sistem hukum didalam pemerintahan atau bahkan sistem orbit didalam alam semesta. Sebuah peluang menjadi sesuatu yang amat penting untuk diketahui jika sebuah sistem hendak diselidiki setiap perubahannya. Memaksakan sebuah perubahan dengan menggangu sistem ataupun mendiamkan sebuah perubahan dengan membiarkan waktu berlalu, sama-sama tidak menguntungkan jika dilakukan dengan berlebihan dan keterlaluan. Diperlukan suatu dosis yang tepat <span id="more-312"></span>agar sebuah perubahan tidak menjadi sesuatu yang merugikan sistem itu sendiri. Dan dosis, yang keberadaan dan segala perhitungannya, mau tidak mau haruslah memperhatikan setiap peluang dan kemungkinan yang akan terjadi setelah pemberian dosis tersebut pada sebuah sistem.</p>
<p style="text-align: justify;">Keinginan untuk berubah bukanlah sebuah keadaan yang seolah-olah, bukan pula sebentuk kepura-puraan yang bersifat sementara. Konsekuensi dari keinginan terhadap sebuah perubahan akan berbekas hingga waktu yang lama. Itulah sebabnya setiap perubahan memerlukan sebuah proses yang amat panjang dan melelahkan. Dampak dari sebuah perubahan amatlah jelas, begitu pula dengan proses sebelum perubahan itu terjadi, gambaran waktu dan aktifitasnya sangat jelas dan nyata. Berbeda halnya jika sebuah perubahan merupakan sebuah keadaan yang seolah-olah. Gambaran proses sebelum terjadi perubahan tidaklah nyata bahkan terlihat kabur dan menggelapkan. Tentu saja kemudian, dampak yang ditimbulkan dari sebuah perubahan yang berawal dari proses yang tidak nyata, akan berujung pada konsekuensi yang berupa kesementaraan dan hanya berbekas untuk waktu yang sebentar. Permasalahan yang sebenarnya perlu untuk mendapatkan perhatian yang serius, adalah tentang bagaimana mengenali, mana proses yang nyata dan mana proses yang sementara. Sebuah perubahan pastilah menawarkan sebuah proses, pilihan berada ditangan siapapun yang menginginkan sebuah perubahan. Tetapi, jebakan-jebakan kesementaraan biasanya tersembunyi dibalik sebuah proses perubahan itu sendiri. Pada akhirnya, kesalahan dalam memilih sebuah proses akan berakibat pada kerugian yang nyata bagi para pemilih sebuah proses perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenali sebuah proses yang berdampak pada sebuah keabadian tidaklah mudah, kecuali bagi beberapa individu saja. Mempelajari sejarah, bertanya kepada para ahli ilmu pengetahuan, melakukan penelusuran ilmiah, serta bersabar dalam pencarian kebenaran, merupakan sebuah proses untuk mengenali proses perubahan itu sendiri. Sedikit mengherankan bahwa pengenalan sebuah proses keabadian harus pula melewati sebuah proses yang panjang. Tetapi memang begitulah yang semestinya terjadi. Agar sebuah perubahan memberikan manfaat yang nyata dan jelas serta tidak bersifat sementara memang memerlukan sebuah proses yang tidak sebentar.<br />
Ditambah lagi, proses yang tidak sebentar itu merupakan sebuah perbuatan yang harus dilakukan secara terus-menerus. Perbuatan yang seharusnya dilakukan secara kontinu selama tubuh masih bernyawa. Perbuatan selama proses tersebut diantaranya: meyakini, melakukan perbuatan baik, mengajak kepada kebenaran dan kesabaran. Secara mudahnya, kenali mana perubahan yang akan berdampak nyata, jelas dan abadi, kemudian perhatikan bagaimana perbuatan sebelum sebuah proses perubahan itu terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah perubahan yang memberikan manfaat yang nyata dan jelas, tidak pernah merupakan sebuah kepura-puraan didalam prosesnya. Tidak pernah pula, keadaan seolah-olah pada sebuah proses perubahan memberikan keuntungan yang bersifat abadi. Namun, jebakan kesementaraan pada sebuah proses perubahan senantiasa hadir untuk mengelabui siapapun yang tidak menyadari akan adanya keabadian. Sebaliknya, dengan menghindari jebakan-jebakan tersebut, berarti juga telah melakukan sebuah pemilihan terhadap sebuah proses perubahan yang mengarah kepada keabadian.</p>
<p><strong>Religiusitas dan Inovasi</strong><br />
Bagaimana dengan religiusitas perubahan itu sendiri? Apakah sebuah perubahan bersifat agamawiah? Ataukah agama yang justru memerlukan sebuah perubahan dengan mengacu bahwa sebuah perubahan merupakan sebuah sifat yang melekat -katakanlah bersifat inovasi-? Dibutuhkan sikap kehati-hatian yang seksama dalam menjawab permasalahan ini. Didalam sejarahnya, kedatangan sebuah agama sering terjadi karena sebuah perubahan yang memang sudah semestinya terjadi didalam sebuah masyarakat. Perbaikan tatanan kehidupan pribadi dan masyarakat acapkali menjadi perhatian serius sebuah agama. Pada keadaan ini agama merupakan sebuah pembaharuan (inovasi) bagi keadaan masyarakat. Agama selalu mempunyai misi tentang Sang Pencipta, perbuatan baik, tindakan kejahatan, hubungan antar pribadi, komunikasi didalam masyarakat, hukum alam sebab-akibat, sampai ramalan tentang kejadian masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan sebuah inovasi, seperti juga sebuah perubahan, merupakan sesuatu yang senantiasa terjadi. Inovasi telah membawa sebagian sistem pada keadaan seperti yang diharapkan. Inovasi yang tidak pernah berhenti, tampak secara kasat mata telah memberikan keuntungan yang luar biasa besar misalnya pada bidang teknologi. Sebuah inovasi juga kerap bermanfaat pada beberapa tempat dalam ranah ilmu pengetahuan. Terlebih lagi dalam kesenian, sebuah inovasi biasanya mendapatkan apresiasi yang positif. Namun, sebuah inovasi tidak serta merta diizinkan terjadi, ketika berkaitan dengan sesuatu yang sudah ajeg seperti agama. Inovasi didalam agama merupakan sebuah pengkhianatan bagi agama itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem yang telah terbangun dengan mantap oleh sebuah agama tidak memerlukan sebuah perubahan apapun dalam hal keadaan dasar sebuah agama yang mulia. Tetapi, tidak dapat dipungkiri ihwal adanya kenyataan bahwa inovasi itu telah terjadi, baik karena lemahnya sistem bangunan agama maupun karena kuatnya desakan perubahan dari lingkungan luar.<br />
Segalanya mungkin saja terjadi didalam sebuah sistem makro diatas permukaan bumi ini. Secara langsung maupun tidak langsung, sebuah inovasi pada agama telah memberikan kerugian yang sangat besar bagi kehidupan beragama para pemeluknya sendiri. Bahkan berbagai kehinaan acapkali menyelimuti agama yang tadinya mulia setelah sebuah inovasi hadir pada sebuah agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu hal yang penting adalah bahwa semangat inovatif yang datang dari semangat beragama, merupakan sesuatu yang bermanfaat dan positif jika dituangkan dalam sendi-sendi kehidupan. Sebaliknya, berinovasi didalam agama, melakukan pembaharuan pada agama, merupakan sebuah kecelakaan besar yang merugikan agama dan para pemeluknya sendiri. Sikap inovatif<br />
pada agama bukanlah datang dari agama meskipun tampak seperti sebuah perbuatan beragama (religius). Bukankah Sang Khalik telah memberikan rambu-rambu yang jelas mengenai agama? Bukankah juga, Yang Maha Mengetahui telah secara absolut memerikan mana yang benar dan mana yang salah untuk semua makhluk ciptaan-Nya melalui agama? Lalu untuk apa melakukan inovasi pada agama? Beberapa pertanyaan tersebut dapatlah dijawab dengan menyatakan bahwa melakukan inovasi pada agama berarti telah melakukan penentangan kepada Sang Khalik.</p>
<p><strong>Sang Khalik telah Mengetahui Segalanya</strong><br />
Sebuah agama dan segala inovasi yang terjadi didalamnya, sesungguhnya telah diketahui dengan sangat mutlak oleh Sang Khalik. Hal ini karena Ia mengetahui yang awal dan yang akhir. Tidak ada sebuah perubahan pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Permasalahan sebenarnya justru terjadi pada makhluk ciptaan-Nya, apakah menyetujui inovasi pada agama ataukah menentang inovasi pada agama. Seperti juga ketika memilih sebuah proses perubahan, terdapat proses yang panjang selama mengimplementasikannya. Menentang perbuatan inovasi pada agama merupakan sebuah proses yang tidak sebentar, halangan dan cercaan pastilah senantiasa mengiringi. Akan<br />
terdapat banyak persuasi, argumentasi bahkan mungkin intimidasi ketika perbuatan menentang inovasi pada agama dilaksanakan. Namun, bukankah Sang Khalik mencintai makhluk ciptaan-Nya yang senantiasa membela agama-Nya?</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir, yang paling penting untuk disadari adalah bahwa setiap keyakinan kelak menemui ujiannya sendiri-sendiri. Perbuatan meyakini tidak begitu saja berhenti setelah ikrar keyakinan diucapkan, namun terdapat juga tuntutan didalam implementasinya. Melalui perkataan, perbuatan, do’a-do’a didalam hati dan pikiran, implementasi tersebut haruslah menemukan kehadirannya pada setiap sendi-sendi kehidupan. Setelah itu, kesabaran merupakan hal terakhir yang mengiringi sebuah proses didalam kehidupan sebelum kehidupan itu sendiri benar-benar berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.<br />
Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
