Sejatinya kita memang harus menunggu

Sangat bisa dimengerti, jika menunggu adalah seperti sebuah padanan korelatif dengan kebosanan, maka itu sedikitnya bisa dimengerti. walaupun sebenarnya tidak selalu bisa dibenarkan, karena ternyata -sesuai judul, Sejatinya kita memang harus menunggu.
Bisa dimengerti kan, ternyata lalu lalang kita di bumi milik Dia ini, hanya untuk sebuah perkara ‘kecil’ yaitu menunggu. Kepastian pasti muncul, hanya saja entah kapan. Itu, yang kita sebut menunggu. Bukan untuk sebuah kesia-sian tapi kepastian dari Sang Pasti.
Jadi, benar adanya bahwa “life is waiting”, hidup adalah sebuah waktu peluruhan tubuh, sampai pada titik lebur dengan syarat batas bebas. Nah, menunggu inilah yang jadi uji kelayakan kita sebagai penunggu.

No Comments

  • m_ardani wrote:

    Aku lebih setuju jika kita menunggu dengan dinamis. Dalam ruang tunggu tersebut terlalu banyak hal yang teramat sayang untuk dilewatkan. Bahkan jika kita bisa “think outside the box” akan teramat banyak kedinamisan yang tercipta.

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *