Revolusi Keadilan

Keadilan dan Tubuh
Seperti sebuah masterpiece, sebuah hasil karya yang berupa keadilan biasanya mengalami serangkaian proses perjuangan yang sangat panjang. Umumnya juga, masterpiece keadilan merupakan salah satu dari sekian banyak cita-cita paling luhur yang lahir dan muncul dalam setiap lapisan masyarakat. Mahakarya keadilan selalu menjadi teladan dan acuan guna menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang setara dihadapan kemanusiaan. Tanpa membeda-bedakan harta kekayaan, status pendidikan, latar belakang sosial atau bahkan kondisi fisik seseorang, masterpiece keadilan yang berfungsi secara benar dan memiliki estetika yang tinggi merupakan pengakuan jujur nan mutlak bagi siapa saja yang sedang mengapresiasinya. Akan menjadi hal yang sangat mengharukan juga melegakan, jika melihat si miskin dan si kaya, si bodoh dan si pintar, si marjinal dan si populer, si buruk rupa dan si bagus rupa ketika mendapatkan perlakuan yang sama dalam segala permasalahan hukuman atas kesalahan maupun kejahatan yang telah dilakukan. Masterpiece keadilan adalah sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat yang tanpa cela.
Bukan hanya itu, masterpiece keadilan acapkali didengung-dengungkan pada saat-saat tertentu, oleh orang-orang tertentu, dan untuk memperoleh suatu keuntungan tertentu. Karena bagaimanapun, masterpiece keadilan nyatanya selalu berada pada batas yang abu-abu antara yang real dan yang imajinasi. Dengan begitu, menjadi sangat menggugah hati dan gairah siapapun yang  tengah mendambakan sesuatu semacam keadilan. Sayangnya, masterpiece keadilan seringkali berakhir pada wacana yang hanya bersifat utopia. Ketika akhirnya hanya wacana tersebut yang mengemuka dan berlangsung, maka tidak ada seorangpun yang berani mengaku bertanggungjawab atas sebuah khayalan. Utopia memang masih saja dinisbatkan pada sesuatu perasaan lugu plus naif anak manusia yang tak akan pernah menemukan nilai empiriknya sampai kapanpun.
Dimanapun diatas permukaan bumi yang ditinggali oleh anak-anak cucu Adam ini, sebuah keadilan sosial adalah tuntutan paling waras atas rasionalisme yang pernah dipunyai oleh seorang anak manusia. Betapa sebuah keadilan sosial menjadi amanah perjuangan paling fundamental atas tegaknya tiang-tiang kehidupan bermasyarakat agar terwujud sebuah kemakmuran seperti yang telah dan selalu dicita-citakan sebelumnya. Keadilan sosial merupakan sendi-sendi konstitusi bahkan simbol dan semboyan yang tercetak secara paten pada beberapa kelompok masyarakat di dunia. Namun, karya berupa keadilan sebenarnya tidak melulu memiliki hubungan kausal dengan kehidupan sosial masyarakat banyak –meski pada akhirnya nanti hubungan tersebut ada dan ditemukan. Keadilan ternyata juga menuntut untuk hadir didalam setiap diri individu itu sendiri, keadilan menuntut untuk dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab pada masing-masing individu. Kemudian dikenal dengan istilah yang paling dimafhumi yakni, adil kepada diri sendiri. Memberikan sesuatu kepada diri sendiri apa-apa yang telah menjadi haknya, dan secara bersamaan menjauhkan diri sendiri dari segala sesuatu yang bukan menjadi haknya. Tidak mudah memang berbuat adil kepada diri sendiri, sebab kecenderungan seorang anak manusia yang terjadi adalah hanya mengenai ada-tidaknya keuntungan yang dapat diraih oleh dirinya sendiri. Jika tampak menguntungkan untuk dirinya sendiri, maka manusia akan merasa telah berbuat adil, tetapi jika terlihat tidak menguntungkan, maka manusia akan meninggalkan perbuatan adil tersebut. Padahal kecenderungan ini sangat disayangkan karena sebenarnya keuntungan yang akan diraih dengan berbuat adil pada diri sendiri justru lebih besar daripada kecenderungan itu sendiri yang hanya bersifat sementara.
Perbuatan membuat nyaman diri sendiri bisa jadi merupakan sebuah tindakan yang tidak adil, sebaliknya perbuatan membuat sengsara diri sendiri juga bisa jadi merupakan sebuah ketidakadilan. Yang perlu disadari disini adalah misalnya; pengetahuan tentang apa-apa yang telah menjadi hak-hak tubuh. Bagaimana tubuh seorang manusia yang merupakan “sebuah mesin sempurna” dapat terpenuhi segala kebutuhannya tanpa berkekurangan ataupun berkelebihan. Membuat tubuh mendapatkan asupan energi yang cukup dari makanan dan minuman, membuat tubuh mendapatkan relaksasi yang baik dengan cukup tidur dan istirahat, membuat tubuh berada pada temperatur yang normal dan mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan, atau bahkan membuat tubuh menolak benda-benda asing yang patogenik dan perbuatan-perbuatan lainnya demi kepentingan tubuh itu sendiri merupakan salah satu bentuk pemenuhan hak-hak atas tubuh.
Mesin sempurna yang dimaksud adalah sebuah masterpiece yang tidak mempunyai akhir yang utopis, tubuh manusia adalah sesuatu yang real dan mempunyai batas-batas yang jelas dengan sisi-sisi imajinasi manusia sebagai diri. Tubuh manusia bisa mengalami sakit, terinfeksi, masa terinkubasi bakteri atau virus, disaat yang lain mengalami keadaan yang sehat, prima, berkonsentrasi penuh, kondisi optimum dan lain sebagainya sebagaimana yang selalu terjadi pada tubuh seorang anak manusia. Keadaan-keadaan tersebut bergantung pada perawatan dan pemeliharaan pemilik tubuh itu sendiri. Namun pada asalnya, tubuh itu sendiri tercipta, sebenarnya merupakan sebuah masterpiece. Hal ini tentu berbeda dengan masterpiece keadilan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Keadaan yang berbeda dengan keadilan, untuk menjadi sebuah masterpiece, keadilan harus diciptakan ditempat dimana sebuah keadilan memang benar-benar diinginkan. Keadilan harus diusahakan dan diperjuangkan, salah satunya dengan mencari dan mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan untuk dicoba-terapkan pada keadilan. Keadilan akan dapat terlaksana dengan baik ketika ilmu dan pengetahuan selalu berjalan disampingnya dan mengiringinya.
Agar masterpiece keadilan dapat benar-benar tercipta, seseorang harus memulai dari dirinya sendiri barulah kemudian bisa beranjak pada tingkatan sosial yang lebih luas. Materpiece keadilan tidak boleh lagi melulu disandarkan pada perasaan subyektif yang dimiliki oleh segelintir manusia saja.

Revolusi Masterpiece
Sebuah perubahan besar yang dramatis dalam ide dan praktik sering dimaksudkan untuk kata revolusi. Dalam pengertian lain, revolusi juga bisa berarti satu putaran penuh sebuah benda untuk mengelilingi benda lain, misal orbit yang dibuat oleh sebuah planet atau satelit mengelilingi benda yang lain. Sedangkan masterpiece dapat diartikan sebagai karya artistik besar/agung: suatu potongan karya yang luar biasa atas kerja kreatif, atau dapat juga didefinisikan sebagai karya terbaik milik seniman: bagian terbaik dari karya oleh seniman tertentu.
Secara sederhana, revolusi masterpiece dapat dinisbatkan untuk sebuah perubahan besar dalam hal karya besar. Bisa jadi perubahan besar itu sendiri yang menjadi sebuah masterpiece secara otomatis atau malah sebaliknya, membuat dan mengerjakan sebuah masterpiece dengan cara melakukan perubahan besar. Sebuah masterpiece kadang-kadang tidak disadari bahwa ketika pengerjaannya karya tersebut akan menjadi sebuah masterpiece, kadang-kadang pula sebuah masterpiece memang telah diniatkan sedari awal pengerjaannya agar menjadi sebuah masterpiece setelah karya tersebut selesai. Namun, tidak penting untuk memperdebatkan pengertian revolusi masterpiece. Menjadi sangat berarti apabila sebuah perubahan besar benar-benar terjadi dan kemudian dapat dianggap sebagai sebuah masterpiece. Tindakan-tindakan untuk sebuah perubahan besar itulah yang sebenarnya menjadi sangat penting dan diperlukan oleh siapapun, dan tidak terbatas pada profesi tertentu saja.
Dari pengertian yang selanjutnya bahwa revolusi berarti satu putaran penuh, maka revolusi membutuhkan jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan satu putaran penuhnya. Fakta lain menyebutkan bahwa sebuah masterpiece hanya bisa diperoleh pada waktu-waktu tertentu saja. Sekali masterpiece didapatkan, maka seseorang harus menunggu beberapa waktu lagi jika ingin memperoleh masterpiece yang lain. Hal ini menandaskan bahwa revolusi masterpiece pada asalnya memang selalu terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Alangkah baiknya jika revolusi masterpiece disadari segala tahapannya, dipahami seluruh hubungan kausalnya, kemudian dilaksanakan secara simultan pada (lagi-lagi) kehidupan sehari-hari masing-masing individu. Dari revolusi masterpiece, masyarakat secara keseluruhan perlahan-lahan akan menyadari pentingnya sebuah masterpiece keadilan karena nilai fundamental keadilan itu sendiri. Perihal ini akan mengarahkan pada suatu usaha pencapaian masterpiece keadilan melalui revolusi keadilan didalam kehidupan sosial bermasyarakat. Masyarakat yang menyadari, masyarakat yang mengetahui, dan pada akhirnya masyarakat juga yang melaksanakan dan akan mendapatkan hasilnya.
Revolusi keadilan adalah suatu kebutuhan mendesak bagi individu siapapun dan bagi kelompok masyarakat yang bagaimanapun. Jika disadari ihwal kenyataan maraknya keadilan tebang-pilih saat ini, maka revolusi keadilan merupakan sesuatu yang perlu untuk segera dilaksanakan. Revolusi keadilan bisa menjadi sebuah masterpiece yang dikerjakan oleh masyarakat banyak dan akan mempunyai imbas paling positif pada kehidupan sosial. Tidak mudah memang, namun revolusi keadilan (masih berharap yang sama) dapat dimulai dari diri sendiri pada masing-masing individu. Setelah itu, apabila kesepakatan telah terjadi antara masing-masing individu untuk melaksanakan revolusi keadilan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab, maka siapapun boleh berharap bahwa sebuah masyarakat yang berkeadilan akan tercipta. Sebuah keadilan sosial yang selalu dicita-citakan dan yang selalu didengung-dengungkan bukanlah lagi sebuah utopia imajinatif jika revolusi keadilan diterapkan dan dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati atas ilmu dan pengetahuan yang benar. Seseorang tidak boleh lupa bahwa adil itu lebih dekat kepada taqwa.

Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Wallahu’alam wallahulmusta’an.

2 Comments

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *