Persoalan hidup dimulai ketika lahir dan berakhir ketika mati.

Bukanlah kebiasaan saya bermain dalam wilayah coba-coba. Seseorang menasehati saya, bahwa sebelum melakukan sesuatu, saya sudah harus tahu jalan keselamatannya terlebih dahulu. Konon, tersebutlah bermacam-macam pengaruh yang bakal menaungi seseorang selama hidupnya. Pengaruh itu kadang menjadi naungan yang teduh, disaat yang lain menjadi seperti perjalanan tanpa henti. Sudah banyak saya kira yang menyebutkan hal serupa. Merombak kodrat bagi beberapa pejuang hidup, mungkin sebenarnya telah digariskan terlebih dahulu. Ketika mereka lahir, beberapa pejuang hidup yang lebih tua, telah mengetahuinya lebih dulu. Namun sesunguhnya ia (pejuang hidup yang lebih tua) pun tengah menunggu kematiannya sendiri. Sebab ia tahu pasti bahwa ia akan terganti. Setidaknya ia sudah melihat kelahiran yang akan menggantikan kematiannya -maaf, jerawat diujung hidung saya pecah ketika menuliskan ini-.

Persoalan yang kemudian terjadi adalah akan adanya konflik -atau, seolah-olah konflik-, diantara pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua. Karena keduanya masih hidup, karena keduanya masih terus bergelut. Adalah mudah bagi pejuang yang lebih tua menyebutkan bahwa dirinya “salah” selama ini, dan itu, yang menjadi kesukaran untuk diterima oleh pejuang yang lebih muda. Karena mungkin pejuang yang lebih muda tidak mampu -atau belum mampu- melihatnya sebagai suatu kesalahan. Persoalan ini terus-menerus terjadi hingga hari ini. Saya kira sudah saatnya -maaf, saya harus ke belakang dulu, sebentar-, pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua untuk hanya mengidolakan seseorang yang telah terkubur dalam tanah -jenazah/orang mati-. Kecemburuan kepada mereka (orang mati) haruslah lebih besar daripada kecemburuan -seekor lebah berputar sebentar diatas kepala saya, sehingga saya harus mengusirnya keluar terlebih dahulu, maaf- kepada yang masih hidup. Karena hanya orang mati yang pantas menjadi pelajaran bagi orang hidup. Tidak ada seorang pun yang masih hidup saat ini yang menginginkan kematian yang buruk. Dan itu berarti memang ada cara untuk menghindari kematian yang buruk. Saya kira ini bisa dipahami oleh pejuang yang lebih muda dan pejuang yang lebih tua.

Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menghadapi kematian yang sudah pasti. Dan saya yakin setiap orang mengetahuinya -terlepas dari anggapan bahwa lupa adalah manusiawi-. Bahwa kehati-hatian menjadi kamus umum setiap orang untuk menjalani hidupnya. Saya kira pemahaman yang lebih bijaksana dari pejuang yang lebih tua akan mampu bersanding dengan semangat yang lebih membara dari pejuang yang lebih muda. Saya kira lagi, sudah saatnya berhenti untuk saling membutakan diri dari persoalan ini. Karena seorang pejuang hidup tidak pernah hidup  untuk dirinya sendiri. Ia menanggungkan beban yang tidak ringan di pundaknya dengan berani. Walaupun ada yang memandang sebaliknya, tapi itu nanti, ketika pejuang-pejuang hidup itu telah benar-benar mati terkubur dalam tanah. Maka berjuanglah! Berjuanglah!

Wallahu’alam wallahulmusta’an.

No Comments

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *