Oleh: Priambudi
“Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian.”(Kekuatan Berpikir: M. Muhadzis)
Di dunia ini tidak ada hal yang sukar maupun hal yang mudah. Juga tidak ada atau tidaklah tepat kalau disebutkan bahwa seseorang itu bodoh ataupun pintar. Biasanya, orang berpendapat bahwa sukar adalah pendapat orang bodoh dan mudah itu adalah pendapat orang pintar. Sebetulnya tidak demikian. Tidak ada sukar, tidak ada mudah, tidak ada bodoh juga tidak ada pintar. Yang ada hanya mengerti dan belum mengerti. Yang mengerti tentu bisa dan kalau sudah bisa, menjadi mudah. Yang belum mengerti tentu tidak bisa dan kalau belum bisa, menjadi sukar. Jadi, tidak ada hal sukar di dunia ini selama seseorang mau belajar agar mengerti dan bisa. Kalau belum mengerti, maka carilah, pergunakan akal budi yang dianugerahkan sebagai manusia. Segala hal pasti akan dapat diatasi!
Bagi mereka yang mampu menyelesaikan masalahnya tentu akan mendapat predikat pintar, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu maka disebutlah bodoh. Seseorang yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan akan mendapat predikat super pintar (baca: jenius); itu dikarenakan ia mengetahui melebihi pengetahuan manusia disekitarnya. Sehingga pada umumnya, tingkat intelegensia manusia hanya dibagi menjadi dua: pintar dan bodoh. Padahal kalau ditelaah, penjabaran antara bodoh dan pintar hanya terletak dari: sudah tahu dan belum tahu. Bagi mereka yang dianggap bodoh tetapi ada keinginan untuk belajar sehingga mereka menjadi pintar dengan kata lain dia yang tidak tahu tetapi ada keinginan belajar (supaya tahu) sehingga dia menjadi tahu. Orang yang tidak tahu apa-apa (bodoh-red), jika dia memiliki kemauan untuk belajar, maka ia akan menjelma menjadi manusia pintar. Jadi, yang ada adalah yang sudah tahu dan yang belum tahu atau yang sudah mengerti dan yang belum mengerti. Lantas, siapa yang lebih pantas mendapatkan gelar bodoh? Yang lebih pantas mendapatkan predikat bodoh ialah mereka yang tidak memiliki kemauan untuk belajar, secara otomatis ia akan selamanya tidak tahu, itulah Si Bodoh yang sebenarnya.
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan (Mario Teguh).
Semua bermula dari bukan apa-apa dan akan kembali menjadi bukan apa-apa. Demikian pula manusia, mereka (semua manusia) dilahirkan dari bukan siapa-siapa, bahkan dalam urusan makan pun seorang bayi harus dibantu, kalaupun kelak ia “menjadi orang” maka hal itu adalah hasil dari proses yang ia lakukan. Disinilah letak dimana proses berperan penting dalam menentukan pintar atau bodoh, mengerti dan belum mengerti, paham dan belum paham, memiliki dan belum memiliki.
Mengacu pada uraian di atas, bagaimana sebaiknya seseorang dalam bersikap? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja harus dikembalikan kepada masing-masing individu dalam menempatkan posisinya. Pintar atau bodoh? Sudah mengerti atau belum mengerti? Sudah memiliki atau belum memiliki? Dengan mengetahui berada di posisi yang mana, seseorang tentu akan dapat menentukan langkah yang akan diambil.
Sebab semua bermula dari bukan apa-apa dan akan kembali menjadi bukan apa-apa.
Wallahu’alam a’laa kulli hal.
Bandung, 11 Juni 2009


Fiuuhhh… Tulisan ini membuat saya malu dan minder…
Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya didalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya
Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi
Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita
Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi
(Virgiawan Listanto)
Kenapa harus malu, bukankah kita memiliki proses masing2 yg belum tentu sama
bner. setiap org mmiliki proses yg brbeda. maka hasilnya pun tentu akan berbeda.
gaya eung abang bsa nulis juga hehhe
Baru tau kalo abangnya bisa nulis?.. waduh.