Mari bersama-sama mencemooh dunia. (sebuah pengantar)

Oleh: m. muhadzis g.

Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh seorang raja ketika ia masih berada diatas singgasana-nya? Apakah ia pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri ketika ia sudah berada jauh terkubur didalam tanah? Jika seorang raja hanya sekedar ingin dikenang maka ia telah mendapatkan-nya sesaat sebelum menjadi raja. Jika seorang raja hanya sekedar ingin menguasai banyak tempat di permukaan bumi ini maka ia tidak perlu repot-repot menjadi raja. Dan jika seorang raja hanya sekedar ingin memiliki sejumlah besar harta kekayaan maka menjadi raja adalah sebuah kesalahan. Adalah sebuah keganjilan yang benar-benar luar biasa jika motivasi seorang raja hanya mengacu pada keinginan-keinginan seperti tersebut diatas. Merupakan sebuah kehinaan yang tidak dapat ditolerir jika seorang raja hanya bekerja/berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri. Seorang raja yang demikian hanya akan menciptakan orang-orang hebat yang akan selalu dan kontinu menjadi penentangnya selama masa kekuasaannya. Lahirlah apa yang bakal disebutkan oleh zaman sebagai para penyelamat. Penyelamat dari sang raja yang lalim, penyelamat dari sang raja yang telah melampaui batas dalam kemanusiaan dan penyelamat bagi rakyatnya yang tertindas. Dan para penyelamat ini akan benar-benar menyita perhatian yang amat besar dari sang raja ketika ia tengah berusaha mempertahankan kekuasaannya.

Menjadi hamba dunia adalah godaan sekaligus jebakan bagi seluruh raja-raja yang pernah hidup dimuka bumi ini. Juga tidak sedikit yang telah benar-benar terjebak dan terperosok kedalamnya. Kedalam penyesalan yang sama sekali tidak akan ada manfaatnya lagi. Mereka tertipu oleh gemerlap dan permainan halusnya dunia terlebih karena posisinya yang adalah seorang raja. Benar bahwa mereka adalah juga manusia namun bagaimanapun mereka adalah seorang “raja” yang tercatat berbeda dengan manusia pada umumnya. Kemudahan yang selalu didapatkan oleh seorang raja, dimana kemudahan inilah yang selalu diidam-idamkan oleh orang-orang awam, menjadi akses paling awal sebelum terperangkap lebih pekat oleh jaring-jaring keindahan dunia. Seorang raja acapkali lupa atau sengaja melupa-lupakan dirinya sendiri bahwa sebenarnya ia bertanggung-jawab atas segala sesuatu yang menjadi kekuasaannya. Rakyat, tanah air dan harta kekayaan adalah kekuasaan yang juga adalah suatu pertanggung-jawaban yang sungguh sangat berat. Terdapat banyak pertanyaan yang memerlukan jawabannya dengan tepat dan segera.  Pemandangan sekilas bahwa segala fasilitas yang melekat pada diri seorang raja adalah kewajaran, dapat diterima oleh akal sehat. Namun dengan akal sehat itu pulalah, dapat diterima kewajaran bahwa semakin banyak fasilitas maka akan semakin banyak pula pertanggung-jawabannya.

Seseorang tidak pernah benar-benar tahu apa yang tengah dialami oleh para raja yang sekarang telah  mendekam di liang lahad. Pendekatan pengetahuan yang paling mungkin adalah dugaan dan sangkaan yang didapat dari cerita-cerita awam dan buku-buku sejarah atau dari penuturan orang-orang terdekat para raja yang masih hidup hingga saat ini. Perdebatan tentang otentisitas-nya sebaiknya dikesampingkan terlebih dahulu agar didapat informasi yang lebih banyak dan beragam tentang seorang raja. Barulah setelah itu dilakukan penyaringan informasi dengan beberapa perangkat keabsahan sebuah biografi, supaya lebih mendekati kenyataan. Tetapi tetap saja pendekatan yang demikian akan selalu berujung pada persangkaan karena seseorang yang mencoba menemukan fakta dari masa lalu tidak pernah benar-benar hidup dimasa lalu dan mendapatkan informasi yang sesungguhnya dengan mata-kepalanya sendiri dimasa lalu tersebut. Dan segala persangkaan nantinya dimafhumi dengan adanya pemaafan.

Pergulatan seorang raja dengan dunia, atau bisa jadi percumbuan seorang raja dengan dunia adalah sebuah fakta tersendiri. Hubungan yang begitu dekat ataupun hubungan yang begitu jauh antara seorang raja dengan dunia amat bergantung pada cara pandang seorang raja itu sendiri terhadap dunia. Sebab keduniawian cenderung tetap atau begitu-begitu saja, sedangkan seorang raja biasanya akan lebih mempunyai kebebasan didalam memperlakukan dunia. Seorang raja tinggal memilih, ingin menjadi hamba dunia ataukah sebaliknya, bersikap mandiri dan sama sekali tidak peduli pada dunia. Tidak seperti orang-orang awam yang membutuhkan dunia untuk kelangsungan hidupnya, seorang raja bisa dikatakan tidak butuh pada dunia, sebab dunia-lah yang menawarkan diri pada seorang raja. Namun dalam pada itu, sangat mungkin bagi para raja memandang dunia sebagai ladang bagi kehidupan pasca kematiannya sendiri nanti. Itupun kalau seorang raja meyakini bahwa kehidupan itu bukan hanya kehidupan didunia ini saja. Kalau begitu berarti raja dengan tipe yang demikian memiliki hubungan yang begitu jauh dengan dunia.

Hubungan yang cukup berjarak antara seorang raja dengan dunia, mempunyai pengertian bahwa tinggal selangkah lagi bagi seorang raja untuk dapat menjadi dekat dengan rakyat. Kedekatan seorang raja dengan rakyat akan menumbuhkan rasa cinta dihati rakyat kepada raja dan begitu pula sebaliknya. Dengan catatan bahwa seorang raja telah terlebih dahulu melupakan kekuasaannya didalam memberikan hukuman, kecuali telah datang kepadanya bukti-bukti yang nyata. Lain halnya dengan seorang raja yang memiliki hubungan yang begitu dekat dengan dunia, ia akan cenderung terlena dan menikmati segala sesuatu yang datang padanya, segala kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia kepadanya. Seorang raja akan mengabaikan hak-hak serta kepentingan rakyatnya sebab ia menganggap bahwa rakyat-lah yang harus senantiasa melayaninya. Seorang raja yang demikian tak pelak lagi akan menumbuhkan kebencian dihati rakyat dan sang raja bisa jadi tidak pernah akan menyadarinya.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan dunia? Seseorang pernah mengatakan bahwa dunia adalah sebuah tempat dimana ia dapat dilalui dengan kepayahan dan penderitaan atau malah dilalui dengan kemudahan dan terwujudnya segala keinginan hawa nafsu. Dengan pengertian tersebut, yang mengesampingkan status apakah seseorang adalah seorang raja ataupun orang awam, dapat diambil sebuah simpulan bahwa memperlakukan dunia adalah suatu keniscayaan yang harus dihadapi dan akan berlangsung terus-menerus selama ruh masih melekat dengan tubuh. Adapun seorang raja, mungkin memang lebih berpeluang untuk menaklukan dunia karena kekuasaannya, namun tugasnya tidak selesai sampai disitu sebab kekuasaan berbuntut pada diharuskannya ketersediaan setiap jawaban atas setiap keluhan dari yang dikuasainya. Sebaliknya dengan orang-orang awam, pencapaian kehidupan duniawi sering mereka anggap sebagai suatu usaha keras yang memang pantas untuk diperjuangkan demi mendapatkannya. Namun mereka seringkali tidak sadar bahwa kehidupan duniawi hanyalah salah sebuah jalan, bukan merupakan tujuan. Orang-orang awam sering melupakan bahwa mereka pun akan mati dan terkubur jauh didalam tanah. Sama halnya dengan seorang raja. Siapa tahu saja seorang awam yang tidak terlalu “ngoyo” pada kehidupan duniawi dapat disamakan dengan seorang raja yang menjauhi dunia demi kepentingan yang lebih mulia.
Wallahu’alam wallahul musta’an.

Pasar Minggu, Jakarta Selatan
20-02-2009

No Comments

  • Pebu wrote:

    Semoga menjadi “sedikit” pencerahan bagi yang “terhimpit” oleh dunia…….
    Bukankah Bumi itu luas?????????

  • m_ardani wrote:

    sebuah kebohongan besar jika kita berpijak di dunia dengan kekuasaan.
    Sedikit mengutip Laskar Pelangi:
    Memberilah sebanyak-banyaknya
    dan jangan menerima sebanyak-banyaknya.

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *