Oleh: Priambudi
Bagi para pecinta tokoh Superhero terbitan Marvel, tentu tidak asing dengan kalimat diatas. Kalimat tersebut diucapkan oleh tokoh Ben Parker kepada Peter Parker, sang tokoh Spiderman. Kalimat itulah yang selalu diingat oleh Peter Parker ketika ia menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya tidak lalu semata-mata membuat dirinya dapat melakukan apa saja. Kalimat itu juga yang membuat Peter Parker harus membuat keputusan sulit dalam hidupnya, antara menjalani kehidupan normal sebagai seorang mahasiswa yang harus membiayai kuliah dan hidupnya sendiri dengan melupakan Spiderman atau kembali kepada takdirnya sendiri yang tidak lain adalah seorang Superhero. Pergulatan batin muncul dalam diri Peter Parker, ia dituntut untuk memilih antara mengabaikan kekuatan Superhero-nya dan menjalani hidup dengan berbagai kenyataan permasalahan seorang lelaki yang beranjak dewasa atau mengorbankan kehidupan dan kepentingan pribadi-nya demi menjalankan tugas sebagai seorang Spiderman.
Menjadi manusia biasa dan mengabaikan kekuatan superhero tentu saja bukan hal mudah, Peter muda harus bertahan dengan berbagai kerumitan permasalahan hidupnya. Lalu, apakah menjadi Superhero itu mudah? Bagi Peter Parker yang sangat memahami ucapan Paman Ben, ternyata hal tersebut sama sulitnya. Ia harus mengorbankan semua kepentingan dirinya sendiri demi menjalankan tugasnya sebagai Spiderman, bahkan cintanya kepada Mary Jane (pada awalnya) harus ia gadaikan.
Bagaimana kalau ucapan Paman Ben diatas dimodifikasi menjadi “kekuasaan yang besar menuntut tanggung-jawab yang besar (juga)”? Bagi sebagian orang, kalimat tersebut seolah tidak sulit, bahkan, dengan kekuasaan, mereka (merasa) mampu mengatasi berbagai permasalahan orang banyak, tentunya disamping permasalahan dirinya sendiri. Kembali merujuk pada tokoh Spiderman, ternyata Peter Parker “memanfaatkan” kekuatannya sebagai Superhero untuk mengatasi masalah-masalah pribadi. Seperti diceritakan dalam komik atau film Spiderman, Peter Parker memanfaatkan kekuatannya untuk mendapatkan penghasilan (yang lebih dari biasanya) sebagai wartawan foto, malahan dengan menggandeng “ketenaran” Spiderman. Selain itu, dimafhumi bahwa Peter Parker juga memanfaatkan kekuatannya untuk menggaet cinta Mary Jane. Lantas, apakah hal-hal tersebut dapat dibenarkan?
“Semua harus sesuai pada porsinya”, mungkin merupakan kalimat yang tepat untuk menjawab semua kerumitan diatas. Pada tempatnya, kedewasaan seringkali menuntut lebih, seseorang yang memanfaatkan kekuatan/kekuasaaannya untuk kepentingan pribadi, tidak dapat langsung “di-judge” bersalah, selama ia melakukan hal tersebut sesuai dengan porsinya. Disisi lain, bukankah banyak orang yang menyandarkan, bahkan menggantungkan nasibnya kepada seseorang yang sedang berkuasa? Jika TUGAS dan TANGGUNG-JAWAB seseorang sudah selesai, barulah ia dapat menuntut HAK-nya. Nurani yang berperan kemudian, sejauh mana seseorang mampu konsisten terhadap komitmen? Komitmen terhadap orang banyak dan komitmen kepada diri sendiri.
Terakhir, mengutip perkataan seorang kawan “hidup Proporsionalitas!”. Proporsionalitas versi siapa? Yang pasti bukan versi masing-masing individu tentunya.
Wallahu’alam a’laa kulli hal.


aduh Cape deh, tapi kok disini tulisan di sini jadi kut2an issue yang berkembang sekarang.
Caleg Caleg Caleg
Pilih lah yang BENAR
aduh Cape deh, tapi kok disini tulisan di sini jadi kut2an issue yang berkembang sekarang.
Caleg Caleg Caleg
Pilih lah yang BENAR
begitulah sebuah film tidak hanya menampilkan sisi heroik dan komersialisme, selalu ada yang dapat diambil dari skenario paling sederhana, kepahlawanan. dan tidak lupa, ada pemaafan untuk manusia-masnusia tertentu…
waduh…….. udah lama gak buka blog ini……..
eh spiyer sapa ya??
tp terimakasih atas coment nya…
berubah karena berbeda kepala………
maaf kaalau mengecewakan………..
Nah,.. kenapa pembuat komik itu selalu menempatkan kelemahan tertentu ya untuk masing2 ‘pahlawan’nya.
Yang pasti. Lebih dari sekedar ingin membuat cerita supaya terlihat lebih seru.
salut kawan, ternyata disini berkumpul para pujangga yg gelisah.
Mendera malam dalam tepian fajar, begitu jingga.
Atau kututup saja celah pagi.
Kuisi dengan benderang matahri yang menyengat.
Sepi, sepi terhadap rindu yang kusam
Lelah, lelah terhadap hari yang letih
Cukuplah penaku disini, meraih jiwa yang terdampar
Sayangnya, di Fisika ga ada Fisika Sastra. Jika ada, tentu blog ini sudah mengguncang jagat raya.
Pri, dararamang?
Alhamdulillah damang Teh………..
Waduh, untungnya di Fisika ngga ada Fisika Sastra, kalau saja ada, Prof. R. Siregar (mungkin) akan hilang gelar Profesornya karena diambil oleh Pak Wahya…………. hahahahaa
setuju kayak spiderman bro hehehe keren salam kenal ya bro