Oleh : moch. Muhadzis g.
Begini saudaraku…
suatu ketika seseorang berkata kepada anak-nya yang masih kecil : “bukan naik pohon-nya yang tidak boleh, tetapi jatuh-nya itu yang jangan”. Anak kecil tersebut, saat itu juga tidak jadi naik pohon. Jeda. Waktu lewat.
Setelah beberapa hari, anak kecil tersebut, menaiki pohon dan karena memang seseorang yang menasehatinya tadi, saat itu sedang tidur siang. Ia pun memberanikan diri menaiki pohon. Sebenarnya ia bukan tipe anak kecil yang sering melupakan nasehat. Dengan sangat hati-hati, dahan demi dahan ia lewati. Lagi dan lagi. Terus menuju keatas sampai ke dahan yang paling kecil. Ketika sudah sampai didahan yang paling atas ia pun merasa gembira. Angin kencang menerpa wajahnya. Disudut bibirnya terselip sebuah senyuman kecil, walaupun sebenarnya lebih mirip seperti sebuah tawa kemenangan. Sesekali tubuhnya ikut goyang bersama dahan yang ia pegang. Dan ia menikmatinya. Ia tujukan matanya kemanapun ia mau. Ia semakin gembira karena di puncak pohon ini ia mampu melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya ia lihat. Sudut pandang dari sebuah ketinggian. Ada rasa puas dalam hatinya.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia pun merasa bosan, dan ketika matanya vertikal melihat kebawah, seketika itu juga rasa takut menyergap, menyelimuti pikirannya. Sekarang, matanya ia pejamkan dengan paksa namun tangannya semakin erat memegangi dahan. Tubuhnya pun ia lebih rapatkan lagi ke dahan. Keringat dingin mulai menggenangi seluruh bagian tubuhnya. Bermacam bayangan melintas di kepalanya. Ia takut untuk turun. Ia takut terjatuh. Ia takut mati.
Cukup lama ia mematung di puncak pohon sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka matanya. Ia harus turun. Ia tidak betah berada di puncak. Ia longgarkan pegangan tangannya. Tubuhnya mulai punya jarak dengan dahan. Tidak lagi rapat. Perlahan, ia turunkan kakinya kemudian tubuhnya. Kakinya yang lebih dulu meraba-raba dahan. Yang besar dan kuat yang ia pijak. Namun ia tidak mau melihat kebawah. Matanya kali ini ia paksa untuk hanya melihat dahan yang pernah ia lewati. Dahan yang pasti yang akan ia lewati lagi. Jalan yang sama seperti tadi ketika ia naik. -maaf, saya tadi pergi ke tempat pangkas rambut dulu, memangkas rambut saya yang sudah kurang lebih enam tahun tak dipangkas…ya… sudah, dan segala puji hanya bagi-Nya-. Ia hanya percaya pada ingatannya. Ia hanya ingin melewati dahan-dahan yang tadi ia gunakan untuk naik. Meskipun sekarang ia mendapati ada banyak dahan yang tidak ia kenali untuk turun. Jalan dahan yang sepertinya “bisa lebih menyelamatkan” untuk turun. Namun ia bersikukuh melewati jalan dahan yang ada dalam ingatannya. Ia meyakini bahwa hanya ingatannyalah yang mampu menjadi penyelamat. Ia terus turun dan turun.
Dan, ketika sudah setengah perjalanan, setengah dari puncak dan setengah dari tanah, entah mengapa ia seperti kehilangan konsentrasi. Kakinya tiba-tiba sama sekali tidak menjejak dahan, hanya udara, tangannya yang tadinya mencengkeram tiba-tiba terlepas dari dahan, dan badannya seperti dipaksa untuk hilang keseimbangan. Ia tak mampu mengingat apa-apa lagi. Ia tak mampu melihat apa-apa. Ia terjatuh. Selama beberapa saat ia tergolek di tanah. Ia pingsan.
Ketika terbangun, ia tak mendapati siapapun disana. Hanya ada dirinya dan pohon. Ia berdiri, melihat ke sekeliling, melihat ke puncak pohon, melihat ke tanah tempatnya berpijak. Selama beberapa saat ia hanya terdiam. Dan lalu, sedikit berlari ia masuk kedalam rumah. Menuju kamar lalu ia pun memaksakan diri untuk tidur siang. Dan akhirnya, anak kecil itu pun tertidur siang itu.
Saudaraku… entahlah… mungkin bagian akhir cerita diatas tidaklah terlalu nyata, mungkin ada yang ditambahkan, mungkin ada yang dilebih-lebihkan, entahlah… saya tak terlalu jelas mengingatnya. Namun satu hal, saya memerlukan cerita tersebut untuk mengetahui siapa diri saya. Dan menurut saya, kita memang perlu untuk mengetahui siapa diri kita.
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri ini selalu saja mengajarkan kejahatan, bahwa diri ini selalu saja ingin terhindar dari siksaan, bahwa diri ini enggan merasakan kepedihan, bahwa diri ini ingin selalu meraih apa yang terlihat oleh mata, bahwa diri ini enggan menjamah wilayah rasa sakit sedikitpun.
Saudaraku… ketahuilah… saya bukan menganjurkan untuk menyiksa diri. Saya tidak menganjurkan untuk menyakiti diri sendiri. Bukan dan tidak. Ketahuilah… rasa sakit untuk sebuah keyakinan adalah harapan untuk sebuah kebahagiaan.
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri senantiasa mencari-cari sekutu untuk dapat mewujudkan hasrat dan keinginannya, bahwa kejahatan itu membutuhkan teman, bahwa kekejian itu seringkali berada dalam kelompok-kelompok, bahwa diri akan dengan mudah mengatakan “ya” untuk sesuatu yang memang terlihat mudah untuk dilakukan, bahwa diri akan sulit mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang memang terlihat menyenangkan.
Saudaraku… ketahuilah… mungkin kita boleh memusuhi diri sendiri, tapi kita tetap tidak boleh mencelanya. Ketahuilah… bahwa diri harus kita didik tanpa henti. Tidak bisa tidak, bahwa diri harus ditaklukan dengan kurikulum kebenaran. Ketahuilah… bahwa diri tidak boleh dibiarkan terlalu liar menawar-nawar.
Saudaraku… ketahuilah… mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan segera menyerahkannya pada sesuatu yang kau anggap agung. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan membenarkan segala yang benar dan menyalahkan segala yang salah. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan semakin sedikit berbicara. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan selalu mengingat sesuatu yang paling penting yang berada diluar diri.
Wallahu’alam wallahulmusta’an.
Cibeusi, jatinangor, 2:00 AM, senin 16 juni 2008


“rasa sakit untuk sebuah keyakinan adalah harapan untuk sebuah kebahagiaan”
saya suka kalimat yang ini.. tapi pasti udah sering terdengar ato tertulis dmana.. soalnya byasa nya bgitu.. saya suka telathh..
udah ya,,
met bobokh ya mas ajis tos peb…
sse siapa sih??, penyair ya..?
hanya seorang yang biasa..
biasa komentarin blog2 yg kamu buat.. hehehehehe…
Bukunya ada di sini:
http://islamarket.wordpress.com/2008/10/21/knowing-your-child/
Keinginan adalah sumber penderitaan
-Iwan Fals-