Grass Root

Maaf sebelumnya, saya tak akan membahas judul diatas secara istilah atau bahasa atau bahkan politik. Tidak kearah sana pembicaraan kita mungkin. Sebuah jalan, saya kira merupakan juga sebuah pilihan. Dari mana seseorang akan memulai dan dimana sekiranya tujuan dapat tercapai. Mulailah dari sesuatu yang sederhana, begitu yang saya ingat dari seseorang yang saya tidak terlalu mengenalnya. Sudah terlalu banyak yang bergerak dengan lebih dulu berteriak, bukan menelaah segala sesuatu-nya terlebih dahulu. Terlalu sering kita mendapati pergerakan yang mengesampingkan kejernihan pemikiran. Sebagian dari kita masih terlalu silau dengan iming-iming. Kegemerlapan acapkali menjadi harapan. Maaf lagi, bukan berarti saya anti kemapanan, tidak.

Kalau kau merasa pintar, jangan pernah membohongi orang lain, begitu kata Ibu. Bagi saya pengetahuan adalah mata air atau malah cahaya -ketika listrik padam misalnya-. Mata air untuk kering dan tandus-nya ladang pikiran. Pengetahuan menjadi sesuatu yang basah -maaf, jangan mengartikannya dengan uang atau jabatan- dan menyegarkan. Atau cahaya, ketika kedua bola mata terselimuti gelapnya dogma, pengetahuan menjadi seberkas, dua berkas atau bahkan ribuan berkas cahaya terang yang mampu menuntun jalan seseorang. Apapun itu, mata air atau cahaya, pengetahuan tetap akan menjadi sebuah jalan malahan. Tidak akan dapat dikesampingkan bahwa pengetahuan-lah yang selalu menjadi pioneer atas tiap-tiap bangunan. Pengetahuan adalah pondasi kokoh yang keberadaan-nya haruslah diamini dengan pernyataan dan perbuatan.

Dan tugas siapakah agar pengetahuan itu sampai? Atau, tugas siapakah untuk membuat jalan pengetahuan? Lalu siapakah yang berhak atau tidak berhak memperoleh pengetahuan? Apakah semua orang berhak? Bagaimana kalau ternyata didapati ada “orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan”? Mungkinkah bahwa pengetahuan itu bisa saja dipaksakan? Atau mungkin lebih baik dibiarkan saja – toh… pengetahuan selalu mempunyai tujuan-? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah ada akan terus ada. Terlepas dari segala persoalan tugas, hak atau kewajiban, pengetahuan seringkali menjelma asas yang dijadikan perisai atas pertanyaan dari asas kemanusiaan yang lain -tidak semua memang, tapi hal itu ada-. Perbenturan ini kerap terjadi manakala asas (pengetahuan) yang telah mapan bertemu dengan asas kemanusiaan yang telah lebih dulu diyakini. Dan siapakah pemenang-nya? Saya sendiri tidak punya jawabannya. Tapi pergulatan itu terus saja ada. Dan mungkin saja memang akan terus ada. Pergulatan di wilayah kontekstual tidak masalah saya kira, namun jika pergulatan itu berimbas pada “orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan” bagaimana jadinya? Siapa yang mau bertanggung-jawab atas kebodohan orang lain? Tidak ada? Kalau begitu, jangan pernah membohongi orang lain.

Bisa jadi, ada yang harus dilepaskan dari kepala saya ihwal pengertian pengetahuan itu sendiri. Sebab ada, saya kira yang mengesampingkan pengetahuan dengan lebih dahulu mengedepankan pengalaman. Mereka lebih cenderung untuk mengambil sesuatu dari apa yang telah dialaminya sendiri, daripada  mengambil sesuatu tersebut dari buku-buku atau orang lain. Dan tentu saja setelahnya mereka akan menyebut hal itu sebagai pengetahuan. Apakah hal tersebut bisa disalahkan? Bisa ya, bisa juga tidak. Kapan keduanya ditempatkan, itulah saya kira yang paling penting, itulah hal yang paling sulit, penempatan. Kapan saatnya mengambil pengetahuan dan kapan saatnya mengambil pengalaman. Saya tidak mengesampingkan praktik, justru sebelum praktik itu dimulailah, penempatan pengetahuan atau pengalaman menjadi hal yang penting.

Akan dengan mudah dikatakan, “jalankan saja keduanya secara bersamaan!”. Sampai saat menuliskan ini, saya berani menjawab, “tidak bisa!”, salah satunya harus dikorbankan, sebab pada waktu yang bersamaan, tidak mungkin keduanya hadir. Kecuali jika saya adalah seorang plagiat murni yang tak punya pendirian. Dan tidak seorang pun saya kira yang ingin disebut sebagai plagiat apalagi dengan akhiran murni. Alangkah beruntung, seseorang yang mampu menempatkan pengetahuan dan pengalaman dengan benar. Waktunya tepat, hasilnya sesuai, kesalahan terminimalisasi dan segalanya menjadi lebih terstruktur.

Bagaimana halnya dengan hubungan antar individu? Bagaimana jika dalam sebuah kelompok individu terdapat perbedaan yang tajam antara pengetahuan dan pengalaman? Masing-masing mengusung sampai ujung apa yang diyakininya? Disinilah sikap yang bermain, toleransi merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Toleransi tidak bisa lagi dirombak pengertiannya jika telah ditemukan dua perbedaan yang tajam. Ketika toleransi telah dirombak, fisik atau tubuh individu-lah yang akan menjadi terlukai, tersakiti dan maaf, sangat mungkin, berdarah-darah. Kecuali hal tersebut yang diinginkan -berdarah-darah-, toleransi dapat saja dikubur dan dibuang jauh-jauh. Batas toleransi individu akan senantiasa berbeda jika sudah dihubungkan dengan sesuatu yang transenden. Itu urusan lain, saya kira. Hubungan antar individu sudah tak lagi diutamakan. Pengetahuan dan pengalaman mempunyai tujuan-nya sendiri, yang tidak lain berada diluar individu. Disini individu telah menjadi alat, dan dengan kerelaan, individu telah bersedia menjadi alat. Individu menjadi alat pengetahuan dan atau pengalaman yang paling setia. Kalau memang ini yang diinginkan, sebaiknya saya dan individu-individu yang lain sudah harus mulai berdo’a.

Siapa tahu saja semua pengertian saya diatas mampu menjungkir-balikkan pengertian pengetahuan ataupun pengalaman menjadi sesuatu yang lebih indah untuk dimaknai dan lebih mampu untuk diterima oleh individu-individu secara arif. Sedikit platonik, seandainya saja tidak ada satu pun yang terlupakan baik dari pengetahuan maupun pengalaman, mungkin tidak akan ada perbedaan tajam yang acapkali melahirkan kekerasan.

Sampai saat ini, saya masih setuju bahwa pembentukan kecenderungan individu, baik kearah pengetahuan maupun kearah pengalaman, harus dimulai dari lingkungan terkecil dimana individu berada, dimana individu terbentuk dalam kelompok-kelompok terkecilnya. Dibiarkan mencari bentuknya yang paling sesuai disana. Prosesnya lama memang, dan selalu berjalan lambat, tapi saya kira itu lebih baik daripada bergerak massif terlalu pro-aktif yang akan melahirkan penyesalan-penyesalan di kemudian hari.

Wallahu’alam wallahulmusta’an.

Jatinangor, june 07 2008.

No Comments

  • m_ardani wrote:

    Jika kita setuju, bahwa individu yang handal bukan terbentuk secara sederhana. Dalam sebuah proses yang panjang, melelahkan nan menjemukan akan terbentuk individu yang kuat. Maka sangat merugilah jika kita menyiakan waktu hanya untuk hal yang wajar dan pada umumnya.

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *