Bukan Berarti Saya Tak Punya Jawaban-nya.

Adalah menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi apabila tindakan seseorang “mampu” mencengangkan mata dan pandangan orang lain, diluar segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Dan tidaklah mustahil apabila hal tersebut mengundang reaksi dan kritik. Adalah juga hal yang wajar apabila seseorang tersebut sekarang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana dirinya teralienasi. Lalu, apakah alienasi tersebut muncul dari dirinya sendiri, dari orang lain atau dari sesuatu yang memang “harus” terjadi? Kalau sebuah ide dilontarkan kemudian dirasakan tidak menyenangkan, maka seseorang haruslah kemudian memikirkan-ulang tentang ide tersebut dan hubungannya dengan dirinya sendiri. Masih mampukah -atau sudah mampukah- ia berhadap-hadapan dengan ide tersebut dan segala turunannya?

Saya mungkin mampu “mengingat” pada rasa perih para Nabi dan orang-orang shalih. Bagaimana cedera fisik menjadi ujian yang menjadi-jadi. Kalau persoalannya hanya dimusuhi, mereka masih akan mampu berdiri. Tapi ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu, perselisihan dengan dirinya sendiri, adalah sesuatu yang akan dikatakan tampak pada diri para Nabi dan orang-orang shalih. Dan bukankah itu, yang membuat mereka bersedih -dalam tataran sebagai manusia biasa-. Manusia akan menjauh darinya, manusia terbawa tuduhan-tuduhan, manusia semakin menjaga jarak, manusia mulai mencari-cari pembenaran dan berbagai macam hal yang serupa dengan itu, padahal  para Nabi dan orang-orang shalih menyayangi kemanusiaan lebih dari manusia pada biasanya.  Tapi apakah mereka benar-benar bersedih? Saya kira itu adalah penglihatan awam! Meski kadang-kadang juga merupakan penglihatan yang lebih kontekstual -sangat disayangkan-. Mereka yang yakin disebut sebagai orang yang ragu-ragu. Padahal para Nabi dan orang-orang shalih hanya ingin agar tidak hanya dirinya sendiri yang mampu  “menikmati” kesedihan tersebut. Dan kesedihan yang dimaksud tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebahagiaan yang merupakan kebalikannya. Sebab kebahagiaan yang dimaksud pun sudah barang tentu merupakan kenikmatan yang berbeda antara para Nabi dan orang-orang shalih dengan manusia pada biasanya.

Kalau sudah demikian, saya bertanya pada diri saya sendiri, dimanakah posisimu wahai diri? Sebelum menjawabnya, saya teringat pada pernyataan seorang kawan, “jadi, apa yang harus dimengerti?”. Mengerti dirimu sendiri, mengerti zaman dimana kau hidup dan mengerti apa yang tengah kau persiapkan untuk pengertian yang telah kau mengerti. Seandainya saya yang ditanya oleh kawan tersebut, saya akan lebih memilih diam, sebab sudah terlalu banyak pernyataan yang saya ucapkan, kemudian dimalam harinya saya menyesali pernyataan yang saya lontarkan, meskipun pernyataan tersebut akan dianggap sebagai kebenaran. Dari sini, mungkin sudah terlihat dimanakah posisi diri saya sendiri. Saya sama sekali tidak berhak menilai diri saya suci. Tidak sama sekali. Sebab setiap manusia memiliki mata, setiap manusia memiliki telinga dan setiap manusia memiliki hati. Dari situ segalanya menjadi sulit.

Maaf, saya berbicara seolah-olah saya merupakan “bagian lain” dari manusia dan diri, tapi itulah, mungkin sedari sekarang kita sudah harus memikirkan apa yang tersembunyi dan apa yang tidak. Lalu bergegas mengambil langkah dengan keyakinan tentunya. Selamat bergegas!

Wallahu’alam wallahulmusta’an.

Jatinangor, 31 mei 2008

2 Comments

  • m_ardani wrote:

    Sesuatu yang sempurna memang jika perbuatan tangan kita, langkah kaki kita ataupun penglihatan mata kita selaras dengan hati.
    Namun kita pun tahu, bahwa kita sering membohongi hati kita sendiri untuk sesuatu yang rasional. Kita jarang berpikir irrasional untuk menyelaraskan hati.

  • bilkis wrote:

    okeilah selamat bergegas.
    semangat kakak ku.

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *