oleh : moch. Muhadzis g.
sebelum kita benar-benar menjadi pragmatis, mungkin ada baiknya jika kita sebentar menengok masa lalu kita. sebentar pula kita bandingkan dengan kenyataan yang sedang kita hadapi sekarang. adalah saya, tidak menyukai apa yang disebut dengan proporsionalitas, sebab sering saya saksikan ada kecenderungan malah tidak proporsional, orang yang berbicara proporsionalitas. tapi sudahlah, persoalan itu tidak lagi penting -mungkin-. yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita memandang masa lalu tidak hanya melulu kejayaan atau kemenangan-kemenangan, tapi juga kita dituntut untuk mampu melihat kesalahan-kesalahan yang menyertainya. sudah menjadi ketentuan yang dimafhumi khalayak, bahwa kita bisa saja salah -atau biar lebih meyakinkan- bahwa kita pasti melakukan kesalahan. dan mungkin, justru dari situlah kita masih terus hidup. beriringan dengan waktu, dengan tubuh yang berkembang, dengan pola pemikiran yang berubah-ubah. atau bahkan dengan orang lain yang sedang bersama kita saat ini.
titik temu tema diatas adalah bahwa mengakui kesalahan merupakan awal dari kebenaran. lalu apakah pengakuan kemudian menjadi “tiket gratis” untuk seseorang selalu berada diatas kebenaran? belum tentu, karena lagi-lagi ada ketentuan yang sudah sangat masyhur di khalayak, bahwa setiap keyakinan pastilah ada ujiannya. tidak bisa tidak. jadi, selamat menempuh ujian!
wallahu’alam wallahulmusta’an.
jatinangor


Untuk ini kita masih belum mahfum sampai sisi mana proporsionalitas yang kita inginkan. Namun setidaknya kita mengerti bahwa kenyataanlah yang membuat sesuatu menjadi tidak proporsional. Jadi, terimalah kenyataan ini.