<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahkerja.org</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Feb 2010 00:10:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Revolusi Keadilan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/revolusi-keadilan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/revolusi-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 13:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Keadilan dan Tubuh
Seperti sebuah masterpiece, sebuah hasil karya yang berupa keadilan biasanya mengalami serangkaian proses perjuangan yang sangat panjang. Umumnya juga, masterpiece keadilan merupakan salah satu dari sekian banyak cita-cita paling luhur yang lahir dan muncul dalam setiap lapisan masyarakat. Mahakarya keadilan selalu menjadi teladan dan acuan guna menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang setara dihadapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Keadilan dan Tubuh</strong><br />
Seperti sebuah masterpiece, sebuah hasil karya yang berupa keadilan biasanya mengalami serangkaian proses perjuangan yang sangat panjang. Umumnya juga, masterpiece keadilan merupakan salah satu dari sekian banyak cita-cita paling luhur yang lahir dan muncul dalam setiap lapisan masyarakat. Mahakarya keadilan selalu menjadi teladan dan acuan guna menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang setara dihadapan kemanusiaan. Tanpa membeda-bedakan harta kekayaan, status pendidikan, latar belakang sosial atau bahkan kondisi fisik seseorang, masterpiece keadilan yang berfungsi secara benar dan memiliki estetika yang tinggi merupakan pengakuan jujur nan mutlak bagi siapa saja yang sedang mengapresiasinya. Akan menjadi hal yang sangat mengharukan juga melegakan, jika melihat si miskin dan si kaya, si bodoh dan si pintar, si marjinal dan si populer, si buruk rupa dan si bagus rupa ketika mendapatkan perlakuan yang sama dalam segala permasalahan hukuman atas kesalahan maupun kejahatan yang telah dilakukan. Masterpiece keadilan adalah sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat yang tanpa cela.<br />
Bukan hanya itu, masterpiece keadilan acapkali didengung-dengungkan pada saat-saat tertentu, oleh orang-orang tertentu, dan untuk memperoleh suatu keuntungan tertentu. Karena bagaimanapun, masterpiece keadilan nyatanya selalu berada pada batas yang abu-abu<span id="more-326"></span>  antara yang real dan yang imajinasi. Dengan begitu, menjadi sangat menggugah hati dan gairah siapapun yang  tengah mendambakan sesuatu semacam keadilan. Sayangnya, masterpiece keadilan seringkali berakhir pada wacana yang hanya bersifat utopia. Ketika akhirnya hanya wacana tersebut yang mengemuka dan berlangsung, maka tidak ada seorangpun yang berani mengaku bertanggungjawab atas sebuah khayalan. Utopia memang masih saja dinisbatkan pada sesuatu perasaan lugu plus naif anak manusia yang tak akan pernah menemukan nilai empiriknya sampai kapanpun.<br />
Dimanapun diatas permukaan bumi yang ditinggali oleh anak-anak cucu Adam ini, sebuah keadilan sosial adalah tuntutan paling waras atas rasionalisme yang pernah dipunyai oleh seorang anak manusia. Betapa sebuah keadilan sosial menjadi amanah perjuangan paling fundamental atas tegaknya tiang-tiang kehidupan bermasyarakat agar terwujud sebuah kemakmuran seperti yang telah dan selalu dicita-citakan sebelumnya. Keadilan sosial merupakan sendi-sendi konstitusi bahkan simbol dan semboyan yang tercetak secara paten pada beberapa kelompok masyarakat di dunia. Namun, karya berupa keadilan sebenarnya tidak melulu memiliki hubungan kausal dengan kehidupan sosial masyarakat banyak –meski pada akhirnya nanti hubungan tersebut ada dan ditemukan. Keadilan ternyata juga menuntut untuk hadir didalam setiap diri individu itu sendiri, keadilan menuntut untuk dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab pada masing-masing individu. Kemudian dikenal dengan istilah yang paling dimafhumi yakni, adil kepada diri sendiri. Memberikan sesuatu kepada diri sendiri apa-apa yang telah menjadi haknya, dan secara bersamaan menjauhkan diri sendiri dari segala sesuatu yang bukan menjadi haknya. Tidak mudah memang berbuat adil kepada diri sendiri, sebab kecenderungan seorang anak manusia yang terjadi adalah hanya mengenai ada-tidaknya keuntungan yang dapat diraih oleh dirinya sendiri. Jika tampak menguntungkan untuk dirinya sendiri, maka manusia akan merasa telah berbuat adil, tetapi jika terlihat tidak menguntungkan, maka manusia akan meninggalkan perbuatan adil tersebut. Padahal kecenderungan ini sangat disayangkan karena sebenarnya keuntungan yang akan diraih dengan berbuat adil pada diri sendiri justru lebih besar daripada kecenderungan itu sendiri yang hanya bersifat sementara.<br />
Perbuatan membuat nyaman diri sendiri bisa jadi merupakan sebuah tindakan yang tidak adil, sebaliknya perbuatan membuat sengsara diri sendiri juga bisa jadi merupakan sebuah ketidakadilan. Yang perlu disadari disini adalah misalnya; pengetahuan tentang apa-apa yang telah menjadi hak-hak tubuh. Bagaimana tubuh seorang manusia yang merupakan “sebuah mesin sempurna” dapat terpenuhi segala kebutuhannya tanpa berkekurangan ataupun berkelebihan. Membuat tubuh mendapatkan asupan energi yang cukup dari makanan dan minuman, membuat tubuh mendapatkan relaksasi yang baik dengan cukup tidur dan istirahat, membuat tubuh berada pada temperatur yang normal dan mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan, atau bahkan membuat tubuh menolak benda-benda asing yang patogenik dan perbuatan-perbuatan lainnya demi kepentingan tubuh itu sendiri merupakan salah satu bentuk pemenuhan hak-hak atas tubuh.<br />
Mesin sempurna yang dimaksud adalah sebuah masterpiece yang tidak mempunyai akhir yang utopis, tubuh manusia adalah sesuatu yang real dan mempunyai batas-batas yang jelas dengan sisi-sisi imajinasi manusia sebagai diri. Tubuh manusia bisa mengalami sakit, terinfeksi, masa terinkubasi bakteri atau virus, disaat yang lain mengalami keadaan yang sehat, prima, berkonsentrasi penuh, kondisi optimum dan lain sebagainya sebagaimana yang selalu terjadi pada tubuh seorang anak manusia. Keadaan-keadaan tersebut bergantung pada perawatan dan pemeliharaan pemilik tubuh itu sendiri. Namun pada asalnya, tubuh itu sendiri tercipta, sebenarnya merupakan sebuah masterpiece. Hal ini tentu berbeda dengan masterpiece keadilan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Keadaan yang berbeda dengan keadilan, untuk menjadi sebuah masterpiece, keadilan harus diciptakan ditempat dimana sebuah keadilan memang benar-benar diinginkan. Keadilan harus diusahakan dan diperjuangkan, salah satunya dengan mencari dan mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan untuk dicoba-terapkan pada keadilan. Keadilan akan dapat terlaksana dengan baik ketika ilmu dan pengetahuan selalu berjalan disampingnya dan mengiringinya.<br />
Agar masterpiece keadilan dapat benar-benar tercipta, seseorang harus memulai dari dirinya sendiri barulah kemudian bisa beranjak pada tingkatan sosial yang lebih luas. Materpiece keadilan tidak boleh lagi melulu disandarkan pada perasaan subyektif yang dimiliki oleh segelintir manusia saja.</p>
<p><strong>Revolusi Masterpiece</strong><br />
Sebuah perubahan besar yang dramatis dalam ide dan praktik sering dimaksudkan untuk kata revolusi. Dalam pengertian lain, revolusi juga bisa berarti satu putaran penuh sebuah benda untuk mengelilingi benda lain, misal orbit yang dibuat oleh sebuah planet atau satelit mengelilingi benda yang lain. Sedangkan masterpiece dapat diartikan sebagai karya artistik besar/agung: suatu potongan karya yang luar biasa atas kerja kreatif, atau dapat juga didefinisikan sebagai karya terbaik milik seniman: bagian terbaik dari karya oleh seniman tertentu.<br />
Secara sederhana, revolusi masterpiece dapat dinisbatkan untuk sebuah perubahan besar dalam hal karya besar. Bisa jadi perubahan besar itu sendiri yang menjadi sebuah masterpiece secara otomatis atau malah sebaliknya, membuat dan mengerjakan sebuah masterpiece dengan cara melakukan perubahan besar. Sebuah masterpiece kadang-kadang tidak disadari bahwa ketika pengerjaannya karya tersebut akan menjadi sebuah masterpiece, kadang-kadang pula sebuah masterpiece memang telah diniatkan sedari awal pengerjaannya agar menjadi sebuah masterpiece setelah karya tersebut selesai. Namun, tidak penting untuk memperdebatkan pengertian revolusi masterpiece. Menjadi sangat berarti apabila sebuah perubahan besar benar-benar terjadi dan kemudian dapat dianggap sebagai sebuah masterpiece. Tindakan-tindakan untuk sebuah perubahan besar itulah yang sebenarnya menjadi sangat penting dan diperlukan oleh siapapun, dan tidak terbatas pada profesi tertentu saja.<br />
Dari pengertian yang selanjutnya bahwa revolusi berarti satu putaran penuh, maka revolusi membutuhkan jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan satu putaran penuhnya. Fakta lain menyebutkan bahwa sebuah masterpiece hanya bisa diperoleh pada waktu-waktu tertentu saja. Sekali masterpiece didapatkan, maka seseorang harus menunggu beberapa waktu lagi jika ingin memperoleh masterpiece yang lain. Hal ini menandaskan bahwa revolusi masterpiece pada asalnya memang selalu terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Alangkah baiknya jika revolusi masterpiece disadari segala tahapannya, dipahami seluruh hubungan kausalnya, kemudian dilaksanakan secara simultan pada (lagi-lagi) kehidupan sehari-hari masing-masing individu. Dari revolusi masterpiece, masyarakat secara keseluruhan perlahan-lahan akan menyadari pentingnya sebuah masterpiece keadilan karena nilai fundamental keadilan itu sendiri. Perihal ini akan mengarahkan pada suatu usaha pencapaian masterpiece keadilan melalui revolusi keadilan didalam kehidupan sosial bermasyarakat. Masyarakat yang menyadari, masyarakat yang mengetahui, dan pada akhirnya masyarakat juga yang melaksanakan dan akan mendapatkan hasilnya.<br />
Revolusi keadilan adalah suatu kebutuhan mendesak bagi individu siapapun dan bagi kelompok masyarakat yang bagaimanapun. Jika disadari ihwal kenyataan maraknya keadilan tebang-pilih saat ini, maka revolusi keadilan merupakan sesuatu yang perlu untuk segera dilaksanakan. Revolusi keadilan bisa menjadi sebuah masterpiece yang dikerjakan oleh masyarakat banyak dan akan mempunyai imbas paling positif pada kehidupan sosial. Tidak mudah memang, namun revolusi keadilan (masih berharap yang sama) dapat dimulai dari diri sendiri pada masing-masing individu. Setelah itu, apabila kesepakatan telah terjadi antara masing-masing individu untuk melaksanakan revolusi keadilan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab, maka siapapun boleh berharap bahwa sebuah masyarakat yang berkeadilan akan tercipta. Sebuah keadilan sosial yang selalu dicita-citakan dan yang selalu didengung-dengungkan bukanlah lagi sebuah utopia imajinatif jika revolusi keadilan diterapkan dan dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati atas ilmu dan pengetahuan yang benar. Seseorang tidak boleh lupa bahwa adil itu lebih dekat kepada taqwa.</p>
<p>Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.<br />
Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/revolusi-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Religiusitas Inovasi</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 07:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Seolah-olah
Setiap perubahan merupakan sebuah keniscayaan jika stagnasi terjadi dan telah mencapai suatu titik jenuh pada keadaan tertentu. Tidak dapat dinafikan bahwa sebuah perubahan memang diperlukan, namun disisi lain, sebuah perubahan juga dapat terjadi dengan sendirinya tanpa adanya keperluan yang benar-benar disadari. Sedikit dari lingkungan dapat berarti sangat besar terhadap sebuah sistem. Entah itu sistem organ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Seolah-olah</strong><br />
Setiap perubahan merupakan sebuah keniscayaan jika stagnasi terjadi dan telah mencapai suatu titik jenuh pada keadaan tertentu. Tidak dapat dinafikan bahwa sebuah perubahan memang diperlukan, namun disisi lain, sebuah perubahan juga dapat terjadi dengan sendirinya tanpa adanya keperluan yang benar-benar disadari. Sedikit dari lingkungan dapat berarti sangat besar terhadap sebuah sistem. Entah itu sistem organ didalam tubuh, sistem sosial didalam masyarakat, sistem hukum didalam pemerintahan atau bahkan sistem orbit didalam alam semesta. Sebuah peluang menjadi sesuatu yang amat penting untuk diketahui jika sebuah sistem hendak diselidiki setiap perubahannya. Memaksakan sebuah perubahan dengan menggangu sistem ataupun mendiamkan sebuah perubahan dengan membiarkan waktu berlalu, sama-sama tidak menguntungkan jika dilakukan dengan berlebihan dan keterlaluan. Diperlukan suatu dosis yang tepat <span id="more-312"></span>agar sebuah perubahan tidak menjadi sesuatu yang merugikan sistem itu sendiri. Dan dosis, yang keberadaan dan segala perhitungannya, mau tidak mau haruslah memperhatikan setiap peluang dan kemungkinan yang akan terjadi setelah pemberian dosis tersebut pada sebuah sistem.</p>
<p style="text-align: justify;">Keinginan untuk berubah bukanlah sebuah keadaan yang seolah-olah, bukan pula sebentuk kepura-puraan yang bersifat sementara. Konsekuensi dari keinginan terhadap sebuah perubahan akan berbekas hingga waktu yang lama. Itulah sebabnya setiap perubahan memerlukan sebuah proses yang amat panjang dan melelahkan. Dampak dari sebuah perubahan amatlah jelas, begitu pula dengan proses sebelum perubahan itu terjadi, gambaran waktu dan aktifitasnya sangat jelas dan nyata. Berbeda halnya jika sebuah perubahan merupakan sebuah keadaan yang seolah-olah. Gambaran proses sebelum terjadi perubahan tidaklah nyata bahkan terlihat kabur dan menggelapkan. Tentu saja kemudian, dampak yang ditimbulkan dari sebuah perubahan yang berawal dari proses yang tidak nyata, akan berujung pada konsekuensi yang berupa kesementaraan dan hanya berbekas untuk waktu yang sebentar. Permasalahan yang sebenarnya perlu untuk mendapatkan perhatian yang serius, adalah tentang bagaimana mengenali, mana proses yang nyata dan mana proses yang sementara. Sebuah perubahan pastilah menawarkan sebuah proses, pilihan berada ditangan siapapun yang menginginkan sebuah perubahan. Tetapi, jebakan-jebakan kesementaraan biasanya tersembunyi dibalik sebuah proses perubahan itu sendiri. Pada akhirnya, kesalahan dalam memilih sebuah proses akan berakibat pada kerugian yang nyata bagi para pemilih sebuah proses perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenali sebuah proses yang berdampak pada sebuah keabadian tidaklah mudah, kecuali bagi beberapa individu saja. Mempelajari sejarah, bertanya kepada para ahli ilmu pengetahuan, melakukan penelusuran ilmiah, serta bersabar dalam pencarian kebenaran, merupakan sebuah proses untuk mengenali proses perubahan itu sendiri. Sedikit mengherankan bahwa pengenalan sebuah proses keabadian harus pula melewati sebuah proses yang panjang. Tetapi memang begitulah yang semestinya terjadi. Agar sebuah perubahan memberikan manfaat yang nyata dan jelas serta tidak bersifat sementara memang memerlukan sebuah proses yang tidak sebentar.<br />
Ditambah lagi, proses yang tidak sebentar itu merupakan sebuah perbuatan yang harus dilakukan secara terus-menerus. Perbuatan yang seharusnya dilakukan secara kontinu selama tubuh masih bernyawa. Perbuatan selama proses tersebut diantaranya: meyakini, melakukan perbuatan baik, mengajak kepada kebenaran dan kesabaran. Secara mudahnya, kenali mana perubahan yang akan berdampak nyata, jelas dan abadi, kemudian perhatikan bagaimana perbuatan sebelum sebuah proses perubahan itu terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah perubahan yang memberikan manfaat yang nyata dan jelas, tidak pernah merupakan sebuah kepura-puraan didalam prosesnya. Tidak pernah pula, keadaan seolah-olah pada sebuah proses perubahan memberikan keuntungan yang bersifat abadi. Namun, jebakan kesementaraan pada sebuah proses perubahan senantiasa hadir untuk mengelabui siapapun yang tidak menyadari akan adanya keabadian. Sebaliknya, dengan menghindari jebakan-jebakan tersebut, berarti juga telah melakukan sebuah pemilihan terhadap sebuah proses perubahan yang mengarah kepada keabadian.</p>
<p><strong>Religiusitas dan Inovasi</strong><br />
Bagaimana dengan religiusitas perubahan itu sendiri? Apakah sebuah perubahan bersifat agamawiah? Ataukah agama yang justru memerlukan sebuah perubahan dengan mengacu bahwa sebuah perubahan merupakan sebuah sifat yang melekat -katakanlah bersifat inovasi-? Dibutuhkan sikap kehati-hatian yang seksama dalam menjawab permasalahan ini. Didalam sejarahnya, kedatangan sebuah agama sering terjadi karena sebuah perubahan yang memang sudah semestinya terjadi didalam sebuah masyarakat. Perbaikan tatanan kehidupan pribadi dan masyarakat acapkali menjadi perhatian serius sebuah agama. Pada keadaan ini agama merupakan sebuah pembaharuan (inovasi) bagi keadaan masyarakat. Agama selalu mempunyai misi tentang Sang Pencipta, perbuatan baik, tindakan kejahatan, hubungan antar pribadi, komunikasi didalam masyarakat, hukum alam sebab-akibat, sampai ramalan tentang kejadian masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan sebuah inovasi, seperti juga sebuah perubahan, merupakan sesuatu yang senantiasa terjadi. Inovasi telah membawa sebagian sistem pada keadaan seperti yang diharapkan. Inovasi yang tidak pernah berhenti, tampak secara kasat mata telah memberikan keuntungan yang luar biasa besar misalnya pada bidang teknologi. Sebuah inovasi juga kerap bermanfaat pada beberapa tempat dalam ranah ilmu pengetahuan. Terlebih lagi dalam kesenian, sebuah inovasi biasanya mendapatkan apresiasi yang positif. Namun, sebuah inovasi tidak serta merta diizinkan terjadi, ketika berkaitan dengan sesuatu yang sudah ajeg seperti agama. Inovasi didalam agama merupakan sebuah pengkhianatan bagi agama itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem yang telah terbangun dengan mantap oleh sebuah agama tidak memerlukan sebuah perubahan apapun dalam hal keadaan dasar sebuah agama yang mulia. Tetapi, tidak dapat dipungkiri ihwal adanya kenyataan bahwa inovasi itu telah terjadi, baik karena lemahnya sistem bangunan agama maupun karena kuatnya desakan perubahan dari lingkungan luar.<br />
Segalanya mungkin saja terjadi didalam sebuah sistem makro diatas permukaan bumi ini. Secara langsung maupun tidak langsung, sebuah inovasi pada agama telah memberikan kerugian yang sangat besar bagi kehidupan beragama para pemeluknya sendiri. Bahkan berbagai kehinaan acapkali menyelimuti agama yang tadinya mulia setelah sebuah inovasi hadir pada sebuah agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu hal yang penting adalah bahwa semangat inovatif yang datang dari semangat beragama, merupakan sesuatu yang bermanfaat dan positif jika dituangkan dalam sendi-sendi kehidupan. Sebaliknya, berinovasi didalam agama, melakukan pembaharuan pada agama, merupakan sebuah kecelakaan besar yang merugikan agama dan para pemeluknya sendiri. Sikap inovatif<br />
pada agama bukanlah datang dari agama meskipun tampak seperti sebuah perbuatan beragama (religius). Bukankah Sang Khalik telah memberikan rambu-rambu yang jelas mengenai agama? Bukankah juga, Yang Maha Mengetahui telah secara absolut memerikan mana yang benar dan mana yang salah untuk semua makhluk ciptaan-Nya melalui agama? Lalu untuk apa melakukan inovasi pada agama? Beberapa pertanyaan tersebut dapatlah dijawab dengan menyatakan bahwa melakukan inovasi pada agama berarti telah melakukan penentangan kepada Sang Khalik.</p>
<p><strong>Sang Khalik telah Mengetahui Segalanya</strong><br />
Sebuah agama dan segala inovasi yang terjadi didalamnya, sesungguhnya telah diketahui dengan sangat mutlak oleh Sang Khalik. Hal ini karena Ia mengetahui yang awal dan yang akhir. Tidak ada sebuah perubahan pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Permasalahan sebenarnya justru terjadi pada makhluk ciptaan-Nya, apakah menyetujui inovasi pada agama ataukah menentang inovasi pada agama. Seperti juga ketika memilih sebuah proses perubahan, terdapat proses yang panjang selama mengimplementasikannya. Menentang perbuatan inovasi pada agama merupakan sebuah proses yang tidak sebentar, halangan dan cercaan pastilah senantiasa mengiringi. Akan<br />
terdapat banyak persuasi, argumentasi bahkan mungkin intimidasi ketika perbuatan menentang inovasi pada agama dilaksanakan. Namun, bukankah Sang Khalik mencintai makhluk ciptaan-Nya yang senantiasa membela agama-Nya?</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir, yang paling penting untuk disadari adalah bahwa setiap keyakinan kelak menemui ujiannya sendiri-sendiri. Perbuatan meyakini tidak begitu saja berhenti setelah ikrar keyakinan diucapkan, namun terdapat juga tuntutan didalam implementasinya. Melalui perkataan, perbuatan, do’a-do’a didalam hati dan pikiran, implementasi tersebut haruslah menemukan kehadirannya pada setiap sendi-sendi kehidupan. Setelah itu, kesabaran merupakan hal terakhir yang mengiringi sebuah proses didalam kehidupan sebelum kehidupan itu sendiri benar-benar berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.<br />
Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/religiusitas-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intelektualitas Semu</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualitas]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Merengkuh Nasehat Ibu
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Merengkuh Nasehat Ibu</strong><br />
“Jika engkau telah mengetahui bahwasanya dirimu pintar, maka jangan pernah untuk membohongi orang lain!” begitu kurang lebih nasehat yang disampaikan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang selalu mendapat ranking satu di kelasnya. Nasehat yang cukup sederhana untuk seorang anak yang dinilai cerdas oleh kawan-kawannya ini, ternyata tidak cukup mudah untuk diterapkan ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa. Terlalu banyak hal dan keadaan yang seolah-olah memaksa seseorang agar  menggunakan sedikit kecerdasannya untuk membohongi orang lain. Ada berbagai keuntungan yang akan diraih dengan menggunakan sedikit kecerdasan tersebut. Sebut saja kepercayaan, harta dan kekuasaan. Dan sayangnya,<span id="more-307"></span> semua itu hanya merupakan sebagian keuntungan saja. Masih banyak sebenarnya keuntungan lainnya yang akan dengan mudah didapatkan. Setiap orang tentu dapat melihat bagaimana orang-orang cerdas dengan mudah mendapatkan segala sesuatu yang ada dihadapannya. Kemudahan yang tidak semua orang mampu untuk mendapatkannya.<br />
Namun, apakah semua kemudahan yang didapatkan dari memanfaatkan sedikit kecerdasan tersebut akan bertahan lama dan abadi? Pastilah tidak. Karena dengan adanya kecerdasan yang disalah-gunakan akan mengundang perlawanan dan perjuangan dari sisi hadirnya keyakinan. Boleh saja misalnya; seseorang yang yakin terhadap sesuatu, ia tidak mendapatkan kemudahan sedikitpun dari  kecerdasan yang memang sedikit yang ada pada dirinya. Tetapi keyakinan tersebut merupakan modal awal yang sangat besar dan kuat untuk melawan ketidak-adilan yang dilaksanakan dengan sangat baik oleh orang-orang yang menyalah-gunakan kecerdasan. Berawal dari keadaan yang seperti ini, mereka yang berperan sebagai para pengusung keyakinan akan berjuang habis-habisan untuk menghentikan ketidak-adilan meskipun mereka menyadari bahwa dirinya tidak “secerdas” orang-orang yang tengah dihadapinya, yakni orang-orang yang sedang menyalah-gunakan kecerdasan. Para pengusung keyakinan selalu memiliki keyakinan melebihi orang-orang cerdas. Sesiapa yang memenangkan “pertarungan” itu, maka merekalah yang sesungguhnya sedang berada didalam kebenaran. Tetapi apakah “hasil” pertarungannya dapat terlihat? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Karena memang, pertarungan itu sendiri akan terus-menerus terjadi sepanjang waktu dunia ini berdiri.<br />
Satu yang jelas, perbuatan memilih untuk selalu berada didalam kebenaran, niscaya dibayar dengan harga yang amat mahal ketika seseorang dengan kerelaan, berani untuk menafikan sifat-sifat keduniawian yang ada pada dirinya. Karena sifat-sifat keduniawian ini berarti berada pada tindakan memanfaatkan kecerdasan yang ada pada dirinya untuk keuntungan dirinya sendiri selama berada di dunia, berbeda dengan para pengusung keyakinan yang selalu bertindak untuk melampaui segala tujuan duniawi. Namun, tanpa terlalu peduli; apakah seseorang termasuk cerdas atau tidak, suatu tindakan untuk selalu berada didalam kebenaran adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi kecuali jika seseorang memang hendak meninggalkan kebenaran tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengklasifikasikan Kecerdasan?</strong><br />
Segala hal telah diberikan untuk sebuah pengklasifikasian atas kesuksesan yang terjadi pada diri seorang manusia. Mulai dari kecerdasan otak yang pernah diyakini sebagai satu-satunya parameter keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup, kemudian ada kecerdasan emosional yang katanya juga turut memengaruhinya, sampai kecerdasan spiritual yang akhir-akhir ini sering dibicarakan, ikut juga menjadi parameter keberhasilan. Pengklasifikasian atas tiap-tiap sesuatu merupakan sebuah pencapaian pada puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan yang acapkali hanya  dilakukan oleh seorang ahli dan memang telah diakui keahliannya oleh khalayak ramai. Tidak cukup sampai disitu, pengakuan atas klasifikasi yang diajukan oleh seorang ahli tersebut tidak pernah mudah dalam proses diakuinya. Melalui beberapa tahapan yang cenderung menjemukan namun paten dalam hasil akhirnya, pengklasifikasian dapatlah dianggap sebagai “suatu bagian terindah” dari suatu bidang ilmu pengetahuan. Namun, pengklasifikasian atas kesuksesan seorang manusia masih saja selalu menyisakan tanda tanya besar diantara umat manusia itu sendiri. Beberapa orang tidak percaya, beberapa lainnya percaya habis-habisan, beberapa sisanya tidak ambil pusing atas pengklasifikasian tersebut.<br />
Dari sini terlihat jelas bahwasanya kecerdasan seseorang masih dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan, apapun jenis kecerdasannya. Tidak peduli apakah pengklasifikasian tersebut absah atau tidak, empiris maupun non-empiris, pengklasifikasian kecerdasan manusia nyata-nyata telah memengaruhi kecerdasan manusia itu sendiri secara individu. Jika mengetahui tentang pengklasifikasian kecerdasan manusia, maka bolehlah kemudian seseorang dikatakan cerdas namun jika tidak  mengetahui, maka mungkin ia akan dianggap sebagai orang awam yang biasa saja. Dan dengan mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang bisa saja menyatakan bahwa dirinya memiliki semacam kelebihan pada salah satu jenis kecerdasan tersebut, untuk kemudian ia manfaatkan pada sesuatu yang ia anggap akan menguntungkan dirinya. Sebaliknya, dengan tidak mengetahui pengklasifikasian tersebut, seseorang mungkin akan merasa lebih terpuruk lagi dalam menjalani kehidupannya, sebab ia akan merasa begitu ketinggalan pengetahuan. Tetapi, apakah perihal tersebut penting?.<br />
Mengingat bahwa keberhasilan atau kesuksesan seseorang yang hidup di dunia ini tidak melulu atas usahanya sendiri (tidak melulu dari kecerdasannya sendiri). Terdapat banyak faktor lain diluar pengklasifikasian kecerdasan yang dapat mendukung keberhasilan seseorang. Ada yang disebut dengan; ukuran dan ketentuan alam semesta bekerja, yang seringkali tidak diketahui apa dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi, kemudian ada yang disebut dengan; hubungan yang tidak pernah dapat terjelaskan, yang acapkali tidak diketahui kapan dan mengapa hubungan itu dapat terjadi, lalu ada lagi yang disebut dengan; pertanyaan kebanyakan manusia yang mereka ini tidaklah mengetahuinya melainkan hanya sedikit sekali. Sikap untuk tunduk dan mempercayai Sang Pencipta secara utuh dan sepenuhnya adalah kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, tidak boleh ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan yang malahan dapat menjerumuskan seseorang pada hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak peduli apakah seseorang tersebut saat ini mengakui adanya Sang Khalik ataupun tidak, seseorang tersebut mestilah telah pernah memikirkannya sebelumnya.<br />
Adalah menjadi sesuatu yang sangat sederhana dan menentramkan, jika perbuatan memilah-milah sesuatu hanya diperuntukkan pada ranah-ranah tertentu saja, bukan pada ranah yang memang seharusnya dibiarkan “begitu saja”. Tanpa perlu adanya pertentangan lebih lanjut, tanpa perlu adanya perasaan berlebihan yang tidak pada tempatnya, niscaya segala pengklasifikasian memperoleh tempatnya yang tinggi di hati orang-orang yang meninggikannya. Dan dari jalan ilmu pengetahuan beberapa orang memang telah ditinggikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Seperti Nasehat Ibu</strong><br />
Beroleh keduniawian dan beroleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada itu, pastilah hanya bersandarkan pada nasehat Ibu yang mengandung segala makna kebenaran dari Sang Pencipta. Tidak pernah mudah memang, namun bukan berarti tak ada peluang. Dimulai dengan tidak menggunakan kecerdasan untuk membohongi orang lain, seseorang diperkenankan untuk berharap memperoleh keduniawian tanpa perlu takut terlena oleh segala pesonanya yang menghancurkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/intelektualitas-semu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hipokrasi Massal</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/hipokrasi-massal/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/hipokrasi-massal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 02:04:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[hipokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[massal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Prologue
Adalah mudah untuk menghinakan atau tidak memuliakan sesuatu yang tampak didepan mata jika sesuatu tersebut memang tidak sesuai dengan apa-apa yang telah dan selalu dipercayai dari sebuah pemikiran. Mudah pula bagi seseorang untuk mengeluarkan isi kepalanya dengan sesegera mungkin melalui kata-kata yang padat. Namun, permasalahan pun segera saja muncul apabila kata-kata padat hendak mewakili penghinaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Prologue</strong><br />
Adalah mudah untuk menghinakan atau tidak memuliakan sesuatu yang tampak didepan mata jika sesuatu tersebut memang tidak sesuai dengan apa-apa yang telah dan selalu dipercayai dari sebuah pemikiran. Mudah pula bagi seseorang untuk mengeluarkan isi kepalanya dengan sesegera mungkin melalui kata-kata yang padat. Namun, permasalahan pun segera saja muncul apabila kata-kata padat hendak mewakili penghinaan terhadap sesuatu karena ketidak-sesuaian dengan sebuah pemikiran. Kata-kata buruk untuk penghinaan memang padat dan mampu merepresentasikan apa-apa yang berada dalam kepala seseorang. Sifatnya yang langsung kepada tujuan, langsung dapat diinterpretasi dan yang paling utama adalah langsung mengena pada yang menerima kata-kata buruk tersebut. Demikian mungkin beberapa keuntungan dari penggunaan kata-kata buruk <span id="more-243"></span>untuk sebuah penghinaan kepada sesuatu ataupun untuk sebuah ketidak-sesuaian dengan pemikiran.</p>
<p><strong>Dithyramb</strong><br />
Belum cukup terang apabila hanya keuntungan saja yang seseorang bisa tawarkan kepada orang lain mengenai kata-kata buruk. Mestilah ada konsekuensi dari keuntungan yang sangat mudah didapatkan tersebut. Antusiasme berbicara secara liar sayangnya memang sering dibarengi dengan penulisan kata-kata buruk itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti juga sebuah surat dan sebuah perangko, yang pada zaman lalu begitu mengesankan, pidato adalah sebuah surat dan kata-kata yang tertulis menjadi perangko-nya. Surat tersebut akan terkirim secara baik dan cermat kepada yang menerimanya, sesuai dengan sistem yang berlaku pada suatu daerah tertentu yang sudah menjadi kesepakatan sebelumnya, jika surat dan perangko telah benar-benar saling melengkapi. Keseluruhan hal-hal tersebut; surat, perangko dan sistem lingkungan yang berlaku, haruslah merupakan sebuah kesatuan yang utuh. Barulah kemudian seseorang boleh berharap untuk menerima sebuah surat secara utuh. Namun, diluar analogi tersebut, acapkali terjadi bahwa pidato yang begitu membara akan diikuti dengan kata-kata dari tulisannya yang juga harus panas terasa. Setelah itu, sebenarnya, dapatlah seseorang menelisik kerugian-kerugian dari penggunaan kata-kata buruk didalamnya. Dari cara bagaimana sebuah pidato terasa dan dari cara bagaimana kata-kata dapat tertulis, sesungguhnya seseorang akan merasakan bagaimana dampak dari penggunaan kata-kata buruk tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Penggunaan kata-kata buruk pada sebuah tulisan akan berbalik menjadikan penulisnya kehilangan kehormatan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, selintas saja terbaca tulisan yang mengandung kata-kata buruk oleh seseorang, maka seorang pembaca -apapun latar-belakangnya- akan dengan serta merta memberikan nilai yang negatif kepada penulis. Penulisan dengan menggunakan kata-kata buruk seperti demikian hanya dilakukan oleh orang-orang yang terlalu mengedepankan sisi emotif manusiawi belaka tanpa sedikitpun mencoba untuk memadukannya dengan logika. (Catatan: perdebatan antara rasa dan logika pada sebuah tulisan bukan disini tempatnya.) Pada gilirannya, pembaca yang paling awam sekalipun akan dengan sangat mudah pula memberikan nilai buruk atau negatif kepada penulis karena adanya kata-kata buruk yang dikandung oleh sebuah tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan hal diatas, pada sebagian intelektual, dan ini sangat disayangkan, mungkin saja akan dirasakan pidato-pidato yang begitu mengagumkan dan sangat menyejukkan dan seseorang akan berpikir bahwa tulisannya pun tenang dan baik-baik saja. Namun, seringkali ditemui, ternyata tidaklah demikian adanya dengan tulisan dari kata-katanya. Jika dimaknai dengan seksama, akan didapati bahwa tulisan tersebut hanyalah merupakan suatu pelarian atau bahkan kamuflase yang bersifat mengelak dari permasalahan yang sebenarnya. Mereka berlindung pada kata-kata yang baik untuk menuju pada suatu maksud yang buruk. Gejala seperti ini hanya dapat terlihat jika seseorang mempunyai bekal referensi yang kuat sebelum berhadapan dengan sebuah tulisan. Dan tentu saja, seseorang semestinya memaknai dengan suatu keberanian terhadap tulisan-tulisan yang demikian dengan tetap merendahkan diri dihadapan kebenaran, bukan dengan mengiyakan secara gelap-gulita dan menunduk lesu hanya karena adanya perasaan menghormati yang terlalu berlebihan kepada sebagian intelektual tersebut. Entah sengaja atau tidak disengaja, hal ini merupakan sebuah kemunduran yang sangat jauh kebelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan tersebut melahirkan sebuah hipokrasi massal karena adanya kepercayaan yang terlalu besar kepada para intelektual. Dan sayangnya lagi, hal ini kemudian disikapi dengan ketidak-pedulian serta menutup mata dan telinga atas kebenaran yang sebenarnya selalu datang menghampiri pada setiap orang. Pada akhirnya, keadaan ini akan merugikan lingkungan itu sendiri. Jika hal yang demikian dibiarkan terus-menerus maka akan terkikis habislah segala cita-cita yang tengah dibangun bersama-sama. Karena, bagaimanapun, sebuah kejujuran akan lebih mendekatkan seseorang kepada tujuan yang mulia daripada sebuah kebohongan yang sengaja ditutup-tutupi untuk mencapai tujuan tersebut apalagi dalam hal ini berkaitan dengan sejumlah besar orang. Segelintir orang akan merasa senang dan sejumlah besar lainnya akan sangat menderita jika hipokrasi massal ini masih terus berlangsung.</p>
<p><strong>Masih Ada yang Lain</strong><br />
Untungnya, didalam sebuah lingkungan yang bagaimanapun, niscaya selalu ada sebagian orang yang sebenarnya merupakan seorang intelektual sejati namun tidak pernah dianggap sebagai seorang intelektual, kecuali beberapa waktu setelahnya barulah mungkin disadari. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang berada disekitar kita, tanpa pernah kita sadari bahwa sebenarnya juga mereka begitu berarti. Namun dalam pada itu, keadaan mereka amat terasing dan sangat tersembunyi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keterasingan tersebut tidaklah semata-mata mereka inginkan, sebab mereka hanya ingin menghindari apa-apa yang memang sudah semestinya mereka hindari. Keadaan lingkungan merupakan salah satu alasan yang menjadi penyebab keterasingan mereka. Bisa jadi, hipokrasi massal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, menjadi sebuah alasan yang kuat bagi mereka untuk melakukan pengasingan diri. Mereka hanya mengharapkan suatu kemuliaan dengan keterasingannya. Mereka tengah mencoba membersihkan diri dari segala pengaruh yang tidak baik atas keadaan lingkungan yang demikian. Tetapi, mereka tidak kemudian berniat untuk serang-balik menghancurkan lingkungan tersebut. Tidak sedikitpun mereka menggangu stabilitas dan keamanan lingkungan yang ditinggalkannya, meski mungkin saja mereka begitu menginginkannya. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Intelektual sejati ini tidak mempunyai dendam apapun terhadap kemanusiaan dalam bagaimanapun bentuknya, justru mereka sangat mencintai kemanusiaan seutuhnya. Hal ini terbukti dengan kembalinya mereka untuk menggeluti ranah kemanusiaan. Mereka hanya pergi sebentar untuk menempa dirinya sendiri agar menjadi jauh lebih baik. Hingga ketika mereka kembali ke tengah-tengah manusia, mereka mempunyai semacam semangat yang lebih besar untuk memberikan kontribusinya yang sangat berarti bagi lingkungan itu sendiri. Dari sini, seseorang kemudian boleh berharap tentang pidato-pidato dan tulisan-tulisan yang sejalan dan bermakna amat dalam. Perasaan yang muncul dari pidatonya tidak hanya menentramkan tetapi juga perasaan atas tulisannya mampu memberikan semangat untuk terus-menerus memperbaiki keadaan. Sebuah keadaan lingkungan yang sangat dicita-citakan oleh semuanya, tidak hanya oleh sebagian intelektual saja tetapi juga oleh sebagian besar lainnya diluar itu.</p>
<p><strong>Epilogue</strong><br />
Seseorang boleh saja memberikan segala macam bentuk pidato lewat pembicaraannya, namun ia pun dituntut mampu untuk memaknai tulisan-tulisan tersebut secara jujur dan bijaksana, agar tidak terjerumus pada kegelapan makna yang terkandung didalamnya. Begitu pun dengan pendengar dan pembacanya secara keseluruhan. Setelah itu, niscaya hipokrasi massal dapat dihindarkan dan dijauhi keberadaannya melalui kesadaraan bersama semacam ini. Benarlah kiranya pernyataan orang bijak tentang perkataan dan perbuatan yang harus sejalan. Disini kita memaknainya dengan pembicaraan dan penulisan tentunya.</p>
<p>Wallahu’alam Wallahulmusta’an.<br />
Pasar Minggu, Jakarta Selatan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/hipokrasi-massal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhati-hati didalam Memilih Sebuah Pekerjaan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/berhati-hati-didalam-memilih-sebuah-pekerjaan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/berhati-hati-didalam-memilih-sebuah-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 17:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhadzis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.org/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Mempunyai sebuah pekerjaan merupakan suatu keniscayaan bagi seseorang yang menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Keniscayaan yang senantiasa diperjuangkan pada proses pencapaiannya. Tidak pernah ada yang menyebutkan bahwa memperoleh sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang mudah. Terdapat berbagai halang-rintang sebelum menuju perolehannya. Selalu ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang secara sah diakui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mempunyai sebuah pekerjaan merupakan suatu keniscayaan bagi seseorang yang menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Keniscayaan yang senantiasa diperjuangkan pada proses pencapaiannya. Tidak pernah ada yang menyebutkan bahwa memperoleh sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang mudah. Terdapat berbagai halang-rintang sebelum menuju perolehannya. Selalu ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang secara sah diakui telah memperoleh sebuah pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanyakan saja pada orang-orang yang terlihat menyenangi pekerjaannya; apakah mereka memperolehnya dengan mudah dan cuma-cuma? Jawabannya tentu tidak. Segelintir keluh-kesah, semangat, bahkan canda-tawa senantiasa akan mengiringi seseorang ketika berusaha memperoleh pekerjaan yang dimaksud. <span id="more-219"></span>Permasalahannya tentu akan berbeda jikalau pertanyaan tersebut disampaikan pada orang-orang yang terlihat tidak menyenangi pekerjaan yang telah diperolehnya. Jawaban secara lugas dari mereka mungkin agak sulit didapatkan, namun seseorang justru dapat dengan mudah mengambil kesimpulan atas ketidak-lugasan dari jawaban tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pentingnya sebuah pekerjaan bagi seseorang untuk ditelusuri merupakan suatu hal yang tidak mudah. Karena nilai pentingnya tersebut akan melibatkan seseorang pada serentetan pertanyaan yang sebenarnya adalah pertanyaan paling dasar baginya terhadap pekerjaan.<br />
<strong><br />
Segala Pekerjaan Tergantung pada Niat</strong><br />
Yang pertama pastilah niat, untuk apa seseorang bekerja atau untuk apa seseorang mempunyai sebuah pekerjaan? Pertanyaan ini harus segera dijawab dengan tangkas dan tidak berbelit-belit, minimal didalam hati, seseorang dituntut  mampu untuk tidak berbohong kepada dirinya sendiri. Ia harus bersikeras bahwa niatannya didalam memperoleh pekerjaan adalah sebuah niatan yang sangat kuat dan tidak mudah goyah. Kita dapat saja memperoleh niatan yang berbeda-beda dari orang-orang yang menginginkan untuk mempunyai sebuah pekerjaan. Ada yang niatannya tersebut muncul dari dalam diri sendiri, muncul dari orang lain atau ada juga yang disebabkan terinspirasi oleh sesuatu. Turunan dari seluruh niatan tersebut bisa berupa keinginan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, keinginan untuk mampu meringankan beban orang lain, keinginan untuk meningkatkan harga diri, keinginan untuk lebih memperkaya diri sendiri, atau bahkan keinginan untuk membuat nyaman diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh niatan seperti yang telah disebutkan diatas dan segala turunannya akan menjadi tidak penting dan sama sekali tidak berguna kelak, jika seseorang harus dihadapkan pada persoalan pertanggungan-jawab pada Yang Maha Kuasa. Niatan akan menjadi sebuah persoalan yang paling signifikan ketika nanti seseorang bertemu dengan Sang Khalik. Sebuah niatan akan dapat menjadi penolong bagi seseorang atau malah berbalik menjadi musuh bagi seseorang. Sebuah niatan akan menjadi penolong apabila niatan itu hanya untuk Sang Khalik dan sebaliknya, sebuah niatan akan menjadi musuh yang merugikan jika niatan itu adalah untuk sesuatu selain Sang Khalik.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, hal ini memberikan sebuah pengertian bahwa didalam niatan, yang paling menguntungkan bagi seseorang ketika mempunyai sebuah pekerjaan adalah dengan mempunyai niat hanya karena Sang Khalik saja, tidak bisa tidak, sedangkan turunannya haruslah senantiasa bersandarkan pada niatan karena Sang Khalik tersebut. Memenuhi kebutuhan hidup adalah karena Sang Khalik memang telah memerintahkan bahwa seorang manusia harus mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, meringankan beban orang lain adalah karena Sang Pencipta memang memerintahkan manusia untuk menolong sesama, meningkatkan harga diri adalah karena memang Sang Pemelihara telah memerintahkan manusia untuk mempunyai harga diri, dan turunan-turunan lainnya yang memang sesuai dengan apa-apa yang telah diperintahkan oleh Yang Maha Benar.</p>
<p><strong>Prosedural atau Sesuai dengan Rambu-Rambu</strong><br />
Setelah niatan hanya karena Sang Penguasa Alam Semesta tadi, persoalan selanjutnya adalah mengenai cara bagaimana seseorang dapat memperoleh pekerjaan. Dengan niatan hanya karena Sang Pencipta, kemudian seseorang dituntut untuk melakukan cara-cara yang hanya sesuai dengan kaidah-kaidah persis seperti Yang Maha Memberi telah gariskan. Kaidah-kaidah tersebut harus dijadikan pedoman bagi seseorang untuk memperoleh pekerjaan. Melakukan segala cara yang sesuai dengan kaidah dan meninggalkan segala cara yang tidak sesuai dengan kaidah seperti yang Ia tetapkan untuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang tidak diperkenankan untuk mempedulikan apa jadinya nanti jika hanya cara-cara Sang Pemberi Rezeki yang ia lakukan, apakah akan menguntungkan atau malah merugikan dirinya sendiri didalam memperoleh pekerjaan. Karena sesungguhnya segala cara yang telah ditetapkan oleh Sang Pemurah pastilah nantinya menguntungkan, meskipun kadang-kadang seseorang tidak melihatnya demikian. Permasalahan keyakinan menjadi pangkal segala tindakan dalam artian bahwa niat adalah pangkalnya dan cara-cara adalah jalannya.</p>
<p><strong>Dua Hal yang Tidak Dapat Dipisahkan</strong><br />
Sikap berhati-hati didalam setiap tindakan adalah ciri seseorang yang bijak. Kemampuan melihat bagaimana sebenarnya sebuah persoalan dapat dipecahkan dengan baik dan benar acapkali tersirat dalam diri seseorang melalui sikap hati-hati tersebut. Dari apa-apa yang tersirat itulah biasanya tampak sebagai niat yang kemudian mendasari cara-cara yang akan ditempuh oleh seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Niat hanya karena Sang Khalik dan melakukan cara-cara seperti yang telah Ia tetapkan adalah dua hal yang harus dilakukan secara serentak atau simultan, atau paling tidak, niat yang benar terlebih dahulu setelah itu cara-cara yang benar kemudian haruslah ditempuh. Keduanya tidak dapat dipisahkan, kedua-duanya harus terjadi pada diri seseorang yang tengah mencari pekerjaan. Jika hanya niat saja yang benar, maka seseorang akan terjebak pada kesalahan yang akan merugikan dirinya sendiri. Dan jika hanya cara-cara saja yang benar, maka seseorang akan menghadapi persoalan serius ketika nanti bertemu Sang Pemelihara Alam Semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Niat dan cara-cara adalah bergantung satu sama lain. Seseorang tidak dapat mengabaikan salah satu saja, atau malah mengabaikan kedua-duanya. Apalagi didalam memperoleh sebuah pekerjaan yang merupakan sesuatu yang gampang-gampang susah, tentunya niat dan cara-cara adalah persoalan yang semestinya dipikirkan terlebih dahulu untuk kemudian dilakukan dengan penuh kepasrahan dan tanggung-jawab.</p>
<p>Wallahu’alam Wallahulmusta’an.<br />
Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/berhati-hati-didalam-memilih-sebuah-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menempatkan Proses Ketika Menentukan Pilihan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/menempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/menempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 20:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Priambudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kemauan]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Proses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/06/13/46/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Priambudi
“Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian.”(Kekuatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Oleh: Priambudi</p>
<p style="text-align: justify;">“Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian.”(Kekuatan Berpikir: M. Muhadzis)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia ini tidak ada hal yang sukar maupun hal yang mudah. Juga tidak ada atau tidaklah tepat kalau disebutkan bahwa seseorang itu bodoh ataupun pintar. Biasanya, orang berpendapat bahwa sukar adalah pendapat orang bodoh dan mudah itu adalah pendapat orang pintar. Sebetulnya tidak demikian. Tidak ada sukar, tidak ada mudah, tidak ada bodoh juga tidak ada pintar. Yang ada hanya mengerti dan belum mengerti. Yang mengerti tentu bisa dan kalau sudah bisa, menjadi mudah. Yang belum mengerti tentu tidak bisa dan kalau belum bisa, menjadi sukar. Jadi, tidak ada hal sukar di dunia ini selama seseorang mau belajar agar mengerti dan bisa. Kalau belum mengerti, maka carilah, pergunakan akal budi yang dianugerahkan sebagai manusia. Segala hal pasti akan dapat diatasi!</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-5"></span>Bagi mereka yang mampu menyelesaikan masalahnya tentu  akan mendapat predikat pintar, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu maka disebutlah bodoh. Seseorang yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan akan mendapat predikat super pintar (baca: jenius); itu dikarenakan ia mengetahui melebihi pengetahuan manusia disekitarnya. Sehingga pada umumnya, tingkat intelegensia manusia hanya dibagi menjadi dua: pintar dan bodoh. Padahal kalau ditelaah, penjabaran antara bodoh dan pintar hanya terletak dari: sudah tahu dan belum tahu. Bagi mereka yang dianggap bodoh tetapi ada keinginan untuk belajar sehingga mereka menjadi pintar dengan kata lain dia yang tidak tahu tetapi ada keinginan belajar (supaya tahu) sehingga dia menjadi tahu. Orang yang tidak tahu apa-apa (bodoh-red), jika dia memiliki kemauan untuk belajar, maka ia akan menjelma menjadi manusia pintar. Jadi, yang ada adalah yang sudah tahu dan yang belum tahu atau yang sudah mengerti dan yang belum mengerti. Lantas, siapa yang lebih pantas mendapatkan gelar bodoh? Yang lebih pantas mendapatkan predikat bodoh ialah mereka yang tidak memiliki kemauan untuk belajar, secara otomatis ia akan selamanya tidak tahu, itulah Si Bodoh yang sebenarnya.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi<br />
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus<br />
belajar, akan menjadi pemilik masa depan (Mario Teguh).</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Semua bermula dari bukan apa-apa dan akan kembali menjadi bukan apa-apa.  Demikian pula manusia, mereka (semua manusia) dilahirkan dari bukan siapa-siapa, bahkan dalam urusan makan pun seorang bayi harus dibantu, kalaupun kelak ia “menjadi orang” maka hal itu adalah hasil dari proses yang ia lakukan. Disinilah letak dimana proses berperan penting dalam menentukan pintar atau bodoh, mengerti dan belum mengerti, paham dan belum paham, memiliki dan belum memiliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengacu pada uraian di atas, bagaimana sebaiknya seseorang dalam bersikap? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja harus dikembalikan kepada masing-masing individu dalam menempatkan posisinya. Pintar atau bodoh? Sudah mengerti atau belum mengerti? Sudah memiliki atau belum memiliki? Dengan mengetahui berada di posisi yang mana, seseorang tentu akan dapat menentukan langkah  yang akan diambil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab semua bermula dari bukan apa-apa dan akan kembali menjadi bukan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu’alam  a’laa kulli hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Bandung, 11 Juni 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/menempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Yang Besar (juga) Mengandung Tanggung-jawab Yang Besar</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 15:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Proporsionalitas]]></category>
		<category><![CDATA[Superhero]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/03/14/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Priambudi
Bagi para pecinta tokoh Superhero terbitan Marvel, tentu tidak asing dengan kalimat diatas. Kalimat tersebut diucapkan oleh tokoh Ben Parker kepada Peter Parker, sang tokoh Spiderman. Kalimat itulah yang selalu diingat oleh Peter Parker ketika ia menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya tidak lalu semata-mata membuat dirinya dapat melakukan apa saja. Kalimat itu juga yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oleh: Priambudi</p>
<p align="justify">Bagi para pecinta tokoh Superhero terbitan Marvel, tentu tidak asing dengan kalimat diatas. Kalimat tersebut diucapkan oleh tokoh Ben Parker kepada Peter Parker, sang tokoh Spiderman. Kalimat itulah yang selalu diingat oleh Peter Parker ketika ia menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya tidak lalu semata-mata membuat dirinya dapat melakukan apa saja. Kalimat itu juga yang membuat Peter Parker harus membuat keputusan sulit dalam hidupnya, antara menjalani kehidupan normal sebagai seorang mahasiswa yang harus membiayai kuliah dan hidupnya sendiri dengan melupakan Spiderman atau kembali kepada takdirnya sendiri yang tidak lain adalah seorang Superhero. Pergulatan batin muncul dalam diri Peter Parker, ia dituntut untuk memilih antara mengabaikan kekuatan Superhero-nya dan menjalani hidup dengan berbagai kenyataan permasalahan seorang lelaki yang beranjak dewasa atau mengorbankan kehidupan dan kepentingan pribadi-nya demi menjalankan tugas sebagai seorang Spiderman.<br />
Menjadi manusia biasa dan mengabaikan kekuatan superhero  tentu saja bukan hal mudah, Peter muda harus bertahan dengan berbagai kerumitan permasalahan hidupnya. Lalu, apakah menjadi Superhero itu mudah? Bagi Peter Parker yang sangat memahami ucapan Paman Ben, ternyata hal tersebut sama sulitnya. Ia harus mengorbankan semua kepentingan dirinya sendiri demi menjalankan tugasnya sebagai Spiderman, bahkan cintanya kepada Mary Jane (pada awalnya) harus ia gadaikan.<br />
<span id="more-6"></span>Bagaimana kalau ucapan Paman Ben diatas dimodifikasi menjadi “kekuasaan yang besar menuntut tanggung-jawab yang besar (juga)”?  Bagi sebagian orang, kalimat tersebut seolah tidak sulit, bahkan, dengan kekuasaan,  mereka (merasa) mampu mengatasi berbagai permasalahan orang banyak, tentunya disamping permasalahan dirinya sendiri. Kembali merujuk pada tokoh Spiderman, ternyata Peter Parker “memanfaatkan” kekuatannya sebagai Superhero untuk mengatasi masalah-masalah pribadi.  Seperti diceritakan dalam komik atau film Spiderman, Peter Parker memanfaatkan kekuatannya untuk mendapatkan penghasilan (yang lebih dari biasanya) sebagai wartawan foto, malahan dengan menggandeng “ketenaran” Spiderman. Selain itu, dimafhumi bahwa Peter Parker juga memanfaatkan kekuatannya untuk menggaet cinta Mary Jane. Lantas, apakah hal-hal tersebut dapat dibenarkan?<br />
“Semua harus sesuai pada porsinya”, mungkin merupakan kalimat yang tepat untuk menjawab semua kerumitan diatas. Pada tempatnya, kedewasaan seringkali menuntut lebih, seseorang yang memanfaatkan kekuatan/kekuasaaannya untuk kepentingan pribadi, tidak dapat langsung “di-judge” bersalah, selama ia melakukan hal tersebut sesuai dengan porsinya. Disisi lain, bukankah banyak orang yang menyandarkan, bahkan menggantungkan nasibnya kepada seseorang yang sedang berkuasa? Jika TUGAS dan TANGGUNG-JAWAB seseorang sudah selesai, barulah ia dapat menuntut HAK-nya. Nurani yang berperan kemudian, sejauh mana seseorang mampu konsisten terhadap komitmen? Komitmen terhadap orang banyak dan komitmen kepada diri sendiri.<br />
Terakhir, mengutip perkataan seorang kawan “hidup Proporsionalitas!”. Proporsionalitas versi siapa? Yang pasti bukan versi  masing-masing individu tentunya.<br />
Wallahu’alam  a’laa kulli hal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari bersama-sama mencemooh dunia. (sebuah pengantar)</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/mari-bersama-sama-mencemooh-dunia-sebuah-pengantar/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/mari-bersama-sama-mencemooh-dunia-sebuah-pengantar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 16:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Raja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/02/24/mari-bersama-sama-mencemooh-dunia-sebuah-pengantar/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: m. muhadzis g.
Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh seorang raja ketika ia masih berada diatas singgasana-nya? Apakah ia pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri ketika ia sudah berada jauh terkubur didalam tanah? Jika seorang raja hanya sekedar ingin dikenang maka ia telah mendapatkan-nya sesaat sebelum menjadi raja. Jika seorang raja hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Oleh: m. muhadzis g.</p>
<p>Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh seorang raja ketika ia masih berada diatas singgasana-nya? Apakah ia pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri ketika ia sudah berada jauh terkubur didalam tanah? Jika seorang raja hanya sekedar ingin dikenang maka ia telah mendapatkan-nya sesaat sebelum menjadi raja. Jika seorang raja hanya sekedar ingin menguasai banyak tempat di permukaan bumi ini maka ia tidak perlu repot-repot menjadi raja. Dan jika seorang raja hanya sekedar ingin memiliki sejumlah besar harta kekayaan maka menjadi raja adalah sebuah kesalahan. Adalah sebuah keganjilan yang benar-benar luar biasa jika motivasi seorang raja hanya mengacu pada keinginan-keinginan seperti tersebut diatas. Merupakan sebuah kehinaan yang tidak dapat ditolerir jika seorang raja hanya bekerja/berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri. Seorang raja yang demikian hanya akan menciptakan orang-orang hebat yang akan selalu dan kontinu menjadi penentangnya selama masa kekuasaannya. Lahirlah apa yang bakal disebutkan oleh zaman sebagai para penyelamat. Penyelamat dari sang raja yang lalim, penyelamat dari sang raja yang telah melampaui batas dalam kemanusiaan dan penyelamat bagi rakyatnya yang tertindas. Dan para penyelamat ini akan benar-benar menyita perhatian yang amat besar dari sang raja ketika ia tengah berusaha mempertahankan kekuasaannya.</p>
<p><span id="more-7"></span>Menjadi hamba dunia adalah godaan sekaligus jebakan bagi seluruh raja-raja yang pernah hidup dimuka bumi ini. Juga tidak sedikit yang telah benar-benar terjebak dan terperosok kedalamnya. Kedalam penyesalan yang sama sekali tidak akan ada manfaatnya lagi. Mereka tertipu oleh gemerlap dan permainan halusnya dunia terlebih karena posisinya yang adalah seorang raja. Benar bahwa mereka adalah juga manusia namun bagaimanapun mereka adalah seorang &#8220;raja&#8221; yang tercatat berbeda dengan manusia pada umumnya. Kemudahan yang selalu didapatkan oleh seorang raja, dimana kemudahan inilah yang selalu diidam-idamkan oleh orang-orang awam, menjadi akses paling awal sebelum terperangkap lebih pekat oleh jaring-jaring keindahan dunia. Seorang raja acapkali lupa atau sengaja melupa-lupakan dirinya sendiri bahwa sebenarnya ia bertanggung-jawab atas segala sesuatu yang menjadi kekuasaannya. Rakyat, tanah air dan harta kekayaan adalah kekuasaan yang juga adalah suatu pertanggung-jawaban yang sungguh sangat berat. Terdapat banyak pertanyaan yang memerlukan jawabannya dengan tepat dan segera.  Pemandangan sekilas bahwa segala fasilitas yang melekat pada diri seorang raja adalah kewajaran, dapat diterima oleh akal sehat. Namun dengan akal sehat itu pulalah, dapat diterima kewajaran bahwa semakin banyak fasilitas maka akan semakin banyak pula pertanggung-jawabannya.</p>
<p>Seseorang tidak pernah benar-benar tahu apa yang tengah dialami oleh para raja yang sekarang telah  mendekam di liang lahad. Pendekatan pengetahuan yang paling mungkin adalah dugaan dan sangkaan yang didapat dari cerita-cerita awam dan buku-buku sejarah atau dari penuturan orang-orang terdekat para raja yang masih hidup hingga saat ini. Perdebatan tentang otentisitas-nya sebaiknya dikesampingkan terlebih dahulu agar didapat informasi yang lebih banyak dan beragam tentang seorang raja. Barulah setelah itu dilakukan penyaringan informasi dengan beberapa perangkat keabsahan sebuah biografi, supaya lebih mendekati kenyataan. Tetapi tetap saja pendekatan yang demikian akan selalu berujung pada persangkaan karena seseorang yang mencoba menemukan fakta dari masa lalu tidak pernah benar-benar hidup dimasa lalu dan mendapatkan informasi yang sesungguhnya dengan mata-kepalanya sendiri dimasa lalu tersebut. Dan segala persangkaan nantinya dimafhumi dengan adanya pemaafan.</p>
<p>Pergulatan seorang raja dengan dunia, atau bisa jadi percumbuan seorang raja dengan dunia adalah sebuah fakta tersendiri. Hubungan yang begitu dekat ataupun hubungan yang begitu jauh antara seorang raja dengan dunia amat bergantung pada cara pandang seorang raja itu sendiri terhadap dunia. Sebab keduniawian cenderung tetap atau begitu-begitu saja, sedangkan seorang raja biasanya akan lebih mempunyai kebebasan didalam memperlakukan dunia. Seorang raja tinggal memilih, ingin menjadi hamba dunia ataukah sebaliknya, bersikap mandiri dan sama sekali tidak peduli pada dunia. Tidak seperti orang-orang awam yang membutuhkan dunia untuk kelangsungan hidupnya, seorang raja bisa dikatakan tidak butuh pada dunia, sebab dunia-lah yang menawarkan diri pada seorang raja. Namun dalam pada itu, sangat mungkin bagi para raja memandang dunia sebagai ladang bagi kehidupan pasca kematiannya sendiri nanti. Itupun kalau seorang raja meyakini bahwa kehidupan itu bukan hanya kehidupan didunia ini saja. Kalau begitu berarti raja dengan tipe yang demikian memiliki hubungan yang begitu jauh dengan dunia.</p>
<p>Hubungan yang cukup berjarak antara seorang raja dengan dunia, mempunyai pengertian bahwa tinggal selangkah lagi bagi seorang raja untuk dapat menjadi dekat dengan rakyat. Kedekatan seorang raja dengan rakyat akan menumbuhkan rasa cinta dihati rakyat kepada raja dan begitu pula sebaliknya. Dengan catatan bahwa seorang raja telah terlebih dahulu melupakan kekuasaannya didalam memberikan hukuman, kecuali telah datang kepadanya bukti-bukti yang nyata. Lain halnya dengan seorang raja yang memiliki hubungan yang begitu dekat dengan dunia, ia akan cenderung terlena dan menikmati segala sesuatu yang datang padanya, segala kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia kepadanya. Seorang raja akan mengabaikan hak-hak serta kepentingan rakyatnya sebab ia menganggap bahwa rakyat-lah yang harus senantiasa melayaninya. Seorang raja yang demikian tak pelak lagi akan menumbuhkan kebencian dihati rakyat dan sang raja bisa jadi tidak pernah akan menyadarinya.</p>
<p>Sebenarnya apa yang dimaksud dengan dunia? Seseorang pernah mengatakan bahwa dunia adalah sebuah tempat dimana ia dapat dilalui dengan kepayahan dan penderitaan atau malah dilalui dengan kemudahan dan terwujudnya segala keinginan hawa nafsu. Dengan pengertian tersebut, yang mengesampingkan status apakah seseorang adalah seorang raja ataupun orang awam, dapat diambil sebuah simpulan bahwa memperlakukan dunia adalah suatu keniscayaan yang harus dihadapi dan akan berlangsung terus-menerus selama ruh masih melekat dengan tubuh. Adapun seorang raja, mungkin memang lebih berpeluang untuk menaklukan dunia karena kekuasaannya, namun tugasnya tidak selesai sampai disitu sebab kekuasaan berbuntut pada diharuskannya ketersediaan setiap jawaban atas setiap keluhan dari yang dikuasainya. Sebaliknya dengan orang-orang awam, pencapaian kehidupan duniawi sering mereka anggap sebagai suatu usaha keras yang memang pantas untuk diperjuangkan demi mendapatkannya. Namun mereka seringkali tidak sadar bahwa kehidupan duniawi hanyalah salah sebuah jalan, bukan merupakan tujuan. Orang-orang awam sering melupakan bahwa mereka pun akan mati dan terkubur jauh didalam tanah. Sama halnya dengan seorang raja. Siapa tahu saja seorang awam yang tidak terlalu &#8220;ngoyo&#8221; pada kehidupan duniawi dapat disamakan dengan seorang raja yang menjauhi dunia demi kepentingan yang lebih mulia.<br />
Wallahu’alam wallahul musta’an.</p>
<p>Pasar Minggu, Jakarta Selatan<br />
20-02-2009</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/mari-bersama-sama-mencemooh-dunia-sebuah-pengantar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi, lebih indah daripada sekedar diskusi.</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/memberi-lebih-indah-daripada-sekedar-diskusi/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/memberi-lebih-indah-daripada-sekedar-diskusi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 07:53:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/01/28/memberi-lebih-indah-daripada-sekedar-diskusi/</guid>
		<description><![CDATA[Memberi, lebih indah daripada sekedar diskusi.
Oleh : m. muhadzis g.
Pada suatu kesempatan yang dimiliki oleh seseorang, mungkin menyenangkan jika dihabiskan untuk berbicara dengan orang lain, untuk sekedar berbagi kabar, tentang apa saja. Mulai dari kabar kesehatan, kabar pekerjaan, kabar keluarga, kabar teman-teman sampai kepada pembicaraan yang bukan lagi kabar. Lazim, perkara ini seringkali terjadi pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Memberi, lebih indah daripada sekedar diskusi.<br />
Oleh : m. muhadzis g.</p>
<p>Pada suatu kesempatan yang dimiliki oleh seseorang, mungkin menyenangkan jika dihabiskan untuk berbicara dengan orang lain, untuk sekedar berbagi kabar, tentang apa saja. Mulai dari kabar kesehatan, kabar pekerjaan, kabar keluarga, kabar teman-teman sampai kepada pembicaraan yang bukan lagi kabar. Lazim, perkara ini seringkali terjadi pada makhluk yang menempati hierarki tertinggi di bumi ini. Dan menjadi wajar pula karena yang diajak berbicara adalah makhluk yang sama tingkatan hierarki-nya juga. Kecuali ada yang mampu untuk berbicara dengan cara yang tidak selazimnya terjadi pada makhluk yang seperti ini.<br />
Namun, kesempatan tersebut tidak selalu ada dan mutlak dimiliki oleh setiap orang. Kadang-kadang kesempatan adalah sebuah pilihan, kadang-kadang malah sama sekali bukanlah sebuah pilihan. Kesempatan berbicara dipilih jika dan hanya jika ada sesuatu yang mengharuskannya.<br />
Misalnya saja (sekedar contoh);</p>
<ul>
<li>seseorang harus berbicara kepada orang lain, karena kalau tidak, seisi dadanya akan meledak, atau</li>
</ul>
<ul>
<li>seseorang harus berbicara, karena kalau tidak, ia akan membahayakan nyawa orang lain, atau</li>
</ul>
<ul>
<li>seseorang harus berbicara, karena kalau tidak, orang lain-lah yang akan membunuhnya.</li>
</ul>
<p><span id="more-8"></span>Alasan paling fundamental dari makhluk hidup adalah kepada kematian makhluk itu sendiri. Dengan begitu, alasan yang pertama tersebut diatas sepertinya hanyalah remah-remah paling remeh yang dapat diabaikan. Sebab sama sekali tidak berhubungan dengan hidup dan kematian. Sehingga, disisi yang lain, kedua alasan yang terakhir disebutkan, yang mendatangkan kesempatan bagi seseorang untuk berbicara, adalah menjadi sebuah keniscayaan. Malah menjadi suatu keharusan, mau tidak mau, harus berbicara. Jadi, bukan lagi sebuah pilihan. Tetapi sebuah keterpaksaan yang mengusik hati nurani seseorang. Dan itu berarti, berbicara bukanlah lagi sebuah kesempatan.<br />
Jika kesempatan berbicara bukanlah sebuah pilihan tetapi lebih sebagai sebuah keharusan bagi seseorang dimana ia tidak diperbolehkan untuk berbicara. Misalnya saja (sekedar contoh);</p>
<ul>
<li>seseorang yang tidak diperbolehkan berbicara karena ia harus mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, atau</li>
</ul>
<ul>
<li>seseorang yang tidak diperbolehkan berbicara karena pekerjaan yang sedang dilakukan-nya menuntut ia demikian, atau</li>
</ul>
<ul>
<li>seseorang yang tidak diperbolehkan berbicara karena ia harus membicarakan hal lain sehingga ketika ia sangat ingin membicarakan sesuatu ia sebenar-nya inginkan, ia tidak dapat melakukan-nya.</li>
</ul>
<ul>
<li>seseorang yang tidak diperbolehkan berbicara karena memang tidak ada orang lain yang dapat diajak berbicara.</li>
</ul>
<p>Alasan yang terakhir adalah alasan yang berada dalam ke-umum-an. Sesiapa pasti sepakat bahwa seseorang yang berbicara harus ada lawan/kawan bicara, kalau tidak ada lawan/kawan bicara-nya, ia sangat mungkin akan dituduh absurd.  Sehingga alasan terakhir ini tidak dapat diambil sebagai alasan, sebab sesuatu yang disepakati oleh ke-umum-an, maka tidak akan ada jalan untuk mematahkan-nya.<br />
Ketiga alasan pertama, yang membuat seseorang tidak mempunyai pilihan lain, selain tidak berbicara, sebenarnya bisa saja patah.</p>
<ul>
<li>Yang pertama, ketika seseorang harus mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, sebenarnya ada kesempatan bagi seseorang tersebut untuk berbicara. Sebab pada setiap orang yang sedang berbicara, pasti terdapat jeda yang digunakan-nya untuk mengambil nafas. Jeda inilah yang bisa digunakan untuk menyela dan berbicara. Yang terpenting adalah tidak berbicara ketika orang lain sedang berbicara. Tetapi kalau orang lain yang sedang berbicara ini harus berhenti sejenak karena jeda mengambil nafas, maka inilah kesempatan yang bisa dimanfaatkan. Dengan begitu, bukan menyela, dan adalah memang tidak baik menyela orang yang sedang berbicara. Disini berarti, memanfatkan sejumlah momentum yang nilai-nya sangat kecil dan tidak banyak, untuk mengambil kesempatan berbicara.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kedua, seseorang yang karena pekerjaan-nya. Alasan yang demikian dengan sangat mudah dapat dipatahkan. Karena, bagaimanapun, sebuah pekerjaan harus dan pasti, manusiawi -sebab kalau tidak begitu, maka boleh saja disebut sebagai penjajahan-. Dari sudut manusiawi inilah, seseorang kemudian mempunyai kesempatan untuk berbicara. Dengan alasan kemanusiaan, kesempatan berbicara mungkin akan menjadi yang paling azasi. Dan tidak ada satu tempat bekerja pun yang akan berani mengusik hak azasi, kecuali sembunyi-sembunyi. Atau, bisa juga, alasan pekerjaan dapat dipatahkan dengan cara yang lebih mudah lagi namun berat untuk dipilih. Seseorang bisa memilih untuk keluar dari pekerjaan-nya, dan dengan berani menanggung segala akibat-nya. Pilihan tersebut pastilah akan dirasa sangat tidak masuk akal. Namun, jika kesempatan berbicara itu bernilai lebih tinggi dari pekerjaan tersebut, maka kehilangan pekerjaan adalah harga yang sangat pantas untuk dibayarkan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Dan yang ketiga, karena seseorang harus membicarakan hal lain. Alasan yang semisal dengan ini pun masih bisa dipatahkan -meski peluang-nya kecil-. Sebab, selalu terdapat celah ambiguitas didalam setiap pembicaraan. Celah inilah yang bisa dimanfaatkan. Seseorang bisa dengan sangat elegan men-cabang-kan pembicaraan-nya kepada hal yang ia inginkan tanpa sedikitpun disadari oleh lawan/kawan bicara-nya. Dibutuhkan kemampuan yang luar biasa didalam penguasaan bahasa, membaca pikiran orang lain dan presisi atas improvisasi ketika berkomunikasi. Dan yang paling penting adalah pengalaman didalam melakukan-nya. Dengan begitu kesempatan berbicara masih tetap ada, terbuka dan dapat diambil.</li>
</ul>
<p>Dapat disimpulkan, bahwa, berbicara, baik itu merupakan sebuah kesempatan maupun bukan sebuah kesempatan, tetaplah merupakan sebuah pilihan. Berbicara atau tidak berbicara adalah sebuah pilihan yang harus dapat dipertanggung-jawabkan oleh pelaku-nya kemudian. Dan jika sudah menyinggung tentang suatu pilihan, seseorang tentu akan memilih yang terbaik. Apalagi terdapat konsekuensi pertanggung-jawaban pada bagian akhirnya. Dari sini jelaslah bahwa, pilihan terbaik atas berbicara adalah berbicara hanya hal-hal yang baik-baik saja. Jika tidak, maka lebih baik untuk tidak berbicara sama sekali, karena adanya <em>konsekuensi pertanggung-jawaban</em> seperti yang telah disebutkan tadi.<br />
Bagaimana dengan diskusi menyenangkan yang sering terjadi dan lalu menjadi candu? Bukankah hanya pada diskusi, terdapat frekuensi yang paling besar bagi seseorang dalam berbicara? Diskusi dilakukan untuk suatu pencerahan, bukan untuk menggelapkan sesuatu yang sebelumnya memang telah diketahui adalah hak. Diskusi terjadi untuk sebuah kepentingan yang sangat mulia yakni mengeluarkan fakta yang sebelumnya jauh tersembunyi didalam untuk memunculkannya keatas permukaan yang dapat terlihat sehingga dapat diketahui oleh khalayak. Diskusi bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan seseorang -kecuali hal itu memang perlu dan mendesak- dan  bukan pula untuk mengkultuskan seseorang. Diskusi menyenangkan adalah fakta menentramkan sebagai hasil dari pencarian yang sungguh-sungguh, yang senantiasa membawa kearah perbaikan diri sendiri. Diskusi bukan candu yang mengikat kebebasan berpikir  yang menjadikan diri sendiri terkungkung dalam kesempitan berpikir itu sendiri.<br />
Adapun frekuensi berbicara, yang jumlahnya selalu paling besar didalam setiap diskusi, menjadi sesuatu yang sangat perlu untuk diperhatikan. Diskusi yang berisi pembicaraan yang tidak membawa pencerahan pasti termasuk kedalam perkara berbicara yang sia-sia, dan pasti tidak ada fakta menentramkan didalamnya. Maka dari itu frekuensi berbicara dalam diskusi yang semacam ini pastinya besar, dan biasanya tidak akan membawa kepada perbaikan diri. Kalau sudah begitu, adalah lebih baik jika diskusi tersebut ditinggalkan saja. Karena lagi-lagi, pertimbangan akan <em>konsekuensi pertanggung-jawaban</em> atas berbicara-nya seseorang, harus menjadi titik tolak awal sekaligus tujuan akhir bagi seseorang tersebut. Agar tidak sia-sia, agar tidak terjadi penyesalan.<br />
Tetapi apakah pembicaraan tentang berbicara dan diskusi ini penting? Adalah menjadi lebih penting bagi seseorang jika ia dengan senang hati mampu memberi kepada orang lain. Memberikan pengetahuan tentang mana yang benar dan mana yang salah kemudian membawanya kepada yang benar dengan penuh rasa sabar. Memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap keadaan orang lain tanpa malu-malu. Memberikan sebagian apa yang dimiliki-nya untuk orang lain yang membutuhkan tanpa segan-segan. Memberikan rasa kepedulian atas penderitaan orang disekitar dengan tindakan yang tepat dan tetesan keringat yang nyata adalah lebih indah dari sekedar terlalu banyak berbicara atau terlalu sering berdiskusi. Tindakan memberi, dengan jalan bagaimanapun, tentu tanpa pamrih agar lebih bersih. Meskipun orang lain yang diberi tersebut, belum tentu mengucapkan terima kasih. Karena sebenarnya, bukanlah ucapan terima kasih yang benar-benar diharapkan oleh seorang pemberi dari orang lain yang diberi, tetapi sungguh lebih dari itu.<br />
Wallahu’alam wallahul musta’an.</p>
<p>Pasar Minggu, Jakarta Selatan<br />
27 Januari 2009</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/memberi-lebih-indah-daripada-sekedar-diskusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan salah-mu, jika kebenaran terlalu lama terungkap!</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 07:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/01/12/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/</guid>
		<description><![CDATA[ditulis oleh: m. muhadzis g.
Setidaknya, kalimat tersebut sedikit menenangkan jika segunung persoalan seolah sedang  berada diatas pundak kita. Sama saja, entah kalimat tersebut diucapkan oleh diri sendiri, oleh orang lain yang mengenal kita, atau bahkan oleh orang lain yang sama sekali tidak mengenal kita. Jika kalimat tersebut sungguh-sungguh ditujukan kepada kita, kecenderungan untuk bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ditulis oleh: m. muhadzis g.</p>
<p>Setidaknya, kalimat tersebut sedikit menenangkan jika segunung persoalan seolah sedang  berada diatas pundak kita. Sama saja, entah kalimat tersebut diucapkan oleh diri sendiri, oleh orang lain yang mengenal kita, atau bahkan oleh orang lain yang sama sekali tidak mengenal kita. Jika kalimat tersebut sungguh-sungguh ditujukan kepada kita, kecenderungan untuk bisa lebih santai setelah mendengar kalimat tersebut acapkali terjadi dan ketika itu terjadi, ternyata memang sangat menenangkan. </p>
<p>Adalah sebuah oase diantara keringnya medan perjalanan yang begitu panjang dan berliku, ketika seseorang secara tak sengaja mendengar kalimat yang mampu menenangkan dirinya. Betapa sebuah dahaga, sekejap saja bisa langsung sirna, jika sebentar saja sebuah ketenangan menyapa. Kerinduan akan suatu masa dimana seseorang pernah dengan sangat bahagia menggenggam sebuah ketenangan, tak syak lagi menjadi semacam kerinduan yang mendendam. Yang senantiasa ingin terbalaskan. Senantiasa ingin lagi dan lagi merasakan ketenangan seterus-terusnya, selama-lamanya mengiringi medan perjalanan yang kering dan tanpa henti.<br />
Namun sayang, tik-tak kesadaran yang membungkus tubuh seseorang, menjadikan sebuah ketenangan malah seringkali berada diluar tubuh itu sendiri. Berada jauh diluar jangkauan dirinya sendiri. Ketenangan ini tak disangka berada diluar segala pencapaian. Tik-tak kesadaran yang menempel pada tubuh seseorang adalah yang paling sering menjadi penyebab gagal-nya pencapaian seseorang untuk meraih ketenangan. Tik-tak kesadaran lebih berat kadar-nya pada perbuatan mengayomi kenyataan agar sesuai dengan keinginan daripada perbuatan mengagumi mimpi yang tidak sesuai dengan keinginan. Padahal bukan tidak mungkin, bahwa apa-apa yang tidak tampak sebagai kenyataan pada saat ini adalah sangat mungkin terjadi pada saat yang lain. </p>
<p>Telah dimafhumi bahwa apa-apa yang terjadi pada diri seseorang pada saat ini adalah buah dari perbuatan yang ia tanam pada saat yang lalu. Dan apa-apa yang ditanam pada saat ini akan berbuah pada saat yang akan datang. Tetapi “jalur” perjalanan seseorang yang seperti ini tidak serta merta terjadi dan diamini oleh sebagian orang lainnya. Alangkah banyak “buah” tidak terduga yang seseorang dapatkan padahal ia tidak merasa “pernah” menanam. Hal ini berarti, ada ruang ekspektasi yang lain yang tidak pernah sama sekali berada dalam daftar ekspektasi seseorang didalam menempuh perjalanannya. Lalu dari mana datangnya ekspektasi tersebut?</p>
<p>Menjawab sesuatu dengan keumuman untuk sesuatu yang khusus, tidak pernah terdengar memuaskan. Karena kekhususan selalu berkorespondensi dengan orang-orang tertentu (yang tidak umum). Mempercayai apa yang dilihat tanpa perlu untuk mencari tahu penyebab-nya kadang-kadang malah lebih menyenangkan. Begitu juga jika harus dihadapkan dengan pertanyaan semacam “darimana datangnya ekspektasi tersebut?”. Tidak mudah menjawab-nya. Namun, selalu ada jawaban sederhana untuk setiap pertanyaan yang terlihat kompleks.  Biarkan saja ekspektasi tersebut menjadi kenyataan tanpa harus berekspektasi bahwa kenyataan yang sama bakal terjadi lagi. Karena bergantung pada ekspektasi yang terlalu kecil adalah sesuatu yang berat dan menyakitkan, meski kadang-kala berhasil. Permasalahan utama-nya adalah bahwa ekspektasi itu harus selalu ada, tanpa terlalu besar ataupun terlalu kecil.</p>
<p>Setelah itu ada permasalahan lain, yakni ketakutan. Ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu mendorong seseorang untuk mempunyai pertahanan sebagai tameng ketika berdalih. Tameng inilah yang disebut sebagai sebuah ketakutan. Perihal ini (ketakutan) adalah perlu jika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang berada diluar kemampuannya, hal ini untuk menghindari perbuatan nekat tanpa perhitungan yang bisa berakibat fatal bagi dirinya sendiri atau bahkan bagi orang lain. Ketakutan telah seringkali menyelamatkan seseorang dari akibat-akibat yang tidak diinginkan. Ketakutan juga acapkali menjadi pertimbangan terakhir ketika mengambil keputusan. Ketakutan semacam inilah yang nilai-nya harus tersambung dengan nilai ekspektasi. Nilai ketakutan dan nilai ekspektasi harus sejajar dan seimbang. Agar ekspektasi dan ketakutan membawa seseorang pada “jalur” yang benar dalam perjalanan-nya. Namun, pasti ada ketakutan yang tidak perlu. Ketakutan apa yang tidak diperlukan yang bahkan harus dibuang jauh-jauh?</p>
<p>Ketakutan pada sesuatu yang lebih besar nilai-nya daripada nilai dimana ketakutan itu seharusnya berada, adalah ketakutan yang tidak perlu. Ketakutan itu mempunyai batas, terdapat interval dimana ketakutan bisa bergerak naik-turun atau maju-mundur didalamnya. Tidak sepatutnya seseorang mempunyai ketakutan melebihi atau kurang dari ambang batas yang seharusnya. Tentu saja, interval tersebut akan sebanding dengan besarnya ekspektasi yang dimiliki seseorang. Melayani ketakutan dengan terus-menerus bertanya apa yang bakal menimpa diri sendiri, masih menjadi permasalahan yang harus dihadapi hingga hari ini, oleh siapapun. Seseorang seringkali merasa takut jika ada sesuatu yang tidak diinginkan bakal menimpa diri-nya. Itu pasti dan terjadi pada semua orang. Tetapi jika ketakutan itu terus membesar tanpa pernah mencoba untuk mengatasinya, maka seseorang harus bersiap dengan apa yang akan terjadi karena ketakutan-nya sendiri. Sesuatu yang ditakutkan akan benar-benar terjadi dan menimpa diri-nya karena ia tidak pernah mencoba untuk mengatasinya atau setidak-tidak-nya mencari-tahu penyebab-nya.</p>
<p>Lalu ada lagi, ketakutan terhadap apa yang bakal menimpa pada diri orang lain. Tepatnya, orang lain ini sangat berarti bagi dirinya. Orang lain ini menempati ruang yang sangat khusus didalam hati dan pikirannya. Sehingga ia sangat tidak menginginkan, jika sesuatu yang buruk menimpa orang lain tersebut. Dari sinilah ketakutan itu bermula, rasa memiliki sesuatu yang berada diluar dirinya sendiri, yakni rasa memiliki orang lain. Adalah sah apabila seseorang merasa takut kalau-kalau sesuatu terjadi pada kekasih yang dicintai-nya, adalah juga sah apabila seseorang merasa takut jika sesuatu terjadi pada anak yang disayanginya dan sangat-lah beralasan ketika seseorang merasa takut akan sesuatu yang bakal terjadi menimpa saudara yang dihormati-nya. Namun ketakutan itu tetaplah tidak boleh berlebihan. Karena dengan logika yang sangat sederhana, rasa memiliki yang terlalu berlebihan, menjadikan ruang didalam hati dan pikiran menjadi benar-benar kosong ketika apa-apa yang dimiliki tersebut tiba-tiba hilang. Keadaan kosong seperti inilah yang semestinya dihindari oleh setiap orang. Keadaaan ini membuat pelaku-nya hanya mengingat-ingat rasa memiliki itu secara terus menerus, padahal apa-apa yang dimiliki-nya itu kini telah hilang. Disisi lain, ia harus terus hidup dan meneruskan perjalanan-nya tanpa terhenti hanya karena ada sebuah kekosongan didalam ruang hati dan pikiran-nya.</p>
<p>Kalau sudah begitu, hanya kalimat-kalimat yang menenangkan yang mampu membuat seseorang kembali mau meneruskan perjalanan-nya. Kalimat “bukan salah-mu, jika kebenaran terlalu lama terungkap!” untuk sebagian orang mungkin harus diganti menjadi, “bukan salahmu, jika ketakutan itu benar-benar menjadi kenyataan!”. Dengan konsekuensi tanpa mengkambing-hitamkan siapapun atas ketakutan-ketakutan yang kemudian menjadi kenyataan tersebut.<br />
Wallahu’alam wallahul must’an.</p>
<p>09 januari 2009<br />
Pasar Minggu, Jakarta Selatan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-salah-mu-jika-kebenaran-terlalu-lama-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Dia Tidak Menyiakan Kita</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-dia-tidak-menyiakan-kita/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-dia-tidak-menyiakan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:47:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Fisika]]></category>
		<category><![CDATA[Wisuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/11/27/karena-dia-tidak-menyiakan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Selamat atas pelantikan wisuda sarjana Fisika FMIPA UNPAD
 
Priambudi
Haeruman
Eko Hermawan
Yus Asmara
Mahfud Hidayat
Andi Anwaruddin Fuadi
Aji Tri Wibowo
Semoga tercapai segala yang dicita-citakan. Amin
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat atas pelantikan wisuda sarjana Fisika FMIPA UNPAD</p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_94" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><em><em><img class="size-full wp-image-94" title="Wisuda" src="http://rumahkerja.org/wp-content/uploads/2008/11/wisuda_BL.jpg" alt="Penyematan" width="300" height="201" /></em></em><p class="wp-caption-text">Penyematan</p></div>
<p><em>Priambudi</em><br />
<em>Haeruman</em><br />
<em>Eko Hermawan</em><br />
<em>Yus Asmara</em><br />
<em>Mahfud Hidayat</em><br />
<em>Andi Anwaruddin Fuadi</em><br />
<em>Aji Tri Wibowo</em></p>
<p>Semoga tercapai segala yang dicita-citakan. Amin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-dia-tidak-menyiakan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan berpikir, haruskah?</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-berpikir-haruskah/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-berpikir-haruskah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 16:36:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/30/kekuatan-berpikir-haruskah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : m. muhadzis g.
  Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Oleh : m. muhadzis g.</p>
<p>  Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian. Tak terbatas pada penyelesaian yang ada didepan mata saja tetapi juga penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang lebih jauh lagi berada didepannya. Kekuatan berpikir telah menjadi semacam sinyal yang tak samar bagi sebagian orang dalam menyetujui tindakan seseorang. Kekuatan berpikir seseorang juga telah didapati mampu mengambil hati dan pikiran sebagian orang lain. Betapa magnet kekuatan berpikir ini diketahui begitu besarnya dalam menarik massa. Sehingga sulit didapatkan siapa-siapa saja yang tidak ikut tertarik kedalamnya. Kalau pun ada, mungkin ia akan disebut sebagai orang yang tidak berpikir.<br /> Telah disepakati sebelumnya, bahwa kekuatan hanya dapat diperoleh melalui latihan-latihan. Beberapa metode latihan pun senantiasa dicoba-terapkan untuk dapat mencapai kekuatan. Karena sebelumnya telah pula disadari, bahwa tidak ada sesuatu pun yang datang secara tiba-tiba. Segalanya membutuhkan proses. Dalam bahasa yang lebih sederhana, &ldquo;segala sesuatu ada waktunya&rdquo;. Penempaan terhadap sesuatu ini, yang kemudian diyakini, mesti dilakukan sejak dini. Karena sesuatu yang kuat, dipercaya kelak menjadi warisan yang tak akan pernah terabaikan. Sesuatu yang kuat adalah harapan dan mimpi-mimpi setiap bayi yang baru lahir. Seperti juga kekuatan seorang Ibu ketika menyapih anak yang masih kecil supaya tumbuh besar.<br />   Dan ketika telah dimafhumi hal-ihwal warisan, cara berpikir-lah yang selalu menjadi perhatian serius. Cara berpikir harus selalu diwariskan, begitulah yang terjadi. Kecenderungan melenceng dari cara berpikir adalah kecenderungan yang senantiasa diwaspadai. Sedikit saja berbelok, maka rusaklah tatanan yang telah dibangun kokoh. Dan tidak ada seorang pembangun pun yang menginginkan bangunannya roboh. Namun yang patut disayangkan, kadang kala terjadi pemaksaan terhadap cara berpikir seseorang. Pemaksaan seperti itulah yang semestinya disepakati-ulang. <br />     Adalah sah apabila pemaksaan tersebut memang ditujukan untuk hal-hal yang benar dan mulia. Sebab setiap kerusakan harus ditangani sesegera mungkin, sebelum segalanya menjadi terlambat dan tidak bisa lagi diperbaiki. Sebelum hal-hal yang benar lagi mulia itu hablur dan terdeviasi, pemaksaan adalah satu-satunya kata-kunci untuk menutup kembali lubang-lubang kerusakan. Pemaksaan untuk sebuah kebenaran adalah juga kebenaran itu sendiri. Namun akan lain lagi ceritanya, apabila pemaksaan tersebut diterapkan pada orang-orang yang memiliki kekuatan berpikir. Semakin dipaksa, mereka akan semakin kuat. Semakin ditekan, mereka akan semakin mempertanyakan. Semakin dihadang, mereka akan semakin membangkang. Pemaksaan, di tempat yang seperti ini, menemukan rintangannya. Kalau sudah demikian keadaannya, perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi yang sejatinya dilakukan untuk sebuah kebenaran, hanya akan seperti makan hati lalu pulang dengan menelan ludah sendiri yang terasa semakin pahit. Perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi tak akan berguna lagi, kecuali bagi yang memang ingin men-terkenal-kan diri mungkin. &nbsp;<br />   Hanya butuh sedikit waktu<br />      Tidak banyak sebenarnya yang diminta oleh suatu kejelasan. Untuk apapun, dengan argumen apapun niscaya tampak hakikat kebenaran. Dan itulah suatu kejelasan yang terberikan. Itu pulalah yang merupakan kepuasan akal. Sayangnya, kekuatan berpikir kadang kala malah memburamkan makna yang telah jelas. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat malah menghancurkan hakikat itu sendiri. Tindakan-tindakan merombak kebenaran, guna mendapatkan kebenaran-kebenaran baru untuk diyakini, cenderung membingungkan dan pada akhirnya malah memusnahkan tatanan yang telah ajeg dan jelas. Padahal, ketika ke-musnah-an terjadi, tidak akan ada yang bersedia untuk dipersalahkan. <br />     Jika memang didapati ada beberapa individu yang memiliki motivasi bongkar-pasang kebenaran, maka sudah selayaknya, ada individu-individu lain sebagai penyeimbang. Individu-individu yang tetap berada diatas jalannya, yang diyakini perjalanannya adalah juga sebuah kebenaran, tidak mudah goyah oleh angin kerusakan dan tidak rentan tersengat zaman. Individu-individu penyeimbang ini bisa jadi ada dimana saja dan datang darimana saja. Persoalannya, dimana mencari individu-individu penyeimbang ini?. Sedangkan, individu yang bongkar-pasang kebenaran dan individu penyeimbang-nya, seringkali didapati bahwa kedua-duanya adalah pencari kebenaran. Seringkali juga, adanya semacam pengakuan, bahwa kedua-duanya adalah orang-orang yang sedang mencari kebenaran.<br />   Hanya butuh sedikit waktu, untuk penampakan hakikat kebenaran. Dan memang, waktu tersebut, tidaklah banyak. Namun, kekuatan berpikir acapkali tak menyadari waktu, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Jarang sekali disadari, bahwa ada yang disebut dengan waktu renggang atau waktu relaksasi, yang seharusnya dimiliki oleh kekuatan berpikir itu sendiri sebenarnya. Dimana waktu relaksasi ini berfungsi sebagai pen-stabil kekuatan berpikir. Yaitu, agar (kekuatan berpikir) ini tidak anjlok kembali pada nadir kelemahannya secara tiba-tiba. Patut diketahui, bahwa ketergesa-gesaan adalah sebenar-benarnya musuh yang harus dihindari, kecuali untuk hal-hal tertentu yang telah disepakati, ketergesa-gesaan merupakan suatu keharusan, namun hal-hal tertentu ini (ketergesa-gesaan yang merupakan keharusan) jumlahnya sedikit sekali. Jadi, pada asalnya, ketergesa-gesaan haruslah dihindari. Sebisa mungkin untuk terlihatnya hakikat kebenaran. Dan itu berarti hanya butuh sedikit waktu. <br />     Disinilah perdebatan yang tak akan pernah berhenti itu, yakni, ketika kekuatan berpikir dihadapkan pada &ldquo;kekuatannya&rdquo; yang optimal, ketika kekuatan berpikir mesti &ldquo;berpikir&rdquo; sekeras mungkin, ketika kekuatan berpikir &ldquo;hanya&rdquo; harus menghadapi dua pilihan, menunggu atau terus bergerak melaju. Ketika itulah, kekuatan berpikir harus menyerah tanpa daya pada apa-apa yang tak pernah terpikirkan. Tanpa pemaksaan dan tanpa kekuatan. Karena siapa tahu, bahwa menyerah adalah juga termasuk kedalam kekuatan berpikir. </p>
<p>   Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.<br />   Cibeusi, jatinangor 30.06.2008</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-berpikir-haruskah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekinian, “proses” yang melelahkan dan me”lena”kan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 15:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kekinian]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/24/p26/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : m. muhadzis g.
Membicarakan waktu, berarti membicarakan sesuatu. Sesuatu yang empirik maupun sesuatu yang khayal, keduanya masih selalu saja dipertimbangkan. Dan keduanya, tidak akan berhenti untuk selalu dijadikan acuan, sampai waktu itu sendiri yang benar-benar menghentikannya. Sebagian individu membutuhkan kalkulasi -secermat mungkin- sebagai teman setia untuk mendampingi usia. Sebagian yang lain -lebih- membutuhkan mimpi-mimpi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : m. muhadzis g.</p>
<p>Membicarakan waktu, berarti membicarakan sesuatu. Sesuatu yang empirik maupun sesuatu yang khayal, keduanya masih selalu saja dipertimbangkan. Dan keduanya, tidak akan berhenti untuk selalu dijadikan acuan, sampai waktu itu sendiri yang benar-benar menghentikannya. Sebagian individu membutuhkan kalkulasi -secermat mungkin- sebagai teman setia untuk mendampingi usia. Sebagian yang lain -lebih- membutuhkan mimpi-mimpi daripada realita dalam menghabiskan umurnya. Sebagian yang lain lagi justru tak tahu-menahu apa-apa saja yang dibutuhkan guna menghadapi waktu.</p>
<p>Telah banyak yang menggali peristiwa-peristiwa di waktu lampau. Ada yang mencatatkannya -dalam bentuk apapun- sehingga peristiwa-peristiwa itu akan selalu diingat oleh orang-orang yang melihat catatan-catatan tersebut -termasuk pencatatnya sendiri-, ada pula yang hanya cukup menyimpannya didalam kepala kemudian membicarakannya kepada orang lain agar peristiwa-peristiwa itu terus tersimpan didalam kepalanya dan kepala orang lain, ada lagi yang menyimpannya didalam kepala, meresapkannya kedalam hati, membicarakannya lalu mengimplementasikannya dalam tingkah laku sehingga peristiwa-peristiwa itu terus-menerus terjadi, sehingga peristiwa-peristiwa itu terus menerus berulang dan tidak lagi mengenal waktu.<br />
Peristiwa-peristiwa di waktu lampau, entah itu yang baik atau yang buruk, senantiasa menjadi sandaran bagi seseorang untuk berpijak sebelum bergerak. Baik atau buruk lebih mudah didapat daripada benar atau salah. Seringkali seseorang mendapati sesuatu yang ada saat ini, telah pernah ada juga di waktu lampau. Kemudian ia mendapati bahwa hal itu baik, menurut saat ini dan juga menurut waktu lampau. Tetapi kemudian, apakah hal itu benar? Mengingat kebenaran selalu saja merupakan sebuah pendekatan. Sedangkan kebaikan selalu saja lebih mampu untuk diamini, oleh saat ini dan oleh waktu lampau, yang kemudian diyakini dan tidak lagi menjadi sebuah pendekatan. Dan dimanakah posisi kebaikan jika dibandingkan dengan kebenaran? Lalu, jika sudah memandang peristiwa-peristiwa di waktu lampau, apa yang semestinya terlebih dahulu diyakini, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu memiliki nilai, yang mana yang lebih tinggi nilainya, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu layak untuk dipertahankan, yang mana yang seharusnya lebih dulu untuk dipertahankan, kebaikannya ataukah kebenarannya?</p>
<p>Adapun kaitan suatu peristiwa dengan individu, karena ada saja sebagian individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, maka yang akan terjadi adalah sebuah perkenalan, yang sebetulnya telah ada latar belakang yang kuat lebih dulu sebelumnya. Bisa jadi karena sejarah atau malah karena ingin membuat sejarah. Perkenalan inilah yang kemudian menjadi sebuah tanda pengenal bagi individu dan suatu peristiwa. Baik itu menjadi tanda pengenal bagi individu dengan suatu peristiwa maupun tanda pengenal bagi suatu peristiwa dengan individu. Sebaliknya, tentang individu yang selalu saja tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, itu berarti individu tersebut yang telah menjadi tanda pengenal untuk dirinya sendiri. Tanpa membutuhkan suatu peristiwa apapun.</p>
<p>Akan selalu ada kelelahan bagi individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Namun akan ada kelelahan yang lebih besar lagi bagi individu yang selalu tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Pencapaian masing-masing individu akan selalu tergantung dari motivasi masing-masing individu -dengan mengesampingkan pengakuan yang biasanya akan tampak sebelumnya-. Dan pencapaian inilah yang semestinya tidak disamaratakan pada semua individu. Dan itu berarti sangat jelas, bahwa pencapaian masing-masing individu akan sangat berbeda. Dan terkait kelelahan masing-masing individu, itu berarti lagi, tidak bisa disamaratakan, bahwa kelelahan masing-masing individu akan sangat berbeda.</p>
<p><em>Sesuatu Yang Fundamental</em><br />
Sesuatu yang fundamental kerap menjadi batu sandungan bagi kekinian. Saling menjatuhkan adalah adegan yang sepertinya harus selalu dimainkan oleh keduanya. Sesuatu yang fundamental sepertinya harus selalu memainkan drama tragis sedangkan kekinian lebih memilih komedi -terlepas dari satiris atau absurditas-. Giliran waktu yang mencatatkannya. Ketika “ada drama” yang diketahui, kejujuran akan terungkap, akan ada pilihan bagi individu untuk berada disisi yang mana. Klimaks mesti terjadi. Penonton adalah juga yang ditonton. Namun, ketika peperangan telah disadari menghasilkan sesuatu, -air mata, darah atau kemenangan yang membahagiakan- benih-benih fundamental tumbuh lagi dan kekinian masih akan selalu menyelimutinya. “Proses” terjadi lagi. Waktu dibicarakan lagi.</p>
<p>Sesuatu yang fundamental harus mampu diyakini secara empirik. Harus ada kalkulasi yang tidak bisa dipatahkan oleh kalkulasi lain yang datang setelahnya. Ketika kalkulasi yang telah diyakini mampu dipatahkan oleh kalkulasi lain, maka seketika itu juga kalkulasi yang baru ini membutuhkan waktu agar mampu diyakini.</p>
<p>Sesuatu yang fundamental yang mencatat waktu. Setiap keadaan mampu diramalkan awal dan akhirnya. Sesuatu yang fundamental melihat semesta raya dan dirinya sendiri. Sesuatu yang fundamental cenderung ingin selalu menyingkap segala rahasia. Sedangkan kekinian, lebih mampu untuk menciptakan alat-alat yang mengagumkan mata. Rekayasa senantiasa terjadi. Keinginan terus berkembang seiring teknologi. Kekinian selalu berdalih tentang sesuatu yang ingin dicapai adalah harus lebih baik lagi dan lagi. Kekinian melupakan waktu. Dan ketika disadari bahwa sesuatu yang fundamental dan kekinian bergerak sendiri-sendiri, ternyata waktu juga punya pergerakannya sendiri. Pergerakannya mengabaikan keduanya. Pergerakan waktu menghancurkan sesuatu yang fundamental dan kekinian. Dan yang tertinggal hanyalah catatan-catatan. Sesuatu yang fundamental meninggalkan catatan-catatan berupa kalkulasi-kalkulasi dengan segala kronologi perubahannya. Sedangkan, kekinian meninggalkan catatan-catatan berupa alat-alat dan hasil teknologi. Namun, siapa yang akan menemukan catatan-catatan tersebut kalau ternyata waktu benar-benar berhenti.</p>
<p>Wallahu’alam wallahulmusta’an.<br />
Cibeusi, jatinangor</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekinian-proses-yang-melelahkan-dan-melenakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyuntingan : [mungkin] sebuah konsep</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/penyuntingan-mungkin-sebuah-konsep/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/penyuntingan-mungkin-sebuah-konsep/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 11:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Konsep]]></category>
		<category><![CDATA[Penyuntingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/21/penyuntingan-mungkin-sebuah-konsep/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : firdaus a.
Saya hadiahkan anda dengan sebuah permintaan maaf sebelumnya. Karena mungkin, sedikit tersentak jika tiba-tiba harus membicarakan tutorial-like article yang mungkin sebelumnya belum pernah saya tulis. Tapi ini hanya sebuah konsep, yang sebagian orang dianggap mewakili kata dasar tapi sebagian lain juga mengartikannya dengan permulaan.&#160;
Jika kita pilih kata &#34;dasar&#34; maka semuanya seperti sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : firdaus a.</p>
<p>Saya hadiahkan anda dengan sebuah permintaan maaf sebelumnya. Karena mungkin, sedikit tersentak jika tiba-tiba harus membicarakan <em>tutorial-like</em> <em>article</em> yang mungkin sebelumnya belum pernah saya tulis. Tapi ini hanya sebuah konsep, yang sebagian orang dianggap mewakili kata dasar tapi sebagian lain juga mengartikannya dengan permulaan.&nbsp;</p>
<p>Jika kita pilih kata &quot;dasar&quot; maka semuanya seperti sangat rumit sehingga harus dibangun dengan pondasi yang kuat, baru kemudian sebuah bangunan bisa dikatakan &quot;terbangun&quot;. Tapi kemudian jika kita pilih kata yang lainnya yaitu &quot;permulaan&quot;, maka pengaruh kuat rumitnya sebuah ilmu, akan tiba-tiba menghilang. Seperti halnya, bagaimana cara SAYA menulis secara pribadi, tidak saya awali dengan dasar yang baik, hingga kata maaf di awal tulisan inipun harus saja terlontar. Dan kemudian memang harus dimaafkan, mau atau enggan sekalipun.</p>
<p>Akan terlalu rumit jika pembahasan kita kerucutkan pada satu atau media tertentu, itu sudah (setidaknya sempat) saya pikirkan sebelumnya. Pembicaraan yang &quot;sempit&quot; justru akan terasa &quot;luas&quot;. Pengkotak-kotakan bahasan tanpa didahului sebuah konsep, justru akan membawa kita pada area bicara yang seperti tanpa batas. Mana kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah, seperti.. saya katakan &quot;seperti&quot; yang hilang. Kemungkinan terbaiknya hanya &quot;kabur&quot;, &quot;kurang jelas&quot;. Tapi ini akan semakin menyebabkan tujuan pembicaraan semakin hilang -sama sekali.</p>
<p>Melakukan penyuntingan -setidaknya menurut saya, adalah seperti gerbang terakhir (gerbang, tapi terakhir) menuju terbebasnya sebuah karya seseorang (apapun namanya, sesuai medianya) dari kurungan imajinasi dalam lingkup pembuatnya. Ia adalah seperti penerjemah, yang melakukan manipulasi untuk perkerjaannya, tapi dengan syarat, diketahui oleh pemilik bahasa yang sedang Ia terjemahkan. Menyunting sama sekali bukan memperbaiki keburukan, menyunting bukan melengkapi kekurangan. Menyunting adalah mempersiapkan kemasan, yang dengan kemasan itu, semakin muncullah apa yang sedang berada didalamnya. Jika harus berbicara konsep, maka itulah penyuntingan. Setidaknya menurut saya (sekali lagi).</p>
<p>Semoga, kita tidak saling ber&#8217;adu&#8217; makna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/penyuntingan-mungkin-sebuah-konsep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena kita (memang) tak boleh tertidur (terlalu) nyenyak</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 05:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/16/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.
Begini saudaraku…
suatu ketika seseorang berkata kepada anak-nya yang masih kecil : “bukan naik pohon-nya yang tidak boleh, tetapi jatuh-nya itu yang jangan”. Anak kecil tersebut, saat itu juga tidak jadi naik pohon. Jeda. Waktu lewat.
Setelah beberapa hari, anak kecil tersebut, menaiki pohon dan karena memang seseorang yang menasehatinya tadi, saat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : moch. Muhadzis g.</p>
<p>Begini saudaraku…<br />
suatu ketika seseorang berkata kepada anak-nya yang masih kecil : “bukan naik pohon-nya yang tidak boleh, tetapi jatuh-nya itu yang jangan”. Anak kecil tersebut, saat itu juga tidak jadi naik pohon. Jeda. Waktu lewat.</p>
<p>Setelah beberapa hari, anak kecil tersebut, menaiki pohon dan karena memang seseorang yang menasehatinya tadi, saat itu sedang tidur siang. Ia pun memberanikan diri menaiki pohon. Sebenarnya ia bukan tipe anak kecil yang sering melupakan nasehat. Dengan sangat hati-hati, dahan demi dahan ia lewati. Lagi dan lagi. Terus menuju keatas sampai  ke dahan yang paling kecil. Ketika sudah sampai didahan yang paling atas ia pun merasa gembira. Angin kencang menerpa wajahnya. Disudut bibirnya terselip sebuah senyuman kecil, walaupun sebenarnya lebih mirip seperti sebuah tawa kemenangan. Sesekali tubuhnya ikut goyang bersama dahan yang ia pegang. Dan ia menikmatinya. Ia tujukan matanya kemanapun ia mau. Ia semakin gembira karena di puncak pohon ini ia mampu melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya ia lihat. Sudut pandang dari sebuah ketinggian. Ada rasa puas dalam hatinya.<br />
Setelah beberapa saat, akhirnya ia pun merasa bosan, dan ketika matanya vertikal melihat kebawah, seketika itu juga rasa takut menyergap, menyelimuti pikirannya. Sekarang, matanya ia pejamkan dengan paksa namun tangannya semakin erat memegangi dahan. Tubuhnya pun ia lebih rapatkan lagi ke dahan. Keringat dingin mulai menggenangi seluruh bagian tubuhnya. Bermacam bayangan melintas di kepalanya. Ia takut untuk turun. Ia takut terjatuh. Ia takut mati.</p>
<p>Cukup lama ia mematung di puncak pohon sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka matanya. Ia harus turun. Ia tidak betah berada di puncak. Ia longgarkan pegangan tangannya. Tubuhnya mulai punya jarak dengan dahan. Tidak lagi rapat. Perlahan, ia turunkan kakinya kemudian tubuhnya. Kakinya yang lebih dulu meraba-raba dahan. Yang besar dan kuat yang ia pijak. Namun ia tidak mau melihat kebawah. Matanya kali ini ia paksa untuk hanya melihat dahan yang pernah ia lewati. Dahan yang pasti yang akan ia lewati lagi. Jalan yang sama seperti tadi ketika ia naik. -maaf, saya tadi pergi ke tempat pangkas rambut dulu, memangkas rambut saya yang sudah kurang lebih enam tahun tak dipangkas…ya… sudah, dan segala puji hanya bagi-Nya-. Ia hanya percaya pada ingatannya. Ia hanya ingin melewati dahan-dahan yang tadi ia gunakan untuk naik. Meskipun sekarang ia mendapati ada banyak dahan yang tidak ia kenali untuk turun. Jalan dahan yang sepertinya “bisa lebih menyelamatkan” untuk turun. Namun ia bersikukuh melewati jalan dahan yang ada dalam ingatannya. Ia meyakini bahwa hanya ingatannyalah yang mampu menjadi penyelamat. Ia terus turun dan turun.<br />
Dan, ketika sudah setengah perjalanan, setengah dari puncak dan setengah dari tanah, entah mengapa ia seperti kehilangan konsentrasi. Kakinya tiba-tiba sama sekali tidak menjejak dahan, hanya udara, tangannya yang tadinya mencengkeram tiba-tiba terlepas dari dahan, dan badannya seperti dipaksa untuk hilang keseimbangan. Ia tak mampu mengingat apa-apa lagi. Ia tak mampu melihat apa-apa. Ia terjatuh. Selama beberapa saat ia tergolek di tanah. Ia pingsan.</p>
<p>Ketika terbangun, ia tak mendapati siapapun disana. Hanya ada dirinya dan pohon. Ia berdiri, melihat ke sekeliling, melihat ke puncak pohon, melihat ke tanah tempatnya berpijak. Selama beberapa saat ia hanya terdiam. Dan lalu, sedikit berlari ia masuk kedalam rumah. Menuju kamar lalu ia pun memaksakan diri untuk tidur siang. Dan akhirnya, anak kecil itu pun tertidur siang itu.</p>
<p>Saudaraku… entahlah… mungkin bagian akhir cerita diatas tidaklah terlalu nyata, mungkin ada yang ditambahkan, mungkin ada yang dilebih-lebihkan, entahlah… saya tak terlalu jelas mengingatnya. Namun satu hal, saya memerlukan cerita tersebut untuk mengetahui siapa diri saya. Dan menurut saya, kita memang perlu untuk mengetahui siapa diri kita.<br />
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri ini selalu saja mengajarkan kejahatan, bahwa diri ini selalu saja ingin terhindar dari siksaan, bahwa diri ini enggan merasakan kepedihan, bahwa diri ini ingin selalu meraih apa yang terlihat oleh mata, bahwa diri ini enggan menjamah wilayah rasa sakit sedikitpun.<br />
Saudaraku… ketahuilah… saya bukan menganjurkan untuk menyiksa diri. Saya tidak menganjurkan untuk menyakiti diri sendiri. Bukan dan tidak. Ketahuilah… rasa sakit untuk sebuah keyakinan adalah harapan untuk sebuah kebahagiaan.<br />
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri senantiasa mencari-cari sekutu untuk dapat mewujudkan hasrat dan keinginannya, bahwa kejahatan itu membutuhkan teman, bahwa kekejian itu seringkali berada dalam kelompok-kelompok, bahwa diri akan dengan mudah mengatakan “ya” untuk sesuatu yang memang terlihat mudah untuk dilakukan, bahwa diri akan sulit mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang memang terlihat menyenangkan.<br />
Saudaraku… ketahuilah… mungkin kita boleh memusuhi diri sendiri, tapi kita tetap tidak boleh mencelanya. Ketahuilah… bahwa diri harus kita didik tanpa henti. Tidak bisa tidak, bahwa diri harus ditaklukan dengan kurikulum kebenaran. Ketahuilah… bahwa diri tidak boleh dibiarkan terlalu liar menawar-nawar.<br />
Saudaraku… ketahuilah… mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan segera menyerahkannya pada sesuatu yang kau anggap agung. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan membenarkan segala yang benar dan menyalahkan segala yang salah. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan semakin sedikit berbicara. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan selalu mengingat  sesuatu yang paling penting yang berada diluar diri.<br />
Wallahu’alam wallahulmusta’an.</p>
<p>Cibeusi, jatinangor, 2:00 AM, senin 16 juni 2008 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/karena-kita-memang-tak-boleh-tertidur-terlalu-nyenyak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grass Root</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/grass-root/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/grass-root/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 02:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Akar Rumput]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/07/grass-root/</guid>
		<description><![CDATA[ oleh : moch. Muhadzis g. 
Maaf sebelumnya, saya tak akan membahas judul diatas secara istilah atau bahasa atau bahkan politik. Tidak kearah sana pembicaraan kita mungkin. Sebuah jalan, saya kira merupakan juga sebuah pilihan. Dari mana seseorang akan memulai dan dimana sekiranya tujuan dapat tercapai. Mulailah dari sesuatu yang sederhana, begitu yang saya ingat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"> oleh : moch. Muhadzis g.<br /> 
<p class="Standard"><span>Maaf sebelumnya, saya tak akan membahas judul diatas secara istilah atau bahasa atau bahkan politik. Tidak kearah sana <strong>pembicaraan</strong> kita mungkin. Sebuah jalan, saya kira merupakan juga sebuah pilihan. Dari mana seseorang akan memulai dan dimana sekiranya tujuan dapat tercapai. <em>Mulailah dari sesuatu yang sederhana</em>, begitu yang saya ingat dari seseorang yang saya tidak terlalu mengenalnya. Sudah terlalu banyak yang <strong>bergerak</strong> dengan lebih dulu berteriak, bukan menelaah segala sesuatu-nya terlebih dahulu. Terlalu sering kita mendapati pergerakan yang mengesampingkan <strong>kejernihan pemikiran</strong>. Sebagian dari kita masih terlalu silau dengan iming-iming. Kegemerlapan acapkali menjadi harapan. Maaf lagi, bukan berarti saya <em>anti kemapanan</em>, tidak.</span></p>
<p class="Standard"><em><span>Kalau kau merasa pintar, jangan pernah membohongi orang lain</span></em><span>, begitu kata Ibu. Bagi saya pengetahuan adalah mata air atau malah cahaya -ketika listrik padam misalnya-. Mata air untuk kering dan tandus-nya ladang pikiran. Pengetahuan menjadi sesuatu yang basah -maaf, jangan mengartikannya dengan uang atau jabatan- dan menyegarkan. Atau cahaya, ketika kedua bola mata terselimuti gelapnya <strong>dogma</strong>, pengetahuan menjadi seberkas, dua berkas atau bahkan ribuan berkas cahaya terang yang mampu menuntun jalan seseorang. Apapun itu, mata air atau cahaya, pengetahuan tetap akan menjadi sebuah jalan malahan. Tidak akan dapat dikesampingkan bahwa pengetahuan-lah yang selalu menjadi <strong>pioneer</strong> atas tiap-tiap bangunan. Pengetahuan adalah pondasi kokoh yang keberadaan-nya haruslah <strong>diamini</strong> dengan pernyataan dan perbuatan. </span></p>
<p class="Standard"><span>Dan tugas siapakah agar pengetahuan itu sampai? Atau, tugas siapakah untuk membuat jalan pengetahuan? Lalu siapakah yang berhak atau tidak berhak memperoleh pengetahuan? Apakah semua orang berhak? Bagaimana kalau ternyata didapati ada &ldquo;orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan&rdquo;? Mungkinkah bahwa pengetahuan itu bisa saja dipaksakan? Atau mungkin lebih baik dibiarkan saja &#8211; toh&#8230; pengetahuan selalu mempunyai tujuan-? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah ada akan terus ada. Terlepas dari segala persoalan tugas, hak atau kewajiban, pengetahuan seringkali menjelma asas yang dijadikan <strong>perisai</strong> atas pertanyaan dari asas kemanusiaan yang lain -tidak semua memang, tapi hal itu ada-. Perbenturan ini kerap terjadi manakala asas (pengetahuan) yang telah mapan bertemu dengan asas kemanusiaan yang telah lebih dulu diyakini. Dan siapakah pemenang-nya? Saya sendiri tidak punya jawabannya. Tapi pergulatan itu terus saja ada. Dan mungkin saja memang akan terus ada. Pergulatan di wilayah kontekstual tidak masalah saya kira, namun jika pergulatan itu <strong>berimbas</strong> pada &ldquo;orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan&rdquo; bagaimana jadinya? Siapa yang mau bertanggung-jawab atas kebodohan orang lain? Tidak ada? Kalau begitu, jangan pernah membohongi orang lain.</span></p>
<p class="Standard"><span>Bisa jadi, ada yang harus dilepaskan dari kepala saya ihwal pengertian pengetahuan itu sendiri. Sebab ada, saya kira yang mengesampingkan pengetahuan dengan lebih dahulu mengedepankan pengalaman. Mereka lebih cenderung untuk mengambil sesuatu dari apa yang telah dialaminya sendiri, daripada&nbsp; mengambil sesuatu tersebut dari buku-buku atau orang lain. Dan tentu saja setelahnya mereka akan menyebut hal itu sebagai pengetahuan. Apakah hal tersebut bisa disalahkan? Bisa ya, bisa juga tidak. Kapan keduanya ditempatkan, itulah saya kira yang paling penting, itulah hal yang paling sulit, <strong>penempatan</strong>. Kapan saatnya mengambil pengetahuan dan kapan saatnya mengambil pengalaman. Saya tidak mengesampingkan praktik, justru sebelum praktik itu dimulailah, penempatan pengetahuan atau pengalaman menjadi hal yang penting.</span></p>
<p class="Standard"><span>Akan dengan mudah dikatakan, &ldquo;jalankan saja keduanya secara bersamaan!&rdquo;. Sampai saat menuliskan ini, saya berani menjawab, &ldquo;tidak bisa!&rdquo;, salah satunya harus <strong>dikorbankan</strong>, sebab pada waktu yang bersamaan, tidak mungkin keduanya <strong>hadir</strong>. Kecuali jika saya adalah seorang <em>plagiat murni</em> yang tak punya pendirian. Dan tidak seorang pun saya kira yang ingin disebut sebagai plagiat apalagi dengan akhiran murni. Alangkah beruntung, seseorang yang mampu menempatkan pengetahuan dan pengalaman dengan benar. Waktunya tepat, hasilnya sesuai, kesalahan <strong>terminimalisasi</strong> dan segalanya menjadi lebih terstruktur. </span></p>
<p class="Standard"><span>Bagaimana halnya dengan hubungan antar individu? Bagaimana jika dalam sebuah kelompok individu terdapat perbedaan yang tajam antara pengetahuan dan pengalaman? Masing-masing mengusung sampai ujung apa yang diyakininya? Disinilah <strong>sikap</strong> yang<strong> </strong>bermain, <strong>toleransi</strong> merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Toleransi tidak bisa lagi dirombak pengertiannya jika telah ditemukan dua perbedaan yang tajam. Ketika toleransi telah dirombak, fisik atau tubuh individu-lah yang akan menjadi terlukai, tersakiti dan maaf, sangat mungkin, berdarah-darah. Kecuali hal tersebut yang diinginkan -berdarah-darah-, toleransi dapat saja dikubur dan dibuang jauh-jauh. Batas toleransi individu akan senantiasa berbeda jika sudah dihubungkan dengan sesuatu yang <strong>transenden</strong>. Itu urusan lain, saya kira. Hubungan antar individu sudah tak lagi diutamakan. Pengetahuan dan pengalaman mempunyai tujuan-nya sendiri, yang tidak lain berada diluar individu. Disini individu telah menjadi alat, dan dengan kerelaan, individu telah bersedia menjadi alat. Individu menjadi alat pengetahuan dan atau pengalaman yang paling setia. Kalau memang ini yang diinginkan, sebaiknya saya dan individu-individu yang lain sudah harus mulai berdo&#8217;a.</span></p>
<p class="Standard"><span>Siapa tahu saja semua pengertian saya diatas mampu <strong>menjungkir-balikkan</strong> pengertian pengetahuan ataupun pengalaman menjadi sesuatu yang lebih indah untuk dimaknai dan lebih mampu untuk diterima oleh individu-individu secara arif. Sedikit platonik, seandainya saja tidak ada satu pun yang terlupakan baik dari pengetahuan maupun pengalaman, mungkin tidak akan ada perbedaan tajam yang acapkali melahirkan kekerasan. </span></p>
<p class="Standard"><span>Sampai saat ini, saya masih setuju bahwa <em>pembentukan kecenderungan individu</em>, baik kearah pengetahuan maupun kearah pengalaman, harus dimulai dari lingkungan terkecil dimana individu berada, dimana individu terbentuk dalam kelompok-kelompok terkecilnya. <em>Dibiarkan mencari bentuknya yang paling sesuai disana</em>. Prosesnya lama memang, dan selalu berjalan lambat, tapi saya kira itu lebih baik daripada bergerak massif terlalu <strong>pro-aktif</strong> yang akan melahirkan penyesalan-penyesalan di kemudian hari.</span></p>
<p class="Standard"><span>Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</span></p>
<p class="Standard"><span>&nbsp;</span></p>
<p>   <span>Jatinangor, june 07 2008.</span>    </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/grass-root/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persoalan hidup dimulai ketika lahir dan berakhir ketika mati.</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 05:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/06/01/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.    

Bukanlah kebiasaan saya bermain dalam wilayah coba-coba. Seseorang menasehati saya, bahwa sebelum melakukan sesuatu, saya sudah harus tahu jalan keselamatannya terlebih dahulu. Konon, tersebutlah bermacam-macam pengaruh yang bakal menaungi seseorang selama hidupnya. Pengaruh itu kadang menjadi naungan yang teduh, disaat yang lain menjadi seperti perjalanan tanpa henti. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Oleh : moch. Muhadzis g.    </div>
<p align="justify" class="Standard"><img width="231" height="191" border="0" align="left" title="" alt="" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/baby.jpg" style="width: 231px; height: 191px;" /></p>
<p align="justify" class="Standard">Bukanlah kebiasaan saya bermain dalam <strong>wilayah</strong> coba-coba. Seseorang menasehati saya, bahwa sebelum melakukan sesuatu, saya sudah harus tahu jalan keselamatannya terlebih dahulu. Konon, tersebutlah bermacam-macam pengaruh yang bakal menaungi seseorang selama hidupnya. Pengaruh itu kadang menjadi naungan yang teduh, disaat yang lain menjadi seperti perjalanan tanpa henti. Sudah banyak saya kira yang menyebutkan hal serupa. Merombak kodrat bagi beberapa pejuang hidup, mungkin sebenarnya telah <strong>digariskan</strong> terlebih dahulu. Ketika mereka lahir, beberapa pejuang hidup yang lebih tua, telah mengetahuinya lebih dulu. Namun sesunguhnya ia (pejuang hidup yang lebih tua) pun tengah menunggu kematiannya sendiri. Sebab ia tahu pasti bahwa ia akan terganti. Setidaknya ia sudah melihat kelahiran yang akan menggantikan kematiannya -maaf, jerawat diujung hidung saya pecah ketika menuliskan ini-. </p>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Persoalan yang kemudian terjadi adalah akan adanya konflik -atau, seolah-olah konflik-, diantara pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua. Karena keduanya masih hidup, karena keduanya masih terus bergelut. Adalah mudah bagi pejuang yang lebih tua menyebutkan bahwa dirinya &ldquo;salah&rdquo; selama ini, dan itu, yang menjadi kesukaran untuk diterima oleh pejuang yang lebih muda. Karena mungkin pejuang yang lebih muda tidak mampu -atau belum mampu- melihatnya sebagai suatu kesalahan. Persoalan ini terus-menerus terjadi hingga hari ini. Saya kira sudah saatnya -maaf, saya harus ke belakang dulu, sebentar-, pejuang hidup yang baru tumbuh dan pejuang hidup yang lebih tua untuk hanya <strong>mengidolakan</strong> seseorang yang telah terkubur dalam tanah -jenazah/orang mati-. Kecemburuan kepada mereka (orang mati) <strong>haruslah lebih besar</strong> daripada kecemburuan -seekor lebah berputar sebentar diatas kepala saya, sehingga saya harus mengusirnya keluar terlebih dahulu, maaf- kepada yang masih hidup. Karena hanya orang mati yang pantas menjadi pelajaran bagi orang hidup. Tidak ada seorang pun yang masih hidup saat ini yang menginginkan kematian yang buruk. Dan itu berarti memang ada cara untuk menghindari kematian yang buruk. Saya kira ini bisa dipahami oleh pejuang yang lebih muda dan pejuang yang lebih tua. </p>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menghadapi kematian yang sudah pasti. Dan saya yakin setiap orang mengetahuinya -terlepas dari anggapan bahwa lupa adalah manusiawi-. Bahwa <strong>kehati-hatian</strong> menjadi kamus umum setiap orang untuk menjalani hidupnya. Saya kira pemahaman yang <em>lebih</em> bijaksana dari pejuang yang lebih tua akan mampu bersanding dengan semangat yang <em>lebih</em> membara dari pejuang yang lebih muda. Saya kira lagi, sudah saatnya berhenti untuk saling <strong>membutakan diri</strong> dari persoalan ini. Karena seorang pejuang hidup tidak pernah hidup&nbsp; untuk dirinya sendiri. Ia menanggungkan beban yang tidak ringan di pundaknya dengan berani. Walaupun ada yang memandang sebaliknya, tapi itu nanti, ketika pejuang-pejuang hidup itu telah benar-benar mati terkubur dalam tanah. Maka berjuanglah! Berjuanglah!</p>
<div align="justify">  </div>
<div align="justify">  </div>
<p align="justify" class="Standard">Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</p>
<div align="justify">    </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/persoalan-hidup-dimulai-ketika-lahir-dan-berakhir-ketika-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Berarti Saya Tak Punya Jawaban-nya.</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 05:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/05/31/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : moch. Muhadzis g.
Adalah menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi apabila tindakan seseorang &#8220;mampu&#8221; mencengangkan mata dan pandangan orang lain, diluar segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Dan tidaklah mustahil apabila hal tersebut mengundang reaksi dan kritik. Adalah juga hal yang wajar apabila seseorang tersebut sekarang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana dirinya teralienasi. Lalu, apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : moch. Muhadzis g.</em>
<p class="Standard"><em></em>Adalah menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi apabila tindakan seseorang &ldquo;mampu&rdquo; mencengangkan mata dan pandangan orang lain, diluar segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Dan tidaklah mustahil apabila hal tersebut mengundang reaksi dan kritik. Adalah juga hal yang wajar apabila seseorang tersebut sekarang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana dirinya teralienasi. Lalu, apakah alienasi tersebut muncul dari dirinya sendiri, dari orang lain atau dari sesuatu yang memang &ldquo;harus&rdquo; terjadi? Kalau sebuah ide dilontarkan kemudian dirasakan tidak menyenangkan, maka seseorang haruslah kemudian memikirkan-ulang tentang ide tersebut dan hubungannya dengan dirinya sendiri. Masih mampukah -atau sudah mampukah- ia berhadap-hadapan dengan ide tersebut dan segala turunannya? </p>
<p class="Standard">Saya mungkin mampu &ldquo;mengingat&rdquo; pada rasa perih para Nabi dan orang-orang shalih. Bagaimana cedera fisik menjadi ujian yang menjadi-jadi. Kalau persoalannya hanya dimusuhi, mereka masih akan mampu berdiri. Tapi ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu, <em>perselisihan dengan dirinya sendiri</em>, adalah sesuatu yang akan dikatakan <strong>tampak</strong> pada diri para Nabi dan orang-orang shalih. Dan bukankah itu, yang membuat mereka bersedih -dalam tataran sebagai manusia biasa-. Manusia akan menjauh darinya, manusia terbawa tuduhan-tuduhan, manusia semakin menjaga jarak, manusia mulai mencari-cari <strong>pembenaran</strong> dan berbagai macam hal yang serupa dengan itu, padahal&nbsp; para Nabi dan orang-orang shalih <em>menyayangi kemanusiaan lebih dari manusia pada biasanya</em>.&nbsp; Tapi apakah mereka benar-benar bersedih? Saya kira itu adalah penglihatan awam! Meski kadang-kadang juga merupakan penglihatan yang lebih kontekstual -sangat disayangkan-. Mereka yang yakin disebut sebagai orang yang ragu-ragu. Padahal para Nabi dan orang-orang shalih hanya ingin agar tidak hanya dirinya sendiri yang mampu&nbsp; &ldquo;menikmati&rdquo; kesedihan tersebut. Dan kesedihan yang dimaksud tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebahagiaan yang merupakan kebalikannya. Sebab kebahagiaan yang dimaksud pun sudah barang tentu merupakan kenikmatan yang berbeda antara para Nabi dan orang-orang shalih dengan manusia pada biasanya.</p>
<p class="Standard">Kalau sudah demikian, saya bertanya pada diri saya sendiri, dimanakah posisimu wahai diri? Sebelum menjawabnya, saya teringat pada pernyataan seorang kawan, &ldquo;jadi, apa yang harus dimengerti?&rdquo;. <em>Mengerti dirimu sendiri, mengerti <strong>zaman</strong> dimana kau hidup dan mengerti apa yang tengah kau persiapkan untuk pengertian yang telah kau mengerti</em>. Seandainya saya yang ditanya oleh kawan tersebut, saya akan lebih memilih diam, sebab sudah terlalu banyak pernyataan yang saya ucapkan, kemudian dimalam harinya saya menyesali pernyataan yang saya lontarkan, meskipun pernyataan tersebut akan dianggap sebagai kebenaran. Dari sini, mungkin sudah terlihat dimanakah posisi diri saya sendiri. Saya sama sekali tidak berhak menilai diri saya suci. Tidak sama sekali. Sebab setiap manusia memiliki mata, setiap manusia memiliki telinga dan setiap manusia memiliki hati. Dari situ segalanya menjadi sulit.</p>
<p class="Standard">Maaf, saya berbicara seolah-olah saya merupakan &ldquo;bagian lain&rdquo; dari manusia dan diri, tapi itulah, mungkin sedari sekarang kita sudah harus memikirkan apa yang tersembunyi dan apa yang tidak. Lalu bergegas mengambil langkah dengan keyakinan tentunya. Selamat bergegas!</p>
<p class="Standard">Wallahu&#8217;alam wallahulmusta&#8217;an.</p>
<p class="Standard">&nbsp;</p>
<p class="Standard">Jatinangor, 31 mei 2008&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/bukan-berarti-saya-tak-punya-jawaban-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejatinya kita memang harus menunggu</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 18:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Konsep]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/05/23/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/</guid>
		<description><![CDATA[Sangat bisa dimengerti, jika menunggu adalah seperti sebuah padanan korelatif dengan kebosanan, maka itu sedikitnya bisa dimengerti. walaupun sebenarnya tidak selalu bisa dibenarkan, karena ternyata -sesuai judul, Sejatinya kita memang harus menunggu.
Bisa dimengerti kan, ternyata lalu lalang kita di bumi milik Dia ini, hanya untuk sebuah perkara ‘kecil’ yaitu menunggu. Kepastian pasti muncul, hanya saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-sting.jpg" border="1" alt="" hspace="10" width="139" height="180" align="left" />Sangat bisa dimengerti, jika menunggu adalah seperti sebuah padanan korelatif dengan kebosanan, maka itu sedikitnya bisa dimengerti. walaupun sebenarnya tidak selalu bisa dibenarkan, karena ternyata -sesuai judul, Sejatinya kita memang harus menunggu.</div>
<div>Bisa dimengerti kan, ternyata lalu lalang kita di bumi milik Dia ini, hanya untuk sebuah perkara ‘kecil’ yaitu menunggu. Kepastian pasti muncul, hanya saja entah kapan. Itu, yang kita sebut menunggu. Bukan untuk sebuah kesia-sian tapi kepastian dari Sang Pasti.<br />
Jadi, benar adanya bahwa &#8220;life is waiting&#8221;, hidup adalah sebuah waktu peluruhan tubuh, sampai pada titik lebur dengan syarat batas bebas. Nah, menunggu inilah yang jadi uji kelayakan kita sebagai penunggu.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/sejatinya-kita-memang-harus-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>20 mei 2008</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/20-mei-2008/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/20-mei-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 04:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pragmatis]]></category>
		<category><![CDATA[Proses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/05/20/20-mei-2008/</guid>
		<description><![CDATA[oleh : moch. Muhadzis g.

sebelum kita benar-benar menjadi pragmatis, mungkin ada baiknya jika kita sebentar menengok masa lalu kita. sebentar pula kita bandingkan dengan kenyataan yang sedang kita hadapi sekarang. adalah saya, tidak menyukai apa yang disebut dengan proporsionalitas, sebab sering saya saksikan ada kecenderungan malah tidak proporsional, orang yang berbicara proporsionalitas. tapi sudahlah, persoalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="Standard"><span style="color: #000000;"><span class="Apple-style-span">oleh : moch. Muhadzis g.</span><br />
</span></p>
<p class="Standard"><span style="color: #000000;"><span class="Apple-style-span">sebelum kita benar-benar menjadi <strong>pragmatis</strong>, mungkin ada baiknya jika kita sebentar menengok masa lalu kita. sebentar pula kita bandingkan dengan kenyataan yang sedang kita hadapi sekarang. adalah saya, tidak menyukai apa yang disebut dengan proporsionalitas, sebab sering saya saksikan ada kecenderungan malah tidak proporsional, orang yang berbicara proporsionalitas. tapi sudahlah, persoalan itu tidak lagi penting -mungkin-. yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita memandang masa lalu tidak hanya melulu kejayaan atau kemenangan-kemenangan, tapi juga kita dituntut untuk mampu melihat kesalahan-kesalahan yang menyertainya. sudah menjadi ketentuan yang dimafhumi khalayak, bahwa kita bisa saja salah -atau biar lebih meyakinkan- bahwa kita <strong>pasti</strong> melakukan kesalahan. dan mungkin, justru dari situlah kita masih terus hidup. beriringan dengan waktu, dengan tubuh yang berkembang, dengan pola pemikiran yang berubah-ubah. atau bahkan dengan orang lain yang sedang bersama kita saat ini.</span></span></p>
<p class="Standard"><span style="color: #000000;">titik temu tema diatas adalah bahwa mengakui kesalahan merupakan awal dari kebenaran. lalu apakah pengakuan kemudian menjadi &#8220;tiket gratis&#8221; untuk seseorang selalu berada diatas kebenaran? belum tentu, karena lagi-lagi ada ketentuan yang sudah sangat masyhur di khalayak, bahwa setiap keyakinan pastilah ada ujiannya. tidak bisa tidak. jadi, selamat menempuh <strong>ujian</strong>! </span></p>
<p class="Standard"><span style="color: #000000;">wallahu’alam wallahulmusta’an.</span></p>
<p class="Standard"><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p class="Standard"><span style="color: #000000;">jatinangor</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/20-mei-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengheningkan Cipta</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/mengheningkan-cipta/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/mengheningkan-cipta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 17:18:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Hening Cipta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/05/01/mengheningkan-cipta/</guid>
		<description><![CDATA[Maaf jika kami terlalu lama mengheningkan cipta, tapi ini bukan tanpa alasan. Kesibukan yang padat membuat rumahkerja seperti yang sedang dirundung mendung tebal di atas ubun-ubunnya. Kegiatan yang biasa kami lakukan, kami tinggalkan sejenak mengingat suatu hal yang kami pikir lebih penting pada skala prioritas kami dahulukan. Bukan berarti rumah kami tinggal pergi dan dibiarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img width="180" hspace="10" height="120" border="1" align="left" title="" alt="" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-athena2.jpg" />Maaf jika kami terlalu lama mengheningkan cipta, tapi ini bukan tanpa alasan. Kesibukan yang padat membuat rumahkerja seperti yang sedang dirundung mendung tebal di atas ubun-ubunnya. Kegiatan yang biasa kami lakukan, kami tinggalkan sejenak mengingat suatu hal yang kami pikir lebih penting pada skala prioritas kami dahulukan. Bukan berarti rumah kami tinggal pergi dan dibiarkan kosong. Keberadaan blogsome.com ini, setidaknya membantu kami terus mengingat pulang (khususnya admin pribadi), hanya saja kami ingin menempatkan sebuah kondisi pada situasi yang setepat mungkin.</p>
<p align="justify">Untuk posting selanjutnya, semoga saja diberi kesempatan oleh Tuhan, akan kami bawakan beberapa profil rumahkerja.&nbsp;</p>
<p>Terimakasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/mengheningkan-cipta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baru Saja Belajar Bicara</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/baru-saja-belajar-bicara/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/baru-saja-belajar-bicara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 08:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/01/05/5/</guid>
		<description><![CDATA[Jadi.. harus terpatah-patah dulu, baru nanti setelah kita sadar benar dengan apa yang kita bicarakan, lantanglah.
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img width="180" hspace="10" height="134" border="1" align="left" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-belajar%20bicara.jpg" alt="" title="" />Jadi.. harus terpatah-patah dulu, baru nanti setelah kita sadar benar dengan apa yang kita bicarakan, lantanglah.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/baru-saja-belajar-bicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang Di RumahKerja BLOG</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/selamat-datang-di-rumahkerja-blog/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/selamat-datang-di-rumahkerja-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 00:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RumahKerja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Welcome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2008/01/01/selamat-datang-di-rumahkerja-blog/</guid>
		<description><![CDATA[
Blog ini adalah rumah maya yang  kedua bagi kami setelah rumahkerja.tk 
 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" src="http://rumahkerja.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-RK.jpg" border="1" alt="" hspace="10" width="180" height="135" align="middle" /></span></p>
<p align="center"><span>Blog ini adalah rumah maya yang  kedua bagi kami setelah <a href="http://rumahkerja.blogsome.com/go.php?http://www.rumahkerja.tk" target="_blank">rumahkerja.tk </a></span></p>
<p><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/selamat-datang-di-rumahkerja-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
