Tak Ada Tempat

carstensz dove

TAK ADA TEMPAT

hore!
tak dapat kupungkiri aku bahagia atas jalanmu yang rubuh
berlubang dan kau terjatuh kedalamnya yang jauh
tak ada siapa-siapa disana selain teriakanmu berbalas angkuh
sisi baikmu menghimpit hingga sesak seluruh tubuh
hore!
aku masih ingat kau sering memberi tanpa pamrih
dan mereka memohonkan ampun untukmu dengan lirih
hore!
masih terngiang do’a seorang nenek yang suaminya lumpuh
hanya untukmu lalu berharap kerelaanmu selalu teguh
hore!
ada lagi harapan kanak-kanak yang kau ajari membaca
di waktu petang hingga huruf-huruf semakin terang
hore!
lalu tentang laki-laki dan perempuan yang menginginkan
menjadi sepertimu menembus batas usia lewat hati pingitan

selamat! dan maaf!
tak ada tempat untuk manusia sempurna di dunia!

gsstf, jatinangor
03 desember

carstensz dove

KAU SEBAGAI AKU

boleh saja kau sebut aku berlindung dibalik tangis
dan tidakkah aku memang tak dapat membelinya?
air mata terlalu mahal untuk sebuah ketulusan
aku pun tahu tak ada yang bermain dalam histeris

kau bicarakan peminta adalah rendah lebih dari payah
mereka berjalan dari pinggir kota menuju tengah
menyeret kaki sebelah dan tak akrab dengan lelah
lalu siapa yang dapat berucap demikian tanpa tengadah

aku selalu tak percaya jika kau berdeham lewat telepon
genggam. raih lenganku yang tutupi wajah atas segala salah
dalam gelap suara lebih jujur berkata adalah
seperti malam yang lewat angin memohon

dan saat ini aku sebut kau sebagai aku
juga terima kasih untuk tangis

gsstf, jatinangor
03 desember 2005

carstensz dove

HARI LAHIR

aku menyayangi hafalanmu tentang hari lahirku
tangisku kering di waktu lalu rentang masa yang jauh

kau layangkan aku menuju sepi terdulang
tak pernah ada haru meski selalu bimbang

aku mencintai bicaramu menentang langit abadi
resahku sungguh suatu semu membentang menuju mati

kau terbangkan aku dari mimpi pembaringan
selalu ada satu gelembung awan ringan

membawa hati berkendaraan
menghenti pikir berputaran

gsstf, jatinangor
01 desember 2005

carstensz dove

DARA SUTRA

kau harus memeluknya sampai kau enggan melepaskannya
yakinkan lenganmu merengkuh dunia paling nyata
tak ada sesiapa melihatmu dengan mata

tubuhmu nanti sebagai taruhan sinar lampu
kacak pinggang itu tak selalu untuk angkuh
dan tundukmu bertopang pada suatu gemuruh

aku tak benar mengertimu seluruhnya
sedikit kutangkap bahasa sederhana
kau yang remangkan dan ia terangi
aku jernihkan dan mereka memaki

kau harus hilangkan aku dalam ingatmu
bergeraklah sejauh laku apapun kau mau

gsstf, jatinangor
01 desember 2005

carstensz dove

BUKANKAH?

bukankah kita pernah saling mencinta
dan menautkan hati kita sesama
berbasah dengan hujan tengah malam
mengering bersama matahari kala siang

bukankah kita pernah saling berdusta
demi menawarkan racun dalam jiwa
bercakap tentang dunia yang bening
memantul wajah gelas kita dari yang cermin

rahasia apalagi dibelakang rambutmu yang mayang
sedang dihadapku sekalipun yang lain tak kupandang

kesemuan yang mana sehingga kita berhenti
bukankah perjalanan kita selama ini sejati

gsstf, jatinangor
27 november 2005

carstensz dove

MENCANDU BARA

dan aku menjadi pecandu racun tembakau
dari desa-desa miskin yang susah air
yang mencari matahari di dasar danau
dan gelap sepertinya tak’kan cepat berakhir
jika hidup harus melambat lalu mati
maka tak ada pilihan selain berdiri
menjadi bara bagi bangsa
menjadi awan yang tak mudah hilang

gsstf, jatinangor
26 november 2005

carstensz dove

EKOR HARIMAU

ekor harimau kutempuh pada belantara hijau
berasa bersalah jika ku lepaskannya
aku membencinya hingga seakan-akan aku mencintainya
seluruh raga kutumpah pada air mata yang kilau

berapa pemburu lagi yang harus mati
dan tak sempat mengucap selamat pagi
belang tak dapat diraih malang tak dapat terganti
sepertinya hanya sirkus saja yang setia menanti

dunia tak’kan kiamat esok hari
setidaknya sampai muncul tanda-tandanya
dan berapa lagi yang harus hidup menunggu
aku lelah berharap pada waktu

gsstf, jatinangor
24 november 2005

carstensz dove

MEMBANGUN

kutatap bulan dari jalan layang
dan kota cuma jadi satu garis panjangnya
kutemani kau menangis
rindukan rumah yang hilang
dengan mata kita terharu akan dahulu
siapa sangka membangun waktu
membangun hari membangun tahun membangun laut

kepada lampu kau mandi cahaya saat malam
luka-luka itu mewabah menerpa wajah
sampai ku tak sanggup mencintaimu lagi

gsstf, jatinangor
20 november 2005

carstensz dove

SEBUAH LAGU

sebuah lagu kau minta kubuatkan untukmu
bersanding nama kita diatas kata cinta rindu
lirik lirih berdiri menanti
menatapku berharap terjatuh mati

sebuah lagu kau minta kubuatkan untukmu

aku selalu laraskan nada-nada tanpa jemu
dan nyanyian langkan pun melangkah pulang
tinggalkanku dengan jarak paling renggang

gsstf, jatinangor
16 november 2005

carstensz dove

DARI HATI

tolong hentikan dunia sebentar agar aku dapat mengejar
segala yang tertinggal. jemputlah aku dari kediaman
setan-setan. bertapa dalam senyap terlalu lama kusinggahi
tapi pergi pun sepertinya belum pernah berjanji
tolong padamkan matahari agar aku dapat berlari
menuju titik terang. nantikanlah aku dari perputaran ini
bintang-bintang. bertatap pandang dengannya semakin kuiri
namun maut pun sepertinya kerinduan yang dalam
tolong keringkan lautan agar aku dapat berenang
pada telaga fatamorgana. jangkarkanlah sauh perahu Nuh
angkatlah aku kedalam sehingga berpasang

gsstf, jatinangor
15 november 2005

carstensz dove

PANCA INDERA

aku tak mampu terjemahkan tik-tok jam dinding
tengah malam terus saja begitu bertaruh hidup
berputar tanpa pernah sadar tiba-tiba berdering

Tuhan sedang berbisik kepada nabi yang tuli
suara-suara asap gemeletar goncang langit kamar
hanya kopi kureguk dengan krimnya kureguk hari

aku tak sanggup memandang genderang perang
dikepalaku sendiri mata ini menangkap mati
gemuruh membunuh dari jauh dari waktu dari pedang

langit mulai pekat dan aku belum juga tidur
meski sepi menghitam dan membuahkan anggur

perih-perih bertahan dalam pelupuk lidah basah
kepada kata kepada nasi kepada rasa
manis menghilang pahit meradang sendawa meresah

dengan kerinduan kugenggam tangan-tangan terentang
telapak kuserak tak’kan kugerak biar cinta mengerang
menuju sudut syaraf menuju puruk otak menuju detak sayang

bumi makin berembun dan aku belum lagi lelap
meski tandus meneluh dan adzan kian merayap

aku tetap tak mampu terjemahkan tik-tok jam dinding

-gsstf, jatinangor-

note: tidak dituliskan tanggal sebab masing-masing bait ataupun lariknya dituliskan pada

waktu yang tak bersamaan. Namun sepertinya masih dalam bulan November tahun 2005. judul

“PANCA INDERA” ditulis setelah semuanya selesai dibuat yaitu tanggal 12-11-05.
-semoga berkenan-

carstensz dove

IT’S COMPLICATED

harapku menusuk-nusuk langit dengan paruhnya
tumpul namun sayapnya terbentang dari barat sampai timur
pengertianku tentang malu masih halus berbulu
sedang takutku mencengkram bumi dengan kuku-kukunya

pengasingan ini tampak sebagai jawaban hati yang bijak
pulang balik turun gunung dayung lautan adalah deraan
berkala. penembus-penembus waktu bertanya lewat sajak
pada akhirnya dinyanyikan di keramaian oleh biduan-biduan

pengakuan itu kemudian menjadi jurang pemisah yang dalam
suara-suara jeritan dan tangisan menggaung hingga hening
sendirian. siapa nyana kebosanan mendatangkan kelam
selanjutnya diterangkan oleh cahaya waktu yang mengalir bening

rentaku mendayu-dayu pada serpih batu-batu
tajam semakin terasah seperti pisau-pisau rindu
selayak elang terbang di ketinggian udara gurun
tinggalkan merpati yang dulu mengayun

gsstf, jatinangor
30 oktober 2005

carstensz dove

ESOK

kita belum tentu mati besok katamu
waktu maut sudah sampai lutut
hingga tak berasa lagi kedua kaki yang begitu perkasa
dulu di lapangan merah kita adigung tanpa pernah resah
saksi-saksi bisu berucap dengan karat
saksi-saksi hidup berbincang dengan kembang
berwarna kuning tembaga dibalik bukit itu
berwarna hijau tua dan buahnya berceceran terinjak sepatu

kita belum tentu mati besok katamu
saat kawan sudah terbang ke langit biru
titik bayangannya pun tak menjejak bumi lagi
padahal dengannya kita berbangga tentang persekutuan udara pagi
bersepi dengan embun yang mendekap lembut rumput-rumput
bersunyi dengan ciak dan kelepak sayap burung-burung
tersedu kita mengukir batu diatas nama
terbahak kita melihat guratan didepan nisan

kita belum tentu mati besok kataku padamu
sebab sedang kudengarkan kekasih Tuhan
masih selalu bercerita tentang hari esok

gsstf, jatinangor
26 oktober 2005

carstensz dove

TITIK BALIK

puisi yang kutulis beberapa tahun lalu terungkap sekarang
masih tentang serapah atas kepulangan yang kuucap lancang
terlalu lantang hingga orang gila dan orang tua kutantang
hanya lewat kata lagi malamku meradang dan ku berdiang

jawaban itu terbungkus kain putih seiring waktu
mohon jangan buat ku berpikir tentang kerudung sendu
Tuhanku mengawasi semu saat kau berbicara lewat mata bisu
mau kuredupkan bara hati ini lalu kuhisap sebagai candu

baru hendak melangkah, kakiku dipatri wanti-wanti
titah Ibunda tahun pertama kukenang sebagai harga mati
melayang dari kejauhan dan jantungku bergidik tak henti
kuarahkan saja wejangan itu sampai ku benar berarti

gsstf, jatinangor
26 oktober 2005

catatan : sajak ini dibuat sebagai sebuah kenangan tersendiri dari sajak yang pernah

ditulis sebelumnya. Ternyata kenyataan -pahit- tercipta dari kekenesan memandang sebentuk

keadaan di masa silam.

carstensz dove

BUNGA LANGKA

bersegeralah menanam bunga sebelum musim hujan tiba
katamu saat pelangi sudah terjadi dengan lengkungnya
dan kita mulai basah-basahan di kubangannya
berlumpur, lekat seperti itulah pertanyaan hidup kita

begitu, karya menyulam malam kulakukan
dengan biasa kudigigiti pagi hingga rinci
sepantasnya mereka lebih dulu membungkam bulan
senantiasa nanti kujahitkan matahari

aku membutuhkan sebuah rumah untuk halamanku
lembar demi lembarannya kan kuserahkan sukarela
pada siapa saja yang mencintai pagar-pagar ikhlas
semakin yakinku pada kita yang tak’kan mati kutu

kuncup putih matamu rekah di selang jiwa
sebagai jendela, ragu-ragu kau buka do’a mesra
lantunkan rindu Ayah-Bunda buat mereka percuma
ah, jadinya aku pemetik kamu, oh bunga langka

gsstf, jatinangor
23 oktober 2005

carstensz dove

TAHUN BERAPA

aku takut menjadi angkuh dan diketahui langit
bintang-bintang itu selalu berkedip saat ku berucap
juga bulan ketika ku berlaku mewujud sabit

hendak kemana kularikan badan jika bumi enggan dipijak
berita jiwaku kencang berenang di lautan hangat
diteruskan ke kutub-kutub melalui ikan-ikan

mungkin nyawa sendiri kutiupkan pada kekasih hati
biar ia rasa yang kurasa
biar ia rindu yang kurindu

gsstf, jatinangor
10 oktober 2005

carstensz dove

UNTUKMU

untukmu kupersilahkan kau rebah di bahu kiriku
bisikkanlah kata-kata lelah dari bibirmu ke telingaku
akan kujadikan nada-nada merdu pengantar tidurku

untukmu kudirikan rumah dekat pantai indah
bukakan jendelanya dan sisakan matahari pagi demi mata
akan kuguratkan garis-garis lengkungnya dalam lukisan

untukmu kulupakan delapan arah mata angin
hembuskanlah mimpi-mimpi dari rambutmu yang kuingin
akan kuterbangkan menuju hatiku dengan dingin

gsstf, jatinangor
10 oktober 2005

carstensz dove

MAUT

maut mengirimkan malam sebagai mata-mata pada orangtua
di pinggiran jalan depan emperan toko perhiasan
ia memberitakan dengan lolongan anjing dari kejauhan
serasa dekat sedang ia datang tanpa alamat
namun orangtua tak pernah gigil
malah menjadikannya sebagai ranjang keabadian dini
sebagai bantal untuk sandaran kepala yang kental
sebagai sprei yang dipungut dari kain perca usia
sebagai selimut yang menghangatkan dari dinginnya maut

gsstf, jatinangor
01 oktober