Satu Tema Dua Mesin Ketik

carstensz dove

Mohon Tidak Lacurkan Drama Demi Cinta

mohon tidak lacurkan drama demi cinta
telah usai cerita tentang Tuan William
di tanah Bunda yang jelma Ratu dunia

oh… begawan yang masih cinta perempuan
tak’kan aku usir kawan dari pembaringan

mohon Tuhan tidak lemparkan aku jauh
pertemuan di laut itu tanpa sauh
kelak ia datang dengan semua gaduh

mohon Tuhan rahasiakan segala lelah
pada semak langit sampai tiada dapat terbaca
aku enggan pada jompo yang dusta
aku mabuk di muka jendela tua

mohon Tuhan hirup segala luka
dari lidah bibir ini sampai jadi merah lagi
dari empedu hati ini hingga racun jadi darma
mohon Tuhan tunda perasa mati ini

perempuanku ini benci pusat kota dekat istana
seperti gereja adalah titah raja yang lemah

02 maret 2005

carstensz dove

JIKALAU HAMBA

jikalau hamba menangis harap Tuan seka air mata ini
jikalau hamba berduka harap Tuan rentang telapak tangan
jikalau hamba mengeluh ingatkan tentang subuh
jikalau hamba gila tampakkan segala dosa

-02 maret 2005-

carstensz dove

AKU PERNAH AKAN

aku pernah mendatangi masjid-masjid pada sudutnya yang paling gelap
dibawah mimbar aristokrasi tanpa penghuni
imam disini sejenak persunting dua istri

lafadz-lafadz kumpulan surat terakhir jua sempat mampir
tentang lelaki buta sampai manusia
dari berita besar yang berujung hati ini was-was

aku sungkan menerima Tuhan dalam gubuk kepala penuh bualan
halamannya masih terlalu kotor
dari daun-daun dengki yang gugur di musim biasa

jamuan-jamuan pada sepertiga malam belum tersaji
sembilan-sembilan garis telapak ini enggan meregang paksa
lagi dua kelopak mata selalu terjaga

aku akan ulang berbincang kenai Tuhan
dengan sila berbatas hijab perempuan
aku akan berhenti pada titik mati
sehabis merangkai keping-keping futur yang membunuh

jatinangor, 26 maret 2005

carstensz dove

Surat untuk Riani lewat Tuhan dari adzis

ingin aku menulis cinta pada pasir sungai Gangga
biar sebentar ini Dewi tlah berurat akar

sedang sembunyi aku dalam air rindu ini
tenang saja sampan-sampan lewati pelangi
ricik sedikit sentuh langit genit

tidak mau aku terlambat dari tetes hujan
tidak mau aku kuyup di darat

ah, sayang …
air mata tak bisa membangun istana
sedang niscaya senantiasa kau selipkan pada basah bola mata

ingin aku berbisik selalu pada angin lembah
biar sampai ini pujian hanya saat malam
tidak mau aku terlalu cepat bercakap
tidak mau lagi aku terdera kutuk Bunda

ah, sayang …
kalau saja rumah pewaris Nabi itu dulu kutinggali
tak’kan pernah ada pertemuan udara dalam canda

dan aku mencintai mata air sampai akhir
yang menggenang dari hulu sungai kejujuran

26 maret dan 22 april 2005

carstensz dove

DAN MERATA

dan merata sudah tangis perempuan di seluruh negeri
hingga basah tanah tergenang ladang milik lelaki

antara petang sampai pagi Tuan tak sejenak berhenti
pun jemari tampar selaput kulit mati
tak berasa Tuan pada bula-bula
tak berdiri badan namun lantang bersuara

mari Tuan dua warna silam tak akan benam
seperti kemarin penjajah enggan berdarah
mari Tuan cucuk telinga mereka dengan sejarah
layak ketam merangkak pasar malam

dan menjamur lagi hujan mencari di pelosok bumi
hingga mati menggantung matahari di ujung langit berdiri

mari Tuan … mari …

26 maret 2005

carstensz dove

TENTANG PEREMPUAN

pagi ini dengan gerimis dan
dua pelangi setengah lingkaran di langit timur

Ndhuk, jangan pernah percaya pada laki-laki yang dengar
suara dewa dari angkasa
ia nanti memanahmu mati tak sengaja

Ndhuk, jangan pernah mau dicumbu saat malam di medan perang
bicaranya sanggup bunuh mertua yang rela
ia nanti mati dibunuh raja yang tak pernah marah
dan kamu ikut mati bunuh diri

Ndhuk, selimuti lelaki yang hendak jadi Nabi
hangatkan ia dari dingin angin malam dekat gua

Ndhuk, jadilah Maryam yang tak tersentuh
tangan-tangan ini tak mungkin lahirkan Isa
sebab dunia sedang resah tentang keajaiban

Ndhuk, jangan pernah untuk pernah bercanda dengan cadar
hitamnya tak dapat diputihkan
putihnya cuma milik lelakimu nanti

Ndhuk, selamatkan aku dari neraka karenamu

pagi adalah belaka dusta
sedang malam adalah jujur terlalu yang memerihkan

28 maret dan 12 april 2005

carstensz dove

AHAHAHA …

aku ingin tidur dengan indah
dengan kusut wajah yang lemah
hingga dapat kau tangkap siang
setelah fajar tanpa genderang

aku ingin rebah dalam nyanyian
bersama pagi dekat halaman
sampai jemu kau dengar sendu
sebelum sore tanpa gemuruh

aku ingin lelap disamping gelap
pada lingkar purnama membekap
hingga cukup kau kecup lembut
saat redup membalut rindu

29 maret 2005

carstensz dove

SAJAK BATIN

yang tinggal kita lakukan sekarang adalah memilih
yang belum kunjung datang hingga sekarang

kita adalah lempeng dunia yang hendak patah ke dasar laut
jika terperosok sekitar pun harus pula jatuh
kita adalah juri yang menilai malaikat
dengan tak segan menanti nafiri satu legattonya
adalah Tuhan menjelma persangkaan kita sendiri
adalah kita yang diberi-Nya syak-wasyangka
adalah Tuhan yang berkata jadilah ia maka pasti jadi
adalah kita yang selalu saja jadi maka

duhai … hawa yang mengambil sebagian rusuk ini
kembalikan padaku atau kita bernafas dalam satu helaan
duhai … hawa yang terikat harta dengan sempurna
tinggalkan aku atau kita pergi menuju kerikil Nabawi

duhai … hawa yang menghijabi mahkota
menyingkir dari pasar yang kulewati
atau tunduk dan dekap erat lengan ini

12 april 2005

carstensz dove

TUHAN

Tuhan, Kau hafal tiap adegan sandiwara yang kumainkan
sedang aku sering lupa sebab setan-setan panggung
tiupkan kepura-puraan yang mendalam

Tuhan, aku hilang udara dalam genggaman
yang senantiasa ada percakapan dan aku rindukan
perempuan jauh dibelakang cahaya lampu-lampu kaki

Tuhan, Kau pengarang termasyhur segala zaman
mohon benarkan segala terjemahan ini
biar tak lenceng dari tetapan garis Kitab-Mu

Tuhan, aku mencintai-Mu pada semua teka-teki
sedang aku sering tidur sebab lelah-lelah tanah
rajahkan kedustaan yang berpijak kuat

Tuhan, Kau ada tegak pada ubun-ubun kepalaku
yang niscaya menjelma payung dan aku dirindangkan
mohon hujankan batu untuk iblis disekeliling tubuh ini

Tuhan, aku berkawan setanda penghuni hutan
Tuhan, aku remuk redam di halaman
Tuhan, aku enggan berdusta pada Bunda
Tuhan, aku berselimutkan khayalan taman

Tuhan, Kau tahu bagaimana aku
Tuhan, bagaimana dengan aku

23 april 2005

carstensz dove

Dear adzis,

lagi, aku dapati kau masih tanpa atap wahai sang gelandang
berdingin ria kau dengan angin Tuhan malam ini
dan tangis itu aku rasai lebih sejuk dari embun pagi
dengan apa lagi hendak kau aniaya itu jiwa yang ringan

wahai sang gelandang …
engkau adalah manusia sisa keheningan gelap
seperti sia-sia kau meniti bekas-bekas jejak wali
katakan, do’aku adalah pedangku
dan aku akan berperisai dengan waktu

wahai sang gelandang …
aku ajak kau mabuk dari cawan segala warna sekarang
aku ajak kau menari dengan selendang hangat nanti

wahai sang gelandang …
tak pernah kau dapati air lidah dari kata-kata suci
tak pernah kau dapati gerak mata yang lurus-lurus saja

wahai sang gelandang …
dapati aku dengan wajah seputih kafan
dapati aku dengan pelukan lengan tak bertuan

lagi, aku kau dapati diujung jalan nurani
masih sama dengan kau wahai sang gelandang

23 april 2005

carstensz dove

LELAKI MUNGIL

lelaki mungil melangkah di hamparan pasir laut
punggung kakinya menantang cakrawala biru
riang ia bercanda dengan maut

ia lihat sampan nelayan lewati garis matahari
leleh matanya merah sama merah sore
ia pasang telinga untuk tiap debur ombak yang hantam karang
telah sama tajam gelombang dan dengarannya

tamasya-nya adalah kebosanan yang membeku
di pantai hati kerang-kerang yang mencari
hingga tersayat berdarah telapaknya sendiri
perjumpaannya dengan malaikat adalah resah semu

hei … engkau lelaki pecahkan bola dunia itu
hempas serpihan kacanya sampai kau dapat itu hampa

23 april 2005

carstensz dove

DENGAR, LIHAT, HISAP

dengar …
aku sedang bahagia dengan sedu bibir berucap parau
teriakku tidak serupa dengan burung-burung bangau
yang racau di sawah basah petani galau

lihat …
aku sedang gembira dengan titik-titik air mata
tatapanku tidak sejajar dengan tikus-tikus buta
yang ricit di sempit gorong-gorong gelandangan

hisap …
aku sedang senang dengan radang hidung bernafas mati
ciumanku tidak selingkar dengan ular-ular kali
yang desis di buncah jeram pengail berdiri

26 april 2005

carstensz dove

JENAZAH

aku akan berhenti pada kata-kata niscaya
seperti serangga yang datang di musim kemarau
aku akan terlambat pada kalimat-kalimat sementara

aku akan lari dari puisi-puisi yang abadi
layak sang kumbang yang sengat si danau kembang
kau akan mati dari syair-syair dalam takdir

30 april 2005
sayang jatinangor

carstensz dove

KITA

pembaringan kita telah basah oleh mimpi durjana
terpantul dari dinding-dinding surga
bidadari disini telah habis dipesan bangsawan
tinggal khutbah perempuan di teduh siang

kamar kita membusai dunia dengan kecipaknya
terhempas dari karang-karang neraka
setan disini telah lelah dengan kepapaan
hanya harta bocah-bocah di lengkung berlian

pondokan kita telah terendam mati dendam
terbandang dari ladang-ladang Tuhan
malaikat disini sedang berbagi suara tentang cinta
cuma remah-remah rusa yang tertinggal di malam natal

30 april 2005
sayang, jatinangor

carstensz dove

MALA

aku sekarang mencintaimu seluas lautan peduli yang asin
aku sekarang mencintaimu serapat hutan nyaman yang asam
aku sekarang mencintaimu selebar pasar sabar yang hambar
aku sekarang mencintaimu sepanjang jari manis yang teriris
aku sekarang mencintaimu sedingin besi murni yang karatan
aku sekarang mencintaimu sepanas timah buncah yang merah
aku sekarang mencintaimu sehangat kayu halus yang lumutan
aku sekarang mencintaimu di titik didih bangga
aku sekarang mencintaimu di titik leleh harap
aku sekarang mencintaimu hingga jadi uap takut
aku sekarang mencintaimu sampai jelma kristal ragu
aku sekarang mencintaimu secepat pesawat rindu
aku sekarang mencintaimu selambat kereta juang
aku sekarang mencintaimu sediamnya stasiun
aku sekarang mencintaimu sebisunya bandara

01 mei 2005
sayang, jatinangor

carstensz dove

PRASASTI

kanak-kanak di pertigaan tak’kan pernah mau turut
sepuluh sila lima puluh tahun silam di pijakannya kini

Zorg, Dat Als Ik Terug Kom Hier Een Stad Is Gebouwd

akan kudirikan sendiri ini lembah pembuangan
dengan tongkat-tongkat hingga penuh sesak
akan kukeringkan danau kata dengan kemarau kota
titah Ratu adalah pupuk rencana pondasi jalan

Coba Usahakan, Bila Aku Datang Kembali, Di Tempat Ini Telah Dibangun Sebuah Kota

01 mei 2005
sayang, jatinangor

carstensz dove

METRO

aku tak’kan mau menjadi kota dengan wewangian dusta
aku akan membeda raga dengan nyata depan mata hawa

telah lelah kertas putih ini oleh luka-luka hitam
dan aku meradang dengan pita-pita tinta zaman

biar aku sisakan sedikit rahasia pesta dansa
biar kau ungkap dari kemeja yang terlalu ketat

01 mei 2005
sayang, jatinangor

carstensz dove

OH …

oh … langit-langit bumi
yang runtuh di ujung subuh
sudah bosankah engkau dengan makam peristiwa

oh … pancang-pancang laut
yang tumpah ke daratan rendah
telah jenuhkah engkau sebagai kakus sejarah

oh … lelaki-lelaki suci
yang berdiri atas terjemahan kata-kata Ankara
masih benarkah engkau tentang negeri sungai-sungai

02 mei 2005
sayang, jatinangor

carstensz dove

ADA

tidak …
aku akan absen dari panggilan zaman bencana
aku akan hadir tepat waktu di kelas piramida sejarah

tidak …
kau harus bertarung dengan kesamarataan hutan kayu
kau harus dayung sampan keadilan sampai hulu

ya …
ia hanya pen-Tuhan lembaran-lembaran udara malam
ia hanya perindu bahasa-bahasa tabu tentang luka

02 mei 2005
sayang jatinangor

carstensz dove

SUBUH

ia sujud sambil menangis
ketika iqamat sudah dekat
ditanya kabar tentang taqwa
saat subuh basah oleh gerimis

dan mereka berbaris merapat telapak
jelmaan tentara Tuhan tak pernah perang

02 mei 2005
sayang jatinangor

carstensz dove

AKU, TUHAN dan MEREKA

aku kembalikan Tuhan ke pangkuan Bunda
aku kembalikan Tuhan kepada penggembala
aku tiupkan ruh Tuhan yang mati di taman

“qul huwa allahu ahad”
“allahushshamad”
“lam yalid wa lam yuulad”
“wa lam yakullahu kufuan ahad”

04 mei 2005
sayang, jatinangor

carstensz dove

MATA-MATA KACA PEREMPUAN

ada yang belum tertulis dari mata-mata kaca perempuan
satu warna saja belum jadi lukisan peramal bintang-bintang

dupa di hadap biara
bercakap tentang ketiak langit yang gendong orok bumi
tangisnya menjadi
tali pusar belum lagi isi kendi

gembel jadi mangsa lintasan kereta
bocah gantung sepatu enggan sekolah
seseorang sedang mati terkubur televisi

04 mei 2005
sayang, jatinangor

carstensz dove

MALAIKATKU BERPERANG

tajam kutatap engkau dibalik pedangmu yang terhunus
sebagian wajahku tercermin disana ketakutan

aku tak mengigil saat jatuh terjerembab
aku tak resah ketika sadari diri sendirian

baju zirah besi ini masih melekat ditubuhku erat
dan engkau kian berarah melangkah dekat
dingin saja mata kita beradu di arena perang ini
prajuritku terbunuh pasukan Venus mu terlalu dini

tidak, aku tak ingin terburu-buru mati bersahaja
aku bertempur tak hanya dengan engkau
medan juangku masih terhampar luas dihadapan

kau ayunkan pedangmu sebentar menyapa langit keatas
bagai kilat sedetik lagi nyawaku meregang bebas

namun engkau terbujur kaku tertusuk panah malaikatku
yang datang enggan mencabut sepenggal jiwaku

-gsstf, 19 june 2004-