Carstensz dove
My autisma
Aku menangkap kesunyian sebagai suatu keramaian hati
Seperti jendela kamar yang perlahan menerima matahari
Lambat laun cahayanya memenuhi seluruh ruangan
Dan kulalui segala waktu sebagai sebuah kenanganKau mengharapkan aku bergerak mengikutimu
Disetiap jejaknya kau selalu mengawasiku
Kuhapus dengan rasa lirihku yang remuk
Mereka terangkan bahwa tubuhkulah yang ambrukTuan, percayakah bahwa telah kudengar suara-suara nabi?
Menuntunku untuk selalu mendo’akanmu pagi-pagi sekali
Sebelum kubasahkan wajahku dengan air
Setelah kutengadahkan lenganku tinggi-tinggiAku diam tuk mendustai dosa
Aku tenang tuk melukai angkuh
Aku bertaruh dengan Tuhan begitu teguh
Aku senang tak bersamamu saat memintaJatinangor, 10 agustus 2006
Carstensz dove
Langit sunyi
Kalau aku nanti terlalu memaki
Mohon sujudkan kepalaku dengan tali
Dan beritahu Ibuku, anaknya tak mau berhenti
Menangis. Air mataku mengalirkan tanah nadiO… Tuan yang memegang kekang hidup
Izinkan aku bercanda dengan nafas yang kau hirup
Aku meraung dan kumangsa tanaman bunga
Dan para lebah memanggilku sebangsa pengkhianatSewujud rumpun bambu pikirku menusuk bulan
Setinggi tiang yang dipancang di halaman depan
Kelak kubongkar kebohonganku pada Tuhan
Yang sekarang menggantungku lewat kalianKalau aku nanti terlalu dimaki
Tolong masukkan mereka kedalam ‘arsy
Dan beritahu Bapakku, anaknya cuma berdiri
Semedi. Desah darahku bernyanyi di langit sunyi-jatinangor, 11 maret 2006-
Carstensz dove
11 Juni 2007Sang Mertua
Sayang, aku dimarahi Ibumu tadi pagi
Banyak hal ia keluhkan dari segala kelakuanku
Mulai dari cara bicaraku yang ia anggap tak karuan
Sampai sikap dudukku yang tak rendah hati
Aku selalu salah seolah tak ada yang benar dari diriku
Sebagaimana waktu menjadi musuh seorang pecundangSayang, aku selalu kikuk
Kalau harus menyebutkan berapa banyak hartaku
Setinggi apa jabatanku atau sejauh mana gelarku
Ibumu selalu membandingkan aku
Dengan gunung emas yang sudah terkuras habis
Berapa banyak usiaku untuk menumbuhkannya lagi?Sayang, aku mencintaimu, juga Ibumu, juga Ayahmu, juga keluargamu
Aku hanya ingin membebaskan diri dari ikatan dunia
Aku hanya ingin agar kita berkumpul di surga yang kekal
Aku hanya ingin menyadari betapa berharganya hidup
Sebelum mati itu sendiri menghapuskannyaSayang, bukankah kita sepakat tentang tubuh yang telanjang?
Bahwa tubuh adalah media jiwa menuju keyakinan
Mengharapkan kesehatan untuk sampai pada kesempurnaan
Bahwa tubuh adalah pemberian Sang Khalik
Untuk kita menjaganya sebagai wujud penghambaan
Sebagai cahaya cinta itu sendiri yang tak akan pernah pudar-gsstf, jatinangor-
Carstensz dove
05 juni 2007Keinginan Cinta
Ketika cinta itu hadir dan mengisi kekosongan hati
Diriku ternyata membelai sebuah kehampaan
Tubuhku bersedia merasakan luka
Bahkan jiwaku seolah terbiasa dengan dukaAku sungguh tak ingin berhenti memujimu
Sebelum tidurku dan sesudahnya, aku ingin kau tetap terpatri
Sebab dengan namamu aku mati dan aku hidup
Setiap kekasihmu adalah juga jalanku didunia
Dan keyakinanku itu membeku lalu mengeras di jantungkuKau tahu aku semakin fasih membaca waktu
Atau kau lebih mengenal semesta ingatanku hingga ujungnya?Kau tak seperti siapapun atau sebentuk apapun
Dari itulah kuhempas badanku untuk selalu bersujud
Karena kau begitu mempercayaiku setelah kata-kataku
Aku pun sungguh tak mampu menuliskannya lagi lebih jauh
Jikapun aku sanggup, pastilah aku belum mengerti sepenuhnyaAda kesucian yang tersimpan rapi dalam catatanmu
Aku memungutnya dan kujadikan maklumat rindu
Meskipun harus berkeringat darah atau bermandi nanah di bumi ini
Akan kugapai langit surga yang sudah tercium wanginya-gsstf, jatinangor-
Carstensz dove
04 juni 2007Cahaya
Cahaya terang yang menembus awan mendung
Adalah harapan darimu tentang kenyataanku
Apabila telah sempurna kalimat-kalimat cinta
Maka berkuasalah hatiku menerjemahkan segala ketinggian
Bersama perumpamaan purnama atas bintang-bintang diwaktu malamKedua mataku adalah puisi bagimu
Airnya yang menetes kau minum sebagai lagu
Bulunya yang lengkung kau anggap seperti pujian
Dan wajahku tetap bersahaja dalam mimpi tidurmu
Namun siapa yang mampu bersembunyi
Dari keindahan penciptaan rambutmuAku ingin kau tetap tinggal dalam tiap gerak tubuhku
Berapa lama pun aku hidup nanti
Karena jasadku adalah kendaraan jiwaku
Menuju keabadian rindumu yang terpendam utuhSegala prasangka aku hancurkan lewat kepingan-kepingan usiaku
Tentangmu aku tak mau ragu-ragu
Padahal berita itu telah menyebar ke seluruh alam semesta
Aku pun semakin sederhana berkata-kata
Sebab aku menemukanmu dengan segala kerumitannya-gg mawar, jatinangor-
Carstensz dove
Kerinduan dan Harapan
Kerinduan tertanam di tanah lahan senda guraumu
Aku memaksakan kedamaian dalam hatiku
Membasahi waktu lewat gerimis dari mataku
Ada renda-renda yang tersulam percakapan
Saat kau berangkat menuju pelabuhan teriring upacaraAku selalu menitipkan rasa takut pada tiap belaianmu
Berjuta kejanggalan dan tak mampu aku pecahkan
Sampai remuklah tubuhku oleh wangi candumu
Namun kau meninggalkan jejak di keningku begitu kentaraKau lemparkan bayangan malam untuk pagi berikutnya
Sehingga cinta itu terkapar tak berdaya disengat matahari
Luka-luka dikepalaku adalah kenangan yang terbiasa
Kau pun menangkap soreku untuk nanti kau lupakan
Sebuah keabadian yang hadir dari sebelah sisi keyakinan
Ketika kau menjadi kekasih, kau begitu pencemburu
Bagaimanapun aku nyaman dengan perasaan ituSebuah harapan menjalar dibatas pagar keagunganmu
Sebagaimana aku hidup dan berjalan dengan namamu
Maka pada saat ruhku diangkat malaikat
Aku sungguh telah mengenalmu-gsstf, jatinangor-
01 juni 2007
Carstensz dove
Setiap Detik Aku…
Setiap detik aku, aku melupakanmu
Dalam ingatanku berlompatan cahayamu
Terang dan gelap berganti-ganti menguasai
Maka itulah aku memelukmu setelah kesucianku
Setiap malamnya yang dingin namun aku terhangatkan
Dan kupaksa air mataku meleleh
Kutundukkan wajahku tanda menyerah tanpa dayaSemesta rindu jiwaku mengharapakan bertemu
Tak ada yang mengisinya selain cintamu
Kuagungkan diriku sendiri namun ia bukanlah apa-apa
Terpendam duka sebab kuharus hadapi duniaAku mohon kau menyayangiku seperti pada Nabi
Dan jangan berhenti sampai nanti aku mati
Sungguh, aku ingin tersenyum ditempat yang tertinggi
Hanya padamulah aku bernafas menantiSetiap detik aku, aku berusaha menyemayamkanmu
Dalam pikiranku yang paling gembira sekalipun
Dalam kekalutanku yang paling bawah disana
Aku ingin tercatat sebagai kekasihmu-gsstf, jatinangor-
31 mei 2007
Carstensz dove
Dik…
Kita tidak dididik untuk menjadi penjahat bukan?
Ema dan Bapa tak mengajari cara berdusta
Ba’da Ashar, Maghrib dan ‘Isya kita berada di mushola
Dan malaikat menjaga kita sepanjang hayatDik,
Ada senja yang menggurat muka rumah kita
Aku memang jarang menginap disana, namun…
Terbayang ranjang besi reot berkarat sejarah
Membangunkan aku agar kuat melangkahDik,
Di hitam matamu aku menerangkan gelapnya hidup
Dari bayang-bayang hijaunya dunia yang memang fana
Jangan ulangi pembacaannya yang terlalu terbata-bata
Sungguh, jebakan itu seperti pintu-pintu yang harus kau pilihDik,
Aku sempat berdarah melawan malam
Hingga aku pun enggan marah pada keadaan
Kalau umur itu ada dua maka ambil satu saja
Kita tak boleh serakah melahap waktu-gsstf, jatinangor-
30 mei 2007
29 mei 2007
Carstensz doveAku Mohon Maaf ( jika Ia menghendaki)
Aku mohon maaf karena tak bisa menemanimu
Saat kau mulai merasakan keindahan cinta
Aku tak mampu menjadi bulan saat gulita mendekap
Jiwaku terlalu dingin untuk malam-malam yang semu
Aku mohon maaf karena tak bisa selalu bersamamu
Ketika cahaya terang itu singgah di hatimu
Aku bergerak terlalu jauh mendekati surga
Mengelilingi kotak hitam mimpi-mimpiku sendiriDan aku berjanji suatu saat nanti kita bertemu
Jika Ia menghendaki
Dan kita saling mendatangi kedekatan kita
Tak ada lagi perkataan tercela
Namun kita bisa minum sepuasnya
Jika Ia menghendaki
Kita memeluk kesucian kita masing-masingAku mohon maaf karena tak bisa bercakap-cakap lebih lama
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Mendidik
Aku tak berani mengucapkannya
Aku begitu gembira mengetahui tanda-tanda kenyataan
Maha Benar Tuhanku Yang Lebih Mengetahui keadaanku sekarangAku mohon maaf karena tak bisa menyembunyikan perasaan ini
Bahwa aku enggan berdusta pada pikiranku
Dan aku tak mau bermain-main lagi denganmu-gsstf, jatinangor-
28 mei 2007
Carstensz doveDzikirku
Apa pekerjaanmu sembari menanti Mahdi?
Orang-orang menyebutmu sinting
Kalau kau katakan kau tengah menunggu Mahdi
Sudah terlalu banyak, yang melakukan hal serupa denganmu
Dan sampai ajal menjemput sang Mahdi tak juga muncul?
Katakan padanya kita memang sama-sama orang yang menunggu
Untuk apapun. Dan tak ada lelah yang tak berupah
Seperti anggur atau air minum yang disimpan semalaman
Kutanyakan lagi,
Apa yang kau lakukan sambil menanti Mahdi?
Omong-kosong mana lagi kau dapatkan dari mereka?
Bahwa kuning matahari akan selalu begitu tiap waktu?
Segalanya harus ada akhir dan berarti ada kekekalan
Mereka menyebutkan keseimbangan penyair dan pecinta
Kita hanya dinilai bahwa mereka pun pernah muda
Atau percakapan kita ini, bergaung di kelas-kelas seluruh penjuru dunia
Kutanyakan lagi,
Apa yang sudah kau lakukan saat menanti Mahdi?
Aku takut sebenarnya kita belum berbuat banyak
Untuk diri sendiri sebagai bekal mati nanti
Persenggamaan dengan perawan sudah kita rasakan
Anak-anak telah kita didik untuk selalu mendo’akan kita
Telepon seluler telah menjadi firasat ditangan kita
Kutanyakan sekali lagi dan untuk yang terakhir
Apakah kau masih akan begini saja?
Aku kira kau tak pernah berubah. Kata mereka. Kata mereka.Alhamdulillah. Subhanallahil’adhim. Subhanallahi wa bihamdih.
Laa ilaha illallah. Laa haula wa la quwwata illa billah.-gsstf, jatinangor-
25 mei 2007
Carstensz doveSurat Dari Sebuah Mimpi
Hebat!
Aku menemukan tubuhmu telanjang
Dan kudiamkan saja
Disatu waktu pasar kesenianAda yang tak kurenggut dari cahaya putihmu
Padahal aku begitu menginginkannyaKita bercakap tentang sesuatu yang jauh dari mimpi
Dari pakaian aktor panggungku
Dari selendang kebaya tarianmu
Kita bercanda seperti Adam dan Hawa
Ketika pertama kali turun ke duniaMengagumkan!
Kau menolak seorang penguasa
Dan lebih memilih selalu bersamaku
Pada kamar atas paling terang
Diantara gelap gempitanya keramaianJika saja ketidaksadaran sejelas kenyataannya
Maka akan kubiarkan wajahku selalu menghadap Tuhan
Dan sungguh, aku telah berserah diri pada-NyaAda kisah Yusuf dalam kejadian tersebut
Namun aku tak dibuang kedalam sumur
Aku menghalau perasaanku demi Rabb-ku
Aku menindas hasratku untuk sampai di ‘Arsy-Nya
Inilah hadiah terindah untuk ruhkuMendebarkan!
Kau entah berada dimana
Dan aku tetap disini menuliskan puisi-puisi
Kau tahu. Aku tak menerjemahkan kekosongan
Ini lebih seperti sebuah siksaan yang menyenangkanTuhanku Maha Berkuasa atas tiap-tiap sesuatu!
Dan Dia adalah seadil-adil hakim-gsstf, jatinangor-
23 mei 2007
Carstensz doveBilakah (Ia datang)
Bilakah waktu itu datang
Apabila telah nyata seluruh ketakutanku
Ketika langit mulai menghimpit
Atau senja yang tak kutemui keindahannya
Apabila telah habis semua kenikmatan badan
Dan ruhku diangkat malaikat menghadap TuhanSungguh, aku telah mendapati dunia
Dalam keadaan semakin tua
Sudah tak mampu lagi melayaniku dengan mesra
Sungguh, aku tak semata-mata putus asaBilakah saat itu menjemput
Ketika tinta penaku tak lagi mampu
Menjelaskan apa-apa yang kulihat
Mengajarkan segala yang kubaca
Sayang, aku selalu menitipkan harapan
Melalui do’a-do’aku yang khusyu’Tidak ada Tuhan selain-Nya
Bilakah maut itu tiba
Dan aku masih sanggup tersenyumTiada Tuhan selain-Nya
-gg mawar, jatinangor-
20 mei 2007
Carstensz doveMaha Suci Tuhanku
Aku adalah mantan kekasihmu
Yang kau tinggalkan kemarin
Sekarang habislah cinta itu
Dan kau tak sanggup mencari yang lainMaha Suci Tuhanku
Yang menjadikan diriku tak pernah sendiriKau melukai hatiku
Dan itu menjadi kenangan indah untukmu
Seperti kisah kasih matahari
Terbit tenggelamnya melahirkan waktu
Sayang,
Ada rindu yang datang
Tidak melulu dari ceritamuMaha Suci Tuhanku
Yang menjadikan hatiku selalu terawasiAku menuliskan tiap gerak bibirmu
Menjadi bait-bait puisi
Untuk anak-anakku sebelum tidur malamnya
Aku mencatat bahasa matamu
Dan kuterjemahkan dalam lagu
Kelak menemani hidup merekaMaha Suci Tuhanku
-gg mawar, jatinangor-
14 mei 2007
Carstensz doveRutinitas Penulis
Seperti biasanya
Bahwa kertas kosong dan pena adalah teman setia
Apalagi dibumbui gelapnya malam
Hanya kedinginan yang mampu terjemahkan kata-kata
Dan mereka tahu, rembulan pernah terbelah
Dan aku meyakini Yesus pun berjanggut
Maka kumohonkan diriku serupaSeperti biasanya lagi
Bayangan-bayangan mimpi pagi hari adalah gerbang kenyataan
Patutnya aku mengendarai matahari tuk sampai ke surga
Lalu dimana angin yang seharusnya membekukan cinta?
Bukankah kita terlalu sering menghakimi masa datang?
Atau bibir kita terkunci untuk dapat mencium bumi?
Oh… aku sedang menghukum wajahku tuk tunduk pada-MuLagi-lagi seperti biasanya lagi
Aku menggambarkan hujan sebagai romansa juang
Senapanku adalah cahaya dalam jiwaku
Mendirikan benteng-benteng dari darah yang mengalir
Namun ada rongga yang menjadi tanda-tanda nadi
Seperti nafas yang mengejar-ngejar tubuh
Aku tersesat di jagat angkasa yang hitam-gg mawar, jatinangor-
Carstensz dove
Sampai!
Mau apalagi tuan datang
Petang ini membawa kesedihan?
Bukankah tuan sudah bosan dengannya?
Dan tuan selalu berkilah “ini untuk sebuah pelajaran!”
Dengan nada penuh kesabaran
Tapi sampai kapan tuan?
Sampai tuan mati esok pagi?
Sampai tuan leleh oleh matahari?
Atau sampai bumi menelan tuan?
Dengarkan suara adzan tuan!
Kembalilah tuan kepada Tuhan!-gsstf, jatinangor-
06 mei 07
Carstensz dove
Aku separuh gila
Aku separuh gila mengenalmu di malam gulita
Tubuhku gemetar dan keringat menderas walau udara begitu dingin
Ruhku hampir tercerabut dari tempatnya yang sunyi
Namun aku berjuang untuk tetap sadar mengingat
Aku tidak mabuk!
Aku cukup tangguh menghadapai maut
Aku bukan pengecut!
Aku tak pernah biarkan lisanku mengaduhKau tahu aku tak begitu pandai menancapkan kata cinta di hatimu
Ada dosa yang mesti kuperbuat untuk menangkap matamu
Dan aku akan berjalan pulang
Menemui surga yang kau janjikan
Aku tahu kau tak akan ingkarAku separuh gila dan menderita di puncak keyakinanku
Terlalu manis berada disana hingga aku tak mampu menangis
Tidak, kegilaan hanyalah milik penyembah setan
Dan aku enggan berpaling darimu meski sesaat
Ah, rupanya aku terlalu meniru romansa nocturno para pujanggaSungguh, disekelilingku berdiri ribuan waktu
Memanggilku untuk sejenak saja singgah
Seperti sang bocah yang hangat dalam buaian Ibu
Memeluk do’a-do’anya sampai jadi malaikatAku separuh gila kemarin
Separuhnya lagi aku menjerit menyebut namamu-gsstf, jatinangor-
21 april 2007
Lima ribu rupiah untuk puisiku ini
Carstensz doveTerlalu sedikit,
Kata-kata yang ada di dunia
Untuk ungkapkan perasaan bersalah
Karena mencintaimuKalau engkau menatap langit
Pastilah kakimu berpijak pada bumi
Dan boleh jadi, terbang adalah segala naluri
Ketika bintang yang kau bidik dengan matamu
Adalah hidupmu adalah takdirmu
Adalah setitik cahaya yang tak terangi apa-apa
Sudahkah engkau tuliskan dalam ‘diary-mu’
Untuk apa kau disayangi?
Mengapa ada begitu banyak bunga?
Juga nomor telepon genggam?
Atau suara-suara yang kau rindukan
Untuk bantal tidurmu?Astaga, sang penyair sudah mulai kelaparan
Namun bukankah mereka tak pernah kenyang?-gsstf, jatinangor-
16 april 2007
Carstensz dove
Tuhan, tidakkah Engkau bosan
Melihatku serba kekurangan
Mendengar nyanyian sembahyangku tiap malam
Dan aku berdiri untuk mengeluh pada-MuTuhan, bukan aku cengeng pada dunia
Bukan aku mengembun menunggu kering
Ketika matahari menyapu kening
Aku hanya mendapati rasa lelah dalam bicaraMereka mengerti nasibku yang tersalib
Seperti Engkau menuliskannya namun dicontek mereka
Hingga bertebaran warta ini ke penjuru bumiSungguh, aku lebih memilih jaminan surga
Daripada seluruh impian masa kecilkuTuhan, aku masih mencari dinding pagi hingga kini
Namun kutemukan hati ini begitu dingin
Dan aku menumpahkan marah pada ujung pena ini-gsstf, jatinangor-
14 april 07
Perempuan-Perempuan Surga
Perempuan-perempuan surga menatap dunia
Sekedarnya saja. Mereka diturunkan dari langit
Seperti hujan di musim kemarau. Meneteskan air mata
Yang menjadi anak-anak sungai kehidupan
Mereka tak punya hati untuk mencintai
Emas, permata ataupun sutera. Wajah mereka adalah cahaya
Menuntunmu dari kegelapan jiwamu sendiriWahai diri yang senantiasa menantikan mati
Mereka memberikan salam padamu
Dengan perkataan kebaikan sambil menundukkan pandangan
Dari angkuhmu yang berdiri terpatri
Pada luka-luka tubuhmu sehabis perang
Yang darahnya masih hangat menggenangi selendang mereka
Dan bahumu seakan tak sanggup menahan beban hadiah TuhanWahai ruh yang selalu terbang mencari-cari kedamaian
Mereka menerangi rumahmu dengan rambut matahari
Hingga kau menyangka bahwa pagi selalu menyertaimu
Sampai kau merasa ingin selalu melangkah
Tak pernah ingin tertidur yang menjadi gerbang mimpi
Sebab mereka adalah catatan kenyataan yang tertulis abadi-carstensz dove, gsstf jatinangor-
31 march 2007
Pagi Sebelum Gempa Terjadi
c.d.
Pagi sebelum gempa terjadi
Tuhan membangunkan aku waktu subuh
Ia mengajakku bersandiwara
Dan bermain-main dengan duniaTak ada merah di ufuk timur
Namun bias awan menandakan kematian
Seseorang menghijabkan do’a untuk kerja
Mereka sembunyikan kata-kata dibalik pakaiannya
Namun udara tetap lembut membuai kitaApa yang harus kukatakan pada Ibu?
Bahwa aku telah rata dengan tanah
Bahwa aku luluh lantak karena cinta
Bahwa darahku telah menjadi sungai-sungai
Bahwa tubuhku terpaku oleh matahariDan apa yang harus kuakui dihadapan Ayah?
Ketika aku berdusta tentang pengembaraan
Ketika aku berlari dari medan perang
Ketika aku tertidur karena mabukOh Tuhan. Tetapkanlah aku pada jalan lurus-Mu
27 maret 2007
Carstensz Dove
18 june 06tak memerah darahku
jika mereka perah
seperti hari
yang bertuah
dan
kita mati terkunci
Carstensz dove
03 november 05Dengan Sisa-Sisa Ingatan
Dengan sisa-sisa ingatanku yang pasang-surut
Aku menggali kilau-kilau hitam pasir pantai
Seperti yang kulakukan bertahun lalu
Saat aku menyapa laut dengan sepeda santai
Hanya penduduk tatar galuh yang hendak kutemui
Lagi tuk obati kerinduan nyiur sebelah selatan
Melambai keringkan keringatku menjadi ladang-ladang garamDengan sisa-sisa ingatanku yang pasang-surut
Aku mengendap-endap menangis ketika hujan
Deras menderu isak-ku bertarung dengan tik-tak maut
Semua akan berada disini sayang-pusakaratu, pusakanegara, subang-
Carstensz dove
05 nov 05Menabung Malam
Krak-krik jangkrik lebih cepat dari tik-tok waktu
Namun malam tetap berjalan dengan lambat dalam sajak
Langit-langit kamar kutatap dalam rebah
Gelap disana mengartikan bias cahaya lampuSemakin resah ku pada perjalanan tuk punguti umur
Berasa bencana saja padahal tak ada apa-apa
Kubiarkan bergerak hingga menghentak tubuh sekujur
Berenda kurajut kiasan biarpun papaKupastikan menumpuk kebaikan ini tuk bekal nanti
Kutabung dalam hati sedikit demi sedikit biar jadi bukit-pusakaratu, pusakanegara, subang-
Carstensz dove
09 nove 05Bunga tidur
Pertanyaanku tentangmu menyeruak setelah kurebah
Bukan seperti itu peluk cium darimu biasanya
Kau tutupkan tirai-tirai cahaya dan bibirmu untukku
Peduli nanti mata-mata gelap itu bersandiwara kakuMerah-merah awan sore dari kota yang mendirikan api
Kurasa tak semembara tatapanmu yang asing
Biar tawa itu sama tak acuhnya dengan kereta
Tengah malam melintas kearah selatan entah kemanaSayang aku tak inginkan kembang-kembang
Yang rekah tunasnya sudah terbayangDan jawabanku tentang mimpi adalah teka-teki
-hotel muslim, cilacap, jawa tengah-
12 januari 2006
Carstensz doveSeribu
Mereka punya seribu hati tuk mencintai
Satu per satu bertambah menjadi kebencian
Menelantarkan singkat pesan berlayar diudara
Bergelombang pikiran mereka berdiri menanti
Melesat pergi
Melesat kembali
Meleset arah lemparan hidup ke dunia
Mereka punya seribu mata tuk dikedipkan
Satu per satu berkurang menjadi kegelapan
Menjadi kesempatan sekejap-kost-an d.s.-
Gg mawar, jatinangor
Apakah aku begitu meragukanmu?
Lihatlah apa yang ada dihadapan kita
Apakah aku salah tentang pertemanan hujan dan matahari?
Dan kau merasakan dingin dan panasnya
Bersemayam dalam pikiranmu
Tentang semesta raya dan tubuh kita sendiriApakah aku begitu meragukanmu?
Sehingga cinta yang kutitipkan dihatimu
Kau leburkan bersama kekasihmu yang lain
Ketika aku disampingmu sayang keinginanmu bersamanya
Kau berharap senantiasa ia ada dalam tawamu
Namun apakah ia menyeka tangisanmu
Disaat kesedihan meliputi setiap inchi wajahmu
Apakah ia menerangi langkahmu
Disaat kegelapan melingkupi segala ruang gerakmu
Apakah aku begitu meragukanmu?
Setelah semua kalimat terbuncah dan memenuhi duniamuApakah aku begitu meragukanmu?
Pada saat kejujuran langit aku tuangkan dalam ucapku
Tersenyum gembira mataku menyaksikan batas bumi yang mencair
Mengalir dalam cahaya rindu yang kunantikan
Dan selalu aku lelahkan rebahku pada kesucian iniApakah aku begitu meragukanmu?
Dengan segala kisah yang aku percayai
Namun belum kau percayai sepenuhnya
Aku tetap akan berlari menuju kehidupan yang kedua
Masih bersamamu atau sudah tidak bersamamuBulir-bulir air dari angkasa membasahi taman kita
Mereka tak sempat mengeluh ketika terjatuh mencium tanah
Apakah aku begitu meragukanmu?
Ketika malam telah reda dan bintang-bintang menderu
Masih ada yang tersisa dari denging suaramu yang membatu
Sayang waktu telah menggelincirkan perasaan kita
Secepat itu pula aku bertahta di tiang gantungan kotaApakah aku begitu meragukanmu?
Sedang aku menunggu kematian melumat kesenanganku
Masih saja kau mencela kerahibanku dalam bertarung
Aku mengakui ada perselingkuhan dalam diriku sendiri
Dan tak mampu aku menghitung dosa-dosaku yang telah laluApakah aku begitu meragukanmu?
Ketika aku memaksa tidurku untuk memimpikanmu
Selintas demi selintas bayanganmu berubah menjadi sebuah kejenuhan
Dan aku tak mau lagi menggali jiwaku untuk suatu kehampaan
Ada lubang bekas ledakan kesenduanmu dalam ingatanku
Semakin membesar dan mengerikan
Tulang-tulang dan darahku porak-poranda oleh teriakanmu
Hingga aku harus kembali dari puncak pengasinganku
Untuk membantumu tegak berdiri lagiAku melihat nyanyian angin dan kulitku mendengar getaran cuaca
Sebuah ramalan yang akan menjadi takdir seseorang
Apakah aku begitu meragukanmu?
Kedua kakiku telah menapak dengan sempurna
Oleh ketakutanku pada keagungan sesuatuKepalaku mengendus wewangian bunga-bunga
Namun hidungku mencecerkan kumbang-kumbang madu
Beterbangan nyawaku di ketinggian usiaku lebih dini
Dan aku bertelanjang untuk melindungi pakaianku yang bersih
Aku menuliskan kesementaraan pada buku yang telah tetap
Apakah aku begitu meragukanmu?-gsstf, jatinangor-
03.01.2008
19.56
Aku menunggu esok hari
Siapa tahu saja ia memberi jawaban
Datanglah esok hari
Mungkin saja jika ia menghendakiAku menunggu esok hari
Ketika tanah yang kupijak menguning oleh padi
Dan matahari menelurkan puisi-puisi
Bahkan lautan mengerami kalimat-kalimat surga
Namun bumi ini terangkum dalam ponselmu seketika
Aku menunggu esok hari
Untuk kejadian yang aku tahu dimasa laluAku menunggu esok hari
Menuliskan hidup dalam keheningan
Namun kematian datang dari keramaian
Kendaraanmu melaju terlalu kencang dalam gelap
Jejak-jejaknya masih tertinggal dalam buku hariankuAku menunggu esok hari
Karena kemarin sawah-sawah terendam banjir tahunan
Kemarinnya lagi tambak-tambak mengering oleh kemarau musiman
Kemudian kemarin sebelumnya anak-anak gembira bermain di kolam renang kota
Atau sebelumnya lagi gadis-gadis perawan menjahit cinta dalam perutnya sendiri
Hingga aku tak punya dalih apa-apa pada pertanyaan alam ini
Aku menunggu esok hariMereka akan berprasangka tentang banyaknya jiwa yang ditidurkan
Mereka terbiasa dengan arah cahaya tenggelam
Aku menunggu esok hari
Di pinggir ranjang aku selimuti lekuk tubuhmu
Masih sempat kucium harum keringat ini
Terbata menanti kata, kau telusuri lingkaran sukma
Dingin mengeretap dilehermu, kubasahi dengan bibirku
Aku memahat hatiku dengan pisau rahimmu
Dadaku terbuka untuk kau lesapkan karunia, aku menunggu esok hariSeseorang berbicara kepada cermin
Ia melihat bahwa salju tak seputih wajahnya
Ternyata angkasa tak sebiru darahnya
Bahkan sutera pun tak sehalus telapak tangannya
Maka ia melunturkan warna dirinya dengan menangis
Aku menunggu esok hari
Seseorang mendalami waktu, aku menciptakan getaran dimensi
Segalanya hancur namun jari-jemariku tersusun kembali dengan sempurnaAku menunggu esok hari
Lisanku tak mampu pecahkan beku
Benakku berkata siasatmu jaring laba-laba
Kalau saja kau ketahui
Aku bersandar padamu untuk luruskanmu
Berbohong padamu untuk buatmu jujur
Aku kenali segala ruang juga benang merahnyaSeperti harapan petani pada panennya
Aku menunggu esok hari
Seperti tenangnya nelayan dalam badai
Aku menunggu esok hari
Seperti semangat bocah saat bersekolah
Aku menunggu esok hari
Seperti lemahnya perempuan mengandung
Aku menunggu esok hari
Seperti luruhnya sifat lewat usia
Aku menunggu esok hariMereka beristirahat dalam kabut
Kiranya hantaman keras begitu pantas
Bunyi itu lebih denging dari apapun
Telinga mereka menusuk kesepian
Hingga angin pun menghitam dalam perjalanan
Aku menunggu esok hari
Mereka menunggu-nunggu (pula)-gsstf, jatinangor-
09.01. 2008
18.15
## dingin yang menyeruak diluaran
Menjadikan waktu bergerak begitu lamban
Maka renungkanlah keadaan!##**kuli-kuli yang angkat batu
Penyair memahat diatas batu
Para pencari ilmu yang selalu dituju**++petir yang mendera atau angin yang melambai
Telah membuat hujan turun dengan gontai
Wajahku mengeras dalam badai
Air matamulah yang membuatku jatuh terjuntai++^^ada kabar apa sebelum maghrib tiba
Disinilah sang matahari masih tetap bersahaja
Namun cahaya itu akhirnya menepi
Di pangkuan pedang yang sudah lama aku kenali^^\Tuhan, ampuni aku yang tak mampu bagi waktu
Cinta dan keadilan-Mu tak kupahami dengan sejati
Aku lewatkan rahmat-Mu tanpa kusadari
Tuhan, maafkan aku jika tiba-tiba jenuhku tak menentu
Keabadian-Mu sering hilang dalam ingatanku
Tuhan, didik hatiku sekehendak-Mu/-gsstf, jatinangor, 12 april 2008-
-gsstf, 13 april 2008-
(( pada hari dimana hanya kebenaran yang berbicara
Aku tahu hanya tubuhku yang berkata jujur
Dan aku mengingat segala bentuk keringat
Hingga binasa tiap kata yang telah meleburSeperti taman yang dibuat kemarin pagi
Aku ingin berhenti dari segala puisi
Sebab keindahan itu abadi
Hanya jejaknya yang terpatri dalam hatiPada hari dimana kesempurnaan adalah kemutlakan
Aku tak pantas lagi berdiri disini
Aku khawatir kecintaanku padamu berlebihan
Hingga aku lupa untuk apa aku nanti mati))~mereka sibuk seperti katamu
Ataukah mereka punya luka yang tak bisa sembuh
Sehingga mereka tak lagi hadir disini?
Sungguh, Tuhan Maha Tahu apa yang tersembunyi~!!jangan tulis aku dalam diary-mu
Sudah ada dua malaikat yang mencatat
Gerak hidupku dan pertemuanku denganmu!!

