Dari Buku Yang Dicetak -3

1 | 2 | 3

18 November 2005
Tentang Isu

Aku akan berdosa jika selalu membicarakanmu
Dihadapku manusia yang benci tak pernah ragu
Namun kau pun menyakiti mereka tanpa sadar
Keinginanmu kah atau terjadi karena terajar?
Sekali waktu ingin aku pergi tak kembali
Aku takut membunuhmu dengan pisau kata-kataku

-gsstf, Jatinangor –

18 November 2005
Satu Kebaikan

Dunia berhutang satu kebaikan padaku
Kejujuran.
Dan kebaikan pun menjadi mutiara yang hilang
Namun pasti kan kutambang sampai dalam
Segala yang muram kendalikan hatiku
Terserah apa firasatmu tentangku

Aku lelah dengan dusta
Lebih lelah lagi dengan canda
Hingga kaki lenganku kan terus mencari

-gsstf, Jatinangor –

20 November 2005

Aku manusia berdo’a
Yang tak lancar menjalankan hidup

-gsstf, Jatinangor –

20 November 2005
Dalam Kamar

Kini aku mati bersama kardus-kardus ponsel
Yang kau tinggalkan dalam kamarmu
Penuh sesak semua bertumpuk di sisi telingaku
Dalam tidurku selalu memaki kegelisahan
Didatangkan dari ranjang yang kau rebahi semalam

-gsstf, Jatinangor –

25 November 2005
Penjahat

Lihat aku sebagai penjahat
Melukai penikmat langit tanpa henti
Bertarung dengan burung-burung malam
Biar sudah tundukkan kepala hujan basahiku juga

Ternyata mataku tak secepat itu
Selalu ada yang baik dari demam tinggi
Penawar hatiku berpayung dendam
Dari mabuk dan aku menuju mandi

-gsstf, Jatinangor –

11 Desember 2005
A

siapa peduli akan pahala jika surga telah tercipta di dunia
orang tua tak pernah hadir sekalipun dalam pesta
aku mencintai dosa Adam atas permainan Tuhan
siapa peduli akan hawa jika bumi lebih indah tanpanya
kanak-kanak selalu bertanya ihwal rahim perempuan
perbincangan mereka mengiris daging langit
lembut lidahku mendengar bumbu canda itu
aku rasa tangis perih yang terlalu
berlinangan pada piring bumi yang panas

-gsstf, jatinangor-

Tengah Desember 2005
Dan Tak Ingat

Aku menemui mimpi yang berlapis
Seperti dilontarkan ke dalam sebuah goa yang pekat
Dan bertanya tentang yang sama berulang-ulang
Sampai muak yang dengarkan
Dan tawanya tak kupahami benar-benar
Tentang pernikahan yang kuhadiri dan tak ingat
Dan tak ingat. Dan tak ingat

-gsstf, Jatinangor –

18 Desember 2005
Lembayung Salju

Lembayung salju sebentar warnai halaman depan rumahku
Musim yang lebih dingin dari wajahmu yang tinggalkanku
Mantelku membeku sekeras manusia pemimpi
Dan waktu mencatatnya dalam almanak peradaban
Semakin menjadi kristal ingatanku pada Ibu
Lebih berharga dari kecup ciummu di pesta dansa
Akhir tahun dimana lenganmu erat memelukku
Mencumbu warsa baru sedang usia memutih

Lembayung salju makin menghitamkan tubuhku
Butir-butirnya menjadi pisau yang mengiris
Jiwaku terbang selesat anak panah dari busurnya
Siapa butuh panas niscaya api tetaplah dingin

-gsstf, Jatinangor –

19 Desember 2005
Sampai Saat Nanti

Sampai saat nanti nyawaku dihirup kembali oleh-Nya
Masih kan kuhembuskan berita tentang dia
Hingga benar bernapas semua dengan ayat-ayat gua
Gelap. Dan berat dia mengeja malam diselimuti
Sampai saat nanti aku sudah tak mampu bersembunyi
Tetap kuteriakkan keberadaan pedang makam dia
Tak ada pernah terkubur perkataan jujur
Sesak. Sehingga surga begitu berlumpur dilewati
Sampai saat nanti aku tertidur lelap
Kubangunkan semua dengan nyanyian kemenangan
Nyaring. Bahkan ranjang dijadikan tunggangan
Berderap lapat-lapat mengetuk langit
Pintunya mengenaliku dari rusuk khusyukku

-gsstf, Jatinangor –

25 Desember 2005
Semakin Kudus

Semakin kudus perbedaan nabi yang lahir
Dari gorong-gorong dibawah alur laut asin
Rasa cemara kian sama dengan kurma merah
Dan tak ada darah dari cinta yang bernanah
Semakin kudus semakin damai dan lupa perang
Seperti apa angkat pedang jika bibir telah tak tajam
Jika lidah terbuai waktu tak ingin mati
O…. tanah yang dijanjikan, aku sudah tak berhati
Lebih baik dari mereka yang terlalu terbeli

-gsstf, Jatinangor –

25 Desember 2005
Tak Harus

Kau tak harus menjadi seperti yang kuingin
Bila teduh hatimu telah getarkanku
Akalku tunduk mencari pikiran khusyuk
Selalu tentang jiwa yang tubuhnya diterbangkan angin
Menelungkupkan langkah laku menuju panggung hidup
Bertebaran kaku bersama daun-daun cintamu

Kau tak harus menjadi seperti yang kuingin. Sungguh
Ternyata dunia terlewati dengan jalan air mata
Dan aku tak memaksa altar agar menyambutku

-gsstf, Jatinangor –

28 Desember 2005
Kebutaan

Matahari telah hangat-hangatnya membuai tidurku
Ia menyambangi rerumputan kebunku
Dan pantulkan teduh ke sekujur tubuh
Hingga kebutaanku tersebut sebagai beruntung
Berombak cahaya datang ke pantai ingatan
Aku melihat tidak dengan mata sekadar
Biar gelap hitam suara mereka dari trotoar
Terdengar lirih tawanya memuncaki ujung jalan

-gsstf, Jatinangor – (04 Januari 2006)

04 Januari 2006
Hujan Merah

Dan hujan tak dinginkan merahnya biola
Kita memanaskan hari dengan nyanyian
Ah, kadang juga matahari tak jadi sahabat
Kalau saja kebasahan adalah kenyamanan
Kan kutuangkan musim pada relik ramalan
Diteruskan
Sebagai sesuatu dari waktu yang lalu
Aku masih rebah di beranda batu
Berhenti
Tertidur sepertinya dipan-dipan saat membeku
Membelai rambut-rambut cuaca gunung itu

-gsstf, Jatinangor – {12 Januari}

06 Januari 2006
Catatan Meja Kerja

sudah semestinya aku terduduk begitu lama saat itu
menekuk lutut ucapanku dan kukirimkan lewat angin

dari jendela, lampu kota berdiri-diri acungkan hening
dingin sinarnya kumainkan sendiri
tertangkap oleh kertas
kuhempas sebagai sampah
nanti pagi cleaning service membacanya lalu menangis
berduka dunia sebab tukang-tukang centang-perenang
menjelang usia muda head office-ku semakin berdebu

-gsstf, Jatinangor -

14 Januari 2006
Bau Hujan

Bau hujan badai tadi siang melekat erat
Permukaan karpet tidurku basah dan lembab
Suatu waktu sprei hutan kayu kudatangkan sekalian
Serat-serat lingkaran tahunnya kujahitkan nabi-nabi
Aku menunggu tiba hari kenyataan
Dengan matahari tercetak hijau peradaban
Dengan bulan mencerminkan wajah pahlawan

-gsstf, Jatinangor –

14 Januari 2006
Tempat Tinggalku

Aku sedang memilih tempatku tinggal
Di pesantren di tengah kota
Di sanggar pedesaan
Digelandangkan ke kamar-kamar mewah
Dikenalkan aku pada sesuatu yang tak baru
Dan bagaimana jika batu bertemu semut merah?
Tak akan ada sapa
Tak akan ada persembunyian kata

-gsstf, Jatinangor –

15 Januari 2006
Selimut Zarah [ku]

telah sampai hatiku pada rumah awan beranda jiwa
pada selimutnya kuyakini menerbangkan isi bumi
dan ku sembunyi dibalik perdu berduri
yang tak bisa simpan rahasia
tidak, berperang menuju inti lebih menyenangkan
ku akan berlari meski di permukaan
menjaga udara hingga dihirup oleh-Nya
hingga lingkaran menjadi tempatku berteduh
tempatku bersua suara-suara nabi
suara-suara bandang dari butiran lumpur hidup
butir-butir rumah awan beranda jiwa
berselimutku padanya

-jatinangor-

Ah mas ajis bisa aja.aku jadi malu… (poems bomber)

15 Januari 2006
Mari Mati

Mari mati dengan racun yang diberikan Ibu di ladang jagung
Kalau nanti panen ada jasad kita pada manis buahnya
Selalu untuk petani lain di kaki gunung
Kita kirimkan sebentuk nyawa baru yang bening tubuhnya
Sebentar mungkin rehatkan malakat maut
Memecut kecut gelak hidup menurut

Jangan terbangkan berita secepat itu sayang
Masih ada sambungannya dalam lidahku yang masih beku

-gsstf, Jatinangor –
Ah nu bener jis? Iya gitu? (Poems Bomber)

16 Januari 2006
Anggi Datang…….
Adzis pun Meriang

Dan ketika itu aku sambungkan hidup dengan rantai tanyanya
Tubuhku terikat kuat dengan kedinginan ini
Menghangatkan hariku hanya dengan penglihatannya
Berbekas hatiku pada perbincangan semu ini

-gsstf, Jatinangor –

16 Januari 2006

Hei, hei………
Olala, tembak-menembak seperti pesta dansa
Detak picu menghentak seperti sepatu
Lalu perang adalah gembira tentara
O, sayang aku tak mau sepi berhantu

-gsstf, Jatinangor –

22 Januari 2006
Menuju Film Berlapis

maka dengan segala senyuman yang paling tak diinginkan
setiap segalanya menjadi seperti sesuatu yang ternyata harus berhenti memiliki
rehat tubuhku mencari-cari penerangan yang ternyata juga seindah ini
kalau saja semua yang semula berdiri masih terus begitu
niscaya langkahku tak terantuk batu-batu yang terlempar dari mulut keadaaan
oleh waktu oleh pedang oleh kerugian hari
selanjutnya mungkin lagi yang bersendawa pada langsam jiwaku
memantikkan petuah-petuah luhur dari tubuh-tubuh kurus keyakinan
lalu api yang mana pada wajah yang mana dan berwarna apa

-jatinangor-

27 Januari 2006
Kalau Ini Surat Cinta

nafas waktu berhenti jika kutatapmu seperti ini
kupaksa tubuhku berlalu tanpa mengingatmu
seolah semua berlaku dengan biasa saja
seolah tak pernah ada kata yang mesti terucap
dan kubiarkan degup jantungku hari ini mati
kupejam mataku bila terus ada bayangmu
segala lupa kuharap hadir tentangmu
segala sadar kuminta hingar dariku

-gsstf, jatinangor-

29 Januari 2006
Tuan,

Tuan, aku merasa dicumbui lengkung kota hingga henyak
Mantelku koyak dan kancingnya tergelincir masuk gorong-gorong
Desah napasku bersatu dengan gedung berbibir perak
Basah wajahku dan wajahnya diguyur banjir sepanjang malam

Kalau tuan datang lagi mohon padamkan cahaya lampu jalan
Berikan hangatnya pada kanak-kanak di sudut-sudut taman
Aku ‘kan kisahkan tuan pada rimbun nyanyian nestapa
Biar mereka dendangkan petang yang selalu penuh luka

-Jatinangor-

Ini puisi tentang mimpi basah ya jis? Buru mandi siah!! (poems bomber)

Akhir Januari-awal Februari 2006
Do’a-do’a Sepi

Mereka hilangkan nyawaku dan menaruhnya di lemari hitam
Aku tak ingat seperti apa bentuk murka mereka
Sehingga ruang-ruang sadar tubuhku lemas di udara
Menjalinkan suara ketukan dengan kunci bengis mereka

Tertutup rapat kamar perjamuan makan mereka
Terhidangkan rahasia penciptaan rupa teluh dunia

Bersandar tanya mereka pada kayu
Lingkaran kayu mengunjuk percumbuan dalam layu
Aku pun kuyu menelungkupkan tangis
Membasahi gerimis yang datang lebih dulu
Mengguyur banjir tawa mereka dengan sepi ini

Aku cukupkan kalimat Tuhan dengan do’a-do’a
Yang dengan ujungnya terselipkan senjata

-gsstf, Jatinangor –

01 Februari 2006
Bapak-Bapak Yang Terhormat

Bapak-bapak! Aku gelisah tentang karya yang hendak kulemparkan
Kugelindingkan diatas tanah diantara rentetan gundu kanak-kanak
Namun sepertinya ruang-ruang itu berpihak pada rantai usia senja saja

Lalu kemana perginya pelangi habis hujan barusan
Aku lelah hingga langit jemu ditanyaku
Dirisau ranyau tintaku luntur
Kertas tulisanku terlalu berwarna kenyataan

Bapak-bapak! Aku dilahirkan dari petuahmu
Ketika perutmu bisu dan mulutmu kaku
Tali pusar itu bersambung dari kepalaku saat ini
Mengajarkan mati pada jenazah diri

Bapak-bapak!

Mereka menyembelihku dengan pisau yang telah kau asah
Di bukit batu yang kau lari menuju setan-setan
Mereka gantikan Ibrahim dengan berhala sumpahmu
Darahku terbakar mengungu dan mereka reguk sebagai anggur

-Jatinangor –

26 Februari 2006
Terik Malam

Lihat matahari yang mendidih malam ini sayang
Kurasai dinginnya warna hitam sampai tulang
Kalau tak mati juga hari ini
Mungkin lusa enggan berdiri

Dan aku tak mau jatuh cinta pada kota
Mengucap marah saja aku terbata-bata
Haus halusku kelelahan di jalan layang
Percuma aku mengingatmu dalam bayang

Kau tahu aku merindukan baju yang kebasahan
Dari keringatmu Bandung telah menjadi lautan
Api yang mana kau tujukan dari mata itu
Sedang tubuhmu pun sudah biru membeku

-Jatinangor-

Maret 2006
Seribu Tahun

seribu tahun lagi mungkin ia dapat sempurnakan waktu yang lalu
menjadi peluh
menjelma cahaya
merangsek kata

seribu tahun lagi mungkin ia dapat sembuhkan nyawa yang mati
seperti ‘Isa
seperti hari hisab
seperti kalimat

seribu tahun lagi mungkin ia dapat terjemahkan suara hati
kedalam dosa
kedalam pahala
kedalam puisi

-jatinangor -

17 Maret 2006
O…… Ksatria

Ada yang menantikan kematian keadilan
Di ujung pulau negeri ini ksatria mudah men-jenazah
Dan wabah mulai menoreh sejarah

Aku pun telah menjadi tulisan rekayasa Tuhan
Pena-ku mengingatkanku akan kemurnian
Adalah kuasa kata-kata yang melemahkanku
Berdiri dalam hatiku patung-patung Nabi nan teguh

Kalau dalam ucapanku kau gemetaran
Niscaya lakumu menderu seperti kereta kuda keajaiban
Menembus hutan-hutan kendaraan kencang
Menebas semak-semak perdu kengerian

O…. Istri Ibrahim yang suci dari kejahatan
Ajarkanku menyusu pada anak gadis sepertimu
Akan kulumerkan mata air zam-zam di matanya
Tangisnya kan menjadi bakti kerelaan anakku

Aku menginginkan dua rusuk bersamaan
Dalam tubuhku dan kutegakkan tangan-tangan pedang
Ah, luka nasibku makin menganga

-gsstf, Jatinangor –

19 Maret 2006
Suatu Minggu Nanti

suatu minggu nanti ‘kan ada yang tak kembali
kusaksikan keadaan terbiarkan mati
dan aku tetap harus terus berlari

ku tak tentu bermain dengan siapa
berseteru telingaku dari gaduh masa lalu

mereka turunkan bijaksana
sampai derajat paling hina
aku lancarkan serangan pada tubuhku sendiri
tak kusangka ‘kan remuk seperti ini

mungkin kaki ini masih ingin mengayuh malam sebelum bosan
menerjang hitam hingga darah mulai membiru
terhentak duniaku akan mimpi yang setengahnya nyata

aku enggan terlalu menangis didepanmu saat ini
kau rasa terlalu mudah berkata “sedang gundah”

suatu minggu nanti ‘kan ada yang tak kembali
lagi keyakinanku dipertaruhkan dihadapan waktu

-jatinangor-

26 Maret 2006
Generasi Vodka

Dalam setiap perumpamaan generasi
Ada yang enggan dengan karya yang berdasi
Oh, Dewi Venus memerahkan langit puisi
Seseorang diajak tuk goreskan kanvas setengah hati
Kalau nanti seseorang mengajakku menari
Kan kuhijabkan selendangnya pada rambut hitamnya
Dan kita termabuk cinta tak berhenti
Sepeti riak vodka dan kita berada dalam cawannya

-gsstf, Jatinangor -

15 April 2006
Perjalanan

aku mengendarai motor dan berbicara kotor
melewati ringkik kesakitan pengemis kota

mereka berlari terpincang-pincang mengejar angin malam
berharap ‘setidaknya kali ini paru-paruku aman’
dan petugas bergegas siaga merangseknya
mereka menjadi polusi kota karena kesendiriannya
kita sendiri bersiap menjadi taman tanpa berteman

ah Tuhan, aku menemukan tubuhku luruh dalam waktu
dan aku tak sanggup menyusunnya utuh

-jatinangor-

15 April 2006
Bersegera Mimpi

Aku ingin bersegera mimpi indah tentangmu lagi
Mempelajari Tuhan di atas ranjang keabadian. Bercakap senda
Di kastil ujung bukit ini, bau tubuhmu menyatu restu
Parfum angkasa menyedotku sampai subuh
Dan ciak gagak terlihat dari menara sana

Aku mengenal betul bentuk kerucut rambutmu
Pada simpai-nya kepalaku rubuh terjatuh
Namun senyumku menari bersama angin gurun
Dari debu dan pasir-pasir yang bertemu
Aku membangun arca yang telah terkubur jauh

Berserah wajahku pada dalamnya laut
Biar hilang merah ini berganti biru
A………
Setan memberi kesempatan pada leluhur
Untuk berucap dusta ke setiap cucu-cucunya

-gsstf, Jatinangor -

31 Mei 2006
Coba! (test)

Coba perhatikan aku yang melangkah dibawah tumpukan sampah
Sedang kau memungutnya sebagai sesuatu yang indah

Ah, tidak. Aku tak mau terlalu terlibat dalam pergulatan para dewata
Aku lebih suka menari dibawah kawah panci yang lebih suci
Kau tahu bahwa langit sangat peduli pada cerita bumi
Sehingga pertemuan mereka mengungsikan tubuh kita

Dengar! Seseorang disana mencibir kemesraan tentang shakespeare
Juga menuduh yang bukan-bukan terhadap chairil
Oh, kurasa kata-kata mulai tak berasa
Dan sekarang mereka menaruhnya dalam telepon genggam

Aku minum kopi instant pagi ini dan televisi menghabiskannya

-Jatinangor-

10 Juni 2006
Seseorang Di Sana

Seseorang di sana mengajariku bagaimana menundukkan muka

Dalam hawa petang tak seharusnya aku menyapa
Sebab setiap kesenduan menyisakan nestapa keperihan
Seperti sebuah ujung jarum yang menjahit jantungku dengan tak rapi
Sehingga pakaian do’aku compang-camping
Namun Tuhan meneruskan permainannya, aku tak berduka
Hanya suatu keadaan waktu yang kembali terulang sayang
Dan di jalan yang sesat ada kebenaran yang datang

Seseorang disana mengajariku bagaimana tak pedulinya cinta

Dengan terbiasa mereka mendekapnya hingga buta
Sampai mengira bahwa takdir telah berada dalam genggamannya
Dan malaikat melindungi mereka dengan cahaya
Seseorang disana mengajariku bagaimana mengingatnya

Bagaimana melenyapkan gerimis di musim hujan
Bagaimana menghilangkan kering dalam kemarau
Bagaimana membekukan putih dibalik salju
Bagaimana berkata dengan diam

Dan aku mengajari seseorang disana
Bersembunyi menceritakan segalanya
Ia mendera hatiku lewat lecut wajah seolah luka
Sayang,
Sungguh aku jenuh kehilangan sesuatu

-gsstf, jatinangor-

27 Juni 2006
Sepertiga Malam I

Sungguh seperti biasa saja aku melewati gurun hitam yang dingin
Pekatnya udara kuhirup sebagai kematian dari sang bising
Kau tahu bahwa matahari pergi meninggalkanku
Sebelum kedua matamu berkedip sebagai laku

Aku mengajak bintang berbicara tentang cinta
Namun ia malah menandakan sebuah petaka
Sebuah lukisan tanpa warna kuning sendu
Dan tubuh kurasa makin hening beku

Malam semakin lunglai menuju ranjang-ranjang siang
Sungguh tidurku melenyapkan duniamu hingga melayang
Namun aku ingin terbang menemu rahasia mimpi
Yang dengannya aku dinyata hidup dari hari ke hari

O, langit yang ditinggikan oleh Sang Raja
Di bumi-Mu jiwaku dihamparkan dengan sengaja
Dan kudapati kepingan cahaya dari ingatku
Namun kedua lenganku ternyata masih kaku

Kalau esok kau mencariku dalam kegelapan ini
Semoga putih wajahku menuntunmu dengan berani
Aku hendak ceritakan tentang kesucian
Dan hanya kau dapati pada sepertiga malam

-gsstf, jatinangor-

27 Juni 2006
Menuliskan Senggama

aku bukan saja telah memasuki sebuah kehidupan tubuh butuhmu
dengannya aku telah membunuh begitu banyak nafas-nafas ragu
kita tersengal dalam menghirup udara sekitaran kamar
dan dengan waktu lenganmu serasa kejar-mengejar
aku tak takut akan matahari yang melelehkan salju hati
kesenduan cahaya akan selalu terasa di musim semi
dan kita berangkat menuju kota yang telah hijau oleh kata
pada dinding-dinding gedungnya sajak-ku menjelma kaca-kaca
lalu airmata lagi yang menuntun perjalanan ini
menemu sungai menemu laut menemu langit sunyi

setiap kalimat kubuat lirih setiap lagu kugores luka
namun kita menikmati takdir dalam hati terbuka
membuang sisa-sisa penat lampu-lampu hidup
menyalakannya lagi meski masih akan redup
-gsstf, jatinangor-

28 Juni 2006
Perempuan tua

Perempuan tua itu mengenalnya sebagai anak muda yang suci
Hidup di apartemen kota diantara kelakar-kelakar pendengki
Ia sering menolongnya menyeberangi jalanan padat
Meski nantinya ia datang bekerja dengan terlambat

Pernah suatu waktu anak muda itu menjenguknya
Ketika penyakit senjanya kambuh dan tak berdaya
Satu-satunya manusia yang masih peduli
Demikian ia sedang berujar dalam hati

Dalam ketakutannya akan maut yang senantiasa mengintai
Anak muda bersedia mendengar tiap kesahnya dengan santai
Kisah-kisah terbuncah hingga malam pun larut
Hingga tak lagi mampu berucap lalu tertidur

Esok paginya ia terbangun karena mendengar bunyi hantaman keras
Segera ia melongok keluar jendela dan menatap tajam jalan raya
Sesuatu telah terjadi pada seseorang yang ia kenal
Tas kerja warna hitam, kemeja putih berdasi dan sepatu pantouval

Ia berlari keluar dan menghampiri
Berharap keajaiban lain di pagi hari
Tidak, anak muda itu mati dengan tersenyum kearah langit
Tugasnya telah selesai melewati peperangan dunia dengan sengit

-gsstf, jatinangor-

05 Juli 2006
Tiba-tiba

Tiba-tiba saja aku tak mampu merasakan udara rindu
Ia raib ditengah keriuhan yang begitu membunuh
Dan tubuhku semakin lunglai pasi berdiri
Suaraku hilang ketika memanggilnya kembali

”every little thing she does is magic”
telah melukaiku dan ia renyah tertawa menggigit
kau tahu bahwa seorang nabi
hanya mendapati keajaiban dari langit

aku tak pernah berlari dari titah cinta yang jemu
”can’t stand losing you”
dan kujelmakan sajak-sajak sebagai sekutu
sebagai permaisuri bagi hatiku

mereka menghadapkanku pada sebuah keadaan
sedang aku sendiri sudah tak bertuan
”englishman in new york”
semakin gencar saja mereka memperolok

ia menjauhkan aku dari tajamnya pedang Tuhan
dan bersamanya aku tak ’kan sanggup lagi berperang
ini seperti sebuah kepastian nasib
”don’t stand so close to me”

tiba-tiba saja aku tak mampu lagi merasakan udara rindu
ia pun raib diujung keriuhan yang sangat membunuh
namun aku akan selalu menjadi-jadi

-gsstf, jatinangor-

06 Juli 2006
Sepertiga Malam II

seperti pagi hari yang sedari tadi telah berdiri
namun tubuhnya masih menengadah kearah langit
matanya terpejam hingga lebam
sedang waktu tak juga mau redam

ia mengerti tentang hari yang cerah saat malam
bahwa tertidur adalah sebuah keresahan
bahwa kesepian adalah sebuah kehidupan
ia percaya bahwa dadanya kini penuh sekam

kalau aku masih bertaruh pada dipan-dipan rindu itu
niscaya ia melompat, berteriak, menuduhku pembunuh
hanya tangisku yang ‘kan mendiamkannya
dan aku tahu ia tak ’kan sanggup bertahan

ada yang tak kucapai dari undiannya dengan semesta
ia berbicara dengan puncak gunung tanpa kata-kata
ia berpelukan dengan angin lembah dengan nyata
aku selalu tak mengerti jika Tuhan sudah bercerita

seseorang menyangka kami adalah sepasang anak Adam
tersesat di putihnya kabut bumi
berlari-lari, mencari-cari, tak berhenti
ia sungguh melihat dengan mata awam

-jatinangor -

10 Juli 2006
Setiap Kali

Setiap kali matahari membenamkan dirinya di ujung kota
Aku selalu sudah sampai pada pertanyaan dimana Tuhan
Dan lelaki itu menjawab, demikian itu adalah percuma
Tak ada manusia yang dapat lenyap dalam gelap

Sesudahnya aku berdiri di mulut jurang yang terjal
Masih pekat ingatanku pada selintas lompatan karma
Aku menangkap lenganku dengan hati yang perih
Namun kutemui rinci tubuhku telah memutih

Aku lanjutkan perjalanan diantara pepohonan kering
Musim hujan enggan menyapa di tanah seperti ini
Dan kutakacuhkan sumur-sumur cahaya yang telah diracun
Dalam langkah nafasku, sungguh surga telah dibangun

Masih juga hangat do’aku menebas rasa takut
Seperti laju waktu mengeringkan air mata
Semakin deras luka-laku hatiku kian kalut
Kuseka sebagian lalu menjadi permata

Kau tahu semakin berat lututku menekuk berayun
Sudah terlalu berdarah tubuhku oleh debu-debu
O, tuan peredam cinta yang begitu berkuasa
Selamatkan aku dari dosa yang mengalir tak berasa

Setiap kali aku menuliskan sesuatu yang belum tentu
Ia yang kusebutkan telah berlari sangat jauh
Dan tinggallah aku memeluk hampa disini
Menikam mati seperti seorang nabi

-gsstf, jatinangor-

11 Juli 2006
Saudaraku Yang Jauh

pagi ini aku lupa mendo’akan saudaraku di negeri yang jauh
rupanya aku terlalu sibuk memohonkan surga untuk diriku
sendirian aku hanya meminta tubuhku disucikan

aku kira mereka lebih dalam terluka
dan aku disini berhari-hari terdera
berdusta dengan cinta yang kuucapkan

sungguh aku telah lama berjalan dengan sepi
namun mereka telah berperang sebelum aku lahir
aku rasa tak berarti apa-apa tubuhku ini

aku tak berdaya dihadap kanak-kanak berbatu
mereka telah lebih tahu tentang tujuan hidup
sedang jiwaku baru tertangkap sudah kalut

aku mencintai seperti seorang hamba sahaya
tak bermata namun aku melihat segala
dan kuarahkan hatiku pada jalanan buta

maut tak pernah bercanda, sayang
ia selalu bercermin dalam tiap langkah
dan ia tak pernah datang diam-diam

suaraku menggema diatas jasad ksatria
suaraku bergetar pada kilatan pedangnya
suaraku bertahan dalam kesunyiannya
suaraku menerawang ke padang-padang
suaraku bertaruh tanpa kata-kata

-gsstf, jatinangor-

12 Juli 2006
ranjang-ranjang, dipan-dipan dan sprei bunga-bunga

Aku tidak begitu paham tentang ranjang atau dipan-dipan
Dengan bantal-bantal dari bulu angsa ataupun pohon kapuk
Terlebih sprei yang berwarna-warni atau bunga-bunga
Yang aku tahu bahwasanya setiap malam aku tersedu

Aku melahirkan banyak cerita dari ketaktiduran ini
Keangkuhanku sama banyaknya dengan bintang di langit
Berserakan dan tercecer di jalanan pada pagi harinya
Dipungut oleh jiwa-jiwa mulia sebagai harta dunia

Masih dalam gelap aku berlari menuju keajaiban
Menari-nari dengan gembira tanpa menggerakkan lenganku
Kedua mataku terbuka namun tak kudapati cahaya
O, duka, aku tak mau bertebaran terlalu lama. Sungguh

Di rumah yang ini, aku sudah terlalu lama singgah
Sudah sangat lebih dari tiga
Aku percaya ini keluar dari aturan adat
Para leluhurku mulai membacakan mantra-mantra

Di sana sepertinya semua perihku disini akan dibasuh
Lewati ranjang-ranjang, dipan-dipan atau sprei bunga-bunga

-gsstf, Jatinangor -
(tanah pengembaraan)

12 Juli 2006
Seperti Yang Telah Dijabarkan Sebelumnya

seperti yang telah dijabarkan sebelumnya
dalam buku-buku kota, sang raja tengah merasa cemas
seseorang telah membuat hatinya lemah.
tembok-tembok istana mulai dilengkapi senjata
prajurit-prajurit dilatih setiap hari
mengenakan baju-baju zirah berlapis besi
dayang-dayang diungsikan ke negeri-negeri yang jauh
kuda-kuda disehatkan hingga gemuk-gemuk

sang raja melihat bintang dalam tidurnya
jatuh padanya dan ia mati dalam cahaya
sang raja yakin mimpi itu sungguh berarti
ia ingin bertahan dalam hidupnya yang abadi

dinantinya setiap pertanda saat fajar terbit
ia membaca desau angin, menghitung banyaknya awan
mengamati burung-burung, melihat tinggi matahari

minggu-minggu berlalu, bulan-bulan berganti tahun
tubuh sang raja sudah semakin rapuh
ia ditinggalkan sendirian di istananya
mereka berkata ”ia sudah tak pantas jadi penguasa”

suatu pagi seperti biasa ia menanti pertanda
kedua kakinya mulai tak berasa
dadanya berhenti berdetak
seluruh badannya kaku membeku
kerongkongannya tak bersuara sepatah kata-pun
pandangannya gelap dan ia kedinginan, lidahnya kelu

ia roboh dan terjatuh
selintas ia bertanya ”inikah kematian itu?’

-gsstf, jatinangor-

13 Juli 2006
Cuma Tambah Satu

Pada suatu saat nanti aku yakin
Kau akan menghubungiku lagi
Menyebutkan namaku dengan biasa saja
Dan seperti kemarin kau bercengkrama
Dengan yang lainnya

Aku tak keberatan menjadi pelayan Tuhan
Dengan beban yang kau timpakan padaku
Kau tahu aku tak kenal lelah dalam menghamba
Sebab setiap ksatria selalu miliki luka juga takut

Pada tiap petangnya tubuhku menjelma debu
Dan tak ada yang membuka mata ketika debu itu lewat
Angin telah menerbangkan seluruh sisa rinduku
Sampai pada suatu tempat dan aku tak’kan katakan
Pada siapa – seperti apa rupanya

-gsstf, Jatinangor –
(tanah pengembaraan)

carstensz dove
date modified : 8/1/2006 3:45 PM
istirahat

seseorang bertanya akan istirahat dimana dia malam ini
kepalanya selalu menjadi delapan arah mata angin
pada tungkai kakinya aku sudah tak lihat tulang
dan kusaksikan ribuan malaikat di belakang

pundaknya selalu mengucapkan selamat tinggal
dan bocah-bocah saling bertanya “ apakah kamu kenal? “
aku bertaruh untuknya menemukan perahu Nuh
aku pernah melayat kekasihnya gugur tanpa ruh

ia mampir di sebuah rumah petani dan menggali tanah
dan temukan lengkung kayu-kayu yang sudah basah
semakin yakin ia pada mimpinya yang berkata nyata
namun ketika pulang, petani itu telah kembali ke kota

pencarian belum usai sayang, ia melanjutkan kearah puncak
di lereng pasir hitam bekas letusan magma ia tak bergerak
keringat lelahnya menumbuhkan bau anyir paku-pakuan
dan kabut mengendarainya saat siang tanpa segan

rupanya udara sekarang yang memegang haluan
walau pelan ia mengangkat sesuatu peran
ada nama-nama yang karenanya jadi tinggi
ia selalu berbicara dengan merinci

carstensz dove
dari pagi

Seorang perempuan terbaring lunglai
Saat matahari tengah menari gemulai
Kupu-kupu pagi dengan sinis mengitari
Kembang merah yang baru rekah cepat-cepat mati

Aku menyayanginya karena ia begitu sederhana
Dari segala luka yang ia bawa dengan mata berkaca-kaca
Terpukau aku bertahan dari segala perihnya
Ketika ia menangis sendiri di negerinya

Kami tak bersalah karena mencipta senjata
Kami menghitungnya sebagai sebuah tanya
Mereka yang menarik picunya untuk membunuh
Tak pernah mengenal kami secara utuh

Kalau aku diperkenankan tuk melindungimu
Aku mungkin akan dengan sengaja bertarung
Melawan karma yang telah terbangun sempurna
Selalu berjuang untuk sebuah kehormatan paripurna

Tapi nanti aku akan lupa pada takdirmu
Yang bersandar pada tulang rusukmu

Segala ruang adalah medan perang
Dan cinta adalah senapan yang telah terkokang

Gsstf, jatinangor
15 agustus 2006

07 September 2006
1,3,5,7,,,

Kalimat puisi yang meluncur dari lidahku seperti tak berasa
Mereka tidak lahir dari suatu pertarungan sengit
Kemunculannya hanya sekedar hadir seperti angin
Bertiup dari lorong-lorong ingin, menamakan diri cinta

Pandanganku jadi berkabut kalau begini
Langkahku menuju sembarangan arah
Aku sedang dibutakan oleh waktu di sini
Kurasai nyawaku senang terbang bersenda

Sebentar aku pergi mencari peri-peri
Aku kembali dengan bertukar perih
Ah, tuan bersangka terlalu bijaksana
Sayang tak kutemukan rencana di sana

Pertautan keadaan antara usia sebuah kota
Dengan rinyai luka matamu adalah sebuah duka

O, Ibu yang mengajarkanku rentang rindu
Aku tak paham tentang ujung sebuah juang
Aku bergerak dengan kepala menunduk
Horizon akalku tak berkembang lewat pedang

O, darah yang tertata dalam pembuluh mulia
Sakitku telah mengendurkan segala dosa
Dan kukencangkan lagi nanti ketika sembuh
Aku sungguh tak mengerti tubuhku sendiri

Sekarang aku tengah mendera dadaku
Aku sungguh mencambuki punggung ini
Bertahan dari lelahnya ingin lari
Aku tak mampu melesat, kakiku memaku
Lututku beku, bumi sepertinya sesaat tak berputar
Rambutku berpayungan petir-petir yang menyambar
Tapi sungguh, aku tak berdusta dengan cerita hambar
Aku selalu mempunyai mimpi sebelum tidur
Kurangkai sendiri dengan jari-jari lemahku
Menciptakan sebuah dunia semacam de javu
Dan kutahu lunglai hatimu mencemoohku

Masih banyak kisah yang tertera dibalik setiap wajah
Mereka sembunyikan legenda seperti sebuah rahasia
Namun mereka ungkapkan lewat dongeng-dongeng sendu
Membuai suara-suara renta hingga repih meruntuh

Sedianya sebuah bejana menampung madu nan utuh
Apa daya sang lebah keburu mati terbunuh

Seseorang menangkapnya tanpa lebam sengatan
Ia lihai memainkan peranan udara pada lengannya
Begitu dingin, begitu panas, begitu hangat
Begitu reda, aku memuntahkannya sekuat tenaga

Dan petang dimulai lagi oleh sang penguasa
Aku kira tak ada yang benar-benar berubah
Segalanya berjalan seperti sebuah sepi
Aku mengambil satu dan kubunuh nurani

Kau menemuiku lagi,
Aku masih tergolek sebagai pengecut
Kau menatapku lagi,
Aku masih terdiam sebagai penakut
Kau menungguku berkata,
Aku tetap tenang seperti pendeta

Ah, kau membuang harapan dengan menantiku
Wangimu memelukku namun aku tak terbius
Ada yang belum kau pecahkan dari kepurbaanku
Sebuah teka-teki yang selalu kulemparkan saat tiba lembayung

Burung-burung mematuknya dan dijadikan sarang
Aku paham binatang meski tak seperti Sulaiman
Seperti aku membersihkan kulitku dengan mandi

Segala gila bersemayam di dalam jantung
Namun berbungkus nisan waras dan bertudung

Seseorang di batas gelap resahku tengah duduk di kursi malas
Dengan cahaya di belakang hitamnya ia tersenyum mesra
Keheningan begitu yang buatku membatu
Namun aku jadi hidup selalu
Dari putih gaunnya
Dari kelabu kayunya
Dari telapak tangannya ia memanggilku dengan membisu

Terlalu mudah untuk langit meninggi
Terlalu biasa untuk laut didalami
Aku terbuka mengiris daging kata
Hingga kau pun mampu menerka

Mereka membaca berita semesta lewat sajak-sajak
Dihapalnya serpihan-serpihan itu lalu berteriak-teriak
Atau menangis ditengah-tengah pasar
Atau hanya mampir pada rasa gusar
Atau terakhir mengangguk tertawa lebar

Kau tahu aku mengendarai keajaiban di jalanan bercadas
Aku tak pernah berhenti meninggalkan bekas
Seperti perawan yang ingatannya mengeras
Dan aku bertaruh untuk sebuah jiwa yang bebas

Ketika ’Isa begitu terikat, sungguh ia telah terangkat
Damai bertahta diatas singgasana dua alamat

Aku telah menjadi raja bagi nasibku
Tapi aku adalah hamba takdirnya
Sayang, aku tengah mengharap perintah
Kau mengenal betul kegalauanku yang demikian
Sejenak lagi aku mungkin bersaksi
Dan kau dapati aku tertatih berdiri
Seperti ketika kucium keningmu namun kau tak tahu siapa aku

Aku melahap bunyi-bunyian dari piring pecah kemarahanmu
Dan kusendok remah-remah reruntuhan keagunganmu
Ketika kau suapi aku dengan segala kerendahan
Ada seberkas kehampaan yang begitu kentara

Tanpa media kau aku bercakap tentang permainan
Tersendiri lagi berasing dari segala yang fana
Sampai bintang menimpa planet ini
Hingga habis almanak Masehi

Kian berkala pernikahan sepasang manusia
Bersandingan lewat musim-musim yang berjangka
Aku menyerah dari ketentuan hujan
Jika kau menghendaki kemarau panjang

Mereka cukupkan petualangan dengan jengah
Di satu labuhan saja, walau badan mereka tak pernah bernanah
Mengabari gadis-gadis sebagai pahlawan tak sadis
Sayang, tak ada bengis tak ada tragis
Aku kira tak boleh ada lagi roman mengikis
Perjamuan makan dengan para ksatria selalu bertajuk
Di sisi-sisi medan perang selalu siaga dayang-dayang merajuk
Namun aku berselimut didalam tenda dan bersemedi
Kediamanku tak lain adalah sebuah perisai dini

Perlahan aku hirup debu-debu yang menjadi energi
Seiring rengatnya ketakutanku akan sebuah jarak
Sebuah kebergantungan yang melompat-lompat marak

Aku tahu
Bahwa kasih sayang murahan mampu
Mengalahkan haru bencana tanpa ragu-ragu

Sesuatu mengilhami ketersendatan durasi apiku
Seperti berpercuma saja semua belulangku menyala-nyala
Seorang pengembara selalu merebut suatu tempat
Memetakannya didalam bantal-bantal anak cucunya
Kalau ia terkubur maka tanahnya adalah akhirat seketika

Sungguh aku ingin menulis tentang pengulangan
Yang nantinya pasti memberikanmu kejenuhan
Aku sungguh tersentak dengan semua penuturanmu
Yang sungguh telah kuketahui jauh sebelum saat itu

Tapi nanti aku kan semakin menanggung nestapa
Kubawa-bawa di pundakku hingga kenanganku menua
Keintimanku denganmu akan cepat sirna
Kau tahu aku selalu enggan berlaku nista
Aku tak mau bersenggama sia-sia
Aku tak mau berpeluh tanpa tujuan
Aku tak mau berkeringat hanya karena kau dekat

Sebagian darimu akan membohongi
Apa-apa yang telah dikeraskan oleh mulutmu

Seseorang sedang mengalihkan perhatiannya
Pada sebuah misteri saat matahari mulai menggali
Sebuah keberanian pengungkapan
Dan aku kira keluguannya jadi ternodai

Aku memandang angkasa dengan cara yang sama
Sebuah konstelasi yang kau yakini selalu berupa
Sayang, garis galaksi adalah sesuatu yang gaib
Segala dakwa ramalmu akan pasti raib
Ah, buah-buahan hawa lebih manis dari lesung pipimu
Dan baru saja kureguk sedikit sungai anggurnya
Aku memaafkan warna-warna kemudaanmu
Semoga saja lukisanmu mampu menjelma arca

Aku tak pernah merasa bersalah pada gerah
Disana aku terdidik untuk enggan berserah

Lengking suasana siang adalah penyinaranku
Berkilauan logam pakaianku memantulkan pusaka namamu
Dalam terang aku pejamkan penglihatanku
Sehingga kudengar detak raga kejujuranmu

Selalu ada yang tertinggal dari catatan musim semi
Gugurnya daun-daun tak selamanya jadi anggun

Aku tak pernah mencari sang gelandang pulang
Rumah baginya bukanlah lagi sebuah ruang

Renda air mukamu telah terbentuk selama ribuan tahun lalu
Aku mengejanya sebagai bahasa karya dengan sifat baku
Sebagai penyelamatan paling dangkal dari penyelamanku

Diperlukan kesiapan berkelit dari kesenangan sesaat
Mereka datang tanpa sapaan dan biasanya terlambat
Dan kubenarkan segala perasaan yang terkhianat

Tuan, mohon biarkan aku mengungsi
Pertengkaran demi surat-suratmu
Telah membalikkanku jadi sangsi
Mohon sunyikan telingaku dari segala keluh
Dan besok di barisan paling depan
Aku menderu mengokang senapan
Tak gentarku menyongsong peluru lawan
Demi kerelaanmu aku kan menerjang

Aku menunjukkan sebutan-sebutan labirin desa
Namun kau sama tak percayanya dengan seseorang sebelumnya
Kau menanggapiku seperti pengembara negeri asing
Kau menghakimiku bahwa aku adalah seseorang yang lain
Aku sungguh sering bercengkerama dengan pertigaan itu
Sejarah ranjang selalu tertuang pada tuan-tuan penerusnya
Dan aku tetap menjadi penasehat yang selalu terabaikan
Siapa yang lebih beruntung naik ke pelaminanku?

Puji syukur aku sematkan dibalik setiap do’a-do’aku untukmu
Bersama rintik gerimis yang tersedu aku memohonkan ketenanganmu
Dan didalam aliran fluida aku titipkan kekhusyukanmu
Biar hinggap pada bentangan sayap-sayap malaikat
Yang direntangkan dari timur sampai ke barat
Dimana kau berlindung tanpa kecemasan yang begitu pekat

Pengutaraan sumpahku untuk memilikimu
Adalah belaka bisikan setan yang telah beralur
Tak ada yang pernah benar-benar sendirian

Kau semakin akrab
Dengan lusuhnya kertas-kertas dan tinta coklatku
Keberadaanku masih berarti sampai disini
Aku tak bergantung pada kerabat
Dengarkan gunjingan mereka yang berkecamuk
Hingga saat nanti mungkin akan teguh terpatri

Aku belum mabuk sayang
Kau belum menjadi candu
Aku membuta menyembah Tuhan
Kau bersujud dibelakangku

Mereka melipat-lipat prosa berhala
Kedalam sakunya yang rombeng oleh novel
Mereka sadar akan kuasa yang segala
Sehingga bekerja lewat ringan celoteh

Bukankah aku telah mengetuk pintu surga?
Yang penghuninya menyalamiku dengan perkataan paling indah
Dan aku kira mereka begitu menginginkanku untuk singgah
Dan bukankah aku tak akan bermuram durja?

Aku mungkin akan beristirahat dari sini
Sejenak aku lepaskan penat sedikit demi sedikit
Biar senantiasa bermakna segala yang kupuja

-gsstf, jatinangor-

25 September 2006
Kabar Dari Jalan Raya

Masih sangat pekat dalam ingatan darah kepalaku
Kelokan-kelokan curam menuju rumahmu di luar kota
Melewati hutan-hutan jati yang terpaksa meranggas
Sebelum waktu menggulirkan musim kemarau

Rinduku mengaspal sepanjang jalan itu
Hitam tubuhku tak bermarka sesuatu
Kita berselisih tentang tenggelamnya matahari
Dan aku bersikukuh disanalah malaikat mungkin pergi

Sebentar aku singgah di kering pegunungan
Mencari-cari air seperti istri Ibrahim
Kau menertawakan aku yang kelimpungan
Namun kudapati juga sumur hati yang tak kunanti

Sejenak harapanku menyeruak
Ruang-ruang jantungku berteriak
Segala luka mungkin terobati
Semua perih aku minta mati

Aku kembali ke tempat kau terbaring
Membawakan cahaya dalam genggamanku
Aku tersenyum menatap matamu yang bergaris
Kesepian diantara kita tak pernah membunuh

“bangun sayang………
kau tak boleh tertidur di jalan raya
ranjang pelaminan kita telah disiapkan
ada wangi bunga-bunga seperti yang kau pinta
sebuah kenyamanan untuk selalu bercerita
tentang anak-anak kita yang akan lahir
dan kita akan selalu bahagia…..”

aku memelukmu sesaat sebelum Tuhan mengambilmu
agar Ia tahu bahwa aku juga mencintaimu

-gsstf, Jatinangor-

25 September 2006
Pada Saatnya Nanti

Pada saatnya nanti aku akan melamarmu
Dengan segala kesungguhan hati
Dan aku beritakan lewat sajak ini
Aku tengah menabung mahar
Yang akan kuberikan pada ayahmu
Sebagai wali aku akan mencium tangannya
Dimuka penghulu aku membelimu dengan ikrarku

Pada saatnya nanti kau akan menangis
Meninggalkan Ibumu dan akulah surgamu
Kau akan menjaga hartaku
Ketika aku pergi berperang demi Tuhan
Aku memakai wewangian
Dan kau menghapalnya meski tertutup hijab
Lalu suaraku akan seiring degup jantungmu
Kau akan mengerti keletak sepatuku dari jauh
Ketika aku pulang membawa seikat kembang

Pada saatnya nanti kita akan bertengkar kecil
Kau bersikukuh sebagai perempuan mandiri
Merasa mampu berjalan sendiri
Aku bersikeras sebagai lelaki yang menghidupi
Namun kita telah terpagut dalam tautan suci
Kita saling memaafkan dan semuanya berjalan
seperti biasa lagi
Memeluk anak-anak kita berjuta kasih sayang
tumpah-ruah didalam rumah

Pada saatnya nanti kita menua
Tertinggalkan bersama do’a-do’a
Dan kita hanya berdua
Pada saatnya nanti

-gsstf, Jatinangor-

1 | 2 | 3