Dari Buku Yang Dicetak -2

1 | 2 | 3

28 Mei 2005
Aku Melamar Pernikahan Kita

Aku melamar pernikahan kita
Di masjid kecil dekat telaga
Saat surya hangatkan cemara
Dengan warna hijau kesenduan

Dan kita bercerita dari ratanya sampan
Yang ambang di permukaan airnya
Tentang masa datang nyata berbayang
Semakin riang kudayung malam

Kecup kening darikulah pertanda
Semua ramal dari pengkhayal jiwa

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

02 Juni 2005
Hantu

Sengaja ia lari dari bayang-bayang dalam kamar
Tunggangannya berambut hitam, putih. Terus ikuti
Sampai tabrak dinding seperti didorong. Begitu saja

Ingin ia bakar besi hitam itu
Biar mati teriak-teriak dalam api

Ah, kisah itu berakhir dalam kelesuan
Dalam istirahat malam tak tersangkalkan

- gsstf, Jatinangor {hutan karet} –

02 Juni 2005

Dan kitalah nabi-nabi
Dalam layar warna sekarang
Tanpa sebuah kitab suci
Bertumpuk ari-ari dedaunan

Kembang merah rekah
Cuma tersiram hujan
Dalam kotak tak bertuan
Tak lekang rumah dari petuah

- gsstf, Jatinangor {hutan karet} –

02 Juni 2005
Kamu

Yakinlah bahwa aku sedang mensenyumimu dalam tiap huruf dan kata-kata yang terdera pena.
Teduh. Dengan anggun selalu hati rendah. Hampiri remah-remah engganmu. Menjadi baris sandi diammu. Di kebun jagung, kemarau

-gsstf, Jatinangor –

06 Juni 2005
Pasar Nanti

Dan pasar akan tercipta di jalanan
Para peminta. Berdesakkan hingga bertukaran tangan
Dengan pembeli. Yang busungkan sakit di roda Mercy

Lagi, semua dakwah di podium tulang
Diinjak. Diucapkannya kata sayang
Memang. Segala nyawa mesti melayang

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

06 Juni 2005
Bertanya Pada Yang Mati

Riuh menoreh. Sayatan berbekas di udara
Kicau burung menyepi
Suara kalahkan pagi
Bising kendara dera-mendera

Bung, kau sudah rasai perawan Bandung
Kembang kuning di taman dingin
Sekarang terbaring. Berdiri mematung
Mereka bangun namamu dengan medali

Cak !
Kau telah ucap bahasa gerak
Dari sini. Kota yang sama
Biar dibuang kau tetap membara
Biar dipencil kau enggan mengerdil
Sampai semua angguk. Malu-malu

Bung !
Lewat apa ajak negeri supaya bangkit?
Perempuan tak menahan. Kata-kata tak melecut
Setan-setan tak kelihatan. Segalanya tertidur

Ah !
Titip salam buat malaikat maut di sana Bung.
Semoga damai di sunyi pemakaman

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

07 Juni 2005
Sekolah
Buat Firdaus Ariefatosa

Seperti saat pertama air ledakkan kota
Kau aku berenang dalam hingar-bingar
Meletuplah percik-percik dini meliar
Padahal jalan-jalan telah terendam buta

Biasa saja kau gamit lenganku genit
Lewati duyun-duyunan bukit
Hijau. Aku sempat henti di ruas trotoar retak
Tak bertanda. Kau diluruskan rambu ‘tuk bergerak

Hanya sekali. Sekali. Aku tuliskan
Hidup tak lebih dari sekolahan
Tanpa torehan pena kelulusan

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

09 Juni 2005
Kau Aku

Pada toilet sama kau aku bersuci diri
Kau sudah putih sejak di pangkuan bunda
Sedang aku hitam di bayang beranda

Sangkaku kau manut indung itu
Tuah wajahmu surup siapapun
Tak ada lerai. Tentang hangat surya berlekuk
Segala memagar. Pasak-pasaknya berseteru
Seolah damai. Segala semu

Dan aku akan lunasi kutuk Ibu nanti
Atau biar dia ingat sendiri

Pada toilet sama kau aku berseka badan
Untuk rindu yang telah digariskan

Kau aku sewaktu hanya ketika menghamba

- gsstf, Jatinangor {hutan karet} –

11 juni 2005
Setia

Buru-buru kudekap istri. Tak akan lagi lepas
Kupeluk erat surga bumi. Angkuhku rubuh
Di tubuh subur rindu memanas

Tak usah berpayah lelah kau rebah
Kami bertali emas
Berkerudung rumbia permata

Tak perlu merajuk dengan mulut
Kami penduduk kain berdiri
Bertikar tanah petang tertinggi

Buru-buru kudekap istri. Tak akan lagi lepas
Walau kau hadir seputih kertas

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

12 Juni 2005
Sajak Etnik

Aku mulai hari dengan dentuman-dentuman
Tapi bukan senapan sayang

Ujud cinta Ibu Pertiwi
Sekarang dari bunyi-bunyi
Jentring berbalas detak
Denging tambah berasa benak

Makin suci jiwa hampa dengan tari
Berayun punggung di bibir panggung
Upacara purnama tiba berseri
Mengalun mantra berpangkal degung

Perawan pulang. Tertinggal selendang
Diambil lelaki. Dijadikan jampi

Aku akhiri hari dengan desis-desisan
Tapi bukan ular malang

- gsstf, Jatinangor {hutan karet} –

12 Juni 2005
Terserah

Ada bunga merah di taman
Padanya kumbang bercerita
Dadaku sedang raih Tuhan
Padaku kepala bermahkota

- gsstf, Jatinangor –

12 juni 2005
Dini Hari

Cicak mendecak. Tak bergerak
Samping lukisan kusam. Mendongak
Dingin di luar. Dangdut memasar
Sebentar lagi pagi dan jalanan ramai

Nuansa ini berarti tangisan
Nyeri kepala kiri meradang
Tak ayal bahagia berhenti
Sejenak mencari-cari
Diantara usik dinding kuning

Masih berperi. Biar sudah menjerit
Pada yang Ghaib

Semakin gontai menerawang sunyi
Tak ingin terbaring bersama angin

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

12 Juni 2005
Dunia
buat kita

Dunia itu depan beranda kita
Tercium harum. Terdengar suara
Terpandang mata. Terasa luka

Akankah tubuh berdusta pada-Nya?
Walau diam adalah harga emas kita

Bilakah batas luaran ‘kan lebur?
Dan kita bersorak atas dunia

- gsstf, Jatinangor {hutan karet} –

12 Juni 2005
Menanti Angan

Kalau kita bertemu nanti
Kau tak asing lagi denganku
Sudah kau kisahkan semua
Lewat mataku yang terpejam
Bahkan suaramu hadir dalam gambar
Inginmupun tak jauh lari dari pikirku

Kalau kita bertemu nanti
Maka aku akan bergegas mandi

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

12 Juni 2005
2005
buat Susilo Bambang Yudhoyono

Malah tuan yang tanam jati di halaman
Nyaman istana. Kelak kokoh putihnya rekat telanjang
M’balut tubuh, dibalsem jelma mumi
Dipupuki mungil tangan-tangan bayi

Silam mereka busungkan ulangan zaman
Sekarangku pejamkan mata angin
Limbung. Tak rasa lagi berkeluh ingin
Tak jemu lagi ku bersepi, di nusa liangan

Terbalik sudah renta akan balita
Telungkup sudah gunung es dunia tiga

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

13 Juni 2005
Tampan

Tak ada yang lebih mati
Daripada Yusuf dalam sumur
Terkoyak srigala. Sudah tak nyata gamis
Terjadi dusta pada ayah. Lewat saudara

Aku tak bikin perempuan berdarah
Ini wajah anugerah sudah
Biar hitam tetap berasa pasti
Tinggal hati terus meninggi

Berarti sama menahan atas kesementaraan

Dan apalah arti mati bila tak berarti

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

13 Juni 2005
Satu

Satu meja tak bertaplak
Sebuah rumah makan dua empat jam
Seorang koki santap nasi di hadapku

Aku ingin rutin menyapamu
Dan ucap salam dengan rinci

Tapi kita cuma punya satu wajah
Pada tubuh hanya sebuah
Milik Dia yang tak bisa dipaksa

-gsstf, Jatinangor –

14 Juni 2005
Rindu

Kalau sudah begini,
Aku jadi rindu makian ema’
Walau kerikil gertakan tak sebesar punya sisifus
Lagian tak mungkin dilempar benar
Itu hanya sebentuk do’a. Bagaimanapun
Sampai tak sampai sempat terucap

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

14 Juni 2005
Cerita Gerimis Sore

Tak dinyana gerimis datang terlalu awal
Mengantarkan lembut telunjukmu padaku
Sudah bercincin, berkilau di langit hijau di kejauhan

Tetesannya bersama angin menggenangi ubin
Sampai pori-pori telapak kaki ini dingin
Tak banyak kata dapat mengalir

Dan tentang air aku selalu menggigil
Seluruh tubuh meluruh. Setengahnya udara gugur

Dari cerita rambutmu,
Aku tahu telah ditinggalkan

- gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

14 Juni 2005
Lari
dari bebukitan

Aku tak lari dari perang Uhud
Tak guna kau ancamku tak acuh

Kumasih bisa candai sajadah
Berhampar yakin biarpun susah

Menunggumu berkenan
Adalah berhentinya ritmik waktu
Sedang aku berpacu dengan niat
Diantara lintasan istirahat

Sudah hilang kenang ranjang usang
Bersia-sia kau ingatkan aku tentang percumbuan

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

14 Juni 2005
Tangis Mati

Tangisan dari dalam. Tak bikin air mata berlinang
Teriakan cuma jadi desah, di mulut kecut
Dengan terpejam menanti berontak

Kau tak pernah minta hujan. Kalau nanti berlumpur
Sepatumu berombak liat. Semakin berat
Makin enggan melangkah pulang

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

15 Juni 2005
Ranjang

Mudah-mudahan akan sempat bagiku tuk berdo’a
Sebelum aku menyentuhmu lebih jauh
Diantara redup kelambu

Mohon tutupi serapahku pada langit
Dengan tingkah sujudmu
Aku berlaku menjejak ranjang
Dan tak ada dosa yang ragu

Sayap melebar dari selimut kembangku
Taman itu kunanti dengan berbaring
Seperti candi mengkarang, tengah lautan
Bila sembahyang jauhlah mengayuh

Aku tak sedang berangan percintaan
Ranjang adalah kelahiran dan kematian

- gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

15 Juni 2005
Lupa

Mendadak kita lupa pada nurani kucing betina
Yang bertarung dengan merpati atau kadal melata
Demi anak-anaknya. Secuil daging mentah
Merah. Masih berdarah

Kita punya sembilan nyawa. Tuk bertukar rupa cerita
Berbagi rindu tentang bejatnya jiwa
Dari mata kaca menembus rahasia

Sayang aku remehkan peri-peri
Di impian tengah musim
Jadilah Lisander ini terus tertidur
Daripada terus berkata lantur

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

15 juni 2005
Lebaran

Aku harapkan lebaran tiap hari
Biar kotor hati suci lagi
Berpakaian maaf pada kesturi tubuh wangi
Meluluh dendam hingga beku nadi

-gsstf, Jatinangor –

15 juni 2005
Musafir

Langkahmu lampaui nyala lampu kota-kota
Berpendar telapak sakit melepuh
Di tumitmu mayapada petang berkeseharian
Sejumput rumput melambai selalu

Musafir sewujud burung layang-layang
Terbang dalam hujan. Berkelepak mandi asam
Aku nyaman meniang sepanjang jalan
Mengawasimu dengan segenap ketinggian

Kau bukan penduduk, aku bukan persinggahan
Kita berjumpa semua masa

-gsstf, Jatinangor –

16 Juni 2005
PDS 2003 (sebuah lagu)

Saat bosan merasuk sukma
Saat jiwa terasa hampa
Rindu bunda menjelma surga

Dingin udara tindih menindih
Dahaga cinta kian menyerpih
Dan mulai kita berjalan fasih

16 juni 2005
Untuk Kekasih

Ya. Ya. Aku akan selalu menjadi payung hatimu
Tapi hari ini tidak hujan
Cuaca cerah berawan mendayu
Memanggil kita tanggalkan lisan

Tentu. Tentu. Aku senantiasa menjaga muka rumahmu
Tapi tak akan ada pencuri datang
Anjing-anjing menyalak hebat menunggu
Menanda kita candakan cenayang

O, ya. Tentu. Aku pasti menantimu di sini
Tapi aku tak bisa menaungimu
Dari sesuatu yang kau aku tak ingin

-gsstf, Jatinangor –

19 Juni 2005
Palapa

Sumpah Palapa-ku adalah meng-GajahMada
Dimanapun. Lautku satu, tanahku sebuah, langitku secercah
Bersantap pahit buah. Menggelegak tak’kan retak

Ini negeri berdiri atas angin. Tak bergantung musim
Memapah sejarah keluar rumah
Meninggi kaki sebelah sisi janji
Berkejar-kejaran dengan hujan
Berhalau-hirau dengan kemarau

- gsstf, Jatinangor –

19 Juni 2005
Do’a Subuh

Dingin subuh membunuh patuhku pada-Mu
Tulangku belum lagi rebah
Kiranya kutenggelamkan matahari saat pagi
Dalam pejam mata lebam sudah

Putih salju jalanan mohon lumuri kobar ini
Ke dalam sungai-Mu yang susu
Dalam perbincangan salam tanpa nanah

- gsstf, Jatinangor –

19 Juni 2005
Kemudaanku

Izinkan aku tetap tersenyum mesra
Saat kau menyindirku tentang cinta

Hijau muda daun selalu bernyanyi dengan matahari
Ketika daun coklat tua terbaring mati pagi-pagi

-gsstf, Jatinangor –

19 Juni 2005
Pertalian

Pertalianku denganmu tak berbekas sekarang
Lepas. Tak terhalang
Mungkin nanti ketika roda mobil telah berganti
Aku terbang meminta benang merahmu

Aku tak untung kau tak malang
Sederhana saja seperti anak-anak kucing
Diamku mampu temukan kau dalam runtuyan
Seungu apapun matamu memicing

Musim panas menjelaskan pesta pekarangan
Kau perkenankanku menari di bahumu
Dalam baris suara-suara teramat seru
Musim gugur meruntuhkan dusta kenangan

Tolong jangan kasih tahu kekasihmu itu
Nanti dia ikut nimbrung rahasia sendu
Milik kita. Perindu yang mentahtakan permata kata
Hanya kita. Pecinta yang mengikatkan kalimat tanya

Pertalianku denganmu berpahat mati nanti

19 Juni 2005
Sebuah [sajak] Rendah Diri

Jutaan sajak telah kubuat
Semoga segala bermanfaat
Tak ada niat mencela bejat
Kalau toh ada mohon dihujat

-gsstf, Jatinangor –

20 Juni 2005

Biarkan matahari menyimpan panasnya di sini
Dan biarkan ku beranjak pergi dari sisi kalian
Aku tak berhutang apa-apa pada dingin
Cahaya tak berhak dicintai lelaki buta

Begitupun aku yang wajib mencintaimu
Berkalang catatan yang masih kau simpan rapi
Dalam almari rindumu tak’kan pernah penuh
Namaku menghiasi dinding jiwamu yang medali

Begitu juga namamu yang dihiasi emas hatiku
Kuharap saja demikian kenyataan yang kita miliki

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

20 Juni 2005
Lutut

Bahkan besi Vespa menangis via embun
Sebelum muncul karat tak diharap
Di bulan Juni berangin tiada tentu
Berkuasalah pemiliknya atas kebandelan mencerap
Setiap selah dirasa berat tertahan beban

Seolah Vessuvius pada pundak hendak meledak
Padahal cuma lutut. Tungkai sempurna sang makhluk

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

20 Juni 2005
Sendirian
kepada Bibeth

Lonceng gereja di ujung jalan tak begitu kedengaran
Dari penginapan magenta sederhana ini
Ingatanku pada rumah melemah
Seperti matahari yang selalu malu mengendap jendela dingin
Ini bukanlah kebiasaan pendeta muda
Mereka hapal hari, mengerti tanggal, mengacu waktu

Dan kafe Sumatera masih belum terjaga
Pintu dari pohon oak-nya terlihat sombong menutup ruangan
Sedang renda-renda tirai rapat sembunyikan perkara
“Tak ada yang boleh memulai pagi dengan kopi di sini,
sekarang dan entah sampai kapan!”
begitu seolah kalimat yang hendak diucapkan
Ini juga bukan kebiasaan gadis pelayan
Emas rambutnya tak memantul di mataku kali ini
Walau perjalanan cahaya dari kaca ke kaca lama kurindukan
Sangat. Hingga pena-ku tahu itu
Tapi tetap saja ada yang tak sadar

Jalan-jalan kota sepi. Tak ada orang. Sama sekali
Gemercik sungai Seine menjelma guruh menderu
Angin yang hembus lewat lorong-lorong
Menjadi terompet tak putus-putus menyeru

Tapi, gedung-gedung masih utuh. Rumah tegak megah
Jembatan cembung sempurna.
Kapal-kapal goyang sesekali oleh air. Sesekali oleh udara
Tapi, tak ada orang. Sama sekali
Apakah aku mati di Paris sendirian?

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

21 Juni 2005
Sekarang dan Nanti
untuk Matahari

Sampai sekarang aku selalu yakin
Bahwa matahari tak pernah mewarnai diri
Dengan kuning kemestian yang pasrah

Tak ada yang lebih berwarna
Selain hatimu yang ragu
Akan reklame nirwana di pinggiran rembulan
Memutih rasa dalam nuansa cahaya
Berhitam luka memendam gelap

Hingga nanti aku juga percaya
Kalau matahari tidak hanya satu
Hadir tak mungkin sendirian saja

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

21 Juni 2005
Biru

Aku yang beruntung mendapatkan mata birumu
Dari darah biru mengalir dalam pembuluh paru
Di antara langit biru cerah menunggu
Sedalam laut biru tanpa palung batu
Patahannya dijatuhkan malang pena biruku

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

21 Juni 2005
Pecinta Rahasia

Mungkin esok aku masih tuliskan sajak juang
Mengobar dari kedalaman yang kekal
Dan berakhir.
Dengan menembak jantung hati musuh
Menembusi tubuh-tubuh api suci bersenjata
Berpeluru menyiratkan pakaian cinta
Segalanya memulai, segalanya meluluh
Tak kesudahan.
Aku berkisah dari kesah tentangmu
Maafkan, kalau kau tak pernah tahu

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

21 Juni 2005
Dapat

Akhirnya aku dapat percaya
Bahwa undian memang ada
Dan dapat terjadi pada siapa saja

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

22 Juni 2005

Cahaya lampu mengabut di kejauhan mataku
Tak ada yang lebih indah dari nyanyian jangkrik terpisah
Lalu dingin gelisahkan indera perabaku

Anakku!
Mungkin patut bagiku ‘tuk bertuah perihal salah
Dalam usiaku sekarang malam menjadi teman
Dan kau adalah kotaku bersimpuh lemah
Tunduk pada langit pabrik, tengadah memelas Tuhan majikan

Pergilah!
Sangat riskan untukmu datang lagi ke sini
Kalau kita bincang, hilang sudah dinding lazim
Kau rasa bertemanku intim

Lembut embun mulai basahi pelepah rerumputan
Pada tetesannya aku bercermin kehausan
Tak ada yang cukup untuk hujan akhir Juni

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

22 Juni 2005
Rasa Hati

Seluka itukah hatimu memahamiku
Yang berjalan di atas titian rindu
Tak putus-putus. Meretas bersambung

Sadalam inikah rasamu menggaliku
Yang berdiri di ujung puncakan takut
Tak berlembah. Merebak ke segala arah

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

23 Juni 2005
Waktu I

Aku ta’kkan berjanji apapun pada siapapun
Waktu mengajariku ingkar padanya
Zeus sudah tak mematai zaman ini
Nyatalah yang banyak berkerudung bingung

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

23 Juni 2005
Waktu II

Bulan saja terbit dari timur maghrib tadi
Menuju nadir yang jadi takdir
Mungkin begitu. Tapi aku akan tetap berdiri
Di titik kemakluman seorang Nabi
Yang manapun. Berlaku sampai nanti

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

24 Juni 2005
Waktu III

Berlepas diri dari langit adalah ikatan semu
Riwayat surga tercipta dari telapak kita
Kita terpaksa menatap indah bintang
Di alam terbuka. Bebas. Terus tak putus

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

27 Juni 2005
Waktu IV

Selalu ada yang belum terceritakan olehnya
Lalu kurenguk sebagai tisu basah
Kalian membawa kesepian yang tak bisa kupahami
Sebagai sebuah cinta mendalam berarti

Kembaliannya lebih dekat jaraknya dari hidung kita
Lebih cepat dari yang dikira
Lebih dekat. Lebih cepat. Lebih

Berwaktulah pada keselaluan!
Dalam riak tangisku aku mendo’akan
Harap mengalir dalam iga putihmu
Sesuci hati kita kian berbalut
Keabadian di ruang kosong jantungku
Berdetak seiring jam dinding itu

Berceritalah. Berwaktulah. Selalu

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

29 Juni 2005
Tanpa Tendensi

Hatimu memohonkan gersang tanah jiwaku
Berimbun rindangkan segala sesuatu
Dan kutanamkan anggrek pada batang rambutmu

Lagi kubasahkan ladang-ladang
Dengan air mata kata-kata
Bahwa hidup adalah hutang terbesar
Yang tak akan pernah terbayar
Hingga nanti tanpa pakaian
Mengembara berjalan di padang-padang

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

29 Juni 2005
Tuankah Tuan !

Tuankah yang berdiri di sana?
Di bawah pohon kelapa yang baru tumbuh kemarin pagi
Berterik mentari yang hilang terbenam
Dalam gelap tubuh Tuan menua

Tuankah yang aku cari selama ini?
Di serabut akar yang berkelakar keluar tanah
Berpancar mata air yang kering tebakar
Dalam bening dagingku Tuan bersinar

Tuankah. Tuanku sekarang?

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

30 Juni 2005
Sajak Nyata Untuk Semua

Kalau aku merindukan seorang sahabat
Pastilah kutelusuri setiap puisi yang terbuat
Karena lewat sajak aku selalu terobati
Biarpun itu racun direguk Juliet hingga mati

Dan aku tak akan berpaling dari iklim
Telah berwujud raga lasak menarikan angin
Bersemai dalam jiwa-jiwa suntih kelekati

Kemudian aku mungkin menjadi resi keramaian
Meranyau tiada henti ingin semua suci lagi
Menangislah untukku demi Tuhan

Kalau aku merindukan seorang sahabat
Akan kurampungkan segala urusannya
Selagi aku bisa berdiri mendaulat
Lunaslah luka-luka keluhan sepadan

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

01 Juli 2005
Leluhurku Dulu, Aku Kini

Sepertinya saja kita mukim pada waktu berbeda
Namun ternyata kau aku sama dalam segala
Lalu benarkah kita bertanggungjawab atas wajah?
Kalau begitu siapa bersalah pada kita?

Aku dapati kata serupa dalam sajakmu sajakku
Aku mainkan nada persis seperti kau petik
Aku berpikir tuk tinggalkan panggung kau pun demikian
Entah berapa banyak lagi kemiripan kita miliki

Tetapi,
Satu jenjang usia belum kurasa
Sayang kau diceraikan paksa
Sedang aku mungkin dikawinkan rela
Pada akhirnya kita melakonkan peran tolak belakang

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

01 Juli 2005
Sajak Permohonan
kepada pecintaku

Sahabat, aku tak menggali tanah kata
Tuk dijadikan pusara setelah kau baca
Mohon kumpulkan lalu bangun sepetak kebun
Meski cuma jadi kenangan di kamboja subur

Sahabat, aku tak menulis sajak dari tinta laut
Namun setidaknya aku telah cerita cinta maut
Sahabat, aku masih tetap menunggu
Tak ada yang kuinginkan selain bertemu

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

03 Juli 2005
Anti Nyata

Maaf!
Apakah aku menindihmu terlalu kuat?
Memang batang kayu ini begitu berat
Diambil dari hutan kehidupan paling lebat
Sehingga wajar kalau pundakmu lecet-lecet hebat

Begitulah!
Katanya, realitas yang tak seperti pegas
Tak serupa ranting kelapa yang melenting
Akur. Bahwa bekah pangkur adalah bebas
Lalu begaimana dengan mata pending yang memicing
Bukankah itu kuning. Emas.

- gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

03 Juli 2005
Dengan Menyebut Nama Allah

Yang pertama
Aku yakin dengan adanya Tuhan
Sebagaimana hadir adanya aku di sini
Yang kedua
Kuminta Dia mengambil dengki dalam jiwa
Hapuskan segala dosa dari mula hingga nanti
Yang ketiga
Jadinya aku menghamba Rasul hamba-Mu
Dalam diri mengelucak hasrat Mahdi
Yang keempat
Aku bisa disebut gila
Kalau aku mengaku begini
Yang kelima
Kuharap ini bukan bisikan setan
Tapi akalku selalu menyangka sangsi
Yang keenam
Walau sedikit yang terima ikatan
Aku tak’kan sudi berlari
Yang ketujuh
Nyatalah aku makin mencintai Tuhan
Amin.

-gsstf, Jatinangor – {kota satelit}

04 Juli 2005
Sebuah Catatan
kepada Blues Untuk Ayah

Satu
Jangan pernah punya keinginan menjadi aktor
Permainan itu selalu dimulai dari dalam
Jangan pernah sekali-kali menjadi mentor
Kepenuhan panggung bisa saja berakhir diam

-catatan : nampaknya sajak yang ini belumlah usai-

07 Juli 2005
Awal Desa

ribuan kelapa. jutaan pisang kalipucang
kujalankan sajak kamar gudang
milik serma veteran yang masih angkat
senapan juang. Lalu maghrib selalu diterangi
kunang-kunang. Terbang. Nyala. Mati

hidupku air sadah air mata Rengganis menangis
kureguk-reguk. Tak habis. Sayang banjir juga datang

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

08 Juli 2005
Surau Tertinggal

jam dinding yang angkanya menyon tak segaris
sudah dipindahkan ke belakang surau
diganti dengan kepantasan depan mihrab

kanak-kanak tak mau lagi mengaji
sepi. Langgar terbagi-bagi. Setiap tempat punya langgar
keramaian senja perlahan hilang bertahun lalu

rambut mataku jatuh atas buku angkuh Zarathustra
dan putih matahari jatuh di beranda rekreasi
bayang-bayangku telungkup lesu pada lantai keramik

aku lebih suka berdansa dengan awan
yang tak meneduhkan apapun di tanah bumi ini

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

09 Juli 2005
Dan … dan … dan …

Kabut pagiku terbang sampai Pangandaran
Sedang titik keringat dahi melumpur di Citandeuy
Pohon jambu air Sapardi sudah tak merah lagi
Bahkan poksai lari dari kandang membumi

Ombak hijau pantai pecahkan gulungan ingatanku
Pada permukaan laut surya mengemasi rata
Dan kita tak boleh menulis diatas pasir
Sedang telapak ini membekasi rindu tanpa ciri

Ah, sipit makan seafood
Kan kupadamkan pembakaran ruang-ruang wajan
Ternyata pelangi dibalik awan sore merayap lapat
Dan … dan … dan …

-pangandaran, ciamis -

10 Juli 2005
Bunuh Diri di Pantai

Tuhan. Aku mabuk lagi akan air matahari-Mu
bundar tetesannya di abu-abu tubuh ini
beriak halus lipatan kaus pemberian ibu
bercinta dengan-Mu adalah luka mata hawa

sering, terlalu sering seringai nyiur pantai
menelan karang. Terhempas kanak mengejang
basah. Lebam. Hijau. Hijau. Tak boleh mandi
sebab sama juga bunuh diri. Sebab meradang
terbisik dari pasir pulang ke selatan dingin

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

12 Juli 2005
Diary III

Setelah Dia
Aku tak mengingat apapun selainmu
Bercadar perigi petang pulang bersahutan
Menyandikan cakap angin di ketinggian negeri
Sedang fajar disini enggan merahkan langit
Dan selimutmu menyempit pada ranjang waktu

O … Caesariani yang sepertinya agung
Mahkotamu sudah tak mentahtai kembara gunung
Ya, lalu berakhir penghitungan Masehi disini

-tunggilis, kalipucang, ciamis -

12 Juli 2005
Diary III b

Pelepah rumputan bersandiwara di panggung kemarauku
Lampu mentari rata menggagahi sendu
Rinyai maghrib lompat-lompat ber’aku seteru
Selamatlah beranda kayu para tamu

Aku tentang renta di pucuk tanah Tuhan
Berdekaplah hanya dengan petak-petaknya
Biar kutebas lagi perdu liar di bukit-bukit
Telapakku mengeraskan usia sisa-sisa Nabi sakit

Aku sambut laut dari gubuk yang baru kubangun
Walau rombeng kupaksa tetap mengalun
Menyanyikan angin rindu di sela-sela tormentor hujan

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

14 Juli 2005
Ayat Kursi [ku]

Tuan, putih matahari pagi bulat-bulat kutelan
Sempurna tembakaku berhalimun selengan atas sawah
Tuan, gelas angkasa mematung di hitam arca
Sedang rengat asbak bercelacah selingkar goa Donan
Tuan, ayat kursi Tuhan selalu lapiskan tujuh langit dosa

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

carstensz dove
bibeth I

Beth, perjalanan menuju pelosok lautan adalah tawa
Pertanyaan batu-batu karang mengeropos seputih buih
Dan jawabanmu satu-satu kupetik sebagai bunga basa Austria
Lalu liburan musim panas kita renyah meracik cinta

Kau aku musafir yang tak punya rumah megah
Kita berdiam di buritan kapal karatan
Kisahmu menuangkan kopi instant pagi ini

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

15 Juli 2005
Sajak Hujan Tengah Malam

tetes-tetes surga berteriak begitu sampai di lantai
cucuran atap jatuhnya berserakan juga
kakekkulah yang pertama terkekeh padaku
berdiri dulu jatuh kemudian aku tergopoh kalut

aku sangkal kediaman surya dari pangkal lidah ini
gelegar guruh adalah suaraku atas candu
terlalu dini. Telah sampai aku di parit-parit getir
berpetir cahaya. Berkilat tengah gelap. Aku tengadah sedu
berbaringlah anak pewaris lebak Imbanagara

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

15 Juli 2005
Kakekkanda

zis, aku mencintaimu sebagaimana kau tahu
kenalku pada tunas-tunasmu mengental dari rahim igamu
terlalu lancang kau serapah aku dalam darah ungu
akulah yang menjadi tuan tanah di ladang uzurku

duhai kekasihku dari pantai utara Jawa
dirikan sampan di negeri Nuh yang hilang
biar kayu kelapa mewujud buritan mengada
jadikan angin kapur mualim tanpa nahkoda

o … belahan jiwaku yang tafakur di relung rindu
wajahmu membelah-pisah cermin yang kabur
aku sengaja menjelma nyata selaksa lagu
bernanah lukamu mengejekku dalam ragu

-tunggilis, kalipucang, ciamis -

16 Juli 2005
Tiga

berjalan perawan meredam pematang kendang
kanvasku kandas terkekang lekuk bonang
aku yang kan mabuk kurasa kau mesti tenang

tiga untuk Tuhan
tiga untuk tarian
tiga untuk pagi

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

carstensz dove
Kuliah

Cuma persoalan tanpa jawaban selain oleh waktu
Itu renta telah banyak makan cahaya
Mahkota bergerai menanda usia
Dan canda berseri tiba-tiba lalu

Suatu hidup nanti aku sayangkan tangis kalian
Sembab duka mata saksi nyata raga pertalian
Padahal ku tak suka sajak perjalanan
Tak pernah. Tak mau aku. Terlalu bersendirian

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

17 Juli 2005
Kepada
buat Sandhi Fadhillah

Kepadamu aku luruh setengahnya haru
Mawar kembang di taman belakang
Mendung pagimu tumbuh baru
Sedang leleh rel kereta oleh sebah tukang

Huntu buntu menusuk layak hantu
Hujan Banjar meredup siang samar
Selisik hati mendamba tambatan Ratu
Biar jalan istana kota dilanda gusar

Kepadamu aku meninggikan kubah masjid
Dan kurebah atas pasarean pinggir sawah
Kepadamu aku merendahkan dangau suci
Dan kudiri dalam lumpur sebelah gerah

-tunggilis, kalipucang, ciamis -

20 Juli 2005
Sebuah Sajak Dari Tujuh

“tolong jangan beritahu ema
bahwa kini tiada lagi cinta”

selepas ini kita buktikan bukit-bukit sana
menang bersandar di lingkar lembah
diarak awan berlengking jampi busana
langit berbisik pada kita jangan menyerah

nanti cinta kalian menggenang hilang
kalau jumpa aku kan bersandiwara
biar panggung berada atas air dada lapang
nanti rindu kalian menguap rahasia

sebelumnya aku nyatakan kata lewat langkah
biar rendah-naik kudapat tetap berserah
aku mengutuk tiap sundal sang Prabu
tak ada pencak berlaku di tatar Galuh

“lalu apalagi yang harus kukatakan
bila ternyata aku benar-benar mencintainya”

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

20 juli 2005
Diary Belalang
Untuk Gilang Kurniawan

Zis, lagi kutemui kau sebagai jenazah belalang
Di padang-padang ilalang akar ragamu kenyang
Tak cukup makan lewat kerongkongan berduri
Belum selesai upacara kau sudah tak mampu berdiri

Zis, mata air batu pun kau rengkuh berpeluh
Dan pada pelepah sabana aku mengintaimu seluruh
Kurasa lahang tak semanis dendang petang
Malam tlah hilang bunyi dalam jam yang berdentang

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

23 Juli 2005
Sebuah Surat

Aku tengah mencipta sebuah de javu sekarang juga
Tak perlu nanti mata bayangan jelaga
Mengeja huruf-hurufmu yang disebut tersemat di balik senja
Adalah terjemahan rahasia dari sajak-sajak wajah

Nggi, lagi aku bercermin darah di muka rumah
Pahit ludahku bersantap renyah nanah
Aku khilaf naifkan maaf
Kemarin tertinggal pada tungku lembap
Dan bara mengayu selambat waktu

Aku sering temui mimpi sebagai sesuatu yang abadi
Nggi, sebelanga nila kau tuang dalam danau suci putih
Seperti kejauhan perbincangan dimana kau aku kian berasing

-22.44-
-tunggilis, kalipucang, ciamis -

25 Juli 2005
Digul Sepiku
buat Ofik P.

dari utara menuju selatan lautan tetap biru
sama saja. Semua pengasingan adalah haru
tak kan ku terlindas bulan mengangkang
lihat cermat. Segala sederhana angkasa pun berdiang
dibalik curah sejarah seseorang mati rebah

aku berlaku gila sesuai kemampuan
dalam keadaan cinta yang tak bertuan

“angin sampaikan padanya. Bahwa aku butuh dia”

dan setiap tak berarah tak kan pernah sampai

-tunggilis, kalipucang, ciamis -

25 Juli 2005
Peziarah Kesembuhan

Sungguh aku lumpuh kalau harus menghirup lumpur
Tak kan sanggup ku berkaca darah paru-paru

Ibu, maafkan aku yang tak pernah sembuh
Kau tahu bahwa aku belum selesai tersentuh

Ayah, relakan aku tuk sedikit goyah
Kau yakin pasti aku enggan mengalah

Wahai bumi makamku memijak langkah puisi
Kalian adalah cermin-cermin retak tak bersisi
Selalu akulah yang berpantulan dari kebeningan
Dan kaki-kaki sayang melompat riang di keheningan

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

carstensz dove
sajak tidak satu waktu

Tak biasanya aku perhatikan sajak hingga sedemikian perih
Dan rasa lagi bermalam di kehitaman yang didih
Kubiaskan panorama kata pada ladang teratai senja

Tak banyak warna tertuang dari bibir cawan pelangi
Hujan hujat menebar titik-titik kaca berkarat
Kulayangkan muka pekat dalam rendaman air kemangi

Lagi-lagi aku tak perhatikan kamu menyayangiku
Makian itu hambar di satu sisi rindu
Beth, seperti terdiamkan percikan selaksa ungu
Kau ramaikan lorong-lorong cuaca musim tak tentu

27 Juli 2005
Sajak Mentah Penyair Muda

kalau ada yang merasa berjalan sendirian, telepon aku
nada deringnya kan seirama dengan langkah-langkah bisu
meriuhkan keasingan jalan raya dengan kerlip mataku

tuan, tolong tekan angka-angka sedapatnya saja
nanti juga kisahmu bersambung secara nyata
seperti seuntai benang yang diputus dari perut Bunda
namun kau masih tunduk-syahdu pada telapaknya

maaf tuan, aku tak dapat membaca apapun selain kejujuran
mohon untuk tidak berdusta meski baru perkenalan
papan-tulis sekolah memang selalu hitamlah
tapi bukankah kapurnya putih selalu tak berubah

kalau masih ada yang merasa sudah sampai rumah namun tak betah
ketuklah pintu Tuhan yang gagangnya adalah gelandangan menyerah
karena aku tak temani siapapun kecuali hati-hati mewah

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

Agustus 2005
Temu Terumbu

jangan berumah di pinggir pantai kalau takut kena badai

seseorang baru saja gugur saat senja
senapannya berderuh dari laut
berita dikeraskan lewat toa langgar tua
termangu ku sembahyang berpeluh kecut

nelayan mana tak kenal terumbu karang
saban hari juga perahu melintas sebarang
pelayan mana tak kenal tamu dari seberang
tiap gelap tubuh bergidik meriang

-batu karas, ciamis-
13 Agustus 2005

13 Agustus 2005

02.35
bahkan pribumi pun telah pulang dari begadang
kokok jantan pertama sebentaran tadi berkumandang

02.38
nyanyian jangkrik menadakan musik tradisi
haru biru kayu-kayu atasku memayungi
suara-suara percakapan mendatar dalam remang

02.48
telungkup rebah kubiarkan pena sendat berjalan
biasa nyeri kepala bersimpangan

13 Agustus 2005
Penurunan Kearifan

Sebentar saja kita hilangkan Tuhan
Dari ingatan dalam ruang-ruang keadaan
Niscaya pisau bambu itu membelah rukunan

Lama, penghitaman duniaku tertunjuk sempurna
Oleh lengan seakan putih namun kian mendera
Semakin mencambuk bekasnya kentara

Semoga, aku masih bisa bernapas dari kulit-kulit wajah
Biar merah aku tetap memandang pejuang
Pada lubang senapan sesempit jarum benang

Dan aku berjanji meniti mati sembunyi-sembunyi
Tak’kan kurahasiakan melati halaman tak kembang
Harum pun bercahaya di malam hari
Sedang aku selalu bercita di muka dendang

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

16 Agustus 2005
Keranda Sajak

Telah tertutup pintu untuk sebuah sajak
Ah, siapa lagi pengunci kata selain Dia

Nggi, barusan kubenamkan sapaanmu di dasar sungai
Bahkan tubuhku enggan muncul di permukaan
Kau tahu Nggi, masih banyak cahaya disini

Lalu Nggi, seperti keranda yang melintasi jalan desa
Aku pun tunduk sebentaran dari matahari
Iringan angin sendu membelaiku biru haru

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

17 Agustus 2005
Masjid versus Bale-Bale

Setelah satu yang kemarin gaduh menderu
Mungkin esok lebih sunyi semoga begitu

“sayang kau tak disampingku kawan”
aku ingat memang kau bermata enggan
bercinta pun kadang juga keterlaluan

masjid-masjid lebih kurang jadi frigid
bale-bale selalu berhenti di lantai pere
semua tawa kian menggigit
setiap diam kian mereceh

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

21 Agustus 2005
Pentas Tujuh Belas

Aku mencintai tapi yakinkan juga kalau aku dicintai
Panggung dunia sudah bosan dengan segala kiasan

Satu pelaku tak dapat hadir di malam resepsi
Riuh sepi-sepi rasa mati-mati
Sakit, deru tembakan perpisahan
Lari, ke tebing-tebing putih serpihan

Pejuang-pejuang! Dimanakah perang sedang berdentang
Kami menanti setia pada sisi jalan tambal ban
Tuan! Tuan! Pergilah sembunyi di rumah saja sejenak
Mereka memanggil-manggil dengan teriak

-tunggilis, kalipucang, ciamis-

Tunggilis, Kalipucang, Ciamis

“ dibatas waras kutemukan kejujuran “

09 Oktober 2005
Mulai Lagi

Seorang petualang tersesat di sebuah hutan
Dikenalnya dunia yang dulu ada dalam mimpinya
Rimbun belantara memayunginya tuk tetap terjaga
Sebuah bencana jika ia berasa sesal dada

-gsstf, Jatinangor –

10 Oktober 2005
Ledakan

Biar dunia adalah bom waktu, aku tak akan meledak
Kejang-kejang tubuh-tubuh kelaparan kunanti mati
Pada sisi-sisi lingkaran di sela-sela gerigi
Detik-detiknya memesinkan keteguhan sajak

-gsstf, Jatinangor –

13 Oktober 2005
Cerita Pagi Hari

Fajar ungu menumbuk gunung angin
Rumputan mulai mengering dari embun dingin
Kutorehkan pena dengan tinta tipis saja
Halaman depan rumah gersang bersahaja

-gsstf, Jatinangor –

18 Oktober 2005
Sebelum Tidur

Impianku terbunuh oleh waktu perlahan-lahan
Malam terasa sebagai pedang yang menyayat tak segan
Bulan sunyiku ditelan nyamuk yang mendenging
Setan tiduran pada ranjang khayalan semakin sering

Sejenak mataku menangkap nyenyak sahabat walau rabun
Arah tubuh mereka rebah bukan aku yang menuntun
Apakah do’a-do’a orangtua sudah tak mempan?
Sehingga kakiku diam dan melangkah enggan

-gsstf, Jatinangor –

18 Oktober 2005
Tembakan

Tembakan dari dalam dadaku adalah sebentuk haru
Selongsongnya mengabutkan kata-kata dari bibirku
Tak kuanggap tubuhku yang terhempas sekarat
Jika masih dapat berperang hingga tamat

Sisa tawa ini kuhadiahkan sebagai tanda cinta
Dan akan selalu baru di dalam benak setiap arca
Sedang menangis aku meneteskan senjata

-gsstf, Jatinangor –

23 Oktober 2005
Cerpen

Sebuah kisah tentang cinta remaja yang dituliskan dengan tinta film
Dan noktah-noktahnya direguk sebagai anggur setiap pesta
Pada gelasnya, es batu dibentuk dari keringat dingin neraka
Seperti biasa lagu-lagu dinukil dari ucapan-ucapan intim

Senyuman sayang bertebaran menuju ujung-ujung rambut panjang
Siapa dapat mahkota, maka ia jadi raja selanjutnya
Tak perlu kudeta, sebab sekarang musim lelaki pendiam
Cinderella telah jatuh direngkuh dengan mudahnya

Maka demikian tenang pangeran mengayuh bahtera biru
Melewati pulau-pulau hijau tanpa pernah tergoda berlabuh
Awan teduh senantiasa mengiring perahu
Gelombang pasang kencang percepat laju

Hingga saat sebuah badai menerpa dari dasar lautan
Pusaran masa silam kemudian jadi batu sandungan
Anjungan dan buritan porak-poranda tak ada beda
Senang dan nelangsa makin terasa tak berjarak

Kapal karam sebelum sampai tujuan
Puncakan-puncakan gunung di kutub sana keburu mencair
Lalu kuminum sebagai penghormatan
Kepada tuan-tuan yang memutar-mutar nahkoda getir

-gsstf, Jatinangor –

23 Oktober 2005
Ketinggalan Kereta Lagi

Aku enggan menanggalkan pakaian besi ini yang telah sangat mengkilap
Sebab tiap hari selalu kupoles dengan perbuatan tanpa kenyang
Kulicinkan dengan kemenangan-kemenangan gemilang di belakang
Sehingga tak mereka pandang peperangan yang begitu gemerlap

Aku masih punya lintasan yang dibuatkan Tuhan
Masih sama seperti mereka yang lebih dulu sampai
Disana sedang kulihat yang tak mereka lihat
Disana sedang menanti yang selalu kunanti

Aku bersandar pada Sang Pemilik Peluang
Di kursi-Nya aku rindu Wajah Itu
Kuharap ini bukan ucap si pecundang
Hanya dihadap Ibu aku kutu beku

Aku enggan menggadaikan baju zirah ini yang telah sangat lekat
Apa jadinya kuberjihad jika dada ini bertelanjang?
-gsstf, Jatinangor –

28 Oktober 2005
Kancing Baju

Sebuah kancing baju anak kecil terlepas di lapangan berlumpur
Kawannya mencari, sedang yang lain bermain bola
Mereka berdua berhujan-ria tak acuhkan nantinya demam
Mengorek kubangan berair dalam, membaringkan rumput kebanjiran
Dingin berasa serupa panas tinggi di dahi

Semua anak-anak pun pulang dan hujan makin deras
Mereka berdua masih mencari dengan tawa makin riang

Ketemu!
Ternyata kancing baju itu tidak pernah terlepas
Hanya saja Ibunya memindahkan kancing baju menjadi kancing celana

-gsstf, Jatinangor –

28 Oktober 2005
Ha ! Ha ! Ha ! Ha!

Seandainya saja tadi petang aku tersenyum padamu
Untuk sebuah sapaan dari waktu yang berputar tak jemu
Niscaya aku akan punya kerinduan setiap pagi
Lalu kusandarkan pada kebutaan-kebutaan religi
Sudah tak pantas untukku mabuk padamu
Tetes-tetes darah unguku terlanjur terbentuk
Menjadi gelas-gelas yang menampung air mata duka
Selalu penuh melampaui lautan badan-badan terluka

Ha ! Ha !
Tak’kan lagi kelopak retina ini mencari-carimu
Terlalu lelah padahal kau terpenjara beku
Dapat saja aku mengintip dari celah-celah besi Ibumu
Sehingga tampak olehku ranjangmu yang merah jambu
Aku juga punya perempuan yang ditangkapkan Tuhan untukku
Kau perlu tahu juga semua perlu tahu bahkan langit-langit rumahmu

Ha ! Ha ! Ha !
Seandainya akan kujadikan kepastian yang rahasia
Meletup sedikit-sedikit seperti pintu berderit hendak terbuka
Begitulah aku mulai sekarang berpanjang angan-angan
Namun tentu kurentangkan kedua belah tangan

Ha !
Mohon tak lagi sendu kalau senja tiba
Langit dengan gerimis pun kurasa indah membalut cinta

-gsstf, Jatinangor –

31 Oktober 2005
Di Terik Hujan

Di terik hujan ladang nafkahnya kebasahan
Padahal singkong yang tumbuh di bekas ladang karet
Sebentar lagi panen. Dan pasti besar-besar
Tanah merah itu semakin gembur mengikis waktu
Dibiarkan saja, keringat garamnya menumbuhkan daun
Dan bekas jejak kakinya menjadi daging ubi

Di terik hujan dimana matahari sempat mampir
Sebentar di gubuk reotnya, tinggalkan sisa-sisa angin. Petani bukit ini
Masih sempat berbagi dengan burung gagak pagi hari

-gsstf, Jatinangor –

11 November 2005
Puasa Kifarat

Tuhan ! Kuatkan aku dalam menjalani hukuman-Mu
Aku yang mabuk dari rumput kemudian tersadar
Akan mati di musim kemarau yang aku tak mau
Mengering adalah neraka yang telah tercipta
Retak-retak tandus tanahnya menjepit kakiku
Kutarik kubawa lari dan darah berceceran
Tak mampu menjadi pengganti air-Mu ternyata
Tuhan ! Aku cuma damba berjumpa kekasih-Mu
Dalam mimpi dalam surga atau dalam berita

-gsstf, Jatinangor –

13 November 2005
Mencari Yang Terdo’akan

Sayangnya kau bukan nabi yang dapat kuikuti
Kemanapun langkah kaki itu pergi senantiasa kujejaki
Tak apalah, lewat surat-surat saja aku hidup berdiri
Semoga masih bisa dan tak’kan tersesat sampai nanti
Lalu kemana menguapnya lantunan do’a-do’a mereka?
Yang mengantarku ke alam paling nyata katanya
Yang tak lain adalah senjata paling tajam ceritanya
Sepertinya aku yang harus mulai meminta pada-Nya

-gsstf, Jatinangor –

16 November 2005
Arti Langit

Mendalami arti langit dengan hujan yang diteteskan
Meluruhkanku menjadi sebagian tubuh dengan ingatan layu
Hampir saja semua khayalku hinggap di atap waktu
Untungnya masih ada kenyataan yang harus diperjuangkan
Selama mata belum terpejam dan hati masih menari
Tak’kan lelah pikir ini terus mencari baik
Biar itu bercampur aduk dengan kotor rambut
Dalam kepalaku segala kias mungkin berbias

Mohon ingatkanku selalu tentang surga di atas sana
Tangga-tangga dunia sejenak lagi hendak retak
Pinggirannya sudah terlihat membongkah rubuh
Jalan lain adalah terbang dan melayang

-gsstf, Jatinangor –

1 | 2 | 3