Dari Buku Yang Dicetak

1 | 2 | 3

05 Juni 2003
Sungguh Aku Ingin Menciummu

Lautan luas gagah memisahkan kita
Angkuh berpeluh matahari menentangku
Kuning padang pasir selalu bercerita
Tentang langit dimana awan menggelayut

Ayat-ayat kisahmu kuhafal selalu
Dari gunjingan kertas membatu
Dan dari lidah pewaris pembawa pesan
Juga dari doa ikan-ikan

Kau dipuja orang-orang bodoh
Menunggu pagi mengharap wangi
Dari hitamnya malam menggigil
Hanya yang jujur mampu merangkul

Dalam diam aku berpikir …
Menyentuh lembutmu dengan jari-jari tangan ini
Memandang kilaumu lewat bola mataku tak jemu
Menghirup harum parfum pembuat mabuk semua makhluk

Anggun berdiri berlatar gaun tudung suci
Hasrat ingin menyentuh, merangkul, mencium tak terbendung

Kemilau bintang telah jatuh menghunjam bumi
Pecahan surga dari atas sana

Aku tak pandai merayu …
Namun sungguh aku ingin menciummu

-Jatinangor-

14 Juni 2003
Gerbang Kampus

Disini tempat purnama membagikan sinarnya
Ada tiang menjulang tinggi menggapai langit
Ditemani lampu jalan redup meregang
Saat tawa perawan diam mengigit
Menjajakan dagangan yang selalu tidak laku
Pada zaman bukan lagi Urdu

Roda-roda bis berputar berlalu menembus cadas
Menyisakan pedih untuk pintu tanpa bekas

Kacang rebus dan segelas bajigur
Selalu begitu setiap setelah tujuh hari
Tidak tidur malah sapa menegur
Melepas imaji mensenyumi diri

Bintil bintil bambu berdiri angkuh menyisir
Pada sisi kanan sayap kiri dinding berukir
Barisan besi hijau menghadang lalu lalang
Menghentikan distorsi metode arsitek berang-berang
Keramik hitam mengkilat bertabur simbol-simbol baku
Menguning dari emas yang palsu
Dipeluk cahaya dari dekat
Ketika gelap mulai memekat

-gerbang Unpad Jatinangor malam Ahad-

14 Juni 2003
Purnama Malam Jatinangor

Membulat sempurna mengejek bintang hanya setitik
Dalam lukisan langit tersenyum tak terlukai kawanan awan
“Malam ini kamu peluh wahai bintang kekasihku.”
Bisik purnama dalam keramaian singgasana negeri atas
“Biar saja malam ini aku tidak bertenaga, toh nanti ketika engkau menjadi sabit,
aku leluasa menembus lingkaran putihmu.”
Gerutu bintang sambil mengerlip-ngerlipkan matanya

Membatu membeku membujur kaku
Tubuhnya diam tersengat dingin terang benderang
Menyadari purnama begitu cantik

-Jatinangor-

15 Juni 2003
Lagi-lagi Aku Menangis

Musim paceklik telah tiba saat purnama datang menyapa
Ladang sawah Ibuku tak menuai panen kali ini
Walau tangan sudah lelah menggali lubang paling dalam
Tetap saja anak-anak tikus pandai mengakali

Matahari sedang memperkosa langit biru lunglai
Tak membiarkannya menangis menitikkan air mata hujan
Hanya tinggalkan tanah terbakar retak kering
Sapi melenguh haus, kambing mengembik kelaparan

Pintu menjepit lagi-lagi tawarkan jalan keluar
Saat semuanya menutup diri menolak didatangi
Dengan jutaan alasan tak pasti
Jadilah ia pahlawan berkelakar

Aku menyembunyikan kemarahan yang telah mengakar
Dan penghuni langit selalu mengetahui dasar hati

-saat maghrib, Jatinangor-

16 Juni 2003
Biarkan Aku Mencintaimu

Aku tidak menginginkan Romeo
Yang memanjati tali
Untuk sampai didepan kaca jendela kamarku
Durhaka pada orang tua demi cinta menggebu

Kota Paris yang romantis atau pegunungan Alpine di Swiss
Tidak pada itu jiwa ini meronta
Bukan pula sudut-sudut permata batuan metamorfosis

Aku sanggup mencintai Rahwana
Demi membuktikan kesucianku
Biarlah api panas membara menjilati tubuhku

Cukup kau ucapkan sayang
Setiap pagi sebelum matahari menciumi bumi
Dan kecupkan bibirmu yang menghitam
Pada putih keningku saat malam
Setelah bintang melukis kertas langit

-Jatinangor-

16 Juni 2003
Dongeng Ucup

Hari dimana kita berteduh dibawah pohon pisang
Dari sengatan matahari dan kejaran polisi
Telah hilang dimakan rayap-rayap waktu yang kelaparan

Saat itu medan magnet bangku kuliah tidak menarik
Energinya tidak cukup kuat mengimbasi syaraf otak kita
Biar saja orang lain bergumul dengan kesimpulan dan daftar pustaka
Menciumi tombol-tombol abjad dengan ujung-ujung jari yang lemah
Tanpa pedulikan reaksi inti fusi di luar sana
Berjarak lima belas kali sepuluh pangkat sepuluh jauhnya

Ah, peduli apa kita juga pada daur proton-proton
Di depan kita ada satu paket daun ganja kering terbungkus rapi
Menunggu giliran untuk dilinting, dibakar lalu dihisap
Selanjutnya, bermimpi indah dalam keterjagaan di siang hari
Tersenyum tertawa sendiri seperti ringkih kuda ketakutan
Dalam lecutan asap mengepul dari bibir yang menghitam

Imajinasi tenggelam berenang-renang bersama ikan-ikan
Pada dalamnya kolam di depan kita lebih jauh lagi
Surga telah datang sebelum ajal datang berkunjung menjemput

Hamparan hijau lembah sisi kota memenuhi janjinya
Sejenak kita sedang berada di bulan sebab tubuh terasa ringan
Tak ada gravitasi dan bebas meloncat dalam gerakan lambat
Pelan mengapung temui nini anteh dalam dongeng yang agung

- Jatinangor-
01.20 dini hari

17 Juni 2003
Negeri Impian

Melepas sauh perahu dari tambatan karang
Tak sempurna mudah oleng mengambang

Kaleng gelas besar meracaui tengah malam
Di tengah kamar sewarna langit bersaksi
Pelapis dinding yang retak-retak membisu
Menjadi remah–remah diatas lantai dingin

Saat bulatan merah berurutan
Namun terpisah garis sangat jelas
Menyimpan beribu taktik strategi
Ketika kawannya menjelma ular
Menindih angka yang menjadi mangsa

Tak henti-hentinya menyusun keteracakan
Pada wajah tebal kertas bermotif
Layaknya peti kemas pelabuhan
Mesti dibuang ke pulau berpenghuni

-UAS Wave II-

03 Juli 2003
Terjebak Mentari Pagi

Jengah pada hari yang selalu membohongi
Saat memuntahkan khayalan pagi buta
Hanya angin dingin lamat-lamat pergi
Menghardik bulu-bulu halus raut muka

Semut-semut kecil hitam mengerubung
Tertindih samudera pasir gula putih
Memewahi diri dari harta mati
Tempat mencampur bubuk hitam tulus

Berdiri lemah memeluk pintu kamar rapuh
Bosan berselimutkan sesal kala gelap
Menikmati seduhan kopi panas pukul tujuh
Mesra menciumi bibir gelas retak dampal

Bergulat dengan akal tentang mana yang lebih suci
Diam atau berbuat semuanya amal
Ketika gundah menyapa keduanya terhenti
Tenang selalu saja menjadi asa
Dimana obor kemewahan lepas kendali

Menunduk kepala hendak membentur tanah
Telapak tangan terbuka akan menyentuh langit
Saat semua daya upaya tak berdaya

-Jatinangor-
-tengah malam-

04 Juli 2003
Menangis Jujur pada Bunda

Bus kelas ekonomi sedang membawaku pergi
Bukan kereta yang meninggalkan stasiun keberangkatan
Hati mencelos saat mulut berucap benar
Tentang aku di gunung tempat belajar

Aku tidak kalah jahat dengan Ken Arok
Membunuh pembuat keris setelah didapat
Sungguh aku ingin mengingkari legenda ini
Menutup telinga dari setiap dongeng pengkhianatan
Membuka mata tentang khayalan masa keemasan

Dibelakang kursi tempatku duduk
Lapat-lapat terdengar suara bayi menangis
Sebentar kemudian tertawa lepas
Menunjukkan diri ikuti kompetisi keramaian

Ketika kendaraan ini melaju kencang
Berlari meninggalkan goresan luka
Di hati Bunda walau buahnya kadang menikam
Berbau busuk meski enak dipandang
Jalan panjang yang aku tempuh adalah kasihnya
Tanah Firdaus berada di telapak kakinya

Aku tidak diperkenankan berperang
Menebas musuh memanah jantung lawan
Selama Bunda masih menghendaki aku di rumah
Dan aku dilarang mencintai ayah kandungku
Setelah urutan ketiga atau mungkin empat

Perlahan aku telah sampai pada tanah lapang
Yang dahulu kebon karet kata cerita
Kuayunkan langkah turun dari roda berjalan
Meninggalkan aku sendiri menemui sahabat-sahabatnya
Dari kota lain mengantarkan kisah-kisah perjalanan
Pengembaraanku dimulai dengan jiwa yang masih pengecut

-Jatinangor-

04 Juli 2003
Tolong Hentikan Perang Sekarang !

Lalat-lalat telah jenuh akan bau amis darah
Mengendus mengerubung kemudian terbang
Mengingkari kodrat sebagai binatang busuk
Karena manusia jauh lebih buruk

Belatung-belatung sudah bosan mengurai daging
Santapan malamnya tidak lagi di liang kuburan
Melainkan tergeletak di jalan dan semak belukar
Mereka lupa kalau taringnya untuk merobek mata bening

Tak ada lagi tempat untuk tanah pemakaman
Batu nisan habis dipesan kain kafan bukan jawaban

Langit menghitam awan pun mendung
Hendak menangis namun terbendung
Tertahan timah panas peluru
Dari senjata yang selalu menderu

Menjadi mayat tertembak bukan harapan
Melempar granat pun tidak disebut jihad
Menaklukan nafsu amarah meluruskan niat
Adalah jiwa yang pekat amanat

Tangis bayi ditinggal mati bapaknya
Tak membuat hati bergeming
Bengis dan sadis mematri otak kuat-kuat
Sebab iblis tak pernah mencium kening

Air mata perempuan tak perlu ada
Jika bulan madunya tak harus pergi ke medan perang
Selalu yakin suaminya pasti kembali
Dengan berseri atau cuma foto diri

-Jatinangor-
14:43

07 Juli 2003
Berbalut Daun Sirih

Mendayu-dayu suara hati kala siang sepi sendiri
Melelahi jiwa dalam bara api unggun waktu
Menghisap asap di hadapan wajah remuk redam
Melepas bosan pada tajuk panggung kesengsaraan

Dimana tawa tidak lagi melepas sunyi
Hening gambar bukan suci melainkan berdebu

Dua gelas kopi hitam telah habis tinggal endapan
Akan basah tempat jamur berumah tangga
Beranak pinak lalu hilang tersapu air bening

Lalat-lalat mengejek lantai putih
Berjalan menjejaki bau kotoran
Dari badan dan abu rokok bersimpangan

Pintu tak perlu diketuk karena sudah terbuka lebar
Menjanjikan pasar sembunyi dibalik malam tanah kuburan
Tak usah menangis sebab telah tercuri peri-peri
Yang mendamba bidadara menyingkap kain penutup kepala

Jatinangor
23:05

19 Juli 2003
Cerdas

Mencoba untuk tidak pernah mengerti
Semua cakap dalam mata membisu
Ketika sepasang bibir menutup mulut
Kata-kata terpenjara divonis mati

Membaca kertas mimik wajah penat
Dalam remang kedekatan sahabat
Pakaian sombong sulit untuk bohong
Jujur yang terucap selalu menolong

Memuaki perilaku teman menyikut teman
Demi permata yang sungguh bukan miliknya
Tertawa lalu terbaring mimpi
Bercinta namun menangisi hati

Menepis khayal kedangkalan pikiran
Bertindak maju dua langkah ke depan
Meninggalkan bis-bis yang masih heran
Jauh biar dunia tetap mengenang

Pagi tetap saja menyingsingkan fajar
Tak pernah berhenti walau sesaat
Mencuri waktu untuk dijual pada malam

-Jatinangor-

27 Juli 2003
Bandung Lembah Gunung

Angkuh berdiri diatas hamparan lembah
Gunung tinggi tidak terdaki mengejek puas
Tersenyum sombong pada bibir kembang merekah
Menggenggam kujang kerajaan yang hilang
Danau raksasa telah dikeringkan
Sumbatnya pohon tua di tengah kota
Putra sang fajar mengawali sinarnya
Di balik belalai gajah terpatung
Wajah kota dibakar dijadikan lautan api
Tak ada samudera namun perahu tertangkup sempurna
Dingin malam selalu dihangatkan perempuan
Wajahnya bening tetapi sendu malu-malu
Menjelma saudarinya gadis Paris yang romantis

Taman-taman telah rusak tersiram Vodka
Menggenangi otak kaum muda
Prabu Siliwangi menyembunyikan istananya
Mengubur kebanggaan rakyat biar semu
Alun-alun menimbang neraca kelicikan
Rumah pencuri mengais rejeki
Pemimpin negeri mati di tanah timur
Sebab matahari enggan terbit dari barat
Punggung binatang terpuja sebagai dewa
Hanyalah batu loncatan mencapai Digul sepi
Harta benda hangus ketika tidak sudi memberi
Sejengkal tanah untuk penjajah
Kini terbuai kesenangan pembohong Imperial
Tak perlu Sangkuriang teladan kesungguhan cinta
Sepuhan emas mendustai kawah suci keyakinan
Lembaran-lembaran kertas ternilai membeli keluguan
Bunga malam memanaskan hasrat hingga mendidih
Telah sama persis kecup ciuman menara Eiffel
Dengan mulut birahi tiang komunikasi

Jatinangor
05:57

28 Juli 2003
Pesawat Sukhoi Mainanku

Pagi hari ketika bayi reformasi baru lahir
Ibuku berbelanja di pasar militer Rusia
Uangnya didapat dari Ayah yang mengolah sawah

Nak, ini Ibu belikan kamu mainan
Kata Ibu diam menyunggingkan senyuman
Gempur musuhmu dan jangan pernah ragu
Jadilah raja di udara layaknya burung garuda
Ucapnya lagi tampak bersemangat

Aku termenung memandang heran
Karung-karung beras tergadaikan
Demi sebuah citra di mata dunia

Kutatap tajam tangis perih bocah perempuan
Lemah tangannya menahan sakit lambung yang kering
Gerombolan kakek tua dengan caping penutup kepala
Datang menyerang dalam mimipi burukku
Menengadahkan telapak tangan meminta sesuap nasi
Berharap dapat menyuapi mulut memanjakan perut yang lapar
Temanku mahasiswa tercekik biaya kuliah
Sedang ladang bekerja belum tentu ada

Akan kujatuhkan bom-bom dari pesawat tempurku
Diatas rumah-rumah kumuh pinggir kali
Hendak kuluncurkan rudal-rudal tajam ujung pensil
Menukik tepat pada hamparan ladang penuh hama
Biar gagal panen agar tak ada pesta pora

Namun akhirnya aku terbangun di saat petang
Dari lelapnya tidur siang seperti kebiasaan

Aku berdoa agar Ibuku tidak keliru
Tentang dongeng kejayaan masa lalu

-Jatinangor-
- 05:54-

16 Agustus 2003
Sampai Jumpa Lagi

Terang harapku tak lagi benderang
Gelap asaku nyanyian gulita

Terlahap hantu meninggalkan subuh
Dengkuran mimpi nyata-nyata nyaring
Menyesali malaikat pagi telah pergi

Paras terompet menyapu kotoran mata
Tarian piring memalui diri
Seni beladiri wajah birahi

Melupakan merak di taman burung
Memalingkan muka enggan berdosa
Semua nilai telah dirampas
Setiap roman harus dibelenggu
Rantai janji pengakuan lelaki

-Jatinangor-

17 Agustus 2003
Maaf Untuk Masa Lalu

Sejarah tinggal tak boleh ada lagi
Bukan karena rumah penuh perintah
Atau beranda yang makan hati

Lalui saja semua sendiri
Bertolak dari otak muda belia
Mengintip dunia sebentar
Kembali pulang tanpa mengantar

Pagar besi hijau enggan terbuka
Bel nyaring menutup mulutnya
Taman hijau berucap sinis
Walau wajah itu teramat manis

Tak usah marah perempuan
Jika pondokmu tanpa pengembara
Tak perlu diam nenek tua
Jika cucumu selalu berkesah

-Jatinangor-

18 Agustus 2003
Apa kabar Anita?

Masihkah mahkota panjangmu terurai?
Dibelai angin nakal di punggung landai
Masihkah terpancung hidung itu?
Memenggal bola mata lelaki busuk

Kau peringkat satu di dusunku
Saat sekolah masih murah
Kembang kelas usia sebelas

Aku datang pagi sekali
Tuk memandang sepuas hati
Merah pipi tak terbeli
Senyum geli hendak kucuri

Mungkin kini kau telah anggun
Membuai pantai pondok nyiur
Mungkin nanti kan kupinang
Sejuta nadran tergadaikan

Tak perlu kunjungi penghulu
Citamu masih tinggi perempuanku

-Jatinangor-
09.50

18 Agustus 2003
Jas hitam dan dasi

Gedung tinggi dan fajar suram menanti
Roda kereta tetap berjalan pada relnya
Angka norma palang pintu sulit dicari
Dalam hingar-bingar impian hijau

Raja dan Ratuku berharap pada ksatrianya
Istana memugar pelangi dalam masa paceklik
Ingin sebentar nostalgia masa muda

Menjala ikan di danau sejuta pemancing
Tercebur sendiri melumpur coklat otak-otak

Menggapai langit empat musim
Awan mendung menggelayuti puncak gunung

-Jatinangor-

5 November 2003
Seperti Orangtua

Kini aku adalah pujangga masa tua
Tak mengenal benih muda tumbuh sendiri
Dengar rampingnya nyanyian terumpet usang
Dari bibir yang dipaksa mencibir

Pada purnama aku tersedu
Di sisi danau sunyi tak melagu
Biar awan berjalan sesaat putihkan langit
Sesatkan khayal gelap malam membersit

-gsstf, Jatinangor-

9 November 2003
Jejak-Jejak Lidah

Jejak-jejak lidah berbekas pada ingatan lemah
Tersapu angin pergolakan nurani untuk hidup
Aroma nasehat tercium dari permukaan wajan cinta
Menggeliat, membenamkan bulu kuduk, mengekang nafsu

Air wajah Ibu terpampang pada perempuan itu
Juga tawa dan mulut yang diamkan jiwa
Sekedar membantah, sekerat kedurhakaan
Tidak, jangan lepaskan penjara jiwa ini
Biar saja angan senang terpuruk lagi
Seperti dulu, seperti kata Ibu
Sampai Ia rela mencabut kembali
Sesuatu saat-saat kecil yang lalu

-gsstf, Jatinangor-

03 Maret 2004
Ramai Damai

Serangga malam ramai bersungut dibalik batang rumput
Terpenggal lantak kemarin pagi menyiangkan hutan rumah
Cahaya kunang dalam gelap yang dibuat-buat
Seperti tawa sekejap tak mengena

Enggan aku berharap pada mata yang menatap tak sengaja
Seperti lalu, tak ayal bercerita adalah mustahil

Aku titipkan pesan dibalik lembaran selimut kebohongan
Dan tak kuasa berucap jujur sebab cinta bukan paksa

Unggun terwujud dari batang kayu sisa pertunjukan
Terbengkalai dirobek ketika mulai mengingat untuk apa

-gsstf, Jatinangor-

30 Maret 2004
Tua Memulung Sampah Gelas Plastik

Seperti kemarin atau hari cerah bernanah pagi tadi
Tak peduli lengan sebelah jadi aral punguti sampah
Tua menjelma, diais nasib karungi plastik di punggung renta

Terik panas jalan fatamorgana atau sinis iba manusia yang berbisu
Cuma sehelai uban di rambut tak hitam

Roda hidup mesti berputar biar kadang menggilas liar
Riuh rendah jadikan diam secercah harap tak mengena

Mustahil, disini, di tanah ini, hilang kepapaan berakar
Cemaslah anak cucumu pada masa jomponya nanti

- gsstf ,Jatinangor -

31 Maret 2004
Tapak Bait Sembelit

terkoyak kaidah sajak berabad silam
yang hadir mengekang
terpatri di rima bunyi
pada hati yang kerdil

menapaki jalanan bait terjal berduri
ruas-ruasnya penyair bernama
mengiang bergaung dari buku-buku udara

bersimpuh sesaat sejenak untuk berdecak
hadir tanpa nada sebab bibir senantiasa sumbang
dipaksa bergetar beralur malah berpendar

kata-kata mati terbunuh
belum sampai liang kerongkongan
basah pun tidak apalagi berbusa
mulut menutup, menganga sedikit seketika hening juga

kata-kata mati dirajam
di usus besar pada perut yang menyusut
membelit sampai sembelit nyeri tertusuk
kata-kata mati tak dilisankan
menghunjam beriringan bersama kotoran
mengalir bebas berair berlendir

-gsstf, Jatinangor-

05 April 2004
Sapaan Pagi

Suara tangisan, teriakan menderu dari radiotape itu
Menggemakan tiap tembok dinding kamar
Getar kaca jendela tersedu
Lantai keramik terhening dingin

Sepoi pagi melebarkan selimut
Perbaringan permadani padang pasir
Intipan fajar geliatkan bulu kuduk
Langit terang membiru memangsa bunga tidur

Gelas air putih memulai segalanya
Diantar terbakarnya nikotin
Mewarnai hari dengan hitam kopi

Lenting leher bergemeletuk
Pun adanya dengan bahu
Demikian mahkota rambut tipis semrawut

-kenapa harus bangun pagi-

7 Juli 2004
Pencari Jejak (sajak untuk si Bos)

Kubaca gurat wajah itu menua
Garis pada pelipis elakkan muda silam
Pembaringan mimpi telah jatuh ke kolong waktu
Dan ranjang itu kini berdebu

Roda-roda kenangan menjejak tanah basah
Hendak ia tinggalkan hanya dengan berdesah
Renyah riuh kuhisap telaga diamnya
Pada puncak usia tak usah bertanya

-gsstf, Jatinangor-

5 Agustus 2004
Pra Akta Nikah

Bahwa pada setiap pekan berakhir
Kan kutemui sepasang kasih yang melahirkanmu
Dari rahim sayangnya yang mengandung cinta

Aku tawarkan gelisah dan gempita malam
Selepas sembahyang jika kau berkenan
Merangkai benang merajut damai di pelaminan

Ini adalah jalan menuju hitam diatas putih
Dihadapan Tuhan juga mata kerabat insan

Bersenandunglah, berkeluh-kesahlah, menangislah
Perlahan-lahan selama mungkin kau mau
Tumpah-ruahkan cawan dengki dari dalam sana
Jerangkan jujur menjadi tetes-tetes rindu
Pembalut kalut menipiskan perban duka

-gsstf, Jatinangor-

06 Agustus 2004
Seni Jahat

Lukisan itu dari pecahan kaca
Cat yang dipakai dari whisky
Gurat hitam dari kopi
VSOP adalah dewa

Lintingan ganja kubakar habis
Tempat semayam iblis-iblis
Nadi kusuntik heroin
Jalan otakku makin licin

Bukan, bukan batu karang kupahat
Bukan pula kayu jati kuukir
Atau angin dibelai laut

Tak masuk akal…
Mungkinkah merampai bunga
Dari tetesan liur makhluk jahat
Dan kicauan burung pagi hari
Wujud hadirnya bubuk mesiu

Diamlah…
Matahari akan menangis menitikkan air mata
Purnama marah memerah
Dan gunung muntah jijik
Laut membakar diri di siang bolong

-aku yang kecewa-

22 November 2004
Berilah Waktu Sebentar Saja

Berilah waktu sebentar saja…
Biar Tuhan bersesuatu tentang kita

Senantiasa yang bergumul dengan hasrat
Dan mulut jurang menjelma niscaya

Aku hantarkan kata-kata dari udara
Harap berbias sempurna pada gelas-gelas kaca
Jika saja tak menyimpangkan makna
Telah nampak semua dalamnya

Berilah waktu sebentar saja…
Biar Tuhan berkehendak pada kita

Kemudian menjadi pasti setelah-Nya
Dan bibir angkuh tergigiti sendiri

Aku menjemput kalimat-kalimat dari lumpur hangat
Harap menegak berdiri diatas bumi
Jika saja tak membengkokkan arti
Telah jelas setiap benarnya

Berilah waktu sebentar saja…
Biar aku sadar sebentarnya waktu

-kost-an Uman -

22 November 2004
Kepada Perempuan

Seperti bersahaja, kau patahkan aku terbelah-belah
Padahal kurajut kisah tentang itu diam-diam

Disampaikan Tuhan ketika tidur sesaat
Sebab tak kusebut namamu sebelum terlelap
Hadir begitu saja dari ranjang-ranjang siang

Enggan kukenang hari-hari riang
Kuhempas keras ke ujung petang
Gurau nyanyian itu milikmu selalu
Tercetus kelu dari bibir tak bisu

Cerai-berai waktu milik Tuhan kian kuasa
Merepihkan segala hingga tak bersisa

Seperti bersahaja, kau patahkan aku terbelah-belah
Padahal kurajut kisah tentang itu diam-diam

-kost-an Uman -

22 November 2004
Sebuah Sajak Pertanyaan
(untuk Cinta)

Laga lagunya menjelma berita gila
Rampai rambutnya melambaikan cinta
Gila cinta, cinta yang gila

Ia damai saat menyapa Tuhan
Ia biasa ketika jumpa Bunda
Damai yang biasa, biasa damai
Tuhan Bunda atau Bunda di-Tuhan-kan

Engkau selamat wahai juru filsafat
Agama ini sudahlah tetap tepat
Juru selamat atau agama yang selamat
Sudahkah tetap, belumkah tepat

-kost-an Uman –

22 November 2004
tiga per empat

Rintik hujan pagi ini membawa kisah yang lain
Dari bentang sayap malaikat diujung lorong kian pekat
Tentang mimpi-mimpi dingin dan kita masih menggigil
Kau ucap itu bahasa luka menganga dari kata terbuka
Usah harap kan kubalut mendengar pun tak kuturut
Tentang rindu yang tlah usang dan kita masih berpegang

-kost-an Uman -

23 Februari 2005
Pasti Lalu

Bermukim bermusim-musim dalam lingkaran amarah
Garis-garis yang kau lukis semakin nyata saja
Lurus-dilengkungkan sampai spiral jelas jadi aral
Lengkung-diluruskan hingga lenting menghambur cekal
Gerimis basah-basah kuyupkan masa kita
Panas penat menyengat didihkan laju kita
Biar hangat-hangat sebab antara adalah baik

Aku yang bermukim dilanda musim
Diguyur hujan disengat panas
Entah kapan juga pasti lalu……

24 Februari 2005
Pecinta Malam

Selamat siang, pecinta malam
Banyak kata di purnama yang membentuk
Pelangi satu saja, di gumpalan awan
Selamat siang, pecinta malam
Habis sudah kalimat-kalimat suci dari mulut
Menganga bak luka yang kau ukir di otak
Padam sudah tak menyala lagi
Selamat siang, pecinta malam

Dia Masih……….
Kepada Taufik….

Dia masih berharap pada sepi habis pekan
Dimana malam gerimis adalah teman berdo’a
Walau badan berkeras mau diam membatu

Di depan bulan berujar tentang mapan
Di hadap Tuhan melantangkan dosa perawan

Ini misa tengah malam tanpa pendeta
Jubah-jubah suci hanya melekat di tubuh lemah

Dia masih berasa pada ramai-ramai tawa
Yang tegariskan sama rata dibalik wajah
Durja, masam……….
Muram, merah…………

-gsstf, Jatinangor -

2 Maret 2005
Religi Mati

Permisi… aku datang hendak menyapa
Siapa saja yang sedang dimabuk kata
Hendak bertanya tentang religi mati
Di padang siang berdenyut pasir gurun
Ingin berujar perihal luka nanah
Yang hijau cerah teriuhkan angin evolusi

Sampurasun …
Sudah aku rendahkan dua sayap angkuh ini
Telah aku tundukkan paruh-paruh malas ini
Sejatinya mengelak lari-lari kecil ke depan
Jauh. Sampai hanya tampak fatamorgana
Horison cakrawala yang perlahan melengkung lesu

Assalamu’alaikum….. (3x)
Nah, barulah terbuka pintu-pintu semu
Yang ia tutup rapat-rapat tanpa celah sedikit lubang pun

4 Maret 2005
Sia-sia

Tetes hujan masih mengguyuri atap rumah kesombongan
Jatuh ke pelimbahan sempit yang mengalir tersendat
Beribu do’a pastilah terpanjat saat ini
Teriak harap tetaplah terkumandang ke langit

Korosi waktu yang menempel di permukaan bumi
Semakin menggunung dengan reduksi di lahar semu

Tak sempat ada harga untuk khianat
Dari manusia-manusia peng-agung kepercayaan
Yang arca-arcanya dilumuti bau busuk reinkarnasi

Tak pernah ada harga untuk tawa
Dari binatang-binatang sembelihan sesembahan
Yang meja megalitikumnya diukir tanduk karma

Tak mungkin ada harga untuk cahaya
Yang telah berjuang menembus atmosfer bumi

-03.46 waktu GSSTF-

04 Maret 2005
Malam

Selamat malam Tuhan.
Gerimis yang menjelma badai ini tanda-tanda perbincangan kita sekali lagi dalam melancarkan
Nafas tersumbat salesma yang Kau hadiahkan

Selamat malam Tuhan.
Aku dengar Kau mulai sering marah belakangan ini,
Dari banyak bencana yang Kau kirim untuk manusia-manusia shaleh di muka bumi
Seperti Kau tak ingin hamba-Mu yang getol menyembah-Mu berpaling karena cinta dunia
Buru-buru Kau ambil jiwa-jiwa suci mereka
Agar masih bisa berada di samping-Mu nanti

Selamat malam Tuhan.
Aku tahu ini sebentar lagi saja sebelum
Hadiah lain Kau tetapkan untuk kami
Yang berdiri di kaki gunung tiga puncak

Selamat malam Tuhan.
Mohon terbangkan saja ruh-ruh kaum Nabi-mu,
Umat nabi terakhir-Mu, melayang di atas cinta mereka pada-Mu

Selamat malam Tuhan.
Sungguh Kau Maha Tahu tentang aku……….

-03:25 waktu Jatinangor bagian GSSTF-

07 Maret 2005
Sampah

Kalau saja……
Agung sampah ini sampai tak berasa sulit
Akan kulumat saja sampai kaleng pun lenyap
Hingga batas-batas biasa dan metafisika ludes

Mesti berganti lembar putih ini……..

-12.31 waktu Indonesia bagian GSSTF-

07 Maret 2005
PELAJARAN ( J=C, R=K )

Sebukit kayu bakar di sekeliling tubuh ini
Sejarak wangi minyak di hadapan hidung ini
Yang benar Ibrahim tak’kan dilahap api

Sebongkah batu besar di puncak gurun
Sebilah pedang panjang tajam cium leher
Harap tulus Ismail tak’kan mati

Api bakarkan tubuh-tubuh iblis
Pedang sayatkan leher-leher setan

Ayah anak Ibrahim Ismail di sana
Telah kenyang lahap dunia

-gsstf, Jatinangor -
-12:42 waktu Indonesia bagian Gs-

11 Maret 2005
Boleh aku…….

Hidup empat belas hari di lereng Halimun
Gigil tak dinyana lagi jadi hangat di kesepian
Buah-buahan diantarkan putri burung

Aku hidup di atas tikar yang menghadap kiblat
Dialas selimut lapuk kala air nyawa istirahat

Dada ini adalah padang Kuruksetra
Hati menjelma Krishna si Govinda
Kepala menjadi Arjuna si Pemanah

Oh…….. Bunda yang terajar Begawan Sunda
Aku lahir bersama kata namun hidup dengan angka
Oh…….. Ayahanda yang memangkas tebu di ladang-ladang
Aku muda sehitam ini, nanti tua seputih apa?

12 Maret 2005
Sahabat

Pediangan rindu telah secerah disapu matahari
Bara moksa enggan hidup dari ubun-ubun bulan
Sudahi saja ini berdiri sendiri
Biar reda amarah di kepala

Atap cinta menghambur lagi ke tengah-tengah danau
Lantai sendu tergenangi air sisa hujan sore hari
Berlaku lagi mulut-mulut meracau
Gigil bersemedi hati-hati mati

Aku berkelahi dengan hujan di jalanan
Aku berlari di agung aspal bukit belajar

Sahabat, rasai dengki dari merah mata ini
Sahabat, cintai angkuh dari hitam bibir ini

13 Maret 2005
Sinetronikal

Hendak kemanakah dua bolamata itu
Mengalirkan air-air sendu dari tubuhmu
Hendak kemanakah wajah itu berpaling
Dari kata-kata yang tak kau sadari bermakna
Hendak kemanakah bahu itu diangkat
Sedang citra-citra yang kau rentang
Tak mungkin untuk ia datang

Ah…….Tuan menggali terlalu dalam
Meninggalkan berkas-berkas suara di halaman
Melagukan cinta dengan hati penuh dendam

Maaf……Tuan…….
Ada dua laki-laki berkelahi di luar teratak ini
Satu menyimpan dengki sebab perempuan
Satu menyembunyikan rindu sebab sudah tak berasa

Tuan……….
Guruh dari langit ketujuh merambati kaca kita
Jendela berderak saat kau makin teriak
-gsstf, Jatinangor -

14 Maret 2005
Rumah-Jiwa

Ah……. rumah-jiwa ini untuk yang sakit saja
Marabahaya eh……malah tertawa
Rasa suka aih….terbahak makin kuat

Kalau seorang dari kita mati
Mutlak percaya Tuhan tersenyum

Kalau seorang dari kita mati
Titip cinta untuk Tuhan penyayang

Kalau seorang dari kita mati
Butir asa hamburkan dari merah tanah makam

Kalau seorang dari kita mati
Katakan “aku” buat perempuan yang hadir
Dalam tiga mimpi tadi

Kalau seorang dari kita mati
Jasadmu terlalu tebal dibekap di sini

Oh………rumah-jiwa ini untuk yang sakit saja

17 Maret 2005
Dari Arif….

Masih saja rindu ruah pada tetes gerimis sore-sore
Di ladang karet yang ditinggal perambahnya mati
Dalam spektral pelangi gaduh hujan hilang bunyi
Pada halaman udara sejengkal atas bukit yang merengek

Masih juga panji-panji mengibar bengis tak meringis
Di tangga-tangga yang dibangun pengusungnya jeli

Penambang emas mestilah pulang dari laut lepas
Merebahi ranjang-ranjang empat kaki mahoni
Nelayan minyak mestilah kembali dari kembara sawit
Melumati roti-roti gandum nabati

Jikalau masih saja…..
Pergi saja bersama angin musim kemarau

Andai masih juga……
Berambus juga dari air tropis di hulu gunung

17 Maret 2005
Dengan …

Dengan lirih yang merintih
Kau sentuh subuh yang enggan mengaduh
Membenam malam dalam tiap bayang hitam

Dengan dahi yang mengernyit
Kau pegang siang di dada awan yang menghalang
Bermandi dadih dalam dermis mendidih

Dengan menyebut setiap kutuk
Kau liar menghajar di muka ba’da Ashar
Meniarap syaraf kala baju kian lembab

Dengan menyanyi beriring bunyi
Kau desak segala kembang detak di kanan otak
Hingga menutup cukup cakap-cakap dalam mulut

Dengan menangis berlari histeris
Kau kecup badut-badut dalam tempurung perut gendut
Menyeranai derai-derai komedi yang capai

Dengan tawa kian menggema
Kau gigit genit bibir bawah yang penuh parasit
Mamatut dua sikut sejajar bahu terurut

Dengan…..
Kau….
Menjelma……

17 Maret 2005
Manusia Biasa

Seorang manusia biasa ditikam mimpi pagi ini
Belati menembusi dadanya sampai mati
Tersungkur ia ke lantai dunia yang miring
Di dalam rumah berbintang dua di langit-langitnya

Lengking jeritan memekak di telinga kawannya
Sampai penuh eustachius oleh fesces nada-nada
Basah keringat menderas bebas di jangat dahinya
Hingga hinggap hilang bentuk kering wajah-wajah

Kawan yang mencinta kawan yang menikam
Kawan yang mendengar kawan yang teriak
Kawan yang menyalam kawan yang menampar
Kawan yang mengiba kawan yang tega
Kawan yang mengajar kawan yang menghajar

Seorang manusia biasa ditikam mimpi pagi ini
Sebuah malam tentang manusia seutuhnya

-gsstf, Jatinangor -

18 Maret 2005
Desa Kota

Ah … kita terlalu mabuk untuk mengingat hari kemarin
Tiap pinggiran kota ini telah terjamah tangan-tangan dunia
Yang bukan lagi milik kita

Kita tak pernah terlalu jauh lari dari titah-Nya
Garis nasib yang membuat kita kerdil dihadap-Nya

Tiap tetes hujan adalah serangga di musim kemarau
Yang tak perlu bercerita untuk tiap hadirnya
Tiap kubangan lumpur adalah sepatu baru
Yang jika sebelah kerap melahirkan sajak-sajak

Ah … kita terlalu sadar untuk mengingat hari esok
Tiap lembah desa ini telah terduduki musim-musim
Yang tetap saja milik mereka

18 Maret 2005
ASMARA

Tuanku Don Yuan yang pulang larut malam
Dari kerja seharian mengenal di kamar perempuan
Disajikan susu kental manis hangat-hangat kuku

Tuanku Don Yuan tak sekalipun kalah perang
Musuh semua sama saja di hadap hidungnya
Selimut lebar tak kuat meredam getar
Yang Tuanku gumuli dengan keringat enggan kering

Tuanku Don Yuan mati sejenak pada cinta bersemak
Berdiri lagi mengendus cinta yang lain
Mati lagi……..
Berdiri lagi…….
Mati lagi……..
Berdiri lagi…….
Mati lagi……..
Berdiri lagi…….

-gsstf, Jatinangor -

23 Maret 2005
Uzlah

Kalimat-kalimat ini menjadi saksi percumbuan aku dengan Tuhan
Perjanjian ruh ini disana seperti diingatkan kembali sekarang

Untaian syair jazirah padang pasir yang menyitir
Mematri mati segala puisi dari pena ini

Aku rasa berkuasa pada dosa kata-kata
Aku lunglai dalam do’a yang kian membelai
Ia mencinta jika saja jasad ini juga
Ia memaki jika ini hati berganti kaki

Camkan aku tengah berpeluk mesra dengan Tuhan
Di ujung mantra semakin komat-kamit tak karuan
Diamlah kalau aku sedang berdekap erat dengan Dia
Ini bukan roman seperti pada perempuan belia

Ah…. Ia mesti terjaga walau aku lelap
Dan aku enggan istirahat pada pembaringan pinta
Ah……. andai Uzlah begitu indah

28 Maret 2005
Malam Kontemplasi I
Senin miskin
Selasa sengsara
Rabu mengadu
Kamis menangis
Jum’at ibadat
Sabtu junub
Minggu mabuk

Malam Kontemplasi II
Senin judi
Selasa kaya
Rabu melucu
Kamis histeris
Jum’at khianat
Sabtu selingkuh
Minggu mabuk

Malam Kontemplasi III
Senin mabuk Selasa mabuk Rabu mabuk
Kamis mabuk Jum’at mabuk Sabtu mabuk
Minggu mabuk

-gsstf, Jatinangor -

31 Maret 2005

Dan sekali-kali ia bukanlah sekedar kisah
Ku’kan mencinta ia hingga mati berdarah
Dan sekali-kali ia adalah mata air
Ku’kan menulis ia sebagai syair

Telah hilang ia setanda akhir dunia
Telah rebah ia di tanah kubur sana
Sungguh aku menyayangi malam yang datang
Jika putih kainnya ada tanpa remang

-untuk ia- [the Prophet]

3 April 2005

Tak akan kutulis surat tentang kabar
Tak akan kugambar sisa berita yang tersiar
Terlalu banyak cerita lepas dari dada
Terlalu banyak warna nanah untuk petang sekarang

-tentang halaman-

3 April 2005
Dear adzis,

Habis sudah enggan kita pada dunia
Ranjang milik Tuhan telah kita gumuli sendiri
Tinggal bercak gula masih tersisa di putih sprei

Berpercuma kita pada nyaring lakon purba
Dalam pita suara yang tak selebar dada kita

04 April 2005
Dear adzis,…..

Berhentilah bicara saat pagi dan petang
Sebab malaikat hanya datang tuk tuliskan do’a saja
Di langit sayapnya bertarung dengan dua tanduk setan

Aku tak sedang tabuhkan guruh di selaput pikirmu
Sebab perang itu bermula dari moyang kita
Di satu sabana kala ilalang jadi saksi pertengkaran

Terisaklah hanya jika malam menjelang
Sebab kau lahir pada pangkalnya dari rahim cinta
Yang menanti panggilan dalam pekik kemenangan

Kau tak baru sama sekali wahai diri
Lihatlah bahumu yang persis
Dengan lelaki renta di ujung pantai

04 April 2005
Untuk Adzis …

Aku kau caci selayak babi
Dia kau canda serasa cinta
Aku berseteru dengan air
Dia berbagi gelas dengan kau

Burung mendengar nyanyian burung di sini
Sedingin matahari subuh dengan bulan masih menggantung

Kau dera aku dengan cemeti kata dia
Kau semati dia dengan cincin di tiap jari

Aku kau benci dalam tiap baris puisi
Dia kau beli dengan mahar berjuta syair
Laut membasahi laut di pulau ini
Sedalam patahan palung dengan nyiur masih melambai
Gunung mendaki gunung di lembah kota ini
Setinggi tiang langit dengan awan masih mengitari

-gsstf, Jatinangor -

11 April 2005
Buat Adzis,……

Aku mau Tuhan turunkan saja sifat nabi-Nya
Pada engkau, biar selamat dari segala sumpah serapah
Dzis,….
Celoteh dunia terlalu nyaring untuk percakapan langit
Aku mau kau jadi orang suci di negeri Paderi
Haji di sini senang memperistri judi
Dzis,….
Bersimpuhlah selagi dini hari
Sebab siang, matahari berbicara pada orang-orang hitam
Aku mau kau tinggal dalam bayang-bayang awan
Tabib di sini senang berdusta tentang mati
Dzis,….
Rasailah debu yang lekat di dinding itu
Dengar desah hasratnya hendak kemana
Pandang ujud lara yang pasti sembunyi dalam warnanya

-gsstf, Jatinangor -

13 April 2005
Percakapan Dunia dan Waktu
(sajak untuk Tosa)

Dunia : Wahai sang waktu! Mohon tak terlalu cepat melangkah, aku belum sempat berkata-kata.
Waktu : Tak ada lagi yang perlu kau katakan dan bukankah kau sudah bosan mengutuk diri sendiri?
Dunia : Sudah sifatku mengagungkan diri dengan kata, pula sifatku menistakan diri juga dengannya.
Waktu : Dan dapatkah itu kau lakukan tanpa langkah kaki ini?
Dunia : Ya, tapi langkahnya jangan terlalu cepat.
Waktu : Bukankah kau yang selalu berputar? Dan aku hanya mengikuti.
Dunia : Ya, tapi kaulah yang tentukan lamanya.
Waktu : Baiklah lihat sekarang aku berhenti melangkah nih. Puas?
Dunia : aih. Jangan. Bagaimana dengan manusia?
Waktu : Oh….. Rupanya soal manusia ini yang belum lagi aku tentukan.

-gsstf, Jatinangor -

27 April 2005
Masih

Pagi dengan langit mendung
Matahari masih sisakan sedikit merah di langit

Daus rebah, Yus, Pebu juga sedang bermandi mimpi
Adi istirahat, Nugi, Taryana sudah tak bergerak

Aku tak pulang ke mana-mana
Tanah ini hangatnya cukup untuk punggung
Awan itu selalu jadi payung atas kepala

Aku masih punya anggur di cawan jiwa
Hendak kutuang dalam rumah salju keabadian
Mencipta aurora segala warna pada bening mata

Aku menjamu siapa saja yang hendak pergi
Ke benua atau laut asal saja tak mati
Dengan ramai hujan atau hening angin dingin

Seseorang telah mati dirindui siang
Saat pagi dengan langit mendung
Dan matahari masih sisakan sedikit merah di langit

27 April 2005

Tak akan pernah aku berdiri
Dibelakang imam perempuan pada Jum’at siang

Dalam malam aku menjadi saksi matahari pecah
Tak ada serpihan dan semua gelap hampa

10 Mei 2005
Setelah Tujuh Langkah

Nisan kita di bulan, sayang
Tanah angkasa dekatkan jasad dengan Tuhan
Kalau rapat mudah menggugat, katanya
Tapi,
Tidak……….
Kecoa-kecoa buta akan pintu-pintu keluar
Getar sayapnya hanya labrak dinding kusam
Kita dobrak saja gelap sekaligus
Biar lari kita dari kiamat yang berangus
Tapi,
Tidak…….
Nisan kita di bulan, sayang

-GSSTF lingkaran api hangat-hangat kuku-

10 Mei 2005
Pelukis Kata

Kanvasku adalah batu-batu hitam di tepian lembah
Lebih berongga dari serat-serat linen di galeri sepi
Cat ini diambil dari setengah lingkaran pelangi di pagi langit
Lebih kental dari warna-warna raksa di teluk pucat

-GSSTF lingkaran api hangat-hangat kuku-

13 Mei 2005

-gsstf, Jatinangor -

15 Mei 2005
Sudah dan Belum

Padahal belum tertuliskan apa-apa tentang undangan
Jagat angkasa dari pernikahan galaksi tak bernila

Sebelanga pikir hendak singkap tabir penutup kursi
Yang Empunya bertengkar mulut dulu
Dengan ponggawa-ponggawa seputih susu
Tentang silamnya merah tanah sama api

Padahal sudah terlisankan apa-apa tentang pesta
Kenduri bumi dari pengiring bintang enggan padam

-gsstf, Jatinangor -

20 Mei 2005
Duh, Gusti!

Duh, Gusti!
Kemana perginya perempuan pingitan yang tadi?
Nangkring di depan pintu rumah ini
Masak ndak tahu !
Situ kan Tuhan !
Yang mencipta segala keindahan
Pada wajah-wajah seputih kafan
Yang hangatkan senggama burung-burung pagi hari
Pada lengkung cahaya langit masih berembun
Duh, Gusti!
Kemana raibnya perempuan pembisik malam tadi?
Yang ajak aku tuliskan kalimat-kalimat pendek
Ndak tahu juga !
Lha, situ kan Tuhan !
Yang tiupkan mimpi-mimpi tentang ketinggian
Walau aku nyata-nyata tidur di atas batu

Duh, Gusti !
Ah, hamba ndak ingin tanya-tanya lagi !
Toh, nanti juga pasti ada jawabnya !
Ya ! Kan !
-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

22 Mei 2005
Koran

Masih tentang kereta api yang tubruk batu bara
Masih tentang piutang mandiri yang tehenti
Masih tentang perintah lisan pemilihan
Masih tentang pengembangan republik kebebasan yang aktif

Masih tentang bahasa kemanusiaan yang dibicarakan pemimpin
Masih tentang sinyal yang ditunggu kandidat
Lalu tentang buruh bugar berdansa salsa

Inilah!
Caturwarsa biru
Komando Pastur
Amanat Hati Nurani Rakyat[nya]

- gsstf, Jatinangor {hutan karet} –

22 Mei 2005
Sajak dari sang Gelandang

Aku malas jadi saksi percumbuan kalian
Biar langit-langit rumah yang lakukan
Dinding di sini punya telinga paling tajam
Jendelanya bermata seperti elang

Pengadilan di luar sana lebih tak pandang bulu
Ayam, kambing santapan renyah vonis hakim
Tak pada jaksa kalian lelehkan air mata seru
Bukan pula advokat yang membanding tinggi

Berdiri ! Jangan duduk !

Aku nantikan terminal yang kalian dirikan
Atas kepala. Dengan mulut tidak mengatup
Biar ramai menjelma kewajaran
Biar tak ada bis yang terkatung-katung

Terimakasih !
Hormat panggungku untuk kalian
Paling rendah.

-gsstf, Jatinangor – {hutan karet}

27 Mei 2005
Tabiat (retorikaku)

Dan apakah rerumputan yang tumbuh setelah penghujan di halaman, bersalah? Kalau begitu, maafkan aku
Dan apakah garam yang asinkan lautan, bersalah?
Kalau begitu, maafkan aku

- gsstf, Jatinangor {hutan karet} –

1 | 2 | 3