Buku Harian M. Muhadzis G.

05 sept 07
Jatinangor
gsstf

Bersabarlah dan banyak berdo’a
Kata perempuan yang melahirkan aku ke dunia
Dan jiwa ini semakin lunglai untuk berjalan
Semakin kuat keningku untuk selalu bersujud
Lalu bagaimana aku bisa mengejar waktu
Untuk kulumpuhkan sehingga ia diam
Sungguh… aku mendapati kelelahan disini
Aku menguasai ketakutanku sendiri
Untuk kupatri dalam pikiranku

Siapa yang bertahta atas kemuliaan?
Aku enggan mencuri kedalaman ilmu
Jikalau aku memang tak mengerti

Dan sampai kapan adalah kata-kata kejenuhan
Sungguh… aku berserah diri
Pada Pemilik alam raya ini
Dan surga adalah harapan
Dalam tiap nafas dan langkahku

-carstensz dove-

06 sept 07
Jatinangor

Melihat adalah menerjemahkan bau tubuhmu
Namun aku tak mabuk sedikitpun
Aku masih berhutang nyawa pada Ibu-Bapakku
Dan aku enggan menebusnya dengan cintamu

Tuhan, aku sedang berjuang bukan?
Ataukah ini sekedar tipuan?
Terlelap aku melalui kata-kata-Mu
Benarlah kiranya aku menjadi asing

Ada cahaya yang lebih dulu terang, mungkin
Siapa yang lebih sering merenung?
Siapa yang selalu melewati gelapnya siang?
Apa lagi yang harus dilakukan oleh pecundang?

Dengan bibirmu aku meludahi wajahku
Aku menyampaikan maaf dengan tetesan air liur
Kau membalasnya dengan menusukkan ujung hidungmu
Didadaku menembus jantungku
Merobeknya, dan kau cecerkan dihatimu
Ah… aku sudah terlalu lelah…

-gsstf-

08 sept 07
gsstf
Jatinangor

Aku tegakkan punggung
Agar lebih sampai padamu
Aku buka mataku tiba-tiba
Dalam tidak sadarku berdo’a
Aku tak punya kuasa lagi
Untuk berdusta dari memuji
Aku tetap tersenyum
Ditiap sujudku berkeluh
Aku makin sigap berderai
Pada ucapanku mengurai
Sakit juga kau rasa juga
Tapi aku yang tersiksa
Dan kau tertawa mengiba
Aku bagi setengah luka
Kau rasa lebih banyak dariku

-carstensz dove-

09 sept 07
gsstf – jatinangor

Aku merasa malu selalu berdusta pada ema
Tapi aku mengejar cinta Tuhan
Ada yang kutemukan tak seimbang
Tapi itu enggan kuyakini
Dan makin malas aku pada dunia
Dan aku semakin takut salah melangkah
Aku tak mau disama-samakan dengan siapapun

Semua tahu adzan selalu menderu
Tapi adakah yang datang?
Semua tahu surga begitu bermakna
Namun adakah hati yang rela?

Dengan sembahyang aku selalu merasa kurang
Aku ingin rakus memuji Tuhan
Aku ingin pahala dari kata-kata ema
Ini tidak berat kalau aku dijaga-Nya

-carstensz dove-

12 sept 07
gsstf, jatinangor

Ini sebuah diary, aku kira
Renta dalam baris-baris kata
Usanglah segala makna
Dan mereka masih saja termangu
Bertebaran keringatku menjadi sesuatu
Namun aku enggan mengucapkan lelah
Mereka tahu
Menyerah pada cinta
Adalah belaka sia-sia
Aku pertaruhkan duka pada keadaan
Semakin jumawa jiwaku atas luka-luka

Bagaimana mungkin aku bisa durhaka?
Aku tak mau… sungguh…
Aku berlindung kepada-Mu. Tuhanku…
Cukupkan hatiku dengan kasih-Mu
Tuntun langkahku menghadap wajah-Mu
Aku rindu walau tak pernah bertemu

Ini sebuah diary, sudah kukatakan

-carstensz dove-

14 sept 07
gsstf, jatinangor

sayap-sayap mawar di halaman depan
menjadi coklat diwarnai waktu
aku menikmati duri yang menjadi bunga
atau kembang kertas kutulisi sajak-sajak
sehingga rindu menggumpal di tanah merah ini

aku bersyukur tak perlu mencangkul terlalu dalam
tak ada bekas apapun selain kepekaan
pada hujan yang mengiringi malam
tapi mataku tak basah
dan rambutku terurai sempurna

sebagai taman, tubuhku rentan disengat zaman
hijau, biru, ungu atau kuning
adalah jiwaku yang dicintai matahari
menguap semua hasratku
dan keringatku adalah parfum usiaku

-carstensz dove-

15 sept 07
gsstf, jatinangor

aku harus tuliskan sesuatu untuk hatiku
dari takdir sangkaannya
aku menjelma dunia
meski telah nyata aku menginginkan
perhiasan surga dan bidadari-bidadari jelita

ada yang tak kupahami dari rindu
hingga aku tak mampu ucapkan apapun
aku ingin mengalir seperti darah
menghidupkan semesta raya
dan jiwaku tumbuh membunuh kealpaan

sungguh aku tak pernah meringkas waktu
ia sendirilah yang mengitariku
tak henti-hentinya hingga wajahku remuk
sungguh akan kukembalikan
sampai aku tak lagi merugi
dari do’a-do’a Ibuku yang mematri

-carstensz dove-

16 sept 07
gsstf, jatinangor

lalu setelah tidur
ada berjuta hidangan untuk sahur
dibatas suara denging yang berisik
terbentang cakrawala pahala
dari Tuhanku Yang Maha Kuasa
walau merangkak aku menatap mati
dan kusambut suka cita kesunyian diri

kau tahu kawan, matahari itu dingin
jika kau seperti Ibrahim
di masjid itu kutemui sesuatu yang lain
yang aku enggan untuk menjadi
kisahmu telah kuterjemahkan lewat mimpi

apapun nanti… aku serahkan pada Tuhanku
pemilik sepenggal jiwa yang penuh harap ini

kau tahu kawan, hujan itu hangat
jika kau tahu itu adalah kasih Tuhan

-carstensz dove-

18 sept 07
gsstf, jatinangor

aku rasa bukanlah kekejaman
pada saat kau ditampar malam
atau didekap dingin keringatmu sendiri
begitu waktu mengajarimu
untuk terus tumbuh
untuk melanjutkan keabadian

aku rasa bukanlah siksaan
kebenaran tak pernah sisakan luka
ia begitu mulia untuk terukir dihatimu
ia begitu lembut menutupi matamu
memayungi kepalamu dengan cahaya terang
mengeluarkanmu dari kegelapan hasratmu sendiri

ada kesucian yang harus kita dapatkan
dan kita tinggalkan setiap keintiman yang menjebak
yang sungguh sedang mengikat sayap-sayapmu
hingga penjara pun tak kau rasa

ketahuilah… aku tengah mengejar surga

-carstensz dove-

19 sept 07
gsstf, jatinangor

tok… tok… tok…
dzis, apalagi yang kau cari?
Bukankah segalanya telah kau alami?
Ah… maaf aku terlalu seperti yang tahu dirimu

Wahai pemilik secuil pengetahuan…
Tuhan menantangmu menjalankan kebenaran
Apakah kau masih sanggup berdiri?
Apakah kau masih rendah hati untuk dicela?
Apakah kau masih mau merangkak menuju akhirat?
Larilah dari siksaan Tuhan yang pedih
Berharaplah pada surga-Nya yang kekal
Yang kedamaian menjadi suasana abadi

Dzis, Ibumu menyimpan do’a dihatimu
Ayahmu menitipkan kekuatan ditanganmu
Dan Tuhan memintamu untuk takut pada-Nya
Ingatlah pada perjuangan para Nabi
Dan orang-orang yang mengikuti jejaknya kini

-carstensz dove-

21 sept 07
gsstf, jatinangor

Ya Allah, Rabb semesta alam
Yang tidak ada Tuhan selain Engkau
Aku mohon ampun atas pikiranku yang berdosa
Atas segala jalannya yang menafikan larangan-Mu

Ya Allah, Rabb, Pencipta langit dan bumi
Yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau
Aku tak sanggup lagi berkuasa atas kepalaku
Segalanya terlalu beranting dan tajam
Menumbuhkan daun-daun baru
Dan jiwaku masih diam

Ya Allah, Rabb para Nabi dan orang-orang shalih
Aku seperti berada ditengah gurun pasir
Aku merindukan salju dan sungai-Mu yang susu
Aku berjuang menancapkan kitab-Mu didadaku
Aku terus berdiri menatap harapan di penghujung
Aku mendera segala kemalasanku mengingat-Mu
Aku komat-kamit berusaha memuji-Mu
Dan tak ada yang tahu hendak kemana jalanku

-carstensz dove-

24 sept 07
gsstf, jatinangor

beth…
beberapa tahun telah berlalu
namun aku masih terpaku dibibirmu
laut dan waktu telah meyerahkan dirinya
dan kapal kita tak pernah bertemu

kau tahu…
aku enggan bercumbu dengan siapapun
ada rasa hambar di tanah pertiwi
ucapanmu lebih laju dari tarian urdu
jiwaku melesat namun tubuhku tertinggal jauh
siapa sangka aku renyuh dilahap subuh
dan aku lewati kegiatan pagi

beth…
tidurku tak memimpikanmu
dalam terjagalah aku mengingatmu
sampai angin kubiarkan memainkan rambutku
pada gelombang masa aku titipkan cinta
dan Tuhan Maha Tahu pada siapa aku rindu

-carstensz dove-

25 sept 07
gsstf, jatinangor

nggi…
daun mahoni yang meranggas
terlalu cepat menghapus anggunmu
ada lagi yang tumbuh menuju langit
mencapai ketinggian suci yang rintih
sedang aku masih meresap harum tanah ini

berjuta mata mulai menghijau
namun aku belum juga layu
rasa lelah kadung berakar dikakiku
inilah rindu yang melepaskan keagunganmu
melesat kearah gerbang ingatanku sendiri
sejauh mana aku mampu berdiri

nggi…
ada laba-laba yang tak pernah beranjak dari sarangnya
aku bayangkan jiwaku jadi mangsa
namun hanya jaket rimba itu yang terkoyak
dan kutahu ada yang terlewatkan dalam percakapan
makin enggan wajah ini kutundukkan padamu
sebab Tuhan mencintai ketersembunyianku

-carstensz dove-

27 sept 07
gsstf
jatinangor

aku mengamini setiap do’a
yang diucapkan oleh siapapun untuk kebaikan diriku
sebagai ungkapan canda sekalipun
aku sendiri lelah berprasangka terhadap hidupku
dan aku serahkan seluruh waktuku untuk Tuhanku
sungguh aku ingin mati dan Ia ridhai
tak ada jalan lain wahai nafas …

kalau senja itu indah
maka aku takut terpedaya
ada sesuatu yang nyata dalam warna merah

Tuhanku…
suara-suara itu selalu mengikuti langkahku
menghardik akalku untuk selalu mengingat-Mu
sungguh aku tak ingin absen dari kehadiran-Mu
bahkan aku dianggap tidak waras!!! Tuhanku…

aku enggan berontak pada hatiku
tetapkan ia pada jalan-Mu yang lurus

-carstensz dove-

28.09.2007
gsstf, jatinangor
02:14

siapa mendapati apa pada usia berapa
aku jemu pada kerisauan ini
lelaki sebelumku tak mau menyalamiku
dan jasad yang mati hidup lagi dalam tidurku

aku berjalan kemana itu urusan Tuhanku
diamku adalah senjata yang kupunya
aku membunuh rasa malas dibalik selimut kata

surat yang kosong menuduhku pembohong
aku sendiri tak mengerti keadaan ini
beritamu meyakinkan aku untuk pergi

aku sengaja tak ingin mengenal cinta
sebab kusimpan untuk waktu yang tepat
dan aku tak mengibarkan bendera apapun
tak pernah. Malah akulah hamba Tuhanku
berlari-lari mensucikan nama-Nya
mengagungkan-Nya dan kuhinakan tubuhku yang semu
mau apalagi tubuhku kalau sudah begitu

-carstensz dove-
02:58
30.09.2007

30.09.2007
GSSTF
Jatinangor
03:49

Kalau aku harus menunggu
Maka akan kulakukan dengan menuliskan tinta suci
Dari hatiku yang mengharapkan sesuatu

Ada bulan merah mengawasi nyanyian sunyi
Ia bisikkan nama-nama kejadian
Kutanyakan pada bumi yang kupijak
Ia malah tersenyum kecut mendera
Sekalipun aku tak pernah membendung keluh
Untuk kumuntahkan pada siapapun
Kalau aku harus menunggu
Maka akan kulakukan

Slogan-slogan kesenduan lewat begitu saja dihadapku
Mereka tak berani tawarkan perjuangan
Padahal aku tengah bersiap. Menempa jiwaku
Menyayat angkuh tubuhku. Melecut laku ragaku

Kalau aku harus menunggu
Maka akan kulakukan demi kebenaran

-carstensz dove-
21:10

11-10-07
Cirebon
14.05

Tangis karena sebuah perpisahan
Aku kumandangkan dengan sembahyang
Lewati segala percakapan yang menekan-nekan dada
Hampir berteriak, kepalaku kutundukkan
Aku syahdukan keadaan lampau
Dan segala pertautan aku gantungkan di langit biru

Angin telah membekukan dzikirku
Begitu deras hinggap dibibirku
Bergerak lebih lambat dari jantungku
Segala sangkaku tak ada mampu
Dimana cahaya bertanya tentang gelap
Dimana rindu mencari-cari pelakunya
Ada yang menyadari dosa
Namun tak mampu berkelit darinya

Hingga aku mendustakan waktu
Untuk mengekalkan pujianku
Pada-Mu Tuhanku, tubuhku selalu kurubuhkan
Aku akui kebiadabanku sendiri
Maha Suci Engkau Tuhanku

-carstensz dove-
04:57
12.10.2007

12 oktober 2007
Cirebon

Selisih hari yang Tuhan ciptakan
Menegaskan matahari dan bulan
Adalah makhluk-Nya yang lemah
Dan kita terlalu banyak bertaruh untuk waktu
Yang sedikit, yang tak terasa seperti senja
Aku berdiri karena takut, aku duduk dengan khusyuk
Dan aku lalai mengejar dunia
Bahkan aku babak belur karenanya
Aku menyongsong Tuhan, umat malah mencaciku
Ada yang berbelok dari ranting yang lurus
Aku bertahan pada hatiku yang sering goyang
Aku tuliskan kebimbangan ini untukmu
Namun keyakinannya aku simpan sebagai bekal hidupku

Sebelum segalanya menjadi diluar kendali
Aku sudah mesti berserah diri
Membenahi niatku yang kabur terlalu tinggi
Sebelum segalanya menjelma malapetaka
Aku mesti berani mengulangi
Menuntun langkahku sendiri
Menuju cahaya yang saling menggema

-carstensz dove-
23:40

13 oktober 2007
Cirebon

Mau tuliskan berapapun sajak
Kalau tak ada bertindak
Tak akan bermakna segala yang dibalik kata

Kita mesti bertanya dengan mulut
Namun menjawab lewat tangan dan kaki
Kita bergerak menuju keabadian
Menutupkan rasa indah yang terlalu muluk

Masihkah awan jingga berjalan saat malam
Kalau kau tak bepergian keluar rumah
Harum udara hanya akan mampu kau kenang
Tak akan ada bekas pada pakaianmu yang putih
Pada kendaraanmu yang terawat sempurna
Tak ada noktah atau noda-noda pelarian
Hanya pada tanda-tanda tubuhmu mereka mau bersimpuh

Batas pengembaraanku sebentar lagi renyuh
Aku tak mampu berenang lebih dalam
Lautan rahasia senja enggan kusingkap
Sekarang aku terlalu lelah untuk berperang

-carstensz dove-
21:07

14 oktober 2007
Cirebon

Kata Tuhan jauhi dunia
Kata dunia raihlah ia
Sedikit yang menyongsong akhirat
Banyak terlena pada yang fana

Aku tak menggurui keadaan purba, tuan
Tubuhku selalu membatu jika ditanyai harta
Kalau aku mengejarnya niscaya do’a-do’aku binasa
Namun aku enggan meminta-minta
Keyakinanku terlalu angkuh sehingga menjelma kesopanan
Dan aku cukupkan diriku
Dengan ketakutan yang melahirkan kedamaian dihatiku

Bukan disini pemberhentian kita, sayang
Jadwal keberangkatan telah tetap waktunya
Segalanya terlihat begitu bercahaya memendar
Akan kusimpan dimataku agar kau bercermin darinya
Dari jiwa yang sendu, dari ruh yang beku
Memancarkan separuh kebijaksanaan usia
Separuhnya lagi memutihkan dosa-dosa

-carstensz dove-
15 oktober 2007
00:35

18 oktober 2007
gsstf
jatinangor

karena waktu terus berjalan muhadzis!
waktu terus berjalan!
aku harus menertawakanmu
agar hatimu condong pada sesuatu
dan kau bergetar tak mampu berkata-kata
apa yang kau harapkan
dari darah ungu yang mengalir ditubuhmu
kalau kau enggan melangkahkan kakimu kesana

selesaikan muhadzis!
segera selesaikan!
kami menyayangimu dan kami tahu kau menyayangi kami
ada pertanyaan lagi muhadzis?

adakah perempuan yang menyukaimu?
begitu kata Ibumu bukan?
karena ia sudah kelihatan lelah mengasuhmu
namun mengapa sepertinya tak ada iba dikepalamu
kau terlalu gembira pada dirimu sendiri
akuilah! akuilah keangkuhanmu!
lekaslah lari dari siksa Tuhanmu muhadzis!

-carstensz dove-
03:37

19-10-2007
gsstf,
jatinangor

bahkan untuik bermimpi aku sudah tak berani
lagi angin malam menggodaku
membelaiku agar menceritakan segalanya
tanpa noda hitam disetiap gelapnya
tanpa kesementaraan

apakah sujudku pada Tuhan
tak berguna dimata manusia
sungguh aku tak harapkan apa-apa dari selain-Nya

kalau kau sudah tak inginkan aku disini
aku akan pergi dengan izin Tuhanku
kau pun tahu aku tak dapatkan apa-apa
selain mengenalmu dan umurku bertambah-tambah
namun aku enggan membalasmu
aku tak mau lidahku berkata-kata yang menyakiti

ah… kabar perawan itu
memaksaku mensucikan nama Tuhanku

-carstensz dove-
19:29

aku boleh mengeluh padamu?
aku adalah rencana yang menemukan penundaan
kemarau adalah kemeja lusuhku yang terlupa
hujan menjadi payungku atas segala dosa
lalu bagaimana dengan detik jam dinding?
sungguh ia membeku jika aku mengingatmu

kau tahu ada yang tak bisa kulakukan sejak dulu?
berbohong padamu. hingga aku harus membohongi diriku
untuk selalu dekat denganmu, aku jauhi keinginanku
ada yang runtuh, berarti aku membangun sesuatu
aku yakinkan tubuhku tak terkubur terlalu dalam
walau sungguh tak ada cahaya aku masih mampu mencintai

aku enggan merasa bersalah padamu
hentakan-hentakan jantungku
menutupi merah telingaku
aku mohon kau kasihi yang menyakitiku
tapi aku jadi ragu pada hatiku
pada rindu yang kupendam yang tak akan aku abaikan
dan mungkin ada yang tak kusadari sekarang

langit boleh angkuh tapi tidak jiwaku
mencari jalan tengah tak pernah semudah kelihatannya
aku bayangkan langkahku tak terburu-buru
dan tanganku hanya menuliskan sajak-sajak
renunganku berjatuhan bersama tinta air mata
hingga wajahku kesulitan tenggelam dilautan kata-kata
dan aku takut jenuh lalu melupakanmu begitu saja
begitu cepatnya. begitu ringannya. tak berbekas.
dan aku tak mau itu! tidak! aku tak mau hampa!

aku akan selalu bergantung padamu

ada banyak harapan ditimpakan padaku
dan aku hanya berharap padamu
aku cukupkan itu. aku tak mau serakah. aku berserah
tapi bukan menyerah diam saja memangku lamunan
aku tancapkan kesetiaan pada ujung hidupku

tentu aku boleh meraih keabadianmu
dan kemuliaanmu bersemayam dikepalaku

percakapan ini seperti jejaring semesta
melingkupi kesediaanku merintih menantikanmu
sampai mati sampai ajalku memenuhi janji

-carstensz dove-
gsstf, jatinangor
01:07 23 okt 07

23 okt 07
gsstf, jatinangor

aku ingin tubuhku tegak namun kepalaku menunduk
lalu perjalanan jiwaku berhenti disuatu tempat
entah sebuah ketinggian entah sebuah jurang dalam
ada yang selalu menjadi acuanku untuk berdiri

aku lantunkan kenistaanku sendiri
menuju kemuliaan yang tersamarkan
dibalik pakaian rombeng atau wajah coreng-moreng
aku selipkan keyakinan yang utuh
walau kadang tergurat oleh waktu
atau musim yang meletuskan gunung-gunung

sampai kapan kita bersandiwara
dihadapan sutradara alam semesta?
atau beranikah kita menertawakan kejujuran?
aku akan selalu menangis untuk senyumku nanti

mungkin aku sudah harus menghaluskan mataku
mengeraskan lengan dan kakiku untuk berangkat
dimulai dari pena dan buku harianku yang jenuh

-carstensz dove-
24 okt 07
00:01