22.12.2007
gsstf, unpad
jatinangorsegala puji milik Tuhanku Yang Maha Tinggi
sehingga aku berdiri ditepi telaga Nabi
dan rasa hausku terbayar setimpalseperti aku lantunkan kata-kata do’a
namun mereka anggap dongeng belaka
meski aku mematuhi rambu-rambu kalimat
mereka bergegas menghempas diri kebelakang
menari-nari dan tertawa gembira
hingga menyangka itu sebuah kemenangan mutlakdan apa dayaku jika cahaya itu hanya milik Tuhanku
dan aku hanya menyampaikan tak lebih dari itu
dan maafkan aku yang sengaja muntah dihadapanmu
dan aku lewatkan segala keraguanku pada ramalanku sendiri
dan kalau sudah nyata, aku berlepas darimumungkin aku terlalu menyakitimu
tapi tubuhku punya hak atas diriku
kau tahu aku selalu menantikan kesenangan abadi24.12.2007
00.28
carstensz dove
apa yang terjadi pada cita-citamu aku tak tahu
berdiri atau merangkak kita tetap akan mati
binasa atau tidak itu urusan nanti
aku membekali diriku dengan mengingatkanmu selalu
sungguh aku hanya berdalih dengan perkataanmu sendiri
dengan aku benarkan perkatan Tuhan lebih duluaku sendiri mungkin tak pahami keadaan ini
tapi ketenangan luar biasa ini
terselip diantara duri-duri ketakutan akan waktu
yang disiarkan oleh matahari oleh bulan
bahkan oleh tubuhku sendirikau tahu bahwa cinta adalah mata
rantai yang mengikat siapa saja yang dikehendakinya
dan cinta berjalan-jalan tanpa menyentuhkan kakinya ke tanah
ada kebebasan yang menggantung di tiang angkasa
kau tahu bahwa rindu adalah wajah
kemurungan yang mengurung taman-taman
aku merasa sakit memang
namun aku mohon untuk tidak menuduhku penjahat
aku berlari-lari dengan kediamanku sendirisudah… aku kira sudah saatnya… mungkin…
aku menaruh badanku dibawah bayangan pedang
dibawah telapak kaki Ibu
dan aku mungkin tengah membangun sebuah rumah
disana aku menemui bidadari bermata jelisekarang… sudah saatnya… mungkin
aku tak punya kalimat yang pantas
untuk membuatmu tetap bertahan dihatiku
aku tak punya suara mendayu
untuk membuatmu singgah lama dalam pikiranku
ada cahaya dibelakang awan mendung kepergianmusekarang… aku kira sudah saatnya… mungkin
setelah lautan meluap
atau bumi menelan cerita penghuninya
atau gunung-gunung beterbangan
dan kabut yang nyata menutupi udara kitamenulis dalam hujan
mengingatkanku padamu
pada setetes air yang jatuh dari ujung daunberbayang warna langit yang abu-abu
katakanlah jenuh untuk perjalanan dari lembah ke lembah
bahkan kakiku tampak enggan menceritakannya
bukan kebiasaanku mengungguli pertemuanmu
apa yang harus kutandai dari suaramu
yang telah kukenali lewat mimpi
padahal aku tak pernah tidur
semenjak malam menjadi pakaianku“aktor menemukan Tuhan ketika bermain
dalam sorotan lampu panggung
scientist menemukan Tuhan ketika menyendiri
dalam remang cahaya laboratorium
ulama menemukan Tuhan
dalam bayang-bayangnya ketika sembahyang!”sekarang… aku kira… sudah saatnya… mungkin
meneruskan kerlap-kerlip sinar semesta
dari sudut-sudut takdirku sendiri
telah menjelma riasan masa
menghidupkan ruh-ruh yang tadinya mati-gsstf, jatinangor-
18.01.2008
14:11
matahari disebelah barat dan langit berwarna kuning
awan masih menyisakan sedikit abu-abu ditubuhnya
seseorang bertamu ke rumah muridnya sebelum malam
percakapan mengalir hingga gelap menjadi dinginsang guru bercerita mengenai guru lainnya
sang murid menimpali dengan mengeluhkan murid-murid barunya
mereka menertawakan tingkah laku masing-masing dimasa silam
waktu jauh. sangat jauh kebelakang
dimana penghormatan adalah mata uang tertinggi
kesopanan adalah seragam yang dikenakan
dan ketekunan adalah ukiran diatas batu. maka berdirilah sebuah kota
bangunan menjulang. lampu-lampu jalan tertata rapi
taman-taman menyimpan rahasia para pecinta
dan sungai dibawahnya menjawab rindu yang terpendamgelas kopi terakhir dimeja beranda pecah.
bunyi membuncah
suara amarah melingkupi udara
“kau murid tak tahu diuntung” kata sang guru
“kau guru yang tak berjasa” ucap sang murid
“kau tak tahu berterimakasih!”
“kau memang tak pernah berikan apa-apa!”
“aku rugi menghabiskan waktu bersamamu!”
“aku pun tak untung ketika denganmu!”
“sia-sia aku mengajarkanmu kejujuran!”
“percuma aku mengetahui kedustaanmu!”
“aku harus membunuhmu sekarang juga!”
“aku pun telah siap melihatmu mati!”senyap. gelap merambat dengan cepat.
keheningan berbaur dengan darah yang berceceran dilantai
pecahan-pecahan kayu bersaksi atas pertengkaran
mengantarkan maut pada dua tubuh yang pernah utuh
yang pernah mendirikan cahaya-cahaya
yang pernah menjunjung ilmu sampai puncaknya-gsstf, jatinangor-
01.02.2008
mungkin kau bersedih
setiap kehadiranku dimimpimu melukaimu
tapi aku tak pernah memintamu mencintaiku
sepenuhnya aku biarkan kau merindukanku kapanpundan mungkin kau bersedih
dengan kepergianku jauh dari sampingmu
tapi kau tak pernah izinkanku menetap dihatimu
terlalu lama kau biarkan perasaanku menunggubagaimana mungkin kau akan selalu bersamaku
sedang wajahmu selalu terpampang disudut-sudut kota
bahkan dalam keramaian aku sempat melihatmu tersenyum
bagaimana mungkin kita akan bisa bertamasya nanti?
kau tak akan pernah mampu memenuhi janjimu sendiri
sedang aku masih selalu dan selalu
menetapi pertalian suci inilalu mungkin kau akan bersedih
bila aku telah benar-benar terbaring mati
hingga nanti kau sadari bahwa aku pernah menyayangimu-gsstf, jatinangor-
20.01.2008
20.47
aku menunggu langit sepi dari bintang-bintang
menanti embun pagi meneteskan cinta
saat denging serangga begitu berkuasa
kau membisikkan kalimat-kalimat indah ditelingaku
namun malam menggulirkan rindu ini terlalu cepataku membiaskan cahaya menuju matamu
terang kemilaunya aku simpan dihatiku
walaupun matahari memandang iri
aku enggan melepaskan rasa hangat dari pipimu
namun malam menutupkan lembut ini terlalu lamaudara mengambang dalam waktu
aku titipkan di rambutmu warna merah jambu
degup jantungku berhenti
untukmu aku bersedia kehilangan bunyi
namun malam membuat ritmik ini terlalu sederhanakau melompat-lompat setengah jemu
diantara garis-garis suara yang akan berakhir
namun percakapan ini tak akan berhenti
selama malam masih menawarkan perjalanan-gsstf, jatinangor-
Ahad, 20 januari 2008

