Buku Harian (0)

18-10-04
gsstf, jatinangor

apakah engkau mengetahui tentang pungguk
yang dikala malam hanya berandai dan berangan
hanya bermimpi dan bercerita tentang dusta

apakah engkau sadar tentang siapa yang lemah
yang saat ramai ia hanya termangu melagu
hanya melucu diantara manusia perkasa

apakah engkau mendengar tentang aku
yang menulis dalam hati dan pikirannya
hanya sampai demikian belum sempat diucapkan

apakah engkau berpikir tentang jiwa ini
yang sudah tak berisi sebiji zarah pun sesuatu
hanya serpihannya yang masih tajam ditancapkan

ada kapal berangkat ke pulau itu kemarin
disini di pelabuhan kota ini
hanya satu kali dalam sepekan lamanya

ada kapal yang sama berangkat ke pulau itu esok
disana di pantai perempuan kota jepara
hanya dua kali dalam sepekan begitu cepatnya

ada dua kura-kura tertinggal kapal nelayannya
takut tenggelam ngeri akan cerita kematian silam
ditatap angkuhnya gedung jelmaan belum selesai
mengantar matahari pulang ke peraduan
dibatas cakrawala horizontal langit dan laut
pelan-pelan dan hilang dalam kekaburan lensa
namun masih hangat jauh setelahnya

esok kapal itu berangkat ke pulau itu
condongkan hati untuk tidak jadi

-setelah jepara-

29-10-04
gsstf, jatinangor
01.25

aku mungkin rindu pada cahaya putih
kama-kamar yang melenggangkan waktu
seperti yang terdobrak oleh kabar angin
dihembuskan pada jendela besi berteralis rapuh

aku pasti diam saat esok lagi menjelang
yakin sekali merpati ini dapat menari di awan tinggi

-carstensz dove-

03 nov 04
jatinangor

“pernah kita sama-sama susah
terperangkap di dingin malam”

daun-daun coklat diatas tanah merah ini
pernah aku jumpai di musim yang sama
masih berbau selaput epidermis pohon angsana
dihembuskan angin bulan november
belum gerimis.

dan aku tak mau mati dalam perhentian

-carstensz dove-

9 nov 04
sumedang

ada yang mengacungkan tangan ke langit
saat gelap
tanda bosan dengan malam
-cd-

perempuan tunjukkan jalan
untuk berjumpa kumpulannya
sedang ia ragu ajak aku
biasa lagi dalam mimpi setelah sahur
-cd-

andai ini tak dibenarkan oleh Tuhan
siapa sangka aku telah bertanya
diatas laut, samudera yang kapal tempuh
-cd-

di bukit hijau
samurai senapan bercumbu dekat
siapa bela siapa
kaisar jelmaan dewa
-cd-

mari bicara tentang memar luka kita
lebam, biru membengkak tiada kira
samakah dengan garis pelangi sebelah dalam
buram, abu-abu serupa langit mendung saja

mari dengus bau kulit yang tersayat
butir darah enggan beku tak berhasrat
samakah dengan senja yang selalu merah
awan robek menyerpih benamkan surya

mari menangis dari sudut mata paling luar
samakah dengan hujan saat malam

-sumedang, 9 november 2004-
renungan sahur

9 nov 2004
sumedang

yang ada cuma malu
yang dirasa hanya enggan
yang terjadi adalah penyesalan
-cd-

mengalunlah minor swing 3:17
Tuhan mungkin sedang turun
pada sepertiga malam penghujung
menjanjikan sesuatu rahasia
tak boleh ada yang tahu
berbisiklah monalisa 3:16
-cd-

Rabu, 10 nov 04
Singaparna

ini lembah tak dapatkan fajar merah
matahari saja tak mau tembusi tebalnya awan

dua-dua musim setelah amuk laharnya
hari mengungsi masih jelas bersemayam
tinggal di jejak-jejak yang tercetak di tangga
berlumut. jauh. merasai kaki galunggung
-cd-

14 nov 04
Cirebon
00.50

perempuan manapun akan aku impikan malam ini
tak usah bisikan setan, tak perlu jelmaan ghaib
diatas ranjang besi reot warisan leluhur miskin
terbisiki sendiri lewat lubang-lubang berkaratnya
terhembus begitu saja dari atap asbes pengap
menggema suara-suara rindu padahal mata belum terpejam
-cd-

aku tulis harap
pada ujung-ujung pena suci
jangan ada duka sesal ke depan
pada lembaran-lembaran buku hidup nanti
-cd-

16 nov 04
Cirebon

jangkrik malam ini bernyanyi sangat nyaring
menyambut datangnya lelaki usang dari hulu pagi
membawa setumpuk kisah dalam genggaman tangannya
sedikit saja sepasang bibir meniupkan anginnya
menjelmalah legenda
-cd-

17 nov 04
Cirebon

dan lagi tentang malam, tak hanya gelap
buih-buihnya membuncahi semesta ingatan kita
aku memaki engkau dari bibir jurang, tak hanya gelap
batu pijaknya tak’kan kuasa menahan berdua
dan lagi tentang malam, tak hanya sunyi
garis-garisnya menyayat luka badan kita
aku menjaga engkau dari serigala hutan, tak hanya sunyi
tajam tombak ini, tiada daya membunuh ia
-cd-

ketika perempuan menggesek biolanya
disipitkan mata untuk menghina
disentuhkan perih dari lengan yang terawat
enggan ia berlari mengejar irama terhambat
-cd-

Kamis
18 november 04
Cirebon

aku mohon sekali pada pemilik keangkuhan itu
satu saja setelah enam musim lebih sedikit
walau jelas sakitnya masih terasa

waktu berhenti dalam-dalam ramai kelas-kelas
sudra ini disesali terpandang brahmana
sekejap berlalu

pada lengkung bibir atasnya
dua putih seri itu menamparku dalam kulum

aku mohon sekali pada pemilik kesombongan itu
satu saja
-cd-

kalau saja aku tak berbelok siang itu
hari ini aku tak’kan punya luka
terus menganga menerbitkan dendam
pada perempuan
alah berharap sadar kudapat
-cd-

Kamis 18 nov 04
Cirebon

jalan itu tergantung diatas rel kereta
lubangnya semakin membesar diatas aspal
sembunyilah, matahari kian dekat pada tiang penyok
-cd-

Ia tahu pasti yang kawannya cari
Sekedar mapan
Ia mengerti yang kawannya ingin
Sekedar mapan
Ia sadar yang kawannya benci
Kemiskinan yang utuh
Ia tatap jelas yang kawannya jadi
Enggan bermimpi
-cd-

wajah merah menderas basah. masih kuingat siang terik berkeringat. pada lapang yang tak

sekosong jiwa ini. aku berdiri pada baris kerdilnya manusia. suara-suara bisingnya

melintas begitu saja. mendengung tak karuan. keras tak jelas. dua lingkaran mata hitam ini

terpaku. wajah merah menderas basah
-cd-

Kamis 25 nov 04
Gsstf
Jatinangor

aku sedang dijemput oleh dunia kebetulan
dimana bukit-bukit hijau kecil berbaris rapi
dan langit mengganti warna sesuka hatinya
juga angin yang senandungkan nada sederhana

ilalang petang merendahkan batang
sayapnya dibaringkan di tanah merah
-cd-

Selamat datang anakku,
Aku adalah Ibundamu
Rendahkanlah sayapmu dihadapanku
Surgamu berdiri dibawah telapak kaki ini

Selamat datang anakku
Aku yang melahirkanmu ke dunia
Jaga ucapan yang keluar dari mulutmu
Tak ada pahala yang lebih besar ketimbang aku

Selamat datang anakku
Maafkan aku yang tak bisa menjadi wali
Pernikahanmu terlalu suci anakku
-cd-

kisahku tersangkut di ranting-ranting
tiga perempuan bergemerisik melalui mata
ingatan silam lebih kuat daripada cinta sekarang
-cd-

26 nov 04
Gsstf
Jatinangor

siang sehabis hujan, bau rerumputan
menghijaulah tanaman yang tak diingini
seperti tangkai-tangkai berduri
begitu juga aku, sehabis hujan siang ini
-cd-

3 des 04
Gsstf
Jatinangor

bendungan itu dibuat untuk penjajah pertama
begitu kuat, kuasa menahan air
meredam sempurna tak’kan meluber setetes pun

bendungan itu kini dipugar
direhabilitasi sebab katanya sudah kuno
akan mampu bersaksi atas hujan
pada lima puluh tahun kedepan
begitu ujaran penjajah kedua

bendungan itu kini hancur
meleburkan banjir ke kampung tandus
mengalirkan bah meresapi liang-liang kubah
baru sepuluh kali panen jagung

bendungan itu enggan membendung penjajah
sudah, terima saja
-cd-
setelah ponorogo

4 des 04
Gsstf
Jatinangor

apa arti dari segala kata-kata ini
tak ada dawai atau tabuhan kayu-kayu
mereka hanya berdiri sendiri-sendiri
dikepak lontar, batu, lumpur tetap saja melagu

apa arti dari ucap yang acap tertulis
saat nada-nada berbisik mereda gerimis
saat cericit pipit mengetuk sore yang menangis
bunyi juga suara lenyap. kalau mata tersilap

mohon dengarkan lalu petikkan beberapa nada
dari minor atau apa saja terserah
sebab syair adalah anyelir yang butuh air
-cd-

6 des 04
Gsstf

dan ketika bahagia aku bersedih
sebab sadar hanya akan sebentar
-cd-

sepertinya saja ia begitu gembira
diantara wajah-wajah yang selalu saja bertanya
dibatas luar hujan yang turun menghunjam
ada rintik sederhana yang baru sampai terlambat
-cd-

15 des 04
Gsstf
Jatinangor

riak air danau ini mengantarkan pesan
menuju lengkung kebun teh di seberang
seiring jentring dawai kecapi
yang dipetik oleh lengan tak berjari
-cd-
setelah patengan

akan kuganti bekas-bekas peluru dari tembok rumahmu
tapi setelah itu berikan nyawamu padaku
-cd-

kau berondong anakku dengan senapan saat malam
dilintas bukit saat ia melaju kencang
tepat berarah sebentaran dari suara jangkrik
-cd-

18 des 04
Jakarta

bergetarlah bibir yang dihentakkan dengan hati
dan kaki mengetuk beratur tetap
tubuh itu bermula dari penjaga gerbang istana
pasti irama lagu bersenandung seiring lari
-cd-

24 juni 05
Pd. Saptha
Sayang, jatinangor

Setelah segala kekacauan
Dalam telapak basah tanganku
Aku tetap minta yang terbaik dari-Mu
Takutku sudah keterlaluan
Berbisik huruf-huruf yang kutulis lirih
Sedang kurasakan keberatan
Langkah-langkah hidup Nabi-Mu
Pada dunia yang sama namun lebih bejat
Shalawatku terangkan betapa kulemah
Dihadap mereka yang telah Kau tunjuk

Tetap. Yang terbaik. Dari-Mu
Aku minta
-carstensz dove

Saat paling menyenangkan
Adalah ketika Tuhan seolah atas kepala kita
Kurang dari sejengkal
Tak’kan lari kita kemana mesti kena
Tapi teduh ini tak tergantikan
Oleh suatu apa
Walau nyaring iblis berteriak
-carstensz dove-

Tak ada yang perlu kumarahi disini
Segala tak bersalah. Segala tak menyerah
Kerahibanku menolak umpatan yang datang
Itulah sebuah kerendahan sangat
Dan aku mendo’akanmu dalam diamku
-gsstf, jatinangor-

Tak habis-habis. Harum bunga dalam ingatanku.
Terhirup sebentar-sebentar dan kualirkan
Dalam sajak-sajak berwarna hijau hati
Sebenar-benarnya. Kuharap lepas saja.
Semua gambar muka-muka putih selamanya semu.
Dan kuinginkan kebeningan. Kejernihan.
Hingga tampak semua dalamnya sari
-carstensz dove-

Merengkuh sebentuk tubuh berkeluh
Adalah keenggananku paling nyata
Jadilah aku pengecut sangat satu
Bagi mereka yang reka dunia semata
-carstensz dove-

31 ags 05
Rs Ciremai
Cirebon

Rumah sakit
Aku yakin disinilah mata air segala penyakit
Hitamkan sungai pemandian putri keraton
Sehingga buaya pangeran menjadi-jadi tak ayal

Tak ada yang lebih pantas selain berbaring
Jika ia rasakan panas selalu mengiring
Lihat pagi-nya matahari sempurna dibidang miring

Denyut Tunggilis masih menghentak pelan
Mengencang. Melambat lagi. Tak kuharap mereka hilang
Ucapku seperti belum pernah seimbang
Semoga nanti bertemu lagi, sekarang saat pileuleuyan
-carstensz dove-

Tuan,
Bahkan di tanah lahirku Kau cipta déjà vu
Kemarin pernah, sekarang sudah, esok pasti yang itu
Segala tak asing, segala tak memeranjat
Segala berahasia, segala terbongkar muat
Tuan, yang mana lagi bakal Kau terangkan?
-carstensz dove-

02 sept 05
Rs Ciremai
Cirebon

Percakapan dan pintu-pintu kuatkan kepernahan semu
Lagi ku tersenyum setelah detik-detik lintasannya
Buncah tawa tadi serentak keluh v di tv
Biar semua cuma sebersit-sebersit, camkan aku kan terus maju

Tanyakan pada Tuan Lang seperti apa rupa kawannya
Meski tak’kan terlalu jauh dari jawaban wajahnya
Yang itu-itu juga. Yang ini-ini saja. Yang dekat sama

O, Tuan putri yang terpingit keraton suci
Relief-relief pagar jati para wali buatku ngeri
-carstensz dove-

Angin utara bersemayam di pucuk-pucuk daun kelapa
Tanpa nisan, perasaannya tak berbekas
Sajak tanya pujangga berlari-lari di kepala siapa-siapa
Tanpa pahatan, pikirannya niscaya kandas
-carstensz dove-

13 sept 05
Jatinangor
Gsstf

Setelah Yogyakarta
Aku tak asing lagi dengan pertemuan sebentaran
Perpisahan adalah tangisan sesaat dari mata hari tawa
Dan Tuhan tak biarkan hamba berjalan sendirian

Aku tak baru tentu dengan kesederhanaan
Kemewahan adalah kata-kata hujat manis perawan
Lalu malaikat tak berseteru tentang keajaiban

Mantap tegap kembaraku pada Gunung Sunda
Biar kawin dipaksa atas desa atau kota
Segala jadi nyata sebab ku beguru pada Tuhan lalu
-carstensz dove-

Ia coba mengingat mimpinya tadi malam
Saat pagi semua hilang dalam gelas-gelas kopinya

Kan kubunuh seluruh tubuh sebelum subuh jadi nyata
Sebab kudapati hidup dari badan-badan yang terjaga
-carstensz dove-

27 sept 05
Fisika

Melawan kata hatiku yang berlindung dengan setan
Kutingkahi laku semena-mena tubuh kawan-lawan
Ucapku pun lirih dalam senandung candu
Menangis kepalaku menimang berat batu
-carstensz dove-

Seseorang bertanya tentang mati
Pada penjaga kuburan
Saat kiamat mulai mendekat
-carstensz dove-

Tak mungkin kuganti jantung
Jika darah sudah lekat menudung
Bilik serambi rinduku tegap bertarung
-carstensz dove-

2 jan 06
Cirebon

Ada yang tak dapat terkatakan dalam perlawanan
Menghadapi hujan yang terus-menerus membusa
Berbuih pada atap rumah-rumah baru lunas
Mataku berlinangan debu dari asbes-asbes
Ditiupkan angin pantai sampai jalan raya
Kerasa gerah cambuk senyummu dalam rambu
-carstensz dove-

Kalau melihat rencana cuaca hari ini
Seperti yang badai datang terlalu dini
Berlaluan angin menyampaikan kata Nabi
Dan mereka bergegas menjadi pengungsi
-carstensz dove-

Tawa Tuhan
(sebuah catatan)

Mohon Tuhan jangan tertawa
Ketika aku tengah sedu menangis
Tak’kan ada yang mampu membela
Dan aku selalu berkejaran dengan gerimis

Sesungguhnya aku jemu mengetahui lebih dulu
Setiap detak gerak kakiku yang tertatih
Telah diramalkan oleh dingin cuaca yang ringkih
Sebenar-benar kadar pikirku terpengaruh Ibu

Hingga kapan kan kutundukkan atap jelaga?
Sumpahku rindu pada kunci rumahku
Sampai nanti wahai jiwa yang berpuasa dan terjaga
Lelahku nyata tak berhenti disitu

Aku rebahkan tatapanku pada kitab suci
Aku mau mataku mati pada huruf-hurufnya
-sukawening, jatinangor-
13 maret 2006

14 mei 06
Gsstf, jatinangor

Seperti bulan

Masih menunggu purnama tuk sampai ke barat
Aku kira juga menari tak mudah berhenti
Kalau badan bergerak maka jantungku berdetak
Dan waktu masih seperti itu-itu juga. Mati.
Tak’kan ada yang meniupkan hawa dingin
Hari ini. Sesungguhnyalah lalu lintas pikiranku
Ramai. Mereka berlalu sambil menoleh enggan
Aku tak sampai hati berkata keparat
Dan memang aku telah berkarat
Dari hujan asam kecut dunia melecutku
Merah-merah darahku mengucur lewat punggung
Kemudian para gembala meminumnya bersuka
Padahal Isa tak pernah berdusta
Walau aku yang mengiba digantung
Ah, dan aku teringat tentang Nabi itu
Yang cuma tersenyum tak berkata apa-apa
Aku kira aku membutuhkan ranjang sekarang!
Sungguh aku rindu bertemu!
Purnama sebentar lagi tegak lurus
Dan beban jiwaku masih belum terangkat juga
Aku makin menyangka ini sebuah keadaan
-cd-

14 mei 06
Gsstf, jatinangor

Monodisperse

Hei, aku menemuimu sebentar saja!
Dan jangan katakan apapun pada siapapun.
Mohon buka jendela rumahmu sedikit
Asal suaraku terdengar olehmu seorang
Ya, seperti itu cukup
Aku tak mau jika nantinya kau malah melihat
kearah lain. Tapi kau mampu menangkapku kan?
Baik. Sepertinya kau sudah tak sabar.
Kau dan aku tahu bahwa menunggu
Adalah sesuatu yang mengejutkan akhirnya
Maaf, kalau aku tak mampu cepat-cepat
berbicara. Aku selalu berusaha merangkai
kata-kata, menghindari terbata-bata.
Eh, sampai mana aku tadi berbicara?
Oh, iya terbata-bata.
Oh, oh, oh, jangan mengeluh mendengar keluhku
Baik, baik, aku akan berbicara sesuatu yang
Rahasia. Sebenarnya aku tak ingin membuka
Namun biarlah, semoga lepas semua bebanku
Kau tahu bahwa aku benci memikul beban
Yang menghambat gerakku. Syukurlah…
Ada seseorang disana yang membenciku
Jika aku mengatakannya kepadamu
Ia selalu menghalangiku dengan berbagai cara
Mulai dari mencoba mengalihkan perhatianku
Hingga membuatku tertidur dengan anggur
Bahkan ia berjanji akan membunuhku
Jika aku benar-benar mengatakannya kepadamu
Tapi ia memang benar-benar peduli terhadapku
Ia pernah membuatkanku coklat panas
Saat aku pulang kehujanan dilarut malam
Padahal aku tahu bahwa coklat hanya akan diseduh
Pada hari-hari istimewa saja. Kenyataannya
Ia sungguh-sungguh menyuruhku meminumnya
Hari itu benar-benar dingin sampai-sampai
kelopak mataku membeku. Aku tak mampu
melihat dengan jelas, jalanan sungguh kabur
Waktu itu. Tapi untunglah aku selamat sampai
di rumah. Aku sungguh takut nyawaku melayang
dengan masuk jurang. Oh Tuhan aku tak ingin
lagi mengingat hari itu …
Oh… kenapa aku jadi bercerita tentang dia.
Maaf, maaf, seharusnya aku mengatakan sebuah
rahasia bukan?
Ya, ini sebuah rahasia besar!
Kau tahu bahwa lelaki yang membunuh seseorang
yang tadi aku ceritakan adalah aku dan
seseorang itu adalah kau!
Kau! Kau! Kau! Matilah kau!
Tak ada lagi rahasia sekarang!
-carstensz dove-

7 juli 06
Bandung

Mengingat namamu di jalan raya
Adalah sungguh sebuah semesta
Aku meninggalkan jejak-jejak hati
Seperti rasa sakit menunggu mati
Aku tak memandang kota sebagai sahabat
Dan kudapati renyuh tubuhku smakin berkarat
Namun kuterjemahkan mendung
Sebagai rindu yang sanggup kubendung

Aku masih menanti hari pagi
Dengan lantang mataku mencari-cari
Setiap kesenangan kusangkai duka
Seperti rintih tawamu yang tanpa kata

Mereka bicara tentang senggama Nabi
Mereka berkaca pada waktu yang rahib

Aku masih menanti hari ini
Kurasa kau pun masih menunggui matahari
-cicaheum, 09.25-

25 juli 06
Pangandaran

Dingin bagi pengungsi adalah tatap mata kalian
Panas bagi pengungsi adalah hembusan nafas kalian
Aku bertaruh atas nama rindu yang kuperjuangkan
Aku bertahan dari rasa sayang yang biasa kau ucapkan
Mereka berlari ke gunung-gunung Tuhan
Kuharap malaikat bertahta didalam benak mereka

Ada matahari yang kutantang ketenggelamannya
Aku masih berkeringat namun ia lebih dulu hilang
Ada ombak yang kuseka buih tangisannya
Aku masih bisa kering namun ia selalu demikian

Pada kediaman hatimu aku sontak menjadi batu
Karang jiwaku memecah gelombang angkuhmu
Dalam restu Ibu aku tak berdiri dipinggiran cinta
Lewat begitu saja seperti kepastian datangnya malam

Kau malah berkaca membetulkan rambutmu
Sedang mereka tengah berperang dengan malu
Aku mengasihi segala luka yang menjadi duka
Aku bergerak sepanjang hidup memberi kabar
-refugees-

30 juli 06
Jatinangor

Seorang lelaki berjalan pada tengah malam
Tak ada yang ia cari selain sesuatu yang kelam
Dengan biasa ia berbicara kepada sepatu lusuhnya
Ia selalu mengatakan tentang mitos-mitos cakrawala
Bahwa gunung-gunung bergerak dan telah ia jejak
Bahwa lautan selalu berdo’a dan telah ia panjat
Seperti pendulang ikan-ikan yang menyisakan benih
Ia mendapatkan makanan lalu ucapkan terima kasih
Garis pantai dan wajahnya tak pernah beradu perih

Ia menguraikan air mata pada pesta-pesta
Menuangkan segala luka kedalam cawan semesta
Berdansa dilengan bahu angin dingin
Berdekap mesra dalam pelukan hawa bumi

Aku mengenalnya lewat cahaya tubuhnya
Menyilaukan segala berita tentang jiwanya
Ia telah meminum seteguk gelas kisahku
Membasah bibirnya dan memberikan mantra hidup
Untukku bertahan seperti sepatu lusuhnya
-the man-

Akhir juli 06
Gsstf, jatinangor

Kau tahu bahwa aku selalu membenci bentuk bulan
Wujudnya selalu berubah dan berpengaruh
Pada keadaan dimana aku masih harus bertahan
Didalam kastil ini tubuhku enggan merasa nyaman
Aku mempertaruhkan separuh waktuku untukmu
Memecah langkah-langkah malam menjadi
Sebuah senyuman yang terasa adil
Membaginya dengan kerentaan usiaku lebih dini
Namun ternyata bulan harus menjadi sabit

Kau tahu bahwa aku hanya menyukai purnama
Dengan bintang-bintang disekelilingnya
Meriuhkan suasana dan tak membawa
Kesepian pada mataku yang selalu terjaga
Aku sangka galaksi selalu tercipta didalam mimpi
Kembali bertahta dalam kerajaan matahari

Kau tahu bahwa aku selalu berpura-pura
Bercakap-cakap denganmu didalam penjara
Adalah belaka dusta yang kurencanakan
-the moon-

Ahad, 30 juli 06
Jatinangor

Fajar adalah pasar
Ungu menjadi pelecut laku kaumku
Kalau pagi menjadi dasar
Maka aku enggan mematung
Sayap kupu-kupu memantulkan riuh
Mataku menjelajah kanak-kanak yang ramai meracau
Keretap bakul-bakul rindu mendirikanku
Ada yang tersisa dari kesunyian saat ini
Ingatanku akan bebauan bunga tidur

Mereka mengoyak kemiskinan dalam kebutaan
Kepapaan adalah nadinya untuk bergerak
Seperti rencana matahari yang selalu pasti
Tenggelam di ufuk baratnya dan berhenti

Kalimat adalah kuasa
Kata-katanya berbaris seperti tentara
Aku mencium surga dari pena yang tertuang
Pintu-pintunya adalah waktuku yang luang
Namun fajar adalah pasar
-the morning-

4 sept 06
Hotel Dewi
Karawang

Spring Bed

Ketika kau menginginkan untuk tidur diatas springbed
Maka Tuhan memberikannya satu hari padamu di hotel
Aku mengambil sebuah makna dari setiap perkawinan
Dan setelahnya, aku selalu kehabisan kata-kata

Kita menjajakan tubuh dan tak mau mengakui cinta
Ternyata kalian berbangga-bangga
Dengan sesuatu yang tidak patut kalian banggakan
Kita melayani rindu dengan mengais-ngais sisa cerita

Aku mempercepat keadaan namun kenyataan melambat
Berkejaran pikiranku dengan kedua lenganku
Kesadaran ini memperparah luka jiwaku
Tiap do’aku adalah tentang waktu yang selamat
-carstensz dove-

09 sept 06
Ciwaruga

Pintaku pada Tuhan

Tuhan, kali ini aku sungguh-sungguh meminta
Perkenankan aku untuk mampu meringankan segala
beban yang mereka menaruhnya diatas pundakku
begitu berat sedang aku semakin sekarat.
Aku masih begitu tertatih melangkah
Terseret-seret dilecehkan roda waktu
Aku ingin lekas fasih dalam memberi

Kalau sudah begini aku selalu berkeras hati
Engkau mengetahui sepenuhnya aku yakin
Bahwa aku tak hidup untuk diriku sendiri
Bahwa aku memperjuangkan cita-cita semuanya

Dan ia selalu hadir dalam setiap mimpi tidurku
Itu berarti ia akan semakin menjauh
Tuhan, aku mulai memperolok lakuku sendiri
Aku bersandiwara seolah aku menyesali

Tuhan, Engkau sungguh-sungguh telah berperan
Ajarkan aku untuk selalu dalam kebaikan
-carstensz dove-

18 sept 06
Ciwaruga

Aku tidak tahu mengapa Ibuku menjodohkanmu denganku
Kau memang cantik dan bening tersirat di wajahmu
Pada siang yang terik kau tetap saja bercahaya
Malam pun kukira terang saat kau bercerita

Habis sudah semua cinta yang kupendam untuknya
Dalam baris-baris sajakku yang lirih mengiris
Dalam igauanku saat lelap tertidur di pembaringan
Aku mulai berjalan seperti kehendak dunia ini

Kau selalu merekatkan bibirmu padaku
Agar aku tak membicarakan dia
Memuji kepedihan hatiku sendiri bila menatapnya
Sekedar beberapa detik dan dia berlalu
Begitu saja, seperti biasanya setiap bertemu
Dia tak pernah sedikitpun menyadari adanya aku

Kau selalu memelukku erat sangat
Saat dia yang kukisahkan itu adalah kau
-carstensz dove-