<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>RumahKerja .visualworks &#187; Priambudi</title>
	<atom:link href="http://rumahkerja.org/author/priambudi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkerja.org</link>
	<description>.visualworks</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Aug 2010 07:22:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Menempatkan Proses Ketika Menentukan Pilihan</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/menempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/menempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 20:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Priambudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kemauan]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Proses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/06/13/46/</guid>
		<description><![CDATA[“Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian.”(Kekuatan Berpikir: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;margin-top: 7px;margin-right: -80px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Frumahkerja.org%2Fkata-kita%2Fmenempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Frumahkerja.org%2Fkata-kita%2Fmenempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan%2F&amp;source=rumahkerja&amp;style=normal&amp;service=retwt.me" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">“Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian.”(Kekuatan Berpikir: M. Muhadzis)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia ini tidak ada hal yang sukar maupun hal yang mudah. Juga tidak ada atau tidaklah tepat kalau disebutkan bahwa seseorang itu bodoh ataupun pintar. Biasanya, orang berpendapat bahwa sukar adalah pendapat orang bodoh dan mudah itu adalah pendapat orang pintar. Sebetulnya tidak demikian. Tidak ada sukar, tidak ada mudah, tidak ada bodoh juga tidak ada pintar. Yang ada hanya mengerti dan belum mengerti. Yang mengerti tentu bisa dan kalau sudah bisa, menjadi mudah. Yang belum mengerti tentu tidak bisa dan kalau belum bisa, menjadi sukar. Jadi, tidak ada hal sukar di dunia ini selama seseorang mau belajar agar mengerti dan bisa. Kalau belum mengerti, maka carilah, pergunakan akal budi yang dianugerahkan sebagai manusia. Segala hal pasti akan dapat diatasi!</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-5"></span>Bagi mereka yang mampu menyelesaikan masalahnya tentu  akan mendapat predikat pintar, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu maka disebutlah bodoh. Seseorang yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan akan mendapat predikat super pintar (baca: jenius); itu dikarenakan ia mengetahui melebihi pengetahuan manusia disekitarnya. Sehingga pada umumnya, tingkat intelegensia manusia hanya dibagi menjadi dua: pintar dan bodoh. Padahal kalau ditelaah, penjabaran antara bodoh dan pintar hanya terletak dari: sudah tahu dan belum tahu. Bagi mereka yang dianggap bodoh tetapi ada keinginan untuk belajar sehingga mereka menjadi pintar dengan kata lain dia yang tidak tahu tetapi ada keinginan belajar (supaya tahu) sehingga dia menjadi tahu. Orang yang tidak tahu apa-apa (bodoh-red), jika dia memiliki kemauan untuk belajar, maka ia akan menjelma menjadi manusia pintar. Jadi, yang ada adalah yang sudah tahu dan yang belum tahu atau yang sudah mengerti dan yang belum mengerti. Lantas, siapa yang lebih pantas mendapatkan gelar bodoh? Yang lebih pantas mendapatkan predikat bodoh ialah mereka yang tidak memiliki kemauan untuk belajar, secara otomatis ia akan selamanya tidak tahu, itulah Si Bodoh yang sebenarnya.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi<br />
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus<br />
belajar, akan menjadi pemilik masa depan (Mario Teguh).</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Semua bermula dari bukan apa-apa dan akan kembali menjadi bukan apa-apa.  Demikian pula manusia, mereka (semua manusia) dilahirkan dari bukan siapa-siapa, bahkan dalam urusan makan pun seorang bayi harus dibantu, kalaupun kelak ia “menjadi orang” maka hal itu adalah hasil dari proses yang ia lakukan. Disinilah letak dimana proses berperan penting dalam menentukan pintar atau bodoh, mengerti dan belum mengerti, paham dan belum paham, memiliki dan belum memiliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengacu pada uraian di atas, bagaimana sebaiknya seseorang dalam bersikap? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja harus dikembalikan kepada masing-masing individu dalam menempatkan posisinya. Pintar atau bodoh? Sudah mengerti atau belum mengerti? Sudah memiliki atau belum memiliki? Dengan mengetahui berada di posisi yang mana, seseorang tentu akan dapat menentukan langkah  yang akan diambil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab semua bermula dari bukan apa-apa dan akan kembali menjadi bukan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu’alam  a’laa kulli hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Bandung, 11 Juni 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/menempatkan-proses-ketika-menentukan-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Yang Besar (juga) Mengandung Tanggung-jawab Yang Besar</title>
		<link>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 15:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Priambudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Proporsionalitas]]></category>
		<category><![CDATA[Superhero]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahkerja.blogsome.com/2009/03/14/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi para pecinta tokoh Superhero terbitan Marvel, tentu tidak asing dengan kalimat diatas. Kalimat tersebut diucapkan oleh tokoh Ben Parker kepada Peter Parker, sang tokoh Spiderman. Kalimat itulah yang selalu diingat oleh Peter Parker ketika ia menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya tidak lalu semata-mata membuat dirinya dapat melakukan apa saja. Kalimat itu juga yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;margin-top: 7px;margin-right: -80px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Frumahkerja.org%2Fkata-kita%2Fkekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Frumahkerja.org%2Fkata-kita%2Fkekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar%2F&amp;source=rumahkerja&amp;style=normal&amp;service=retwt.me" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p align="justify">Bagi para pecinta tokoh Superhero terbitan Marvel, tentu tidak asing dengan kalimat diatas. Kalimat tersebut diucapkan oleh tokoh Ben Parker kepada Peter Parker, sang tokoh Spiderman. Kalimat itulah yang selalu diingat oleh Peter Parker ketika ia menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya tidak lalu semata-mata membuat dirinya dapat melakukan apa saja. Kalimat itu juga yang membuat Peter Parker harus membuat keputusan sulit dalam hidupnya, antara menjalani kehidupan normal sebagai seorang mahasiswa yang harus membiayai kuliah dan hidupnya sendiri dengan melupakan Spiderman atau kembali kepada takdirnya sendiri yang tidak lain adalah seorang Superhero. Pergulatan batin muncul dalam diri Peter Parker, ia dituntut untuk memilih antara mengabaikan kekuatan Superhero-nya dan menjalani hidup dengan berbagai kenyataan permasalahan seorang lelaki yang beranjak dewasa atau mengorbankan kehidupan dan kepentingan pribadi-nya demi menjalankan tugas sebagai seorang Spiderman.<br />
Menjadi manusia biasa dan mengabaikan kekuatan superhero  tentu saja bukan hal mudah, Peter muda harus bertahan dengan berbagai kerumitan permasalahan hidupnya. Lalu, apakah menjadi Superhero itu mudah? Bagi Peter Parker yang sangat memahami ucapan Paman Ben, ternyata hal tersebut sama sulitnya. Ia harus mengorbankan semua kepentingan dirinya sendiri demi menjalankan tugasnya sebagai Spiderman, bahkan cintanya kepada Mary Jane (pada awalnya) harus ia gadaikan.<br />
<span id="more-6"></span>Bagaimana kalau ucapan Paman Ben diatas dimodifikasi menjadi “kekuasaan yang besar menuntut tanggung-jawab yang besar (juga)”?  Bagi sebagian orang, kalimat tersebut seolah tidak sulit, bahkan, dengan kekuasaan,  mereka (merasa) mampu mengatasi berbagai permasalahan orang banyak, tentunya disamping permasalahan dirinya sendiri. Kembali merujuk pada tokoh Spiderman, ternyata Peter Parker “memanfaatkan” kekuatannya sebagai Superhero untuk mengatasi masalah-masalah pribadi.  Seperti diceritakan dalam komik atau film Spiderman, Peter Parker memanfaatkan kekuatannya untuk mendapatkan penghasilan (yang lebih dari biasanya) sebagai wartawan foto, malahan dengan menggandeng “ketenaran” Spiderman. Selain itu, dimafhumi bahwa Peter Parker juga memanfaatkan kekuatannya untuk menggaet cinta Mary Jane. Lantas, apakah hal-hal tersebut dapat dibenarkan?<br />
“Semua harus sesuai pada porsinya”, mungkin merupakan kalimat yang tepat untuk menjawab semua kerumitan diatas. Pada tempatnya, kedewasaan seringkali menuntut lebih, seseorang yang memanfaatkan kekuatan/kekuasaaannya untuk kepentingan pribadi, tidak dapat langsung “di-judge” bersalah, selama ia melakukan hal tersebut sesuai dengan porsinya. Disisi lain, bukankah banyak orang yang menyandarkan, bahkan menggantungkan nasibnya kepada seseorang yang sedang berkuasa? Jika TUGAS dan TANGGUNG-JAWAB seseorang sudah selesai, barulah ia dapat menuntut HAK-nya. Nurani yang berperan kemudian, sejauh mana seseorang mampu konsisten terhadap komitmen? Komitmen terhadap orang banyak dan komitmen kepada diri sendiri.<br />
Terakhir, mengutip perkataan seorang kawan “hidup Proporsionalitas!”. Proporsionalitas versi siapa? Yang pasti bukan versi  masing-masing individu tentunya.<br />
Wallahu’alam  a’laa kulli hal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkerja.org/kata-kita/kekuatan-yang-besar-juga-mengandung-tanggung-jawab-yang-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
